Bagaimana kabarnya disana? Sudah 7 tahun berlalu tetapi namamu, dirimu, masih belum bisa aku lupakan segalanya.
Ada banyak yang ingin aku ceritakan, tentang diriku, tentang hariku, tentang masa2 yang aku lewati selama ini. Sungguh tanpamu, ini terasa berat.
Akung pasti tidak menyangka betapa luar biasanya aku saat ini, akung pasti juga sangat tidak menyangka bahwa aku bisa sampai di titik ini. Bertahan, tumbuh, dan terus melangkah, meski hatiku seringkali terasa mati karena tidak ada Akung disisiku.
Dulu, tidak pernah terpikirkan bagaimana aku bisa hidup tanpa tanpa Akung melewati hidup yg sangat terjal ini. Tapi ternyata, setiap kenangan, setiap nasihat, bahkan setiap tawa Akung sungguh menjadi bahan bakarku untuk terus berjalan.
Aku ingin Akung tahu, bahwa aku berusaha menjadi versi terbaik dari diriku—seperti yang selalu Akung doakan dulu. Meski sering menangis diam-diam, aku juga belajar untuk tersenyum lagi. Untuk menjalani hidup, bukan hanya karena harus, tapi karena aku ingin membagi banyak hal di syurga nanti yang membuat Akung bangga.
Di malam-malam sepi, aku masih suka mengingat suaramu. Dan entah mengapa, rasanya masih hangat… seolah kau tak pernah pergi. Seolah Akung masih ada di rumah menunggu aku pulang kemudian menyapaku dengan "wahh anak cantik sudah pulang ini ada mie ayam makan dulu" ..
Aku masih merindukanmu, di saat saat paling bahagia dan sedihku. Ada banyak hal yang ingin aku tunjukkan, masih banyak yg harus Akung tau, tapi semenjak Akung pergi beberapa arah juga kau bawa pergi dalam lahatmu.
Beberapa arah yang dulu kupijak dengan yakin, kini terasa kabur. Seolah sebagian dari kompas hidupku ikut hilang bersama kepergianmu. Tapi, Akung… aku tetap berjalan. Meskipun perlahan, meskipun kadang tersesat, aku terus mencoba menemukan jalan kembali.
Aku selalu berharap bisa menatap wajahmu, mendengar petuahmu, atau sekadar mencium tanganmu seperti dulu. Karena tiada cinta, tiada kelembutan, tiada kesabaran yang bisa memelukku selepas pulangmu dulu. Mungkin aku tidak memiliki orang tua yang baik, tapi hadirmu dulu cukup mengobati luka2 itu. Terimakasih sudah menyayangi aku sebaik itu.
Kadang aku berpikir, jika Akung masih di sini, mungkin aku akan lebih tenang. Mungkin aku akan lebih berani. Tapi di saat yang sama, aku juga sadar… bahwa kepergian Akunglah yang membentuk keteguhan dalam hatiku. Aku belajar mencintai dalam diam, mendoakan dalam sepi, dan melangkah dalam hening yang penuh rindu.
Akung, aku ingin kau tahu bahwa cintaku padamu tak akan pernah berhenti. Ia tumbuh, berubah wujud, menjadi kekuatan, menjadi doa, menjadi alasan untuk terus menebar kebaikan. Karena dalam setiap langkahku, ada jejakmu yang tertanam begitu dalam.
Sampai bertemu kembali, nanti, di tempat paling baik di syurga. Akan kubagi segalanya, akan kupeluk Akung sekuat kuatnya, kita makan dalam satu meja dengan banyaknya makanan, dan akan kukenalkan Akung pada lelaki yang aku cintai, yang cintanya seperti Akung padaku dulu. Pasti.