Di usia yang kata orang tergolong medium well ini, kenapa segala pertanyaan dan pertentangan tentang hidup malah makin ramai ya?
Kadang hidup ini terasa simple, tapi kadang perkara anak GTM sudah bikin hati bergejolak, istirahat tidak tenang, dan emosi jiwa melonjak seperti kenaikan Rupiah. Alhamdulillah, pagi tadi masih dikasih kesempatan buat sekadar curcol ke mama, “Capek banget ya, ma, jadi ibu, jadi istri,..”, mamaku yang super cool itu hanya menjawab, “Ya, memang begitu, apalagi kamu triple tugasnya, jadi ibu, jadi istri, jadi karyawan lagi…”. Sederhana, tp cukup membuat aku menangis tipis, sembari mengusap ujung mataku, dalam hati aku menambahkan, “dan jadi diri sendiri.”. Diri sendiri yang juga punya mimpi, punya banyak wishlist, bunya banyak idealisme dan ekspektasi yang sering banget harus mengalah demi apapun selain demi tercapainya itu semua.
Di usia yang tergolong medium well ini, antara menyimpan mimpi baik-baik dalam bingkai di lemari, atau melemparnya ke tepi jurang peruntungan, rasanya seperti pertentangan yang selalu tolak menolak. Terlalu sayang untuk hanya disembunyikan, tapi terlalu menakutkan untuk dicoba diwujudkan. Naif nggak sih, semua ketakutan itu dibalut dengan alasan “sekarang waktunya memprioritaskan keluarga”? Padahal aku tahu betul, performance ku di keluarga tidak akan benar-benar utuh tanpa aku melengkapi the whole seasons of me being the genuine me. Manjanya, karena merasa tidak berdiri sendiri, aku justru mengharapkan bisa dapat dukungan lebih, pertentangannya adalah, yang punya mimpi, siapa? Egoisnya lagi, aku merasa membagi sisa hidupku di family season ini, jadi seharusnya aku bisa mendapatkan support yang lebih, in return. Terlalu transaksional untuk kehidupan yang belum khatam kupahami ini.
Di akhir perdebatan tentang pertentangan-pertentangan hidup, aku tahu akhirnya cuma bisa berserah. Walaupun kayaknya garis antara berserah dan menyerah juga masih samar buatku. Kata Allah,
“Berdoalah kepadaKu, niscaya akan kuperkenankan bagimu,”
Maka, setiap doa dan angan-anganku selalu kulayangkan ke langit sana, entah bagian mana yang akan kembali ke Bumi sama persis sesuai ekspektasiku, digantungkan dulu di langitMu, atau direvisi sesuai versiMu yang terbaik,
Jawaban doa selalu “iya”.















