• CENGKRAMA •
Kenapa harus move on (?)
Bagian (1)
Sama seperti kenapa harus berlari kalau berjalan lebih baik? Sama seperti kenapa harus memaksa kalau tidak terburu buru itu lebih indah? Sama juga seperti, kenapa harus terlihat hebat berpura pura kalau apa adanya itu melegakan? Susah memang namun ini adanya.
Kenapa harus move on?
Satu pertanyaan yang jawabannya ambigu, dan itu slalu diucapkan hati ketika melihat 'dia' dalam bentuk kenangan yang tak mau beranjak pergi. Melayang, berlari, dan bermain bermain seenaknya sendiri di dalam kepala yang akhirnya membuat sakit seluruh badan. Okey, setiap kita pernah punya rasa, setiap kita pernah punya cinta, dan cinta punya bahasanya sendiri untuk diingat. Rasa ini bukan suatu hal yang gampang. Percayalah ia sangat sangat pelik untuk beberapa orang yang pernah jatuh hati, dan menjatuhkan hati seutuhnya tanpa berfikir panjang yang disana akan membuang, menginjak, ataupun mengkhianatinya. Ia jatuh maka ia akan membiarkan semuanya jatuh tanpa harus ada sisa.
Aku, menjadi salah satunya.
Aku menjadi salah satu dari beberapa orang yang telah menjatuhkan seluruh hatiku pada dia, yang sungguh tidak pernah berfikir bahwa ada rasa sakit yang nantinya akan menjatuhkan terlalu dalam. Namun apa daya? Pepatah orang lama memang mujarab dan susah mencari obatnya. Ketika semua orang mengatakan jangan jatuhkan seluruhnya, justru yang aku lakukan adalah menjatuhkan seluruhnya utuh tanpa ada sisa. Entah apa akhirnya, tapi yang jelas saat itu yang aku yakini adalah tak akan ada luka. Karena aku percaya, percaya pada dia seutuh utuhnya buku tanpa ada bagian yang hilang. Dari buku itu akhirnya kita menulis cerita. Awal yang baik, kita selalu baik. Sampai halaman itu ditengah, kita mulai menemui beberapa permasalahan. Menuju bagian akhir, masalah sudah jadi makanan sehari harinya pada buku itu ditulis. Kita saling lupa dan mulai tak ada kata baik pada halaman halaman selanjutnya. Dari kita yang dekat, kita yang hangat, berubah menjadi kita yang tak terlihat, kita jauh, kita jadi asing. Siapa kamupun aku sudah tak kenal, maka yang baik adalah menyelesaikan apa yang ada. Selanjutnya, yasudah. Sudah memang tak pernah pasti. Sudah kita berlanjut untuk mengisi halaman selanjutnya. Namun apa? Hasil dari kita menulis kembali halaman halaman itu malah semakin menjauhkan kita, memberi kita jarak yang tak sekalipun dapat dijangkau. Maka sejak hari itu, aku putuskan untuk menutup buku yang sudah kita tulis. Lucunya, kita selesai karna dunia kita berbeda dan saling menyalahkan perihal dewasa.
Maka aku jelaskan bahwa sejak awal kita memang berbeda, tak ada yang sama, jiwa kita tak serupa, namun kita bisa bersama karna rasa. Kita masih sama sama tidak dewasa karna kita masih terlalu muda. Itu saja. Maka salah sekali kalau saling ada tuduhan ada pihak ketiga ataupun yang lainnya. Sampai detik ini tak ada satupun tanda yang menyatakan adanya orang lain dalam kehidupan ku ataupun kamu. Bagiku saat itu sampai detik ini kamu adalah cukup.
Dan pertanyaan kenapa harus move on? Aku memang tak ada niat untuk berlari lebih dulu. Aku lebih memilih untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Aku menikmati masa ini dan sangat sangat menikmati, sambil berjalan santai tanpa harus ada yang aku sakiti dan ada yang menyakiti aku lagi. Ini indah saat benar benar mengingat kebahagiaan yang ada. Semua itu tak pernah aku lupa, perihal mencintai kamu aku tak berpura pura maka aku tak akan berpura pura untuk sudah punya, aku tak ingin berpura pura bahwa aku sudah bahagia, aku tetap merasakan sakitnya nyata. Bersamamu itu bahagia, lalu sedikit demi sedikit kamu sudah melukai setiap aku ingin mengobati. Aku pernah berpikir untuk kembali lagi namun sekali lagi kamu menyakiti. Aku pernah lebih berani untuk mendekati kamu lagi dengan rujukan berbaik hati, namun yang kamu beri kata kasar yang akhirnya, baiklah aku berhenti.
Cukup sampai disini.
Kita sudah tak ada lagi.
Aku benar menyerah. Oleh karenanya aku menikmati ini, hingga nantinya sembuh aku akan benar benar berhati hati dan tak lagi menyakiti. Aku belajar banyak dari apa yang sudah terjadi. Cukup jangan terulang lagi karna aku tak ingin ada kata berhenti selain mati. Jadi, kalau pun aku harus mencintai orang lain setelah dirimu saat ini, memilih untuk mendahului, maka orang itu adalah ; diriku sendiri.














