Bahwa melihatmu menemukan kebahagiaan adalah hal yang kubutuhkan.

blake kathryn
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Jules of Nature
Peter Solarz

if i look back, i am lost
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Product Placement
Cosmic Funnies
d e v o n
No title available

titsay
One Nice Bug Per Day
he wasn't even looking at me and he found me
Acquired Stardust

Kaledo Art
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
No title available
Keni
occasionally subtle
I'd rather be in outer space 🛸

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Hungary

seen from Chile

seen from United Arab Emirates

seen from China

seen from Malaysia

seen from Japan

seen from Türkiye

seen from Romania
seen from United States
seen from United States
seen from Italy

seen from Italy
seen from United States
seen from United States

seen from T1
@ridhania
Bahwa melihatmu menemukan kebahagiaan adalah hal yang kubutuhkan.
Draft 2 (Part 1a)
Kapasitasku adalah sebagai pengisi waktu luang kamu. Yang kulakukan adalah: memanfaatkan kapasitas itu dengan sebaik yang kubisa. Mencari barang-barang yang dibutuhkan olehmu (yang tidak sempat kamu cari saking sibuknya) buku-buku finance, novel terbaru, jam tangan, makanan, bahkan mainan. Itu artinya aku masih dibutuhkan kamu, makanya aku menikmati. Dimanfaatkan-memanfaatkan. Dua konsep itu mungkin abu-abu. Buatku, aku menawarkan secara sadar untuk dimanfaatkan. Bahwa manusia memang harus bermanfaat untuk orang lain, bukan? “Sayang, mama minta dicariin eggroll tapi yang cake Jepang itu loh. Kamu tau ngga ya itu belinya di mana?” Kata kamu beberapa saat yang lalu mengirimkan pesan lewat aplikasi whatsapp. Kemudian aku browsing di mana aku bisa menemukan eggroll yang enak dekat dari kantorku. Sementara kamu sendiri saat itu sedang meeting di luar kota dan mungkin baru bisa pulang malam hari -mampir flat ku sebentar jika aku berhasil menemukan eggroll yang mamamu inginkan- baru pulang ke rumahmu di pinggiran kota. Eggroll atau bolu gulung ini yang enak rekomendasi teman-temanku dan instagram letaknya di Pantai Indah Kapuk. Jauh sekali dari kantorku di Jakarta Pusat. Sementara aku harus sales visit ke daerah TB Simatupang, Jakarta Selatan. Tapi so close jika harus mengantar si eggroll ini ke rumahmu di Lenteng Agung after sales visit. “Aku bawain ke rumahmu? Sekalian mau sales visit di TBS.” Akhirnya aku menelepon kamu untuk memastikan. “Nope, Sayang. Aku aja ambil ke flat mu ya mungkin setelah jam 8, ini masih di Cikarang.” “Muter-muter dong eggroll-nya. Kamu juga muter-muter. Cikarang-Kasablanka baru pulang lenteng agung.” “Hehehe kan yang penting ketemu kamu.” “Ya udah aku cari di mall sebelah deh. Take care, Hon.” Aku menutup line telepon. Kantorku terletak di jalan utama ibukota. Dikelilingi banyak mall yang selalu membuat aku merasa begitu bising sekaligus asing dan kesepian. Aku begitu mudahnya mendapatkan barang-barang yang aku inginkan tapi begitu sulit untuk mendapatkan kapasitasku akan kamu. Taruhan sama aku, kamu pasti hanya mampir limabelas menit di flat ku. Lama-lama aku jadi kaya asisten virtual kamu. Masih ada waktu dua jam sebelum sales visit. Aku menelopon atasanku untuk izin keluar lebih cepat agar bisa