Kita Semua Kaya!! (1)
“Kamu punya apa untuk anak saya?” “Penghasilanmu berapa?” “Kerja dan Jabatanmu apa?” “Udah punya rumah atau mobil belum?”
Nah ini adalah pertanyaan pertanyaan yang sering kita jumpai , ketika kita akan mau serius dengan sang pujaan hati. Lantas apakah orang yang sudah berpunya bisa mendekati sang impian kita itu? Kadang juga tersa jengkel atau bahkan marah dengan keadaan saat ini yang belum memiliki hal yang seperti itu. Jangan kan Mobil sepeda motor saja sudah untung, jangankan punya sepeda motor punya sepeda onthel aja sudah seneng dan jangankan onthel bisa jalankaki aja udah syukur. Hal hal semacam ini banyak membuat kita menciptakan kelas sosial kita sendiri. Alhasil si miskin tidak bisa bergaul dengan si kaya karna minder dan si kaya selalu menyepelekan si miskin karna tidak punya harta dan benda seperti dirinya.
Miskin tetaplah miskin jika tidak punya simpanan emas, tanah, reksa dana dan lain lain. Orang yang tidak memiliki harta benda yang berlimpah akan selalu dipandang miskin. Tetapi bukan hanya itu saja yang saat ini kita imani dan lakukan. Bahwa materi dan harta benda bisa membuat kita bahagia dan membuat kita aman dihadapan Sang Pencipta.
“Si A itu kaya, dia punya mobil ,real estate, setiap tahun bisa ke eropa. Beda ya kayak si B,motornya butut, rumahnya kontrak, jangankan jalan jalan buat makan aja udah syukur!” ini percakapan yang sering terlontar oleh tetangga samping rumah kita. Tapi apakah tau mereka untuk pencapaiannya atas harta si A dan B? mereka selalu mengkomparasikan orang dengan orang lainnya lewat hart dan benda. Dan apakah mereka yakin bahwa yang kaya akan selalu kaya dan miskin selalu miskin? Jangan selalu berpatokan dengan harga dan nominal sehingga menilai miskin dan kaya sesukanya.
Kadang kita perlu bersyukur atas keadaan kita seperti ini. Makan minum sudah tinggal makan, baju kotor masukkan mesin buatan aseng tinggal jemur, dan masih banyak yang lainnya. Kaki tangan kita lengkap tetap saja mengeluh, kurang ini dan itu. Sekolah kita bisa, tanpa bersusah payah kita bisa dapatkan. Tapi tetap saja kita mengeluh, fullday lah,guru killer lah, suasana kurang nyaman lah, persetan untuk itu. Sebagai manusia kita diciptakan berbeda dengan makhluk lainnya. Kita diciptakan sebagai makhluk “yang paling SEMPURNA”, lengkap dan kongkrit wujudnya begitu juga serta akal dan pikirannya. Hewan punya insting manusia punya naluri, jin dan setan punya tugas menggoda manusia, sedangkan manusia bertugas menjauhi setan dan jin untuk melakukan perintah tuhan. Sebenernya kita ini adalah istimewa dibanding makhluk tuhan edisi dan cetakan yanng lain.
Bersyukur sangat penting untuk kita menghargai diri kita sendiri dan Pencipta yang sudah membuta kita istimewa seperti saat ini. Bagaimana kita bersyukur kepadaNya? Salah satu yang kita bisa lakukan adalah ibadah. Ingat, bahwa kita ibadah adalah sarana kita berterima kasih atas jasad dan roh yang sudah ada pada saat ini kita nikmati. Bayangkan ketika jasad kita tidak sejalan dengan roh kita, bisa bisa organ kita menolak atas perintah dan bagian bagian tubuh kita tidak sesuai dengan fungsinya, misal telinga yang seharusnya mendengar tiba tiba protes ingin bisa mengunyah makanan seperti mulut. Itulah pentingnya kita beribadah sebagai sarana kita berterima kasih terhadap pencipta.
