Official Website of Total Art Work Of The Future Social Order

seen from United States
seen from Austria
seen from Canada

seen from United States
seen from South Korea

seen from United States

seen from United States
seen from Italy

seen from United States
seen from Yemen

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States

seen from South Korea
seen from United States
seen from Germany

seen from Australia
seen from Germany
Official Website of Total Art Work Of The Future Social Order
Petakan Perencanaan
Bacalah dengan Asma Rabb-mu yang Menciptakan
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
Kamu masih jomblo? Sama. hehe. Buatlah rencana pernikahan sekarang juga. Jangan sampai kamu mikirin nikah ketika udah masuk injury time. Jangan sampai kamu baru mikirin nikah setelah terdesak usia yang semakin menanjak progresif. Itu cuma bikin pernikahanmu gak maksimal. Mungkin pestanya mewah, tapi nilai kesakralannya? Nilai yang kamu bangun kedepannya? Cita-cita kamu dua puluh tahun mendatang?
Beda banget dong yang punya planning dengan yang dadakan. Dimana-mana orang yang punya persiapan lebih siap mengahadapi pernikahan. Dibandingkan yang mikir nikahnya karena bosen ditanya "Kapan?". Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Noh, mau jadi orang yang gagal? Gak kan? Ya udah, siapin deh dari sekarang. Jangan malah sibuk "pacaran". Ngapain dikejar-kejar. Ntar kalau udah waktunya juga nyatu sendiri.
"Kalau dia jodohmu, langit akan mengeluarkan daya tarik yang tak mampu kamu tolak." (Ephemera, "Langit" p.105)
Eh, kok malah ngutip Ephemera. Mbah Himsa, kalau kebaca mohon izin kutipannya.
Bagi muslim, cowok atau cewek harus visioner. Pikiran harus bisa menerobos masa depan , futuristik. Nikah diusia kepala tiga hampir dipastikan punya beberapa efek samping. Terutama kaitannya dengan anak. Bayangin aja, kalau nikah umur 30, usia 31 punya anak pertama. Dengan jarak ideal antar anak dua tahun, anak kedua baru kamu miliki di usia 33 tahun. Dan kamu udah dekat dengan masa pensiun, eh ada anak kamu yang belum lulus kuliah. Kan jadi kepikiran, masih ada tanggungan yang belum diselese'in. Itu kalau Allah langsung "kasih" dikesempatan pertama. Kalau "amanah" itu ditunda Allah dulu, gimana?
Tapi kalau nikah usia 22 tahun, mungkin ketika anak pertama masuk SMA, usia kamu masih 38 tahun. Masih cukup fit untuk bergerak. Masih bisa travelling bareng, mendaki gunung bareng anak. Keren, kan?
Intinya sih perencanaan. Awalnya mungkin bisa dibantu dengan analisis SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, & Treats). Pertama kamu buat semacam inventarisasi dirimu. Mulai dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan. Semua faktor yang memudahkan maupun menyulitkan kudu kamu perhitungkan. Buat daftarnya. Lebih lengkap lebih baik.
Dari situ, kemudian kamu bisa nentuin target kapan ingin menikah. Apakah ketika kuliah atau setelah lulus kuliah? Gak jadi masalah. Yang penting kamu punya target yang realistik sekaligus optimis. Dengan target itu, kamu akan lebih terjaga. Jika sadar waktu yang kamu persiapkan untuk menikah masih lama, kamunya bisa lebih berhati-hati, menjauhkan diri dari bermain hati dan bermain "api".
"Menikah memang lebih baik "disegerakan". Itu lebih mendatangkan kebaikan dan barakah dari Allah setelahnya. Tapi jangan pula "tergesa-gesa" (buru-buru). Justru akan mendatangkan keburukan, bahkan mungkin murka dari Allah."
Disadur dari buku biru yang eye catching ketika pertama ngelihatnya, walaupun waktu itu belum tahu judulnya. Udah kepincut duluan dengan warnanya, jatuh hati pada pandangan pertama gitu ceritanya. hehe. Buku yang berjudul "Married Because of Allah" dengan slogan "Segerakan Nikahmu, Allah Segerakan Suksesmu", karya Anugrah Roby Syahputra. Dia ini nikah diusia 22 tahun. Nah, dia yang ngomporin para anak muda buat segera nikah dengan karyanya ini. Kalau yang sebelumnya "blas" gak ada pikiran buat nikah, setelah baca buku ini, "jleb" langsung kepikiran. hehe *pengalaman.
UPDATE 1-Fed's Yellen urges rejection of rule-based monetary policy proposal
UPDATE 1-Fed's Yellen urges rejection of rule-based monetary policy proposal
(Adds comments from Yellen)
By
View On WordPress
Morality study finds conservatives show a ‘general insensitivity to consequences’
By Eric W. Dolan The Raw Story Originally published Sunday, June 23, 2013 When it comes to topics like abortion or assisted suicide, there seems to be no common ground between conservatives and liberals. Why is there such a noticeable rift between the two political orientations? Research published June in Social Psychological and Personality Science suggests that religious individuals and political conservatives think about moral issues in a fundamentally different way than liberals. The study by Jared Piazza of the University of Pennsylvania and Paulo Sousa of Queen’s University Belfast, which included a total of 688 participants, found religious individuals and political conservatives consistently invoked deontological ethics. In other words, they judged the morality of actions based on a universal rule such as, “You should not kill.” Political liberals, on the other hand, consistently invoked consequentialist ethics, meaning they judged the morality of actions based on their positive or negative outcomes. “Does being religious or being conservative promote a rule-based ethic or does having a rule-based ethic promote religiosity and/or conservatism?” Piazza told PsyPost. “This question is difficult to answer definitively without running a longitudinal study, since you cannot really manipulate religious orientation, or being in possession of a deontological orientation, and then look at the consequences.” The study’s cross-sectional methodology makes it impossible to say anything more than religion and conservativism are associated with deontological ethics. However, Piazza said prior research suggested that being religious underlies the adherence to deontological ethics, The entire story is here.