Sebuah cerita, terserah kalian percaya atau enggak.
Dua jam yang terasa terlalu singkat. Aneh. Baru pertama itu aku main ke rumah kamu. Katanya orang tua kamu lagi nggak di rumah. Orang tuaku juga nginep disana. Akrab banget ya? Aku juga akrab sama adik perempuan kamu. Kami main bareng di lantai satu. Sementara kamar kamu, kakak, dan adik kamu di lantai dua. Sesekali aku ngintip-ngintip ke arah tangga. Liat kamu yang cukup sering bolak-balik disana. Kadang liat aku, kadang enggak.
Scene berikutnya, aku main ke lantai dua. Masih jelas gimana uniknya ruangan disana. Sebuah ruangan nggak terlalu besar, tapi memanjang. Ada lima sub-ruang. Masing-masing adalah ruang untuk kamu, kakak dan adik kamu. Aneh, masa kakak kamu ada tiga. Perempuan dua, laki-laki satu. Ruang yang satu lagi punya adik laki-laki kamu. Yang aku liat malah dua kakak perempuan kamu. Nggak taulah itu siapa. Kamarnya lucu. Inspiratif. Ruang kamu di paling ujung. Paling jauh dari tangga. Keren, ada kulkasnya! Kita ketawa bareng waktu pertama aku liat kotak silver itu. Entah kenapa.
Masih di lantai dua. Kita bersandar di deket jendela, ngobrol seperti biasa. Ada beberapa orang lain disana, tapi cuma di samping kamu aku ngerasa nyaman, seperti biasa. Ada penjelasan kira-kira kenapa tangan kita seperti kutub-kutub medan magnet yang bersebrangan? Karena secara otomatis tangan kita saling menuju satu sama lain. Karena sesempit apapun waktu cuma lima jari itu yang aku tuju. Tapi kali ini kamu menarik diri lebih dulu, “Kan katanya udah gede?”, kalimat itu entah apa maksudnya. Mungkin masih kena efek dari perdebatan kita sehari yang lalu. Pengajuan cutinya aku. Aku cuma menatap hampa ruang-ruang di depan kita. “Semoga nyeseknya nggak terlalu lama,” aku bilang, tanpa suara.
Berapa scene yang aku lewatin karena lupa. Hiks. Maaf ya. Tapi kemudian kita ada di dalam kabin, semacam kontainer kaca. Segerombolan orang dateng dan kita lari. Apa sih maksudnya ini? Kita lari dan terus sembunyi. Sampai pada suatu titik, aku udah nggak bisa liat kita lagi. Aku jalan sendiri. Tapi orang-orang itu masih di belakang, ngikutin. Aku muter jalan supaya nggak ketauan. Seingetku, sampai di rumah yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Aku naik ke lantai dua. Lantai kayu yang hampir sama dengan lantai dua di rumah kamu. Tapi lebih sempit. Aku cuma mengeksplorasi jendela. Segerombolan orang itu masih disana. Nanya kamu dimana. Aku bingung, kamu punya utang apa sih sampe dikejar-kejar mereka? Yang lebih ngebingungin lagi adalah ketika mereka bilang mereka udah dapet clue kamu ada dimana sembari nyodorin print out ms.excel yang isinya stock list tanaman di proyek yang lagi aku kerjain. Judul tabelnya nggak rata. Itu aja. Aku nggak ngerti deh apa hubungannya.
Dua jam itu rasanya cepet sekali. Banyak scene yang kelewat, yang nggak ketulis di blog ini. Selama apa sih kita nggak ketemu, sampe aku sekangen ini? Sampe kita hampir selalu ketemu di alam mimpi?
Aku bangun, dan sadar semua nggak akan pernah sama lagi.