Petakan Perencanaan
Bacalah dengan Asma Rabb-mu yang Menciptakan
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
Kamu masih jomblo? Sama. hehe. Buatlah rencana pernikahan sekarang juga. Jangan sampai kamu mikirin nikah ketika udah masuk injury time. Jangan sampai kamu baru mikirin nikah setelah terdesak usia yang semakin menanjak progresif. Itu cuma bikin pernikahanmu gak maksimal. Mungkin pestanya mewah, tapi nilai kesakralannya? Nilai yang kamu bangun kedepannya? Cita-cita kamu dua puluh tahun mendatang?
Beda banget dong yang punya planning dengan yang dadakan. Dimana-mana orang yang punya persiapan lebih siap mengahadapi pernikahan. Dibandingkan yang mikir nikahnya karena bosen ditanya "Kapan?". Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Noh, mau jadi orang yang gagal? Gak kan? Ya udah, siapin deh dari sekarang. Jangan malah sibuk "pacaran". Ngapain dikejar-kejar. Ntar kalau udah waktunya juga nyatu sendiri.
"Kalau dia jodohmu, langit akan mengeluarkan daya tarik yang tak mampu kamu tolak." (Ephemera, "Langit" p.105)
Eh, kok malah ngutip Ephemera. Mbah Himsa, kalau kebaca mohon izin kutipannya.
Bagi muslim, cowok atau cewek harus visioner. Pikiran harus bisa menerobos masa depan , futuristik. Nikah diusia kepala tiga hampir dipastikan punya beberapa efek samping. Terutama kaitannya dengan anak. Bayangin aja, kalau nikah umur 30, usia 31 punya anak pertama. Dengan jarak ideal antar anak dua tahun, anak kedua baru kamu miliki di usia 33 tahun. Dan kamu udah dekat dengan masa pensiun, eh ada anak kamu yang belum lulus kuliah. Kan jadi kepikiran, masih ada tanggungan yang belum diselese'in. Itu kalau Allah langsung "kasih" dikesempatan pertama. Kalau "amanah" itu ditunda Allah dulu, gimana?
Tapi kalau nikah usia 22 tahun, mungkin ketika anak pertama masuk SMA, usia kamu masih 38 tahun. Masih cukup fit untuk bergerak. Masih bisa travelling bareng, mendaki gunung bareng anak. Keren, kan?
Intinya sih perencanaan. Awalnya mungkin bisa dibantu dengan analisis SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, & Treats). Pertama kamu buat semacam inventarisasi dirimu. Mulai dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan. Semua faktor yang memudahkan maupun menyulitkan kudu kamu perhitungkan. Buat daftarnya. Lebih lengkap lebih baik.
Dari situ, kemudian kamu bisa nentuin target kapan ingin menikah. Apakah ketika kuliah atau setelah lulus kuliah? Gak jadi masalah. Yang penting kamu punya target yang realistik sekaligus optimis. Dengan target itu, kamu akan lebih terjaga. Jika sadar waktu yang kamu persiapkan untuk menikah masih lama, kamunya bisa lebih berhati-hati, menjauhkan diri dari bermain hati dan bermain "api".
"Menikah memang lebih baik "disegerakan". Itu lebih mendatangkan kebaikan dan barakah dari Allah setelahnya. Tapi jangan pula "tergesa-gesa" (buru-buru). Justru akan mendatangkan keburukan, bahkan mungkin murka dari Allah."
Disadur dari buku biru yang eye catching ketika pertama ngelihatnya, walaupun waktu itu belum tahu judulnya. Udah kepincut duluan dengan warnanya, jatuh hati pada pandangan pertama gitu ceritanya. hehe. Buku yang berjudul "Married Because of Allah" dengan slogan "Segerakan Nikahmu, Allah Segerakan Suksesmu", karya Anugrah Roby Syahputra. Dia ini nikah diusia 22 tahun. Nah, dia yang ngomporin para anak muda buat segera nikah dengan karyanya ini. Kalau yang sebelumnya "blas" gak ada pikiran buat nikah, setelah baca buku ini, "jleb" langsung kepikiran. hehe *pengalaman.