mencari eggroll ini. Tumben mamamu minta macem-macem. “Siang Bu Ratih, saya izin jalan sekarang ya takut macet banget jalanan.” “Baik, Ibu. Siap. Thanks a lot.” Cukup mudah memang untuk izin keluar kantor dengan jabatanku saat ini. Makanya aku bisa sesekali keluar kantor untuk mencari setiap keperluan kamu. Apalagi kantorku memang tipe kantor yang menomorsatukan hasil akhir. Hasil tidak akan membohongi proses. Aku merapikan laptopku dan barang-barang yang kubutuhkan. Handphone, charger, dompet, make up. “Mbak Rana jalan sekarang?” Aku menoleh. Rizka, salah satu timku. “Iya, takut macet. Mau mampir sebentar juga ke toko kue. Eh kamu tau ngga beli eggroll di mana?” “Di bawah ngga ada, Mbak?” Bawah maksud Rizka adalah mall yang letaknya dibawah gedung kantorku. “Aku belum cek sih. Eh kamu mau minta approval?” Ketika mataku melihat dokumen-dokumen yang ada di tanggannya. “Mau sharing sih, Mbak.” Kemudian aku malah terlibat obrolan cukup dalam mengenai pekerjaan dengan Rizka. Kami berdua, bertiga dengan Ibu Ratih bersama-sama menjadi sales representative bank asing dengan target yang kadang bikin otak menyusut, dengan jobdesc utama meeting (seriously) entah dengan direksi, department terkait, klien, or anyone else. Cerita ini mengenai pekerjaanku diselingi kamu, Mas Fabian, laki-laki luar biasa yang mengacak-acak hidupku sekaligus membuat binar bahagia di mataku. ***
Passion number one
Kemungkinan gue akan rajin posting beberapa tulisan di saat ingin menulis. Draft 1 itu ditulis dari kuliah, sebenarnya alur cerita, gambaran tokoh, tempat, konflik sudah dibikin rangkanya dari pas awal kuliah, sekitar tahun 2009-2010 tapi ngga selesai karna sok sibuk dan lupa. Akan mulai mencoba rajin lagi biar skill nya terasah ngga cuma sibuk kerja aja biasanya :D temanya lebih ke pergaulan anak kuliah yang cheerfull dengan konflik keluarga yang jadi latar besarnya. Draft two mungkin lebih akan random dan 'angst', tokoh intinya sudah kepikiran tapi belum kuat. Sebenarnya gue tipikal suka tulis cerita panjang, tapi belum disiplin untuk nulis yang bikin jadi ngga selesai-selesai. Tulisan-tulisan yang baru 1-6 halaman terus ngga dilanjut itu banyak. Akhirnya jadi lupa. Beberapa waktu yang lalu ditagih tulisan sama orang-orang yang dulu selalu rajin nungguin dan bacain tulisan gue. Jadi lumayan terpacu untuk belajar menulis lagi. Bismillah untuk si 'passion number one' karena satu-satunya cita-cita masa kecil yang belum tercapai nih jadi penulis.
Draft 2 (Prolog)
Ketika kata “sayang” bermakna sebenarnya dan membuat aku bergetar karenanya. Kamu, yang terkadang selalu bermain dengan kata itu hanya untuk menarikku kembali ke duniamu. Kamu, yang dengan sengaja membuat aku terjebak dalam permainan panjang bernama harapan yang kamu ciptakan. Kamu, yang selalu membuat aku jatuh cinta akan setiap sikap manismu. Aku sayang kamu dari saat pertama aku bilang sayang. Mungkin ngga sesederhana itu. Mungkin ngga sekompleks itu. Tetapi. Rasanya begitu rumit. Segala sesuatunya selalu kontradiktif.
Pernah ngga merasakan begitu kangen sama seseorang tapi sekaligus takut untuk bertemu? Aku pernah.
