Thème du jour furieux, une grosse envie de hurler à bon coup fermer là. Ça vous arrive aussi ? #inktober #intober2017 #thefrenchinktober #thefrenchinktober2017 #rondeetjolie #days21 #furious #furieux


#dc comics#dc#batman#batfam#dc fanart#dick grayson#batfamily#bruce wayne#tim drake




seen from Malaysia
seen from Yemen
seen from United States

seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from Yemen
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
Thème du jour furieux, une grosse envie de hurler à bon coup fermer là. Ça vous arrive aussi ? #inktober #intober2017 #thefrenchinktober #thefrenchinktober2017 #rondeetjolie #days21 #furious #furieux
21 Burung Kecil Untuk Mama
Hari-hari kulalui seperti biasanya. Bagi seorang anak TK seperti diriku ini banyak hal yang tidak boleh dilakukan, semisal pergi ke rumah teman atau bermain di taman hiburan sendiri. Aku membutuhkan orang dewasa untuk mendampingi. Terlebih lagi aku terlahir dengan kondisi yang tidak biasa. Ingin sekali aku berjalan-jalan ke pertokoan, tetapi mama selalu sibuk sehingga tak bisa menemaniku.
Hari itu mama harus dinas di luar kota selama seminggu, sedangkan papa sedang di tugaskan di luar pulau. Alhasil aku hanya bersama mbak yang membantu di rumah. Rasanya membosankan, karena mbak tidak terlalu asyik diajak bermain. Sebelum mama berangkat ke luar kota, tiba-tiba kejutan datang.
“Taaaaa raaaaaaaa,” suara yang sepertinya tidak asing bagiku.
Aku segera beranjak dari kamar tidur dan menuju pintu kamar. Ternyata ada seseorang yang sepagi ini menjadi solusi atas kegundahanku.
“....dididik (baca: kak Fitri).” Aku menyambut kak Fitri yang berdiri di belik pintu dengan sangat bahagia. Kupeluk tubuhnya yang hangat dan tak lupa kusunggingkan senyuman terindah untuknya.
“Rey, selama mama ke luar kota, kak Fitri akan menginap di sini menemanimu.”
Mama berlutut di hadapanku sambil memberikan banyak wejangan apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan. Kemudian mama berpamitan denganku. Kuantar mama sampai pintu gerbang. Di sana sudah ada bapak sopir dan mobil yang siap menjemput mama.
“.....siiiiiik (baca: asyik),” seruku sambil berlarian di ruang tengah.
Aku tak menyangka bahwa kak Fitri akan menginap di rumahku selama satu minggu. Tiba-tiba muncul banyak keinginan dan rencana yang akan kulakukan bersama kak Fitri.
Setiap harinya, kak Fitri tidur bersamaku, tak luoa sebelumnya dia membacakan buku cerita untukku. Kemudian bersekolah bersamanya. Bermain dan menonton film favoritku bersamanya. Ini sangat mengasyikkan.
Di hari kedua kak Fitri menginap, tak sengaja ada album foto terjatuh. Kak Fitri berusaha memungutnya. Tetapi ada sebuah foto ukuran 4R terjatuh. Tampak di sana ada Rey beserta mama dan papanya berada di sebuah pantai. Rey nampak masih sangat kecil, mungkin usia 2 tahun. Kemudian ada tulisan di baliknya.
Bali, 21 Mei 2013 --- Papa – Rey – Mama ---- Happy Birthday Mama
“Oh, mamanya Rey berulang tahun tanggal 21 Mei ya,” kak Fitri berguman dengan lirih. “Coba kulihat kalender.... 21 Mei bentar lagi donk, ehmmm 2 minggu lagi.”
Kak Fitri segera memberitahuku. Ingin rasanya aku memberikan hadiah untuk mama. Tapi aku tak tahu apa itu. Seolah ada peri yang datang, kak Fitri menawarkan ide yang cemerlang untuk hadiah mama. Kak Fitri membisikannya padaku lirih. Aku tersenyum dan setuju dengan idenya itu.
