*untuk edisi kali ini, saya berusaha keluar dari cerita yang biasa hadirkan mengenai kehidupan anak TK. Hanya untuk beberapa hari saja. Terimakasih.
...kala hidup dihadapkan dalam sebuah pilihan....Cinta ataukah Kenangan?...
Kenalin namaku Risky. Aku lahir 22 tahun lalu tepatnya tanggal 20 April. Aku lahir sebagai anak kedua dari 4 bersaudara. Mama orang Jawa asli, yang selalu menceramahi tentang tata krama, kesopanan dan unggah ungguh dalam adat Jawa. Sedangkan Papa keturunan Sulawesi yang berjiwa pemberani dan penentang dunia. Tiap harinya kedua orang ini selalu mempeributkan hal-hal kecil dalam pengasuhan anaknya. Yah, kami hanya sebagai penonton duduk menengadahkan tangan bertopang dagu, secara kompak menggeleng-gelengkan kepala. Kakaku seorang wanita yang gila akan fashion, Kak Galdys. Aku sampai heran sendiri, tiap hari dia nongkrong di depan televisi menonton tayangan fashion yang up to date dan sering kali mencoba memadupadankan berbagai pakaiannya dengan style-nya sendiri, yang kebanyakan gagal alias gak banget. Belum lagi adik laki-lakiku, Angga, yang gila banget sama eksperimen. Sering kali dia berjalan-jalan ke ladang dekat rumah dan menangkap kupu-kupu ataupun serangga lainnya, yang kemudian diteliti bagaimana struktur tubuhnya hingga mencobakan berbagai eksperimen untuk serangga itu. Rancangannya sih emang keren banget tapi hanya sedikit yang berhasil, kebanyakan gagal. Kamarnya yang kecil menjadi saksi berbagai eksperimennya dengan disaksikan berbagai poster ilmuwan ternama semacam Thomas Alfa Edison yang sangat dikaguminya. Sudah kayak laboratorium kecil aja tuh kamarnya. Yang paling bungsu, Rara seorang gadis cantik, manis, dan pengertian. Dia selalu terobsesi menjadi seorang gadis dewasa dan selalu bertentangan dengan kak Galdys yang dianggapnya terlalu kekanak-kanakan. Rara ini pinter banget masak. Dia jarang main ke tempat jauh dan banyak menghabiskan waktu di rumah untuk belajar, menonton berita, ataupun memasak. Dari beberapa saudaraku ini, aku paling dekat dengan Rara. Selain dia baik hati dan pengertian sekali kepadaku, karena sering membuatkanku kue, dia juga asyik untuk diajak main game atau palay station. Ah, untuk adik laki-lakiku memang tidak dapat diandalkan untuk bermain games, apalagi kalau untuk bermain sepakbola dia selalu kalah. Ibu kami, setiap dua tahun sekali melahirkan seorang bayi, maka kami berjarak usia 2 tahun. Kecuali yang paling bungsu, saat usiaku 12 tahun dia terlahir di dunia ini. Kami sangat menyayangi si bungsu yang menggemaskan itu. Sedangkan tiga bersaudara yang tua ini selalu saja ribut akan hal-hal sepele, misalkan pembagian makanan. Di saat yang seperti itu, justru Rara yang paling dewasa dalam menyikapi pertikaian itu. Itulah keluarga kecilku.
Saat ini, aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di kota Malang sebagai mahasiswa teknik tingkat akhir. Spesifikasinya teknik elektro. Sebenarnya tak ada minat sedikitpun pada bidang ini, tapi entah mengapa aku menjalaninya selama empat tahun ini. Hingga detik ini aku harus dikejar dengan tugas akhir. Seolah-olah materi yang telah kudapatkan selama ini lenyap entah kemana. “...Risky, segera menyusun tugas akhir kamu. Sadarlah kau sudah cukup tua di kampus ini. tak inginkah kau segera menanggalkan status mahasiswamu?...” Begitulah kata-kata dosen pembimbing akademikku yang selalu terngiang-ngiang dalam telingaku. Baik di kampus, di warung makan, bahkan di toilet, sepertinya beliau selalu hadir dengan kalimat-kalimat itu.
