JEDA DALAM CERITA
Sebuah kalimat, paragraf bahkan sebuah cerita butuh spasi agar dapat terbaca dan dimengerti. Begitu pula hidup yang selalu butuh jeda, jarak, istirahat serta pola agar selalu dapat berjalan. Karantina adalah sebuah spasi dan jeda. Agar kita tetap dapat iqra'. Senantiasa membaca.
Membaca situasi yang terjadi, memahami posisi kita sebagai hamba, mengerti bahwa dunia berputar dan jarum jam selalu bergerak ke kanan tanpa intervensi dan keinginan pribadi kita, melihat apa yang telah dilalui, dan mensyukuri semua yang telah terjadi. Sekalipun hal paling getir dan masam.
Banyak yang tersadar bahwa interaksi sosial secara langsung teramat penting, detik demi detik sangatlah berharga. Segala hal berubah total. Aktivitas rutin, kebiasaan dan tuntutan, hingga pola hidup sehari-hari.
Nyatanya musim pandemi ini akan menjadi cerita luar biasa. Bahwa pernah ada masa dimana sebuah virus yang tidak terlihat, perlu memerlukan alat bantu untuk mendeteksinya, amat kecil, dan tidak lebih besar dari sebuah butir pasir pun dapat mengubah dunia begitu hebat.
Jadi, kalau kelak nanti anda telah memiliki anak atau cucu bisa dengan congkaknya mengatakan; "Nak, dulu Ibu pernah melalui masa unik walau sedikit menyiksa. Dunia berubah dalam sekejap. Jadi begini ceritanya...."
Atau, kalau anak atau cucu anda mengeluh bosan di rumah pada akhir pekan lalu ingin berwisata dikala akhir bulan, atau sedang pas-pasannya karena harus membayar cicilan, bilang saja begini;
"Hei nak, dulu Ibu pernah rebahan sampai goblok berminggu-minggu, lupa hari, sampai lupa diri. Bahkan jika nekat keluar dan berkumpul, atau sekedar mandi manja di pantai bisa terancam bui berbulan-bulan. Bersabarlah, bocah.
Mari kita holiday at home. Ibu ingin bernostalgia."
-