Keesokan harinya saat di sekolah, kak Fitri membawakanku kertas lipat yang banyak dan warna-warni. Saat jam istirahat, kak Fitri mengajariku membuat burung kecil dari kertas lipat. Memang tidak mudah, tapi aku akan berusaha membuatnya walau hasilnya tidak rapi. Kak Fitri membantuku membuat burung kecil yang banyak. Di hari selanjutnya kami membuat lagi, bahkan saat di rumah. Ternyata kami berhasil membuat sebanyak 30 burung kecil. Tepat saat mama pulang dari perjalanan dinasnya. Semua karya origami atau seni melipat itu kami letakkan di sekolah agar tidak ketahuan mama.
Aku sudah tidak sabar menantikan tanggal 21 mei yang kurang 4 hari lagi. Aku menengok tempat persembunyian origami yang sudah kami buat. Di luar dugaan, ada musibah terjadi.
“....dididik, uluk, ilak (baca: kak Fitri, burung, hilang),” aku berteriak sekencangnya agar kak Fitri mendengarkan suaraku yang saat itu berada di kelas.
“Ada apa Rey?” kak Fitri datang dengan sempoyongan.
Aku langsung menunjuk ke kotak tempat menyimpan origami itu.
“Ya ampun, kemana semua origaminya ya Rey,” wajah kaget dn kebingungan nampak dari kak Fitri. Dia berusaha mencari di setiap sudut sekolah, mungkin saja masih ada yang tersisa.
Miris sekali, banyak origami yang ditemukan sudah tidak selamat. Ada yang robek, kucel, kotor seperti diinjak, bahkan dicorat-coret. Hanya ada 5 origami yang utuh.
Seketika aku menjadi sedih dan duduk terdiam saja di bangkuku. Lalu kak Fitri datang menghiburku.
“Rey, nggak usah kuatir, kan ada kak Fitri,” ujarnya dengan tenang. “Kakak akan membuatkannya lagi. Jadi saat ulang tahun mama, semuanya sudah siap.”
Aku menjadi tenang mendengar ucapan kak Fitri. Di sisi lain kak Fitri berusaha keras melengkapi kekurangan origami burung kecil.
Hingga tepat di hari ulang tahun mama, kak Fitri menghubungi mama untuk menjemputku.
“Mama, maaf kalau hari ini saya tidak bisa mengantar Rey pulang. Apa mama bisa menjemput Rey di TK?”
“Oh, iya mbak. Nanti saya akan jemput Rey. Tapi mungkin agak telat sedikit.”
Mama berhasil dibujuk untuk datang ke sekolah. Kemudian kami menyiapkan yang lainnya. Kak Fitri membeli kue tart kecil dan membawakan origami burung kecil yang berjumlah 21.
“Rey, burung kecilnya sekarang ada 21, persis seperti tanggal ulang tahun mama,” ujar kak Fitri. Walau sempat ada musibah hilangnya origami yang kami buat sebelumnya, aku bersyukur rencana kami masih tetap bisa diusahakan.
Waktu terus berlalu, hingga saatnya bel tanda pulang berbunyi. Aku sudah tak sabar menanti kedatangan mama. Tepat seperti kata mama, beliau terlambat menjemput, tetapi tak masalah yang penting mama datang.
Kulihat ada sepeda motor mirip seperti mama berada di tempata parkir. Segera aku panggil kak Fitri.
“Mamamak (baca: mama).”
Kak Fitri sudah bersiap di depan pintu kelas. Kami sengaja menutup pintu kelas agar mama merasa terkejut. Tentunya kami sudah meminta ijin bu guru, justru bu guru sangat mendukung dan membantu rencana kejutan kami.
Sesuai rencana, mama membuka pintu dan aku sudah siap menyambut mama dengan 21 burung kecil yang ditali menjadi satu membentuk lingkarang yang besar. DI sampingku ada kak Fitri yang membawakan kue tart sambil bernyanyi.
“Selamat ulang tahun....”
Rasa haru tak bisa terelakkan dari ekspresi yang ditunjukkan mama. Hal ini menandakan renacana kejutanku berhasil. Mama menangis haru lalu memeluk dan menciumku.
“Terimakasih, Rey sayang.”