Seorang tua tampak bergegas membereskan peralatan 'kantor'nya. Cangkul, sabit, dan beberapa sapu lidi sudah diatur sedemikian rupa di sebelah pojok gubug. Sambil mencari-cari mantel untuk menangkal rintiknya hujan, tatapan orang tua itu terhenti di ujung jendela.
"Siapa gerangan di bawah cuaca yang buruk seperti ini berkeliaran di pekuburan?" tanya orang tua itu dalam hati.
1-0 skor sementara, ketika rasa penasaran berhasil unggul lewat sebuah adu pinalti. Didekatinya sesosok tubuh tegap lengkap dengan jubah ksatrianya di ujung di depan sebuah nisan.
Pelan-pelan didekatinya sosok itu tanpa keinginan untuk mengganggu.
"Tak perlu kau kemari, orang tua. Tak usah kau pedulikan aku, pulanglah."
Tersentak kaget, si orang tua menghentikan langkahnya. Jarak mereka terbilang masih cukup jauh. Tapi entah kenapa sosok itu tahu akan kehadirannya. Bahkan suara yang terkesan berat, penuh duka itu terdengar sangat dekat di telinganya.
"Maaf Tuan Ksatria, apakah ada yang bisa hamba bantu? Mengingat hamba adalah juru kunci pekuburan ini."
Tidak ada jawaban. Hanya suara gerimis yang menimpa tanah.
Meski sudah beruban dan kehilangan hampir seluruh gigi hamba, hamba masih bisa mengingat siapa jenazah pertama sampai terakhir yang dikuburkan disini.
Nisan di depan tuan tersebut adalah milik Dewi Amba. Dia memang tidak menginginkan orang lain mengetahui dimana letak pekuburannya. Kasihan dia tuan, dia meninggal karena sebuah kecelakaan. Tak bisa terbayang perasaan Pangeran Bhisma, harus merenggut nyawa orang yang dicintainya." jelas si orang tua dengan terenyuh sambil terus berjalan mendekat.
"Aku tak perlu bantuanmu pak tua. Pulanglah saja." jawab sosok tegap itu.
Suara kedua terdengar lebih parau daripada awal ketika sosok tersebut berbicara. Dan entah kenapa rasa iba muncul dari lubuk hati pak tua penjaga pekuburan. Seolah-olah dia enggan dan segan mengganggu seorang kekasih yang sedang merindu cintanya. Lalu dia berkata,
"Baiklah, tuan ksatria. Hamba undur diri. Jika berkenan gubug peristirahatan hamba tidak hamba tutup. Dan seguci air di pojokan dapat Tuan ksatria pergunakan untuk membilas tubuh Tuan."
"Terima kasih orang tua." kata sosok ksatria itu pelan, sambil menitikkan air, entah dari bola matanya atau dari rintiknya hujan yang mulai deras.Teringat kata-kata terakhir Sang Dewi padanya sebelum sebuah anak panah terlepas dari genggamannya,
"Dewabrata, saya mendapat kesenangan atau mati, semua karena tanganmu. Saya malu jika harus pulang ke tempat orang tuaku ataupun kembali ke Hastinapura. Dimanakah tempat bagiku untuk berlindung?"
"Maafkan aku Amba, maaf akan kesalahanku. Andai engkau tahu sejujurnya perasaanku padamu."
Hujan turun dengan derasnya ketika sosok dengan tubuh tegap itu jatuh terduduk di depan sebuah batu nisan tak bernama di sebuah Pekuburan di wilayah kerajaan Kasi.