Mengakhiri NovemBaper dan mengawali Desemberkah yang baru dimulai. Cerita masih menyangkut ruang lingkup keseharian. Bagaimana seseorang bisa memaknai perasaannya dengan alasan. Alasan untuk tetap bertahan. Meski hatinya hancur berantakan. Mereka punya cara merapikan kembali semua yang berantakan. Menyusunnya dengan sangat baik hingga tak menyisakan bekas patahan. Lagi-lagi karena sebuah alasan. Dan cinta butuh alasan. Bagaimana menurutmu? Cinta butuh alasan atau tidak? Perbincangan menjadi menarik, tatkala pertanyaan itu diudarakan. Ada yang bilang butuh dan ada yang tidak. Mereka pun mengutarakan berbagai argumen kenapa menjawab demikian. Hingga di satu sisi saya pun menarik kesimpulan, bahwa ketika mencintai seseorang dengan sebuah alasan, itu mampu menguatkan ikatan; cinta (hubungan). Setuju? Ya, itu hanya sebuah konklusi dari saya. Gini, sederhananya saat kita mencintai seseorang, pasti kita menganggap dia berbeda dari lainnya. Unik. Istimewa. Bahkan memang tiada duanya. Dan secara tidak langsung, kita sudah menaruh alasan pada hati, kenapa saya mencintai dia? Iya atau tidak? Perasaan itu dengan sendirinya menjalar menyentuh hati. Setiap kali mengingatnya, pasti awal mula yang terbayang adalah hal-hal terbaik dari dirinya. Misalnya saja karena dia punya kebiasaan sholat 5 waktu berjamaah sesibuk apa pun, mempunyai kebaikan sikap saat berinteraksi dengan orang lain, atau bahkan sekadar memiliki kebiasaan mengucap asma-Nya (bismillah) dalam setiap kesempatan. Kamu bagaimana? Alasan apa yang kamu buat ketika ditanya tentang perasaan? Mengapa bisa jatuh cinta secepat kendaraan yang lewat jalur bebas hambatan? Ada pula orang-orang yang jatuh cinta hanya dengan membaca tulisan? Mencintai membutuhkan alasan. Darinya kita bisa bertahan dari rintangan di perjalanan. Alasan ini pula yang membuat kita kuat untuk bersikap selayaknya, ketika badai permasalahan melanda perahu kehidupan. Lalu, seseorang kembali bertanya, bagaimana cara agar seorang anak bisa mencintai Sang Pemilik Kehidupan? Kamu pasti bisa menjawabnya kan? Hanya dengan pernyataan, "berilah alasan kuat kenapa Sang Pemilik Kehidupan harus dicintai? Mengenalkan profile Sang Pemilik Kehidupan selengkap mungkin. Hingga membuat sang anak bisa lembut hatinya hanya dengan berucap, Allah adalah Al-Latif, jadi hanya Dia-lah yang bisa melembutkan hatimu, nak." Terkadang, ketidaksadaran diri kita menutup cahaya-Nya. Kita digelapkan dengan urusan yang tak kunjung ada habisnya. Melupakan segala kebaikan Sang Maha. Hingga, saat ada sebuah majelis ilmu, kita kembali bertanya, "bagaimana kita bisa mencintai Allah?" padahal, sudah jelas kita tahu jawaban dari pertanyaan itu. ====== Ketika kita sudah menemukan alasan kenapa bisa mencintai seseorang di kehidupan ini, lantas kenapa kita tidak mau mencari alasan untuk mencintai-Nya? © Faris Jakarta, 1 Desember 2015