Ruang yang Tidak Diisi Siapa-Siapa
Ada ruang yang tidak lagi ramai sejak kamu pergi.
Bukan karena tidak ada orang yang datang, tapi karena tidak ada yang benar-benar singgah.
Ruang itu masih sama, tidak berantakan, tidak juga rapi.
Hanya… dibiarkan begitu saja, seolah aku takut mengubah apa pun yang pernah kamu sentuh di sana.
Aku sudah belajar membuka pintu untuk orang lain.
Mempersilakan mereka masuk, duduk sebentar, bercerita. Aku tersenyum, mendengarkan, bahkan tertawa.
Tapi saat mereka pulang, aku selalu kembali ke ruang yang sama yang tidak pernah benar-benar kuberikan.
Bukan karena mereka tidak cukup baik.
Aku hanya belum selesai dengan versi diriku yang pernah mencintaimu begitu dalam.
Ruang itu bukan tentang kamu lagi, setidaknya, itu yang berusaha kupercayai.
Namun diam-diam, aku tahu, ada satu nama yang masih tinggal paling lama di sana.
Aku tidak memanggilmu.
Tapi aku tidak menutup pintu itu sepenuhnya.
Seolah-olah, jika suatu hari kamu kembali dan mengetuk, aku tidak ingin kamu menemukan tempat itu telah berubah menjadi asing.
Dan mungkin ini yang paling jujur: ruang itu memang tidak diisi siapa-siapa, karena ia masih menunggumu.
Bukan dengan harapan yang berisik, bukan dengan rindu yang memaksa, tapi dengan diam yang setia pada sesuatu yang sudah lama tidak pasti.
Aku tahu, menunggu tidak selalu berarti akan terjadi.
Tapi untuk sekarang, itulah satu-satunya cara aku menjaga apa yang pernah terasa begitu benar.
Sampai nanti, entah aku yang akhirnya benar-benar pergi dari ruang itu, atau kamu yang benar-benar kembali,
atau mungkin, tidak keduanya.








