Ini bukan tentang es susu coklatnya mbak Sri yang segarnya membanjiri tenggorokan. Bukan tentang lontong soto ataupun nasi sotonya si mbah yang superduper enak. Dan bukan pula tentang lontong pecelnya bujok yang teramat menggugah selera itu. Bukan. Sekali lagi, bukan. Ini lebih dari itu. Ini adalah tentang sebuah rasa yang kian lama, kian membuncah. Menyeruak tak mampu terjamah.