Ketika itu aku begitu ingin ketemu kamu di hari ulangtahunku sekaligus takut kamu akan kembali menjadi candu di hidupku. Seharusnya sederhana. Kita berdua ketemu merayakan ulangtahun dengan sederhana dan hanya berdua kemudian berpisah. Ya. Setiap kali aku ketemu kamu rasanya aku deg-degan, takut pertemuan itu jadi pertemuan terakhir kita. Tapi aku selalu jadi ingin dan ingin dan ingin ketemu kamu lagi. “Aku mau ketemu dong, buat terakhir kali.” Kalimat itu bahkan sudah berkali-kali kusampaikan. Kemudian kita ketemu. Bukan di hari ulangtahunku. Mungkin hanya satu atau dua kali dalam setahun. Mungkin ngga cukup dan ngga akan pernah cukup. Tapi sebetulnya pertemuan kita sudah lebih dari cukup. Rasa cintaku terlalu naif untuk setiap permintaan yang (seharusnya) kupinta. Buatku mencintai biarlah tanpa meminta. Hanya membiarkan cinta yang menunjukkan jalannya sendiri. “Rana, besok kita meeting sama direksi ya soal target sales. Sekalian kamu report target potensialmu.” Section Head ku mengaburkan lamunanku. Kadang melamun adalah hal yang paling mahal karena begitu sulitnya aku punya waktu untuk melamun. Ya. Bekerja untuk perusahaan asing adalah penyebab dari setiap konsekuensi yang kudapatkan. Harus begitu pintarnya menyusun waktu biar bisa punya kegiatan berkualitas dengan keluarga, teman-teman, diri sendiri, dan kamu. Kamu yang juga harus pintar-pintar ‘selip’-kan aku dipadatnya pekerjaan kamu. Buat kamu, selalu jadi pengecualian. Aku rela jika hanya menjadi pengisi waktu luang. Untuk hubungan kita saat ini porsinya memang sama-sama pengisi waktu luang, bukan?
Draft 1
“Keluar yuk, udah mau subuh nih…” Bujuk Mella kepada segerombolan orang yang ada di sekelilingnya. Mella Aina Prameswari remaja berusia 20 tahun saat ini berada di suatu diskotik anak muda ternama di Jakarta sedang melakukan ritual favoritnya beberapa tahun ini “menari”.
“Ah cupu, bagi duit dong… aus gue,” timpal temannya, Tasya Fitra Milanda.
Mereka bertujuh, ada yang menari dengan lincahnya, atau ada pula yang hanya duduk diam di perkumpulan itu. Saat ini pukul 3 dini hari. Jam di mana orang-orang lain pada umumnya sedang beristirahat tidur di rumah. Mereka sudah berada di club tersebut sejak pukul 11 malam, mendapat guest list dari teman mereka yang Disc Jockey di club tersebut.
“Anjrit lo, ayolah balik… kebanyakan lo maboknya,” Mella masih tetap ngotot mengajak teman-temannya yang lain pulang.
“Lo kaya baru pertama deh, Mel, dance floor aja yuk?” Kali ini Bima Suryo Saputra yang mengajak, salah satu dari komunitas clubbers-nya.
“Eeeeeeh, jangan ah, Bim, Mel, bentar lagi stripteas dancer, penuh pasti di dance floor, ntar si Mella kenapa-kenapa, sini aja lo bareng gue, Mel,” Amanda Raisha Putri menimpali yang sejak tadi hanya diam memperhatikan hingar bingar club sambil tetap menghirup black mentol favoritnya.
“Tai lo, pusing nih gue!” Mella membentak semua temannya dan langsung duduk di sebelah Manda, panggilan kecil dari Amanda Raisha Putri. Teman-temannya tidak akan menghiraukan omongan Mella seberapa pun kasarnya omogan Mella saat ini karena semua teman Mella dalam keadaan cukup mabuk.
Teman-teman Mella kembali pada aktivitasnya masing-masing. Teman-temannya yang laki-laki bergegas ke dance floor karena sebentar lagi sexy dancer yang mereka tunggu-tunggu akan tampil. Teman-temannya yang perempuan pun tetap menari di sekitar tempat duduk yang telah mereka “open table” sejak awal.
