Nene spent the night with us last night so she could go to Magnus's soccer game this morning -- The Razorback Pirates suffered another gruesome defeat.
Mom and I packed up and convoyed to Hot Springs for the Arkansas Realtors Convention. We had a dinner at the lake house of Ted Mullenix, who served in the Arkansas House of Representatives with my dad. And I was glad Mom got to meet most of my coworkers.
Nene kept an eye on you two today. I think the three of you had fun.
Ceritanya, saya lagi ngeburu bikin kurikulum anak, mulai panik karena ga kerasa tiba – tiba ini Maryam udah lahir aja, dan wacana bikin kurikulum yang ditarget sejak sebelum menikah GAK BERES2, wkwk.. Apalagi nantinya, saya dan suami bercita – cita untuk menghasilkan produk game yang sesuai milestone tumbuh kembang anak dari kurikulum ini. Oh my, saya malu ama seluruh sel tubuh saya sendiri kalau tahun ini pun, kurikulum ini belum jadi juga “:D ntar tiba2, maryam udah punya adik aja (?)
Sebenarnya saya cukup dipusingkan dalam pencarian referensi, metode, dan turunannya. Setelah melahap beberapa buku, membaca berbagai infografik di pinterest (?), ngikutin website2 parenting, dan ngecek update an babycenter terus2 an, tetep aja saya belum puas dengan informasi yang saya miliki saat ini dan belum ‘pede’ untuk menurunkannya dalam bentuk kurikulum.
Singkat cerita, disaat saya mulai merengek – rengek buat diizinin keluar rumah (dan bawa Maryam yang belum genap sebulan) untuk berkunjung ke perpustakaan dan gramed dalam rangka ‘hunting’ referensi yang lebih berbobot, mang2 JNE datang ngetok pintu rumah, hehe :D
Dan voila! datanglah buku ini, dari pengirim yang tanpa nama, dan saya lgsg berpikir pengirimnya pasti malaikat yang diutus Allah untuk mempertemukan saya dengan buku ini, wkwk. Lebay! –yang, pengirimnya ternyata adalah iie, yahh, 11-12 lah ama malaikat, #uhuk-
ya, walau tidak ada buku yang sempurna, tapi buku ini cukup baik untuk menyemangati saya agar berprogress, hehe..
Baiklah, saya sadar pembukaannya ternyata udah terlalu panjang, langsung aja ke review bukunya, (atau rangkuman sih lebih tepatnya, biar saya gak lupa)
Review buku: Rumah Main Anak
Penulis: Julia Sarah Rangkuti (Founder Komunitas Rumah Main Anak)
1. Stimulasi itu penting
Anak akan berproses bersama dunia di sekitarnya. Jika lingkungan bermain anak banyak memberikan stimulasi, dorongan, kesempatan, serta kebebasan yang bertanggung jawab, anak dapat melejit lebih pesat daripada saat ia tinggal di lingkungan yang penuh batasan. Anak yang mendapat stimulasi terarah akan lebih cepat berkembang ketimbang anak yang jarang distimulasi.
2. Manfaatkan Golden Age
Masa balita merupakan periode penting dalam tumbuh kembang anak yang sering disebut golden age. Kemampuan berbahasa, daya kreativitas, intelegensia, keterampilan sosial – emosional, maupun perkembangan moral dan dasar – dasar kepribadian berjalan sangat cepat di masa ini. Oleh karena itu orangtua ga boleh ketinggalan dalam memberi stimulasi2 terarah di fase ini, karena proses pendidikan sudah dimulai. Bahkan sejak bayi masih dalam kandungan, bayi sudah bisa diberi stimulasi auditif (pendengaran) dan taktil (sentuhan).
3. Materi pelajaran akan efektif jika melalui berbagai pancainderanya
Pada tahap usia dini, pancaindera anak sangat peka untuk memahami dunia di sekitarnya, sehingga berikan stimulus melalui alat peraga yang dapat disentuh, dilihat, dicium, didengar, atau pun dirasakan.
4. Berikan sesuai tahap perkembangan anak
Maria Montessori menyatakan bahwa dalam proses perkembangannya, ada periode di mana anak sangat peka terhadap metode pembelajaran tertentu. Sebagaimana dikatakan oleh Roesseau, kita semua dilahirkan dengan kemampuan belajar. Namun, anak – anak akan kehilangan minat belajar jika materi yang diberikan terlalu mudah atau pun terlalu sulit. Hal ini berkaitan dengan ‘periode sensitif’. Ada periode dimana anak akan menunjukkan ketertarikan terhadap suatu hal lebih besar dibandingkan hal lainnya. Oleh karena itu orangtua sebagai fasilitator perlu mempelajari tahapan perkembangan anak dan mengamati periode sensitif ini agar dapat memberikan stimulasi yang sesuai.
5. Bermain adalah dunia anak
Segala stimulasi panca indera tadi dapat dipenuhi dengan aktivitas bermain yang tepat. Karena bermain tidak bisa dipisahkan dari dunia anak setiap harinya. Maka, buku ini memberikan inspirasi permainan2 stimulus yang dapat orangtua berikan kepada anak di rumah yang telah disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak dari usia 0-3 tahun.
ASPEK PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
Beberapa aspek perkembangan anak usia dini:
1. FISIK (motorik)
kemampuan gerak anak, sejalan dengan kematangan saraf dan otot.
a. motorik kasar
>> mencakup keterampilan otot – otot besar, seperti kemampuan duduk, menendang, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, melompat, dll.
