Pengingat-Nya
Semakin hari kita harus semakin lebih buka mata dan sadar utuh, bahwa kita sedang diingatkan. Bagaimanapun apapun yang terjadi sudah dalam kehendak-Nya. Baik waktu, tempat, dan bagaimana cara-Nya mengambil kembali milik-Nya, salah satunya yaitu makhluk-Nya. Layaknya kabar duka silih berganti, covid belum usai adapun banjir di belahan Indonesia lain dan kabar duka pula dari Sriwijaya Air SJ 182. Sampai sini masih belum merasa diingatkan?
Banyak hikmah yang dapat diambil dari segala peristiwa yang terjadi. Ada beberapa hal yang aku rangkum dari kajian MQ Aa’ pagi ini. Membahas kematian bukanlah sesuatu yang menegangkan melainkan banyak pelajaran, pengingat dan hikmahnya:
1. Jangan menunda kewajiban sebab kita tak bisa menjamin masih bertahan hingga hari esok, oleh karena itu segal sesuatu yang wajib harus segera dilakukan dan ditunaikan seperti sholat, membayar hutang orang ataupun membayar hutang puasa ramadhan, dll. Jadi, semaksimal mungkin segalanya dilakukan dengan cara terbaik. Misalkan subuh tadi dirasa kurang baik shalatnya, perbaiki saat duha, begitupun seterusnya. Karena kitapun ngga ada yang tahu shalat mana yang akan menjadi shalat terakhir kita
2. Jangan menunda taubat salah satu bentuk taubat yaitu dengan beristighfar. Sebab kita tidak bisa selamat hanya dengan amal saja, tapi dengan pertolongan dan Rahmat-Nya dimana kita yang selalu meminta pertolongan dan ampunan-Nya.
3. Jangan menganggap remeh maksiat ada satu hal yang aku ingat pesan Aa’ disini, jadikan “kematian” itu REM. Kita ngga ada yang tau dalam keadaan apa kita mati, tetapi jangan sampai saat melakukan dosa itu terjadi. Jadi, mulai perbaiki apa-apa yang dirasa kurang, dirasa tidak pantas kalau mati dalam keadaan tersebut tandanya harus dihindari.
4. Jangan menyia-nyiakan kebersamaan yang paling penting disini, alih-alih melakukan perpisahan, bukan hanya dalam penerbangan saja. bisa juga keluar rumah, perjalanan naik motor ataupun kendaraan lainnya. jangan sampai kita mengakhiri hidup dengan hubungan yang tidak baik-baik saja dengan orangtua, misalnya sedang bertengkar. Ataupun dengan orang lain, jangan sampai komunikasi/ kebersamaan yang dilalui malah justru melukai.
5. Jadikan setiap waktu itu kebaikan sebab sebaik-baik prestasi adalah khusnul khotimah. gimana caranya mendapatkan presatasi itu? ya setiap waktu menjadi orang baik. Karena Allah menyukai orang-orang yang memikirkan kebaikan.
Dan kajian pagi inipun ditutup dengan banyak kisah dari beberapa orang-orang yang juga berjuang di dunia penerbangan. Dari sini akupun masih banyak banget PRnya dan harus banyak belajar tentang itu, apalagi soal mempersiapkan dan memperbaiki diri. Bukan berarti aku tulis ini tandanya sudah baik, justru banyak catatan yang harus diingat dan diubah dari diri ini, tapi yuk kita sama-sama berjuang meraih Ridho-Nya. Semoga kita senantiasa sadar atas pengingat-Nya dan teguran-Nya. Selalu memperbaiki diri dengan terus melakukan yang terbaik. Barakallahu fiikum
Klaten, 11 Januari 2021