Bersyukur kepada pencipta bukan hal yang memalukan. Banyak diantara kita bersyukur atas rejeki lantas kita berbuat senaknya. Kita dapat komisi dari pekerjaan kita dengan jumlah yang banyak kita selalu melupakan Tuhan. Kita sering mengingat tuhan dikala kita susah dan meninggalkannya saat tujuan kita tercapai. Apakah Tuhan kita sebagai tameng kita disaat waktu susah saja? Enak sekali kalau seperti itu. Akan ada waktunya Tuhan juga meminta pertanggung jawaban atas hal itu, tidak memandang waktu susah ataupun senang kita. Bersyukurlah kawan, tanpa meninggalkan tuhan. Ajaklah tuhan disaat susah dan senangmu,sedih gembiramu dan lapar kenyangmu.
“Bersyukurlah atas kepadaku, maka aku akan lipat gandakan itu” itu janji Allah kepada setiap hambanya. Lantas apakah ketika kita sedih tidak boleh bersyukur karna takut dilipatgandakan kesedihannya? Sebenarnya itu adalah ajakan kita untuk selalu mengingat Allah sebagai pencipta dan pemilik kita.
Harta bukan acuan kita bersyukur. Kita di dunia mencari banyak sekali harta agar bisa menjadi disegani, terpandang dan banyak hal yang membuat sombong kita. Harta memang hal kita kejar selama ini tapi bukan itu yang utama. Tengoklah kejalan dimana kita bisa jumpai banyak orang yang mengais sampah untuk bisa menyambung hidup mereka. Hal yang paling simple adalah melihat pasar. Disana kita bisa melihat mulai dari pedagang, keamanan, pengemis,pengamen dan para cukong pasar. Apakah selalu cukong kaya itu bisa tidur nyenyak? Belum tentu. Apakah pengemis selalu resah dan kelaparan? Tidak juga. Dan apakah keamanan selalu mengawasi sampai dia tak bisa tidur? Ya tidak.
Cukong yang kaya itu tidak bisa tidur nyenyak kalau masih cemas gudangnya akan dibobol maling. Pengemis juga tidak akan selalu resah dan kelaparan jika dia menerima hasil kerja dan makanan yang diaperoleh atas peluh dan keringatnya. Dan keamanan juga akan tidur jika dia menghargai satu rekan satu timnya untuk berjaga. Disini kita lihat bahkan harta adalah bukan acuannya kita bahagia dan bahkan Harta membuat kita tidak mempercayai tuhan untuk menjaganya.
Saya miskin! Dan apa yang harus disyukuri! Kadang banyak orang berpikiran seperti ini. Orang menganggap dirinya miskin dan memiskinkan dirinya seakan dia adalah manusia termiskin di dunia. Hal ini ada paradigma dan anggapan kita sendiri kemudian diyakini sehingga kita tidak melakukan apa apa dan lupa bersyukur. Hal yang terpenting untuk kita syukuri adalah oksigen yang kita hirup saat ini. Bayangkan saja jika limabelas ,enam puluh detik atau lebih tidak ada oksigen, padahal oksigen yang kita hirup itu gratis tak mengeluarkan uang sepeserpun untuk mebayarnya. Bayangkan jika Allah meminta bayaran atas oksigen yang kita hirup. Bisa bangkrut kita dibuat.
KITA SEMUA ORANG KAYA!! Si miskin yang tidak punya harta yang lebih tapi tetap bisa menghargai orang dan mensyukuri nikmat darinya itu adalah kaya. Sedangkan orang kaya yang selalu tidak menerima harta dan selalu ingin menambahkan hartanya sehingga tersiksa dengan mindset itu dan menjadi beban mereka sehingga lupa dengan nikmat dan karunianya mereka memiskinkan dirinya dan selalu merasa kurang maka disitulah dia memiliki hati yang miskin.
Jadi, sebenarnya kita hidup adalah saling mensyukuri atas nikmat yang diberikan Allah kepada kita semua. Yakini bahwa hidup adalah jembatan kita menuju alam keabadian. Pertanyaan malaikat yang pertama adalah SIAPA TUHANMU? Bukan Lantas Mana Mobilmu, mana rumahmu? MAri saling menghargai orang bukan lantas dari materinya dan hartanya tapi cara bagaimana dia mensyukuri nikmat hidupnya. HARTA berlimpah tidak selalu membuat kita nyaman dan tertawa, tetapi mensyukuri harta dan nikmat itu membuat kita aman dan nyaman.
verse.Bersyukur dalam agama akan ada versi berikutnya














