Draft 2 (Prolog)
Ketika kata “sayang” bermakna sebenarnya dan membuat aku bergetar karenanya. Kamu, yang terkadang selalu bermain dengan kata itu hanya untuk menarikku kembali ke duniamu. Kamu, yang dengan sengaja membuat aku terjebak dalam permainan panjang bernama harapan yang kamu ciptakan. Kamu, yang selalu membuat aku jatuh cinta akan setiap sikap manismu. Aku sayang kamu dari saat pertama aku bilang sayang. Mungkin ngga sesederhana itu. Mungkin ngga sekompleks itu. Tetapi. Rasanya begitu rumit. Segala sesuatunya selalu kontradiktif.
Pernah ngga merasakan begitu kangen sama seseorang tapi sekaligus takut untuk bertemu? Aku pernah.
Ketika itu aku begitu ingin ketemu kamu di hari ulangtahunku sekaligus takut kamu akan kembali menjadi candu di hidupku. Seharusnya sederhana. Kita berdua ketemu merayakan ulangtahun dengan sederhana dan hanya berdua kemudian berpisah. Ya. Setiap kali aku ketemu kamu rasanya aku deg-degan, takut pertemuan itu jadi pertemuan terakhir kita. Tapi aku selalu jadi ingin dan ingin dan ingin ketemu kamu lagi. “Aku mau ketemu dong, buat terakhir kali.” Kalimat itu bahkan sudah berkali-kali kusampaikan. Kemudian kita ketemu. Bukan di hari ulangtahunku. Mungkin hanya satu atau dua kali dalam setahun. Mungkin ngga cukup dan ngga akan pernah cukup. Tapi sebetulnya pertemuan kita sudah lebih dari cukup. Rasa cintaku terlalu naif untuk setiap permintaan yang (seharusnya) kupinta. Buatku mencintai biarlah tanpa meminta. Hanya membiarkan cinta yang menunjukkan jalannya sendiri. “Rana, besok kita meeting sama direksi ya soal target sales. Sekalian kamu report target potensialmu.” Section Head ku mengaburkan lamunanku. Kadang melamun adalah hal yang paling mahal karena begitu sulitnya aku punya waktu untuk melamun. Ya. Bekerja untuk perusahaan asing adalah penyebab dari setiap konsekuensi yang kudapatkan. Harus begitu pintarnya menyusun waktu biar bisa punya kegiatan berkualitas dengan keluarga, teman-teman, diri sendiri, dan kamu. Kamu yang juga harus pintar-pintar ‘selip’-kan aku dipadatnya pekerjaan kamu. Buat kamu, selalu jadi pengecualian. Aku rela jika hanya menjadi pengisi waktu luang. Untuk hubungan kita saat ini porsinya memang sama-sama pengisi waktu luang, bukan?













