Ternyata senja ku tidak seindah apa yang kau katakan Sukab.
Kilaunya tetap sama, kemerahan. Tapi tanpa pantai, tanpa pasir yang lembut, tanpa gorong-gorong, tanpa rasa rindu yang bisa aku berikan.
Keindahannya tetap sama Sukab, tapi tanpa berniat aku berikan sepotong senja yang sedang aku tatap ini untuk aku kirimkan dengan tukang pos ataupun aku ganti dengan senja yang palsu.
Aku biarkan ia tetap di sana supaya tetap sama, tetap tenang, tetap dinantikan walapun hilang digantikan gelap malam, walaupun tidak selalu ada.
aku biarkan senja itu tetap di sana.
Agar, bisa aku sampaikan kepada kekasihku bahwa ada senja lain yang sama indahnya seperti yang kau berikan kepada Alina walaupun tidak sempurna.
Ah, kekasih ku ya Sukab..
Sedang apa ya dia?
Seperti apa ya dia?
Bisakah ia menunggu dengan sabar. Tapi, sabar kah ia?
Bisakah ia melihatku dengan sederhana seperti aku yang melihat senja yang ada dihadapan ku ini dengan sederhana?
Senja yang katanya sangat dicintai banyak orang.
Senja yang katanya dikagumi banyak orang.
Senja yang selalu disebutkan banyak orang.
Hei, senja dengan keindahan dan kesederhanaanmu. Bisakah kau sampaikan kepada ia yang mungkin sedang bahagia, tertawa, ataupun terjatuh. Untuk menunggu aku yang mungkin akan hadir?
Bisakah ia tidak kecewa, jika aku hadir tidak sesempurna bayangannya seperti saat aku membayangkan keindahanmu?
Bisakah ia nanti sedikit lebih sabar akan aku yang mungkin menyebalkan dengan segala pikiran dan kecemasannya?
Bisakah aku nanti meleburkan rasa rinduku yang saat ini menggebu untuk bertemu yang mungkin belum waktunya?
Sampaikan padanya..
Untuk sabar dalam penantiannnya sebelum kita nanti akan bercerita lebih banyak tanpa jeda, membuat cerita lebih banyak bersama, meleburkan rindu bersama.
sampaikan padanya ya..
-Ouioir-











