Syameela Family's Spiritual Journey - Ust. Muhajirin Ibrahim
Episode 3 : Tangan Emas Bunda sebagai Wasilah untuk Mengubah Dunia
Beliau mengisahkan dua lelaki hebat pada masa Rasulullah karena ada ibu hebat yang membesarkannya
Cendekiawan dari Mesir:
Hafez Ibrahim
Penyair, yang syairnya sebagai bendungan untuk menahan arus dan laju dari gerakan Barat. Potongan syairnya, Hafez Ibrahim berkata, "Ibunda itu adalah madrasah. Apabila kamu benar-benar sudah mempersiapkan ibu itu. Kalau memang anak-anak kalian sebelum menikah itu sudah dipersiapkan sebagai madrasah. Maka kamu telah mempersiapkan generasi yg harum semerbaknya kemana-mana. Umi, ibu itu adalah taman, apabila dia selalu disirami dengan air kesegaran sehingga kemudian dia menjadi sangat segar sesegarnya."
Syeh Muhammad Khudhair Husain dalam sa'adatul 'Udhma, "Anak itu ketika lahir yang dia kenal dari alamnya itu orang yang ada di dekatnya. Sehingga kemudian orang-orang di sekitarnya inilah yang membentuk ukuran-ukuran di dalam pikirannya, ibunya dan ayahnya."
1. Kisah Zaid bin Tsabit
Zaid ditinggal ayahnya pada usia beliau, dan ia memiliki saudara yang bernama Yazid. Dibalik hebatnya Zaid ada ibu terhebat yang mendidiknya. Ibunnya Zaid bin Tsabit ini dikenal dengan nama Nawwar binti Malik seorang wanita dari bani Najjar yang cerdas, ahli dalam bidang ilmu Al-Quran dan bahasa tulis menulis. Nawwar binti Malik ini selalu memberikan inspirasi kepada anaknya, diajari menulis dan mengajak masuk Islam. Ayahnya bernama Tsabit bin Dhahhak.
Ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah, dimana usia Zaid bin tsabit 11 tahun, menyerahkan roti buatan ibunya kepada Rasulullah, kemudian mendoakan mereka "Barakallahu fika wafi ummi" semoga Allah memberikan barokah untuk dirimu dan dan memberikan barokah untuk ibumu.
Di saat Zaid bin Tsabit di usia 13 tahun, ketika Rasulullah membuka pendaftaran untuk perang Badar, banyak anak-anak yang mendaftar agar diikut sertakan dalam perjuangan ini salah satunya Zaid bin Tsabit. Karena kondisi fisik dan belum cukup umur, ia pun ditolak dan pulang dalam keadaan menangis. Lalu ia ceritakan pada ibunya. Melihat putranya menangis karena ditolak maka Nawwar bin Malik juga ikut menangis dan bersedih karena antusiasme anaknya agar termasuk orang-orang pejuang dalam Islam belum sampai waktunya. Kemudia ia menennngkan anaknya agar tidak berkecil hati. Ibunya sangat mengenali potensi diri anaknya, ia paham betul bahwa Zaid pandai dalam berbahasa. Maka dilatihlah Zaid dalam membaca dan menulis. Hingga tiba masanya, ibunya merasa Zaid telah kompeten dengan kemampuannya, beliau menemui Rasulullah. Ibunya pun menyampaikan kepada Rasulullah, kurang lebih, "Mungkin anakku tidak dapat ikut berperang berjuang bersamamu Ya Rasulullah, tetapi ia anak yang pandai dalam berbahasa". Zaid pun diminta oleh Rasulullah untuk mempelajari bahasa Ibrani (bahasa kaum Yahudi), Allah mampukan Zaid untuk menguasai dalam waktu 15 hari. Mengetahui hal tersebut, Rasulullah meminta Zaid untuk mempelajari bahasa Suryani (bahasa kaum Nasrani) yang digunakan dalam kitan injil. Zaid pun tidak membutuhkan waktu lama. Berdasarkan hasil tersebut, Zaid diangkat sebagai juru tulisnya Rasulullah. Kalau mau bikin surat kepada orang Yahudi dan Nasrani dengan bantuan Zaid.
Dari hasil didikan ibunya tersebut. Zaid bin Tsabit menjadi seorang ulama yang terpilih untuk menuliskan wahyu-wahyu Rasulullah pada lembaran Mushaf, atas rekomendasi Umar bin Khattab kepada Abu Bakar As-shiddiq. Selain itu, Zaid disebutkan sebagai yang paling tahu dalam ilmu faraid (ahli mawaris). Rumahnya Nawwar binti Malik pun menjadi mi'dzanah daar (tempat dikumandangkannya azan} pertama karena atapnya yang paling tinggi.
2. Kisah Anas Bin Malik
Ibunya bernama Ummu Sulaim/Gumaisha/Rumaisha. Ummu Sulaim dan Anas bin Malik masuk Islam. Mengetahui hal tersebut, suaminya, Malik, tidak suka.hingga kabur meninggalkan mereka.Ummu Sulai tidak gentar, tetap teguh dalam pendirian Dalam kondisi kaburnya, dia ikut berperang dalam perang saudara bangsa Arab, yang berujung pada kematian. Ummu Sulaim sebagai wanita idaman dan sempurna pada masa itu, Abu Thalhah mengingkan untuk menikahinya. Abu Thalhah saat itu belum dalam keadaan muslim. Ummu sulaim menerima ajakannya, dengan syarat Abu Tholhah masuk Islam. Abu Thalhah menerimanya, mereka pun menemui Rasulullah. Masuknya ia kedalam Islam dijadikan sebagai mahar untuk menikahi Ummu Sulaim.
Saat usia Anas bin Malik berusia 9 tahunn, Ummu Sulaim menyerahkan anaknya untukmenjadi pelayannya Rasulullah, tanpa upah, karena jiwa dan ketaatannya yang sudah ditanamkan oleh ibunya sejak kecil.
Dari Abu Tholhah lahirlah banyak anak-anak laki-laki dan menjadi ummul qurro', karena didikan Ummu Sulaim, yaitu orang2 yang pandai dalam membaca Al quran dan mengajarkannya.
Selain itu, Anas bin Malik pun melahirkan banyak keturunan, ada yang menyebutkan hingga 30 anak, dan banyak diantaranya menjadi ulama'.
Tugas seorang ibu tidaklah sederhana, sekecil apapun setiap peluh dan keringatnya dari usaha yang dikeluarkan oleh seorang ibu demi cita-cita yang baik untuk anaknya kemudian anaknya itu melakukan setiap amal yang baik, maka amal tersebut ikut didapatkan oleh ibunya.
Hasil didikan dari ibu sebagai madrasah pertama bagi anaknya, maka akan menghasilkan generasi-generasi terbaik setelahnya. Sebagaimana kisah Ummu Sulaim, melahirkan Annas bin Malik, dan saudara lainnya, hingga Annas bin Malik menghasilkan keturunan menjadi para ulama'.
MasyaAllah..













