Surat Cinta untuk Adinda
Dear Perempuan pemilik pelukan menenangkan, Barangkali isi tulisan ini nanti, tak seromantis surat cinta kebanyakan. Pun mungkin akan terlihat canggung, meski bukan kali pertama aku menuliskannya untukmu, namun tetap saja ada kekhawatiran tersendiri perihal jiwa atas tulisan ini.
Dear Puan penyuka warna merah muda, seberapa sering aku hadir dalam pikiranmu, ah tidak, maksudku hatimu? Apakah kamu masih sering terpikir bahwa kelak kita akan terpisah? Masihkah ada kekhawatiran tentang tak adanya lagi pertemuan nyata kita? Jika pertanyaan itu dibalikkan kepadaku, haruskah aku mengaku bahwa jawabannya adalah iya?
Halo Puan kesayangan, barangkali, di dunia ini, segalanya bisa diganti. Pun perihal posisi seseorang di hati orang lainnya. Namun bisa kupastikan, keberadaanmu tak akan terganti oleh siapapun jua. Katakanlah aku sedang membual, namun dengan ini kuyakinkan dirimu, bahwa kamu tetap memiliki tempat tersendiri, dan siapapun tak berhak untuk menempatinya lagi.
Hey, Kamu yang potretnya memenuhi galeri, bisakah cerita-cerita bahagia kita diulang? Ah, tidak, mungkin diciptakan lagi cerita bahagia baru. Apakah terlalu sulit untuk menyingkirkan segala ego diri? Apakah masih tak mudah mengabaikan wajah muram dan diganti tawa kita? Meski harus selalu disadari, kedekatan kita dimulai justru karena peristiwa memilukan yang menguras air mata, Kan?
Jika biasanya tulisanku berisi ucapan terimakasih dan permintaan maaf, untuk kali ini, bisakah aku minta tolong? Tolong tetaplah di sini. Tolong untuk tak lantas pergi. Pun tolong berjanjilah untuk terus membersamai. Atas segala macam curiga yang menjedakan kita, atas semua prasangka yang mengikis kebersamaan kita, bolehkah segalanya tak lagi dipedulikan saja?
Dear, Kamu. Harapku cukup satu; semoga waktu masih berbaik hati menjadikan tawa dan cerita kita abadi.
Dari Nonamu, yang selalu menunggu peluk hangatmu.