“Nih rokok,” Manda menawari Mella rokok dengan tangan kanannya, tangan kirinya tetap sibuk menghirup rokok, entah rokok keberapa sejak tadi mereka berada di club ini.
“Please deh, Manda, gue nggak ngerokok! I’m just dancing, dan sekarang gue pusing dan mau pulang!” Mella masih tetap bersikeras ingin keluar dari tempatnya bersenang-senang rabu malam itu, dan pulang.
“Ok, habis ini kita pulang Mel, santai aja kenapa? Lo kok jadi cemen banget sih?”
“I don’t know, gue cuma pusing, mau pulang.”
“Mendingan lo nge-dance gih sana, tuh temenin si Tasya,” Manda menunjuk Tasya yang sedang menari bersama Agnia Callasandra, yang juga teman satu komunitasnya.
“Si Tasya bilang ga sih sama cowoknya? Nanti cowoknya ngamuk deh kalo tau dia masih dugem sama kita.” Tanya mella.
“Wah, nggak ngerti deh gue, bukan urusan gue juga sih.”
Mella hanya menggangguk, mengambil soft drink yang ada di meja, meminumnya sedikit, hanya membasahi tenggorokannya yang kering, lalu berdiri berjalan menghampiri Tasya dan Nia, meninggalkan Manda seorang diri.
Mella menari, menikmati alunan music yang DJ ciptakan, menikmati sorot lampu warna-warni yang menyorotinya, berusaha menyelami semua yang ada. Mella terus bergerak, menghangatkan badannya dengan gerakan-gerakannya. Mella sudah berjanji diumurnya yang sekarang ia harus berhenti minum alkohol dan merokok. Tetapi ia sudah terlanjur mencintai tempat ini, ia hanya suka keramaian yang apatis.
Saat Mella sedang asyik menari tanpa mempedulikan pusingnya dan lupa akan hasratnya yang ingin segera pulang, tiba-tiba Mella merasa semuanya berbayang, semuanya hitam, bergoyang-goyang, dan saat itu lah Mella jatuh tak sadarkan diri.
“Aaaaaarrrrgghh…” Tasya teriak, membuat sekelilingnya menoleh sekilas namun tetap melakukan aktivitasnya masing-masing. Dunia sudah semakin semraut, apatis, anti sosial.
“Gimana nih?” Nia tak kalah panik, “gue panggil anak-anak dulu.” Nia berlari mencari teman-temannya, memohon bantuan.
Tasya panik, walaupun ia tadi menenggak alkohol, tetapi ia belum terlalu mabuk, ia masih mengerti situasi. “Mel, bangun Mel, lo kenapa sih? Lo kan nggak mabok, ya ampun, BIMAAAAAA!” Tasya berteriak memanggil temannya.
Kemudian ada seorang laki-laki datang menghampiri Tasya yang sedang memangku kepala Mella di pangkuannya. “Kenapa?” Tanya laki-laki itu. Tasya menengok, melihat laki-laki itu, mengira itu Bima, yang mendengar teriakannya. Namun laki-laki itu asing, Tasya tidak kenal, tetapi kaget karena masih ada orang yang peduli di tempat seperti ini.
“Temen gue pingsan…” Suara Tasya terdengar cemas.
“Boleh gue bantu? Kursi lo dimana?”
Kemudian Manda datang menghampiri Tasya, Mella, dan laki-laki yang ingin menolong Mella. Manda juga terlihat panik, “Tasyaaaa… Kok bisa sih Tas? Ya ampun, tadi si Mella emang minta pulang terus sih, pusing katanya. Lo sih nggak mau balik, ambruk kan dia.”
“Ya udah, gue angkat ke kursi lo ya?” Laki-laki tadi menunggu persetujuan Tasya dan Manda.
Mereka hanya mengangguk. Mella kemudian di gendong oleh laki-laki asing itu, dibawa ke kursi nya, lalu ditidurkan dikursi.
“Thanks yaa,” Tasya masih cemas dan terlihat bingung akan melakukan apa.
“Mel, bangun Mel…” Manda berusaha menyadarkan Mella. Di tempat seperti ini, orang lain tidak akan memperhatikan sekitarnya.
