Ragu
Dear Sukab,
Menemukanmu adalah sebuah perjalanan dari ragu ke ragu. Menceritakan angan-anganku tentangmu kepada waktu adalah secangkir kebosanan yang dituang bersama luka. Kisahmu memang belum ada pada buku ceritaku. Memamerkan lembar-lembar kosong kepadanya merupakan sebuah kekonyolan yang nyata. Mengapa keterpisahan ini menjadi amat rumit? Bukankah janji pertemuan kita sudah direncanakan sederhana?
Aku jadi berpikir tentang pemaksaan yang kulakukan kepada Tuhan. Padahal Tuhan tidak pernah terintimidasi oleh siapa pun. Ia hanya ingin mengatakan bahwa makhluk-Nya harus hati-hati dalam meminta. Taksemua yang ditetapkan-Nya merupakan kejadian yang Dia suka. Aku jadi malu atas pemaksaanku kepada orang asing agar mengaku sebagai kamu.
Wahai lelaki penjaga kenangan, bila harus tertangguh lagi, biarlah pertemuan kita tetap tertangguh. Aku tidak ingin menjadi beban pikiran bagi orang asing itu. Aku tidak pernah berharap menyebabkannya berada dalam situasi menyulitkan. Aku hanya ingin menikmati bahagia bersama sepi yang menunggui cinta di petirahan ruang tunggu.
Lagi-lagi kukatakan, bukankah kita tidak sedang terburu-buru?[]
Yang selalu rindu,
Maneka
gambar dari sini








