seen from Bulgaria

seen from Jordan
seen from Malta

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Azerbaijan

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Argentina

seen from Germany

seen from Croatia
seen from Malaysia
seen from Saudi Arabia
seen from Türkiye
seen from South Africa

seen from United States
seen from Russia
seen from Mexico
Diskusi senja,
Wanita itu datang setiap sore dan setiap harinya hanya menunggu senja atau matahari terbenam.
Seorang kakek-kakek menghampiri wanita itu “Kamu tidak pulang?”
Wanita itu diam membisu seperti menghiraukan sekitarnya.
“Aku selalu melihatmu berdiri disini melihat matahari, kalau sudah malam kau langsung pulang.”
Wanita itu tetap diam, menengok sesekali ke kakek itu lalu melihat matahari lagi.
“Kau sedang menunggu atau apa? Atau kau sedang bersedih?”
Wanita itu mencopot kalung di lehernya lalu memberikan ke kakek-kakek itu.
Kalung tersebut berbentuk bulan, “Sepertinya kalung ini pemiliknya anak kecil, kenapa kau memakainya?”
Wanita yang menunggu di bibir pantai dengan kaki telanjang yang dilalap habis oleh pasir itu, menghitung setiap kenangannya melihat warna yang kini matanya mulai sayu, apa yang ia lihat bukanlah sesuatu yang baru, dia melakukannya setiap mengingat masa-masa itu.
Apakah mereka menuduhnya sebagai penghitung senja? Mereka tidak mengerti apa yang ia lakukan, ketika membuat senja itu turun, wanita itu berpikir apakah yang akan terjadi esok hari, apakah senja itu tidak mau membantunya menelan habis semua hal munafik yang di deritanya? Ketika senja hilang, wanita ikut hilang.
Kejadian di Aceh pada tahun 2004 silam sempat mengingatkan wanita itu dengan orang tuanya, dia menunggu setiap senja itu turun, berdoa agar orang tuanya kembali.
Dia tetap membisu, trauma atas kejadian menghilangnya seseorang yang sangat dia cintai.
Kakek-kakek itu lalu menepuk pundak wanita itu “Aku tidak tahu apa yang sedang kamu tunggu, tetapi aku juga pernah kehilangan anakku, ketika sedang berlayar dan tak pernah kembali.”
Wanita itu langsung menangis dan memeluk kakek-kakek tersebut. “Aku tahu kau sedang kehilangan, biarkanlah mereka tenang karena ini sudah jalannya, kehilangan yang paling menyakitkan adalah kematian, dia tak akan pernah kembali ke bumi.” ucap kakek tersebut sambil mengusap pundak wanita tersebut.
Celoteh sahabat
Diskusi senja yang terlambat malam telah merambat dengan pasti pada ruang waktu yang kiat pekat.awan bergumul dengan dingin mencipta embun. aku penikmat dingin yang dihadiahkan malam.bersama sendiri yang kian terasa sepi.. Merayap dengan embun yang entah kapan menyentuh dahan .meringkuk dalam pelukan rindu yang kian tetap enggan menguap. Aku hanya sendiri..berdiskusi dg rasa tanpa sahabat..hanya rasaku bergulat sendiri.. Dan airmata yang menjawab segalanya.. Ku sendiri..bersama sahabat yang terus bermain di imajinasiku.. mendekapku dalam mimpi... I wish it was you...
Untukmu yang selalu mengatakan selamat tinggal.. Aku merindukanmu.. Pada setiap senja yang terus bergulir..aku berharap ada satu senja di mana pasir mencipta jejak kita.. Selepas bahwa pasir akan berlari pada laut.. Aku menanti tetesan uapnya menyapu rindu ...
*.sumber gambar dari sahabat tumblr