“Temen lo mabok apa gimana?” Tanya laki-laki itu.
“Nggak, dia nggak mabok, dia katanya pusing, tapi tadi nggak gue peduliin.” Manda menjawab pertanyaan laki-laki itu dengan gelagapan.
“Anjrit, kenapa si Mella?” Teman-teman yang tadi pergi bareng dengan Mella datang dan langsung mengerubuni Mella, semua berusaha menyadarkan Mella.
“Lo sih, tadi Mella minta pulang nggak mau, gini kan jadinya,” Manda menyalahkan teman-temannya.
“Mellaaaaa, bangun sayaaang…” Tasya mengusap-usap kepala Mella berharap Mella segera membuka matanya.
“Gimana kejadiannya sih?” Tanya Bima sambil terus memperhatikan Mella, “Mella sadar, kita langsung cabut ya… aduh ada-ada aja deh…”
“Tadi Mella lagi dance sama gw sama Nia, terus dia tiba-tiba pingsan.”
“Lo bukan jagain Mella, tai yaa…” Bayu Perdana, salah satu dari 3 laki-laki di tongkrongan itu ikut mengamuk.
“Ya, mana gue tau Mella bakal pingsan! Lo juga kalo tau bakalan ikutin dia pengen pulang kan!” Tasya menjadi ikut emosi.
“Terus lo gendong si Mella kesini?” Tanya Dimas Ariviant yang sejak tadi hanya diam saja.
“Bukan gue, tapi….” Tasya menahan kalimatnya, matanya mencari-cari sosok yang tadi menolong mereka tetapi tidak ada, “ke mana ya orangnya? Tadi cowok, aduh gue ga terlalu perhatiin mukanya, pokonya dia nolongin, gendong Mella kesini. Lo inget orangnya nggak sih, Man?”
“Nggak…” Manda menggeleng. Tasya dan Manda yang sedang panik jadi tidak mempedulikan orang di sekitarnya.
“Ah bego lo!”Bayu masih aja mengamuk.
“Hhhhh…” Terdengar desahan nafas, serentak semua memperhatikan Mella. Perlahan-lahan Mella membuka matanya.
“Huaaaaaaa, Mellaaaaaa…. Lo nggak kenapa-kenapa kan?” Tasya heboh memeluk Mella. Mella masih berusaha mengatur nafas. Air matanya turun, namun tidak menangis histeris.
“Kita panik banget, Mel…” Kata Bayu pelan. Mella tersenyum simpul, air matanya masih menetes jarang. Muka cantiknya kini berubah pucat, walau terhalang cahaya gelap di tempat ini.
“Istirahat dulu abis ini kita pulang ya…” Manda menggenggam tanggan Mella erat, menghangatkan, menyayangi.
Mella mengangguk dan berusaha tersenyum, ingin berbicara sesuatu untuk menenangkan teman-temannya tapi lidahnya terasa kaku. Betapa baiknya teman-temannya ini.
***
Menunggu Pagi
Akhir-akhir ini rekan kerjaku mengulang-ulang memutar lagu menunggu pagi dari peterpan. Soundtrack film Alexandria yang happening pada masanya. Sampai saat ini lagu itu masih selalu mengena di hati. Beberapa part-nya bahkan masih kami hafal dengan baik. Menunggu. Untuk beberapa hal menunggu adalah kegiatan menarik. Ada banyak hal yang dikorbankan ketika menunggu. Tapi untukku, begitu banyak hal bisa kulakukan sambil menunggu. Aku bukanlah tipikal orang yang akan berdiam diri untuk jangka waktu tertentu. Aku harus punya banyak kegiatan. Time schedule ku sudah begitu rapi ku atur. Pekerjaan, silaturahmi dengan keluarga-sahabat, me-time, mengerjakan banyak hal kecil yang terkadang ngga penting tapi menyenangkan. Tapi ku tahu persis apa prioritasku dan bagaimana cara memanfaatkan waktu luang yang kupunya. Tapi ku menyesali satu hal. Hobi lama yang kutinggalkan. Aku rindu menulis. Aku rindu orang lain menikmati saatku bercerita melalui tulisanku. Aku ingin kembali menulis dan tulisanku ditunggu orang lain. Sambil menunggu ku ingin kembali menulis. Mungkin tidak mudah. Mungkin memang harus mendisiplinkan diri dengan lebih tegas. Mungkin harus kembali banyak berlatih dan belajar. Pelan-pelan.
