Nggak Ada Mereka, Nggak Asyik
*edisi kali ini, menceritakan kembali tentang Rey dan kehidupannya.
Aku duduk terpaku di bangku kelas yang sangat sepi. Tak seperti biasanya, taman kanak-kanak ini begitu sepi tanpa kehadiran sahabat-sahabatku. Mereka benar-benar kompak saat ini, membiarkanku belajar di sekolah seorang diri. Setiap sudut kelas terasa hampa tana kehadiran mereka.
Setelah berdoa di pagi hari, kak Fitri sudah bersiap di sampingku dengan membawa buku, majalah, dan kotak pensil punyaku. Sebagai seorang pendamping, kak Fitri benar-benar orang yang setia mendampingiku. Tak sedetkpun dia melepaskan perhatiannya padaku, bahkan dia selalu duduk di sampingku. Dia selalu berusaha agar aku tidak kesulitan selama di skeolah.
Kak Fitri segera menduduki bangku kecil di samping bangkuku dan meletakkan buku di mejaku. Benar saja, aku harus belajar sekarang juga.
“Rey, ayo mulai belajar,” ajak kak Fitri lembut. “Rey mau ngerjakan mana dulu ?”
Kak Fitri menyodorkan buku tulis, buku gambar, dan majalah bergambar. Aku diminta menunjuk salah satunya untuk kukerjakan. Aku tak ingin mengerjakan apapun sekarang.
“...dididik (baca: kak Fitri),” kupanggil nama kak Fitri sambil kugeleng-gelengkan kepala.
“Rey, nggak boleh gitu,” kak Fitri memegang bahuku dan menatap mataku. “Rey belajar dulu ya.”
Aku membuang muka setiap kak Fitri berusaha mengajakku belajar. Kutatap bangku kosong yang ada di hadapanku yang biasa diduduki Milo dan Gerry, sahabat-sahabatku yang sedan ijin tidak masuk sekolah.
“”Eh, Rey kakak nyanyiin lagu pelangi ya,” kak Fitri terus berusaha membujukku. “Tapi Rey harus belajar dulu.”
Dengan berbagai cara dia mengajakku agar mau belajar. Aku tetap pada keinginanku. Aku tak tahan untuk terus duduk. Aku beranjak dari bangku dan berlarian di kelas. Untuk sesaat, kak Fitri membiarkanku berlarian, lalu dia datang menghampiriku untuk berbicara padaku.
“Apa sih Rey yang kamu lakukan itu?” guman kak Fitri saat melihatku melakukan beberapa gerakan. Nampaknya dia tak mengerti apa yang ingin kusampaikan. Harusnya dia bisa mengerti apa arti setiap gerakanku ini karena dia tahu kalau aku susah sekali untuk menyampaikan secara verbal. Aku berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya mengerti tetapi dia hanya diam saja. Aku menjadi kesal dan berlari menjauhinya adalah pilihan yang terbaik.
Nampaknya kak Fitri merasa kesal dengan apa yang kulakukan. Aku tahu aku tak menurut padanya dan tak mau belajar sama sekali. Aku membuatnya harus berlarian ke sana kemari mengikutiku. Aku benar-benar menyesal padanya. Rasa kesal karena dia tak kunjung mengerti juga membuatku kesal. Hal ini berarti kami impas.
Sebenarnya aku hanya inign menyampaikan bahwa aku merasa kesepian tanpa hadirnya sahabt-sahabtku di kelas. Aku hanya ingin berlarian untuk menghibur diriku dari semua rasa sepi yang sedang kursakan ini.
Hari itu berlalu begitu saja dengan rasa kesal yang ada pada diri kami masing-masing. Tiga hari kami lalui dengan pola yang sama. Aku tak mau belajar, berlarian di kelas, kemudian kak Fitri membujukku tetapi tak berhasil lalu dia kesal begitu pula denganku.
“...dididik, ilok, hairik (baca; kak Fitri, Milo, Gerry),” kata-kata ini selalu kuucapkan pada kak Fitri selama tiga hari ini.
Kuanggukan kepala mengiyakan pertanyaan kak Fitri.
“Milo lagi sakit, jadi gak masuk. Kalau Gerry lagi ijin ke luar kota.” Jawaban inilah yang selalu kuterima.
Hingga suatu pagi, aku datang sedikit terlambat. Kak Fitri sudh menyambutku di depan gerbang sekolah. Kami bersama-sama masuk kelas. Nampaknya kelas tak lagi sepi. Terdengar suara Milo dan Gerry yang sedang bernyanyi. Aku yakin aku tak salah mendengar suara mereka.
“Ilok...Hairik... (baca: Milo, Gerry)!” aku berteriak sekencangnya menyususri koridor menuju kelas.
Tak terbayangkan betapa bahagianya aku, kulihat wajah sahabat yang kurindukan sudah duduk di bangku mereka dengan senyum lebar. Aku kembali berantusias dalam belajar dan segera menyelesaikan semua tugasku, sehingga aku bisa bermain bersama mereka.