Membunuh Waktu di Perpustakaan Kampus
Siang kemarin laptop yang sedang saya pakai mengetik tulisan ini kuantarkan kepada kawan yang memang punya pekerjaan menyerfis laptop. Tepatnya spesialis servise barang elektronik. Untuk urusan laptop yang rewel, sejak dulu saya selalu membawanya kepada kawan saya itu. Meski dalam perjalanan menuju tempat kerjanya saya melewati banyak ruko yang pekerjaannya menawarkan jasa yang sama. Bahkan yang lebih besar pun ada. Tetapi untuk kepuasan hanya kawan itulah yang paling baik. Setidaknya menurut ukuran saya.
Sembari menunggu laptop saya selesai untuk di obati, saya membuang waktu untuk berkunjung pada satu-satunya kampus negeri di kota tempat saya tinggal. Mumpung lokasinya hanya sepelemparan dari tempat saya nyerfis. Kebetulan pula, saya memang pernah nyangkut disana. Meski pada kenyataannya beasiswa hingga kelulusan dan beberapa fasilitas yang diberikan oleh negara kepada saya harus saya tinggalkan begitu saja (bukan karena Drop Out).
Singkatnya saya jenuh berkuliah dengan metode yang mungkin dari dulu hingga sekarang masih seperti itu. Tepatnya seperti hanya saat di Madrasah Aliyah Negeri atau SMA. Barangkali pembedanya hanyalah di seragam saja.
Maksud saya masuk ke kampus adalah untuk mengenang masa-masa saya berkuliah dulu. Sekaligus menemani teman saya jalan-jalan, meski yang tampak adalah tata ruang kampus sudah banyak yang berubah terutama pohon-pohon dan tanaman semuanya telah berubah menjadi batu. Gedung-gedung semakin bertambah banyak dan bertambah tinggi. Itu pula yang banyak membuat areal kampus kehilangan ruang terbuka hijau.
Satu-satunya yang saya kunjungi dikampus itu adalah perpustakaan yang kini telah berpindah tempat. Semasa kuliah dulu, perpustakaan di kampus tersebut memang sudah bertingkat dua dengan koleksi buku yang melimpah. Dari kitab gundul hingga yang gondrong, dari judul kapitalisme hingga sosialisme hingga wacana kiri lucu-lucu, kanan lucu-lucu dan sebagian tengah lucu-lucu. Pun jika dibandingkan dengan perpustakaan kota, koleksi dari perpustakaan kampus ini masih jauh melimpah.
Perpustakaan itu telah memiliki ruangan yang semakin besar, dingin oleh hembusan AC dan memiliki beberapa tambahan meja baru, komputer dan staf. Sayangnya setelah saya bertawaf dari lemari yang satu ke lemari yang lain, perpustakaan itu justru koleksinya semakin berkurang. Saya bisa tahu karena dulu saya termasuk pengunjung perpustakaan terbaik. Bukan pembaca yang baik, tentu berbeda bukan?.
Beberapa judul sejak dua dekade lalu masih bertahan tapi jumlahnya yang menyusut. Saya sendiri tidak tahu apa faktor penyebabnya. Mungkin di kunjungan berikutnya akan saya telusuri. Kebetulan kepala perpustakaannya masih mengenali saya. Barangkali karena waktu kuliah dulu kami sering mengundangnya berdiskusi atau cerita dibawah pohon besar yang letaknya tepat tengah kampus. Atau karena kepala perpustakaan tersebut menganggap saya sebagai selebritis (penjelasan soal ini panjang, dan saya tak akan menuliskannnya disini. Tidak penting!).
Saya akan fokus berdasarkan pengamatan sejak siang hingga jam berkantor selesai. Apa yang saya amati ini memang masih sangat subjektif, karena memang baru akan saya cari tahu setelah kunjungan kedua sebagaimana yang telah saya tuliskan diatas.
Untuk besaran gedung dan koleksi buku sangat berbanding terbalik. Jumlah staf yang membengkak justru tidak menambah kualitas layanan dan penataan buku. Padahal sejak dulu aturan yang berlaku adalah buku yang telah dibaca, diletakkan saja diatas meja. Mengapa? Agar memudahkan staf untuk menyusun atau mengembalikan pada lemari yang sama. Saya tidak tahu apakah aturan perpustakaan se Indonesia memang memiliki aturan demikian. Tetapi sudah semestinya demikian bukan?
Saya kesulitan menemukan buku yang saya cari. Apakah karena tata letak, atau memang karena buku itu sudah digudangkan. Sekali lagi saya tak ada waktu untuk menanyakan hal itu pada kunjungan pertama saya. Belum lagi posisinya sudah tidak sesuai dengan keterangan klaster yang tertulis di samping rak buku yang berjejer ibarat tentara lagi apel.
Keramahan staf tidak bertambah kualitasnya, meski secara akademik gelar mereka semakin bertambah. Bayangkan, orang yang berjibaku dengan ribuan judul buku selama bertahun-tahun pola menegurnya masih bar-bar untuk ukuran zaman sekarang.
Para pembaca diteriaki seperti orang yang berada diseberang sungai. Bukankah pada dinding perpustakaan tersebut telah tertulis di beberapa tempat yang strategis kalimat “DILARANG BERISIK” kalimat itu juga ada yang mulai keminggris seperti “DONT BE NOISE”. Belum lagi kalimat tegurannya bias gender dan toxic relationship. Tentu itu adalah preseden yang buruk.
Untuk hal teknis lainnya saya nyaman-nyaman saja. Seperti lemari penyimpanan barang meski barang berharga seperti emas, handphone dan dompet mesti dibawa dan jadi tanggung jawab pengunjung. Atau ruangan yang ber AC membuat ruangan sejuk meski saya tak tahu apakah punya pengaruh pada kelembaban kertas yang berpotensi merusak atau bagaimana? Termasuk Mushollah yang dari pengamatan singkat saya masih tertulis “KHUSUS AKHWAT” dan ada juga fasilitas kamar mandi yang lumayan bersih dan tidak bau khas.
Sementara dipintu masuk, sepatu mesti dilepas. Nampak berserakan karena memang tak ada rak yang di(ter)sediakan. Untuk saat ini saya bisa memaklumi mengapa pengunjung harus melepas alas kaki, karena memang area sekitar perpus masih berupa timbunan. Jika dikenakan bisa membuat ruangan berdebu dan kotor. Tentu ini akan merepotkan jika musim hujan dan pengunjung ada yang kaos kakinya berbau terasi, hehehe.
Sejauh ini halaman masih belum ada upaya untuk meratakannya apakah dengan rumput atau paving block. Kita bisa makfum, karena ini adalah soal kebijakan dan “politik anggaran” dari para petinggi kampus. Singkatnya proyeknya belum realisasi.










