Dika Dan Serat Centhini
Pukul empat, alarm ponsel Dika berderit. Dika meloncat dan segera mematikan ponselnya. Aku terbangun oleh loncatan Dika. Lelaki Ajaibku tersenyum kemudian mengecup keningku. “Selamat pagi, Cahayaku…” bisiknya. “Pagi Cappuccinoku…” balasku. “Nyenyak tidurnya?” “Dik, Sherly koq lemes banget gini ya?” “Hihi… mimpi apaan semalam?” “Mimpi? Dika pasti tidak tidur lagi ya?” “Gimana mau tidur, lengan…
View On WordPress












