Untuk kamu yang sempat singgah,
Aku menulis surat ini dengan membawa ingatan pilu kisah sendu.
Biarkan saja pikiran ini sejenak membuka gerbang goresan luka yang masih membekas.
Malam itu, malam dimana kau datang tanpa pernah kuduga.
Mengetuk perlahan pintu rumahku yang kau susuli dengan satu barisan salam.
Masih, kau tidak berubah.
Kulihat lekat-lekat dalam wajah sayu dan penuh kegelisahan itu.
Ada apa gerangan hingga wajah yang hampir selalu melukis bahagia berubah menjadi muram?
Belum sempat aku bertanya, sigap kau sela dengan “aku harus pergi”.
Satu kalimat yang berhasil meruntuhkan seisi duniaku.
Ku mohon, katakan bahwa kau hanya berdusta. Atau setidaknya katakan bahwa ini hanya mimpi.
Mimpi sialan yang entah aku ingin secepatnya terbangun.
Lama aku menunggu, tak sepatah pun kata pengharapanku terlontar dari bibirmu.
Perlahan tersadar kedua pipi ku tak lagi melukiskan ronanya, ia telah basah tergantikan air mata.
Malam itu kurasakan hangat pelukmu tak seperti biasa.
Sungguh sehelai kain yang membalut tubuh kita tak mampu mengakhiri pelukan erat lekat itu.
Berikan jeda sejenak, agar aku dapat dengan leluasa menghirup aroma tubuhmu.
Kalau saja bisa, aku ingin mengikuti kemana pun kau pergi.
Melangkah bergenggaman tangan bersamamu.
Namun kita berdua tahu itu mustahil, bukan?
Apa yang lebih menyakitkan dari perpisahan karena sudah tak saling cinta?
Ya, perpisahan kita ini. Berpisah saat sedang cinta-cintanya.
Kalau boleh jujur, aku ingin mendobrak jarak agar kita selalu berdekatan.
Kepada kamu yang sempat singgah,
Aku sematkan namamu dalam untaian doa ku.
Semoga kau berhasil mengejar impian, pun juga aku.
Biarkan, seikat mawar merah berduri yang kau beri di malam itu menjadi saksi perpisahan penuh keikhlasan.