Warga Desa Meli Tersandra Banjir Bandang dan Covid-19
Siang itu udara begitu panas, meski semalam camp pengungsian Desa Meli di gasak hujan yang cukup deras. Debu-debu beterbangan, tak terkecuali sampah plastik berukuran kecil turut serta melayang di udara. Kini telah hampir dua bulan lamanya warga desa mengungsi sejak Banjir Bandang meluluh lantakkan Kabupaten Luwu Utara pada senin malam (13/07/2020).
Sekedar diketahui, banjir bandang terjadi akibat meluapnya tiga sungai di yaitu; Sungai Maipi-Masamba, Sungai Meli-Radda, dan Sungai Rongkong. Ketiga aliran sungai itu terletak di DAS Rongkong dan DAS Baliase. Menurut BPBD tercatat, sebanyak 28 orang meninggal dunia dan 40 orang lainnya hilang. Sedikitnya ada 14.438 jiwa dari total 3.627 kepala keluarga (KK) mengungsi.
Banjir bandang yang membawa material kayu, batu, pasir, dan lumpur, selain merusak lahan warga, juga merusak 4.202 rumah akibat endapan lumpur setinggi 2,5 meter. Sebanyak 9 unit sekolah hancur, 13 unit rumah ibadah luluh lantak, 3 unit fasilitas kesehatan tak bisa di fungsikan, dan 8 kantor pemerintah lumpuh total. Sementara fasilitas umum seperti jalan raya, jembatan, fasilitas air bersih dan yang lainnya mengalami kondisi yang sama.
Bantuan dari para donatur terus mengalir tak terkecuali di Camp Pengungsian Desa Meli. Baik berupa sembako dan kebutuhan penting lainnya termasuk selimut, sarung, perlengkapan ibadah, tikar tidur dan obat-obatan. Desa Meli adalah sebuah desa yang terletak di hulu sungai Meli-Radda.
Menurut Andas Sanjaya, salah satu pemuda yang juga aktif di Karang Taruna Desa Meli menuturkan “saat banjir terjadi, warga desa pada malam itu panik dan berhamburan. Paling utama yang pemuda selamatkan adalah anak-anak dan lansia. Kita menggendong mereka dan berlari kebukit, lalu menitip mereka untuk berteduh di rumah-rumah kebun milik warga sini”.
Di hari pertama musibah, tampak di lokasi pengungsian telah berdiri 20-an tenda terpal. Salah satunya adalah tenda yang di manfaatkan untuk menampung logisitik dari segenap donatur yang masuk. Di hari kedua tenda terpal mulai bertambah menjadi 53 buah. Terpal-terpal yang di gunakan untuk membangun hunian adalah terpal di peroleh dari para donatur yang di gunakan untuk membungkus logistik saat mengantar logistik ke lokasi pengungsian. Lalu dihari keempat menjadi 74 tenda hunian, dan terus bertambah jumlahnya dari hari kehari, hingga puncaknya sebanyak 334 tenda hunian yang berdiri. Termasuk tenda-tenda komando yang didirikan oleh TNI-Polri, BNPBD, dan para relawan.
Tenda-tenda mulai berdiri dengan rapi, sembako yang masuk dari para donatur masya Allah banyaknya. Tetapi satu hal yang luput adalah, baik aparat desa, warga dan para donatur seakan melupakan bahwa selain banjir, Corona Virus adalah musibah lain yang juga perlu penanganan serius. Corona di camp pengungsian seolah ikut tersapu banjir bandang. Ini dapat kita saksikan dimana setiap orang tak lagi mengindahkan protokol pencegahan Corona Virus yang di himbau oleh pemerintah.
Boleh jadi karena kepanikan warga lebih pada soal hunian di camp pengungsian, bisa juga karena untuk cuci tangan dengan sabun saja air di camp pengungsian memang terbilang langkah, dengan hanya mengandalkan suplay dari Palang Merah Indonesia (PMI). Juga karena Masker dan hand sanitizer memang cukup sedikit yang mendonasikan. Sementara jumlah jiwa yang berada di camp pengungsian desa meli sebanyak 1.872 Jiwa atau 348 kepala keluarga yang tersebar di empat dusun atau telah melebur menjadi 334 tenda di camp pengungsian.
Banjir dan Virus Corona adalah musibah yang sangat serius bagi warga Desa Meli. Banjir menggasak lahan dan harta, sementara Corona menghilangkan tradisi bersalaman yang selama ini hidup di desa. Puncak tertinggi kedua musibah ini adalah penghilangan nyawa bagi orang yang terdampak langsung. Bedanya, banjir bisa menghilangkan nyawa sekali sapu, sementara Corona Virus perlahan tapi pasti jika tak mengikuti protokol kesehatan.
Hidup di tenda saat musim kemarau tentu akan ngos-ngosan. Selain karena udara yang panas, juga karena kerentananan tenda yang sobek. Belum lagi dengan alas yang seadanya, tentu akan menggerogoti fisik seseorang. Hari ini yang dibutuhkan oleh warga Desa Meli adalah hunian yang nyaman dan aman bagi anak-anak dan lansia terutama dimasa pandemi seperti ini.
Bukankah tinggal secara berkerumun dengan banyak orang akan sangat rentan terjadinya penularan Virus Corona? Bukankah banyak bersentuhan dengan orang asing akan mempercepat laju penularan Virus Corona? Dan bukankah tidur berbulan-bulan di atas lapisan terpal dan tikar seadanya akan melemahkan imun seseorang?
Semoga penanganan pasca bencana cepat dan tepat dalam pengambilan keputusannya serta langkah-langkah penanganannya. Sehingga apa yang menjadi keresahan warga Desa Meli dan kita segera terurai dan terselesaikan.
Wallahu a’alam......