Begitu banyak memori yang telah kuciptakan di tahun ini. Banyaknya perjalanan dinas. Dari kota-kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat hingga Nusa Tenggara Barat. Begitu banyak irama yang aku lihat beserta dengan orang luar biasa didalamnya. Untukku memori di bulan Oktober dan November bersamanya ingin kuabaikan, ingin kuhilangkan. Untukku perjalanan di bulan Oktober dan November terasa begitu menyenangkan namun memilukan. Rentetan dinas, solo traveling, dan kamu. Seandainya aku bisa sejenak menikmati kenangan akan kamu tanpa menghadirkan traumatic event. Seandainya aku bisa memahami segala sesuatu memang telah ditetapkan oleh-Nya. Ya, untukku lebih baik menerima. Lebih baik berusaha untuk tetap baik-baik saja meskipun luka di hati tetap membesar. Kali ini tanpa menyibukkan diri, hanya menikmati detik demi detik rasa.
Dear abang, Terimakasih telah singgah. Dititik ini aku mengerti, bahwa cinta memang bukanlah mengenai stimulus dan respon. Cinta hadir ketika kurasakan detak jantung yang bergerak lebih cepat dan intens. Dengan jangka waktu yang singkat. Tanpa kutahu penyebabnya. Tanpa alasan. Iya. Kujatuh cinta. Bukan pada pandangan pertama bukan pada kecupan pertama. Hanya ingin berada di dekatmu, mendengarkan detak jantungmu, melihat kamu baik-baik saja.
My belova team💖 dinner meeting penutupan akhir tahun #AreaPeopleDevelopment #APDTogetherness #happyemployee (at Hanamasa - FX Senayan)
Berbagai hal sering aku diskusikan dengan mas galih, sahabatku. salah satunya mengenai aku yang ngga suka dan ngga bisa bergantung pada orang lain. buatku, aku harus bisa bergantung hanya pada diriku sendiri. dengan itu aku semakin terlatih mandiri.
hanya saja.. tameng ‘sakit hati’ yang kupunya cuma satu. aku cuma menyiapkan perasaan sakit sama bebeb, tidak sama orang lain. buatku, bebeb bisa kapan saja dan sepuasnya untuk menyakitiku, asal bukan orang lain. ketika pada akhirnya aku memberi celah orang lain untuk bisa menyakitiku aku langsung oleng dan kehilangan arah.
Ketika ku kembali merasakan detak jantung yang bergerak lebih cepat dan intens. Ketika ku kembali merasakan rasa ingin bertemu yang menggebu. Ketika ku kembali tidak dapat berkata apa-apa, hanya ingin menikmati adanya kamu di sisiku. Ku jatuh cinta.
💚💚💚 #prambanan #happiness (at Prambanan Temples)
Ramayana Ballet Prambanan #ramayanaballet #sendratariramayana #prambanantemple #yogyakarta (at Panggung Trimurti Ramayana Ballet Prambanan)
Cantik❤️ #prambanantemple #yogyakarta #happiness #afterwork (at Prambanan Tempel)
Happy birthday💟
*obrolan random with my baby siang tadi*
Me: aku lagi jaga jobfair nih di kementerian lingkungan hidup dan kehutanan
Him: ada yang bisa buat aku ngga?
Me: ada dong~ penjaga hutan
Him: mau dong.. Hutan aja dijagain, apalagi kamu~
#Gombalhore
Bahwa mencintai bukanlah mengenai jodoh. Mencintai bukanlah tentang kepada siapa akan berpulang atau hanya singgah sementara. Mencintai adalah tentang rasa yang tak bisa terbantahkan tentang kamu yang akan selalu ada di setiap hela napas.