Cerita Tentang Dia (Yang Tersembunyi di Balik Bayangan)
*Cerita kali ini merupakan edisi khusus dan tidak terkait sama sekali dengan cerita-cerita sebelumnya (day 1-19)
Sepasang kaki kecil terdengar menapakkan kakinya perlahan-lahan, melewati setiap lorong ruangan. Diiringi tawa kecilnya dan bersemangat berlari menuju sebuah bilik yang ada di ujung lorong. Sepanjang jalan, telah ramai dengan orang yang memasang dekorasi, membawa makanan dan banyak orang datang silih berganti. Si kecil ini terus berlari hingga ia menemukan ruangan yang dimaksud. Dilihatnya banyak sekali pakaian yang digantung pada penggantung. Gaun-gaun yang sangat indah, bak putri raja pada dongeng. Dilihatnya seorang wanita muda sedang memiih-milih gaun sambil sesekali melekatkan gaun itu pada tubuhnya.
Pada sebuah cermin besar terpantulkan sinar kecantikan parasnya yang elok, begitu bersahaja dan menenangkan hati saat melihatnya. Begitu wanita muda ini melekatkan gaun pada tubuhnya, semakin lengkap kecantikan yang dianugerahkan Tuhan padanya. Begitu asyiknya memuji keindahan Tuhan yang terpantul menuju mata indahnya itu, sang anak kecil segera meraih tangan wanita muda itu dan dengan semangat ia berkata, “Dia sudah datang kak! Dia sudah datang! Ayo cepat kak.” Senyum anak kecil itu mengisyaratkan ada kebahagian yang datang menjemput wanita muda itu sesaat lagi.
Dengan begitu heran dan kebingungan atas apa yang terjadi, wanita muda itu berlari mengikuti sang anak kecil dan entah darimana datangnya, ada dua wanita paruh baya menggandeng tangan wanita muda itu di sebelah kiri dan kanan dan berjalan menyusuri jaan lorong yang panjang. Wanita muda terus berjalan melihat sekelilingnya, melihat dalam pada kedua wanita paruh baya itu dan melihat pada dirinya, tanpa disadarinya dia menjelma menjadi seorang wanita anggun dengan pakaian kebaya lengkap dengan riasannya. Hanya kebingungan dan tanda tanya besar yang menyelimuti dirinya.
Tibalah wanita muda ini di sebuah ruangan besar yang berhiaskan berbagai macam bunga. Tiap dinding dibalut kain emas dan merah yang menjuntai dari atap sampai lantai. Tiap kain itu bertemu satu sama lain dan mementuk rangkaian bunga besar dan di tengahnya terdapat lampu kristal yang begitu megah. Tepat dibawah lampu itu, kedua wanita paruh baya itu memintanya duduk di atas permadani yang sangat besar dan idah bernuansa merah dan emas. Tepat di depannya terdapat sebuah tirai putih berbordir bunga yang tak terlalu tebal, sehingga dapat meliat bayangan apa saja yang ada di balik tirai tersebut. Nampak banyak orang yang sedang duduk dan seperti akan melakukan suatu hal yang penting pada hari itu. Ada bebrapa orang yang sesekali berjalan berbolak-balik dan melaporkan sesuatu pada orang ang sedang duduk di sana. Wanita muda itu membisu dengan banyak pertanyaan yang ada di benaknya dan hanya melihat sekitarnya.
Sesaat kemudian, ibu dan ayah wanita muda itu datang. Sang ibu duduk di samping sang wanita muda dan ayahnya berjalan menuju balik tirai. Rasa penasaran dalam hati wanita muda itu berubah menjadi kekhawatiran saat meliat keda orang tuanya itu. Seakan mengerti rasa yang berkecamuk dalam hati wanita muda itu, sang ibu meraih tangan kanannya dan menggenggamnya. Dengan senyu tipis, seolah sang ibu berkata kepada wanita muda itu, ‘tak peru khawatir, semua akan baik-baik saja’.
Nampak siluet di balik tirai beberapa laki-laki berjas hitam duduk di permadani dan saling menghadap meja kecil, termasuk ayah wanita muda itu. Seketika suasana ruangan itu menjadi hening dan seakan semua orang menghentikan seluruh aktivitas mereka dan semua perhatian tertuju pada apa yang dilakukan oleh mereka di balik tirai. Sesat kemudian terdengar suara sang ayah,
“Saya nikakan dan kawinkan saudara dengan anaksaya yan bernama Sabrina Putri Wibawa binti Ahmad Soebardi dengan mas kawin alat sholat dan emas antam seberat 10 gram dibayar tunai.”