“Oh tidaaaaaaaaaakkkkkkkk......” Aku hampir gila dibuatnya. Nampaknya passion ku hanya pada satu hal, yaitu bermain games. Dalam sehari aku bisa betah berjam-jam menatap layar komputer dan menggerakkan jemariku pada stick games. Permainan yang paling asyik untuk ditaklukkan adalah permainan strategi dan pemecahan masalah. Bahkan sampai tidur aku akan terus memikirkan apa jawaban dari teka-teki dalam permainan itu. Saat aku berhasil memecahkannya, sebuah selebrasipun layak kudapatkan. Salah satu selebrasi yang paling sering kulakukan adalah menjelajahi alam dan mendaki gunung. Sebuah kebanggaan yang luar biasa bagi diriku adalah saat aku berhasil mencapai puncak tertinggi di pulau Jawa, yaitu puncak Mahameru di Gunung Semeru. Perjalanan itu kulakukan setahun yang lalu bersama teman-teman sesama jurusan. Saat itu kami sedang suntuk mengerjakan tugas akhir praktikum dan salah satu temanku berinisiatif untuk mengajak mendaki gunung Semeru. Alhasil, sebuah refreshing yang baik untuk menstimulasi dalam pengerjaan tugas akhir. Yah, tahun itu aku lulus dalam mata kuliahku dan bisa melanjutkan ke semester padat selanjutnya. Berbagai foto kenangan saat mendaki kukumpulkan dalam satu album. Mulai dari gunung Bromo, Ijen, Lawu, dan lain sebagainya yang ada di Jawa Timur. Ada impianku yang belum tercapai yaitu bisa mendaki ke puncak tertinggi di Indonesia, Jaya Wijaya. Sejak akhir semester tahun lalu, hidupku tak terlalu baik. Aku kehilagan minat yang besar dalam kuliah. Selain karena mendapat dosen yang super duper killer, beberapa teman sekelompokku yang dulu tidak mengambil mata kuliah yang sama. Aku benar-benar kesulitan dalam tahun belakangan ini.
Suatu hari ponselku berdering, nampak Fahad, salah satu sahabatku di kampus mengirimkan sebuah pesan singkat.
“...Risky, loe kosong gak kamis depan?”.
“...Kayaknya kosong. kenapa emang?”, jawabku.
“Loe bisa kagak ikut tes psikologi. Ada anak jurusan psikologi cari orang buat dites. Gue ditawarin sih, tapi gak bisa pas jam itu.” Jelas Fahad.
“Kamis depan jam 1 siang bro.” ungkap Fahad.
Emang sih, semester ini gak sepadat semester sebelumnya. Mungkin tawaran ini salah satu cara yang bagus untuk mengatasi permasalahanku saat ini. Sekalipun itu hanya tes yang dilakukan oleh mahasiswa yang sedang praktikum, tapi tak apalah bisa buat batu loncatan. Sesaat Fahad meninggalkan percakapan denganku, ada pesan masuk dari mahasiswi psikologi yang memintaku untuk menjadi partisipan tes. Saat kubaca pesan singkatnya, orang ini benar-benar formal dan menggunakan bahasa yang baku. Layaknya sebuah surat pemberitahuan resmi dari perusahaan-perusahaan yang menawarkan produknya, begitulah bahasa yang digunakannya.
Esok harinya, salah seorang kenalanku, Siska, yang juga mahasiswi psikologi datang ke laboratorium elektro tempat biasa kami nongkrong. Dia menawarkan padaku untuk menjadi partisipan temannya yang akan melakukan praktikum tes psikologi. Nah, aku kan sudah menyetujui penawaran seseorang sebelumnya. Setelah dikonfirmasi ulang oleh Siska, ternyata temannya ini adalah orang yang sama dengan orang yang telah melobiku sebelumnya, namanya Lala. Ternyata repot juga ya menjadi mahasiswa psikologi, istilahnya mencari pasien. Hehehe. Lala ini pada awalnya sangat formal, tetapi lama kelamaan dia mulai mencoba menjadi akrab dan memanggilku mas Risky. Lucu juga nih anak. Penasaran juga orang ini kayak gimana. Eh, ada yang bilang kalau anak-anak cewek di jurusan sosial itu cantik-cantik. Lumayan lah buat cuci mata kalau ikut tes ini. Ehm tetaplah fokus pada tujuan semula, mencoba mencari jalan untuk menemukan solusi dari permasalahanku saat ini. Mungkin ini salah satunya.