old doodles + unfinished
the drawing is based on a picture of indonesian teenage romance movie called "Dilan 1990", frank as dilan dan gerard as milea
seen from Yemen

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Thailand
seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from Dominican Republic

seen from United States
seen from Japan
old doodles + unfinished
the drawing is based on a picture of indonesian teenage romance movie called "Dilan 1990", frank as dilan dan gerard as milea
hi! i am currently knee deep into netflix’s indonesian movie collection. and i reallllllly want to talk to someone about it. and since all the posts are in indonesian(i understand why), i need someone to explain all the research i have done. does any indonesian want to be my friend?
thanks,
love,
biziraphael.
Tidak Adil
"Ada konsekuensi yang harus ditanggungnya di akhirat, dan secara emosional pun orang-orang jadi terluka (patah hati), kau menjadi kacau.
Dan mereka tidak sadar bahwa mereka juga harus membayar harganya bahkan di dunia ini. Bahkan aku berargumen, tidak adil bahwa individu seperti ini pada akhirnya menikah karena secara emosional mereka tidak benar-benar terikat dengan orang yang dinikahinya. Pikiran mereka berada di tempat lain dan mereka mengenang orang lainnya. Hal ini tidak adil bagi orang yang dinikahinya. Bahkan dalam sudut pandang perasaan, ini tidak adil." — Ust. Nouman Ali Khan
Barangkali argumen ini yang menjadi salah satu alasan mengapa aku memutuskan untuk lebih baik pergi sendirian. Apa-apa sendirian, kemana-mana sendirian jika memang teman perempuanku tak bisa menemani. Aku hanya tak ingin menghabiskan waktuku dengan seseorang yang mungkin suatu saat nanti harus aku lupakan (tapi malah jadi terkenang terus karena saking begitu banyaknya kenangan).
Terlepas dari bagaimana masa lalu orang yang bersamaku kelak, aku hanya ingin mencintainya sepenuh hati tanpa harus ada embel-embel apa yang terkenang dulu. Aku ingin dia tahu bahwa — bahkan sejak saat ini aku sudah (berusaha) mencintainya.
Aku tak bisa membayangkan kalau hal ini kelak malah jadi bumerang dan bisa menyakiti perasaannya. Berharap pada seseorang yang saleh dan kokoh imannya, terlalu tinggi nampaknya, tapi mulai saat ini bahkan sejak beberapa tahun yang lalu aku sudah membuat jarak yang cukup panjang dari apa yang terkenang dulu.
Setan memang nampaknya mudah merasuk pikiran, tetapi semoga mampu berhenti di pikiran saja tanpa bertindak yang tidak-tidak.
Aku tangguh untuk melewati apa-apa yang menghadangku. Kau tak perlu temani aku, cukup berjuang saja di jalanmu. Aku di jalanku. Kita masing-masing saja dulu.
Karena aku juga tidak tahu siapa kamu, tapi aku tahu kamu sedang berjuang di jalanmu — entah jalan menuju mimpimu, atau jalan menujuku.
Ataukah aku adalah bagian dari mimpimu?
Lha. Hahahahaha kok jadi puitis.
Btw, aku teringat apa kata Dilan di akhir cerita dalam bukunya. Dilan mengatakan bahwa bagaimanapun Milea, ya bagaimanapun, bagaimanapun begitu banyak cerita dan kenangan tentang Milea, tetapi ia tetap akan memilih Chika (istrinya sekarang) untuk hidup bersama dengannya selamanya.
Ah, entah mengapa aku merasa ini tidak adil untuk Chika. Kenangan tentang Milea terlalu kuat, bukan? Bahkan di benak kita yang pernah membaca ceritanya atau menonton kisahnya.
Lha. Hahahahaha kok jadi sedih, sih.
Ygykrt, 10 Sep 2020 | 21.14 | @wedangrondehangat
Dilan 1990 dir. Pidi Baiq & Fajar Bustomi, Indonesia 2018
mungkin ini super telat but like i live for your dilan liveblog (which was weeks ago oops). i downloaded the book (illegally bc #thuglyfe) and i can't stomach the first chapter idk how i survived reading three (at which point i stopped myself. im a masochist but i wont stoop that low lmao). idk how you can stomach the entire movie. props to you 😂
trkdnkwjds I am SO sorry this took me a year to reply but thank youuu haha the live reblog was so much fun! Ridiculing vapid tropes in that dumpster fire of a movie made my week.
(Downloading the book is already illegal in itself hhhh)
I never tried reading the book but my cousin read the entire series years ago when it was trending, and I recoiled whenever I saw it lying around the house lmaooo. Even the synopsis was a dead giveaway of the tired plot.
Throughout the movie I considered booing and throwing popcorn at the screen but that wouldn’t be proper cinema etiquette (then again, using my phone while the movie was playing isn’t exactly allowed either oops). Some real wooden-headed parents actually brought their young kids to the movie, even though it was 15+-rated. I was sitting next to this little girl who couldn’t have been more than five, and she was squirming around the entire movie she was so bored. I asked her what she thought of the movie and she just replied, “It’s…good” with a half-hearted nod… bby ;;;;
There was violence in that movie, for crying out loud, and of course, a lot of amatornomative themes, plus Dilan has a very screwed sense of morality. I always like rebel characters because I relate to them a lot, but Dilan is just…insipid. In short, the movie is definitely not suited for kids. And no offense to Iqbal, but his acting isn’t the best. Wasn’t really convinced by his performance in the movie. I think I was the only girl there who wasn’t smitten with Dilan lol
Thank you for this ask, glad I’m not the only one who thought that movie isn’t worth watching. I tried to stay positive about it but it ended up as another horrible cliche movie.
Jangan bilang ada yang menyakitimu Kenapa? Nanti orang itu akan hilang
Dilan 1990