Setelah itu terdengar suara laki-laki yang nampaknya masih muda dengan tegas dan lantang,
“Saya terima nikah dan kawinnya Dian Larasati dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Hanya dengan sekali nafas. Lalu seorang laki-laki paruh baya lain bertanya kepada hadirin yang datang ada di balik tirai itu,
Sontak wanita muda itu berdiri dan berteriak dengan lantang, “T-I-D-A-K S-A-H !”
Seketika suasana menjadi hening, semua orang berdiri dan memusatkan perhatian pada wanita muda itu.
Sesaat, pandangan wanita muda itu menjadi senyap dan kelabu, kemudian datang sebuah sinar yang menyadarkan dirinya bahwa wanita muda adalah diriku
sendiri, Sabrina seorang gadis muda berusia 18 tahun, dan orang yang duduk di sebelahnya adalah ibunya serta orang yang berjabat tangan di balik tirai itu adlaah ayahnya. Seakan ada petir menyambar setelah sinar itu datang, hatinya lalu memberontak dan tak dapat menerima semua ini.
“YA TIDAK SAH. Aku tidak bisa menerima semua ini. Ini tidak sah karena aku sendiri tidak tahu kalau aku akan dinikahkan dengan laki-laki itu,” ucap Sabrina dengan lantang dan sambil menahan isak tangis.
Dia menatap mata ibunya dan hampir tumpah air mata yang tertahan ini, “Kedua orang tuaku telah menjodohkanku tanpa sepengetahuanku. Bahkan apa yang terjadi hari ini aku sama sekali tidak diberi tahu. Ini benar-benar tidak adil dan apa yang kalian akadkan ini, semua tidak sah!!!!!”
Seketika dia berlari meninggalkan tempat dimana dia berpijak saat itu. Tak kuasa dia menahan semua air mata ini. Seolah semua tanda tanyanya terjawab dengan kekecewaan. Dia berlari menjauh keluar ruangan tanpa melihat apapun yang ada di sekitarnya, karena yang dia tahu, dia tak bisa berada di sana. Satu per satu air matanya menetes setiap jalan yang dilewatinya.
Entah bagaimana dan darimana, ada seorang laki-laki tinggi, gagah, berbahu lebar dan berdiri tegap tepat di hadapan Sabrina seolah menutup jalan dan memintanya untuk menghentikan langkah. Laki-laki itu adalah laki-laki yang sama dengan orang yang berjabat tangan dengan ayah Sabrina dan mengucapkan ijab kabul di balik tirai sesaat yang lalu. Tanpa kata dia hanya diam dan berdiri di depannya. Sabrina yang dikuasai emosi, saat melihatnya seakan ingin meluapkan semua kemarahan dan rasa berontak ini padanya.
“Ini gak adil. Aku tak tahu apa-apa dan tiba-tiba semua itu terjadi. Apa mereka menjodohkanku dneganmu hanya karena hartamu, sehingga mereka tak ingin aku tahu, karenajika itu benar aku pasti menolaknya.”
Laki-laki itu begitu tenang dan hanya melemparkan senyuman.
Seakan semua pemberontakan ini tak berarti apa-apa. Sabrina mulai menurunkan nada bicaranya dan menangis sejadi-jadinya di hadapan laki-laki itu.
“Bukannya aku tak mau, tapi aku belum siap. Kau tahu kan, aku masih berusia 18 tahun dan aku belum siap untuk hamil dan memiliki anak sesudah ini. Apalagi menjadi seorang ibu, tak pernah terbayangkan olehku untuk saat ini,” keluh Sabrina.
Laki-laki itu menghampiri dan memeluk Sabrina dengan lembut. Bahunya yang lebar itu seolah mampu menampung semua kesedihan Sabrina. Dalam dekapannya Sabrina menumpahkan segala apa yang dirasakan dalam tangis.
Dia berbisik, “Tenanglah, aku akan selalu menunggumu hingga kamu siap.”
Apa yang dia ucapkan begitu menentramkan hati dan perlahan menghapus kesedihan yang dirasakan oleh Sabrina.
Sosok laki-laki itu begitu misterius, bahkan Sabrina sama sekali tak mengingat wajahnya. Hanya bahunya yang lebar, dekapan dan pelukannya, serta ucapannya yang menenangkan itulah yang selalu diingat oleh Sabrina.