>> beriringan dengan proses pertumbuhan secara genetis
>> memiliki rangkaian tahapan yang berurutan, setiap tahapan harus dilalui dan dikuasai dahulu sebelum memasuki tahapan selanjutnya.
>> perkembangan anak bersifat individual, tidak semua anak menguasai suatu keterampilan di usia yang sama, sehingga ini tidak menjadi parameter anak yang satu lebih pandai dibanding anak yang lain. B.
>> tidak berpengaruh langsung terhadap kecerdasan.
b. motorik halus
>> melibatkan otot kecil serta koordinasi mata dan tangan
>> dapat dilatih melalui kegiatan berkesinambungan secara rutin, contoh: menggenggam, menyusun balok, membuat garis, melipat kertas, dll.
2. Kognitif (otak)
>> kemampuan berpikir, menghapal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi.
Menurut Jean – Piaget, psikolog dari swiss, tahapan kognitif anak terdiri dari :
a. Tahap Perkembangan Sensorimotor (0-2 tahun)
>> gerak refleks
>> bahasa awal
>> konsep ruang waktu di era sekarang dan dekat saja
b. Tahap Perkembangan Pra operasional (2 – 7 tahun)
>> kemampuan bahasa berkembang
>> pemikiran masih statis dan belum dapat berpikir abstrak
>> persepsi waktu dan tempat masih terbatas
c. Tahap konkret operasional (7-11 tahun)
>> sudah mampu melakukan tugas2 menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat, dan membagi.
d. Tahap formal operasional (11 – 15 tahun)
>> mampu berpikir tingkat tinggi
>> mampu berpikir abstrak
3. Bahasa
pada usia 2 tahun, anak akan mengalami peningkatan jumlah kosakata yang pesat atau biasa disebut masa “ledakan bahasa”. Ia akan mulai mengeksplorasi lingkungan dengan bertanya ‘ini apa?’. Terdiri dari 2 aspek:
a. kemampuan ekspresif: menghasilkan suara/kata secara lisan/tulisan, isyarat dan gestur.
b. kemampuan reseptif: memproses dan memahami pesan dari bahasa lisan/tulisan, isyarat atau gestur.
4. Sosial-Emosional dan Kemandirian
Menurut Erik Erikson, ahli psikoanalisis, ada 4 tahap perkembangan sosial anak:
a. Percaya vs Curiga (0-2 tahun)
pada tahap ini, jika anak mendapat pengalaman yang menyenangkan, maka akan tumbuh rasa percaya. Sebaliknya, pegalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga.
b. Mandiri vs Ragu (2-3 tahun)
anak sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya, sehingga akan mudah tersinggung jika diberi bantuan. Sebaiknya di tahap ini, anak diberi ruang kepercayaan dan kesempatan.
c. Berinisiatif vs bersalah (4 – 5 tahun)
anak menunjukkan sikap mulai lepas dari orangtua serta mulai bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungan. Hal ini dapat menimbulkan rasa untuk berinisiatif atau pun rasa bersalah untuk mencoba (ketika trauma)
d. Percaya diri vs rendah diri ( 6 tahun – pubertas)
anak dapat melaksanakan tugas – tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Jika mampu menguasai keterampilan tertentu, akan timbul rasa berhasil dan percaya diri. Sebaliknya, dapat timbul rasa rendah diri.
Selanjutnya, (konten utama buku ini) berisi daftar permainan stimulasi yang dapat diberikan untuk anak per 3 bulan dari mulai 0 – 3 tahun.
Daftarnya tidak bisa saya bahas satu – satu karena akan menjadi satu buku, beberapa hal yang menarik seperti:
1. Bayi itu buta warna, sehingga ga ada gunanya mengajarkan warna untuk bayi terutama newborn, ia hanya mampu membedakan warna hitam – putih, lalu merah, lalu menyusul warna2 lainnya hingga ia 18 bulan, baru ia akan bisa menyadari bahwa langit dan rumput memiliki warna yang berbeda :D . Sehingga baiknya orangtua menggunakan warna – warna cerah disekelilingnya ketimbang warna2 pastel, karena warna yang kontras akan lebih mudah dibedakan oleh bayi. (saat ini box bayi maryam penuh ama tempelan2 pola berwarna hitam-putih).
2. Penting untuk melakukan sensory play (menggunakan 2 indera atau lebih), beberapa diantaranya adalah messy play (main kotor – kotoran), jadi bener apa kata rinso ‘berani kotor itu baik’.
3. Saya baru tau ternyata kita punya 7 indra, hehe.. 2 indra lagi yaitu: Indra vestibular >> memberi kita informasi ttg posisi tubuh dalam ruang, terkait gerakan juga keseimbangan, cth saat berjalan di ruang gelap, melompat di trampolin, atau berjalan di titian. Selanjutnya, indra proprioseptif >> memberi kita informasi ttg keberadaan dan aktivitas anggota tubuh kita. Jadi kita bisa tau kaki kita ada dimana tanpa harus melihat dan menyentuhnya.
yang cukup menarik juga, di halaman belakang buku ini, mba Julia ngasi Agenda bermain anak (mulai umur 1 – 3 tahun) dan disertai parameter perkembangan anak 0 – 6 tahun..