Sebotol Susu Sapi
Kudengar suara bel satu kali yang menandakan jam istirahat. Aku langsung keluar kelas untuk mencuci tangan begitu pula dengan teman-teman lainnya. Setelah itu, aku kembali ke kelas dan siap menyantap bekal yang sudah kubawa. Tak lupa bu guru memimpin doa sebelum memulai memakan bekal.
Kubuka isi tas, hanya ada sebotol susu sapi rasa strawberry yang menjadi bekalku hari ini. Tak masalah bagiku, karena aku menyukainya. Di seberang bangkuku, duduklah Milo yang terus memandangiku. Terlihat di mejanya terdapat kotak makan berisi roti rasa keju. Nampaknya Milo tak menyetuh sedikitpun bekalnya. Dia terus memandangiku, tapi aku terus asyik meneguk susu sapi yang kugenggam di tanganku itu.
Milo mulai berjalan mendekatiku. Dia berulang kali mengetuk-ngetukan jari telunjuk kananya di bahuku. Aku tak menghiraukannya, tetapi dia tidak berhenti mengetukkan jarinya. Aku menengok ke arah Milo. Dia berdiri tepat di sampingku, dengan wajah memelas dia menyodorkan kedua tangannya di hadapanku.
“Rey, minta!” seru Milo sambil menunjuk ke arah botol susu yang sedang kugenggam.
Sontak aku memalingkan wajah dan menggelengkan kepala tanda bahwa aku tak mengijinkannya. Aku menggenggam botol susu itu semakin erat dan kubawa berpindah ke tempat duduk yang lain.
Sepertinya Milo menyerah, dia tidak mengejarku. Kuletakkan botol susu itu di atas meja dan aku mulai mengambil mainan. Di luar dugaanku, Milo menghampiri mejaku dan mengambil botol susu terebut. Saat aku menyadari botol susuku hilang, kukejar Milo yang berlari menjauhi mejaku.
“No!” teriakku kepada Milo sambil merebut kembali botol susuku.
Aku sangat kesal dibuatnya. Kupalingkan wajahku dari Milo. Aku bermain sendiri tanpa mengajak Milo. Di sisi lain, Milo menangis sejadi-jadinya. Entah mengapa harus Milo yang menangis, seharusnya aku yang menangis karena dia merebut botol susuku. Milo kembali ke mejanya lalu menundukkan kepala di atas meja. Siapapun tidak ada yang bisa menghentikan tangisannya.
Aku masih kesal dengan perbuatan Milo, tapi di sisi lain aku tidak tega melihatnya menangis. Ada gejolak dalam diriku antara harus melangkahkan kaki dan berdamai dengan Milo atau kukuh dengan kekesalanku padanya. Aku hanya mampu memandangi Milo dari jauh. Kebingungan itu terus kurasakan hingga suara tangisan Milo tak terdengar lagi.
Kuputuskan bahwa aku harus berdamai dengan Milo. Aku mendekatinya dengan cara yang sama seperti dia mendekatiku tadi. Kuketukkan jariku di bahunya. Milo tak lekas menoleh. Aku pun tak habis akal, kuletakkan botol susuku di mejanya.
“....lo, usuk apik...(baca: Milo, susu sapi),” aku merayu Milo sambil mendowel bahunya.
Caraku ini cukup ampuh. Milo mengangkat kepalanya dan memandangi botol susu itu dengan ragu. Sesekali dia menoleh ke arahku seakan berkata ‘apa susu ini untukku?’. Kulambaikan tanganku ke arah Milo lalu aku kembali ke tempat dudukku, yang berarti ‘susu ini untukmu’. Susu tadi kutinggalkan di atas meja Milo.
Milo mulai tersenyum dan memegangi botol susu tersebut. Kemudian dia berjalan ke arahku lalu berkata, “Makasih Rey.”
Dia membagi susu tersebut denganku, sehingga kami meminum susu secara bergantian. Milo kembali tersenyum dan tidak ada lagi perselisihan di antara kami.






