https://twitter.com/ElAlexQuackity/status/1492206391817211908?s=20&t=AyGwZrBhJtcSf0HvXsxy8w
YA ES HORA LETS GOOOOOOOOOO

#batman#dc#dc comics#bruce wayne#dick grayson#tim drake#batfam#dc fanart#batfamily




seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Australia
seen from United States
seen from Philippines
seen from China
seen from Canada

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Georgia

seen from Brazil
seen from United States
seen from Rwanda

seen from United States
seen from Brazil
seen from China

seen from Malaysia
seen from Brazil
https://twitter.com/ElAlexQuackity/status/1492206391817211908?s=20&t=AyGwZrBhJtcSf0HvXsxy8w
YA ES HORA LETS GOOOOOOOOOO
U GUYS WANNA SEE A WIP OR WHAAAA
Bobodarei Ea Ea Ea dance challenge in Korea-퍼퍼따래 댄스 챌린지-Tik Tok KR#8
youtube.com/c/TikTokWorld67
♡If you like our videos, you can share the videos with your friends and family.😉 ♡You can help us make more videos with subscribing to our channel!😘 ♡Have any suggestion or ideas? please let we know😀
Surfer!Nakatomi Yuki/Painter!Murakami Tadashi, prompt requested.
“Hh—apaan sih.”
Keluhan dari Nakatomi Yuki hanya dibalas dengan vokal yang terdengar seperti ketinggalan momen bintang jatuh di langit. Murakami Tadashi memang pantas memasang ekspresi demikian, karena obyek yang terpampang dalam foto polaroid yang baru jadi itu tidak menampilkan momen yang diinginkannya. Tadashi selalu ingin punya foto Yuki dalam berbagai ekspresi, namun sejauh ini, foto terbaik yang ia punya adalah foto Yuki yang difoto ketika sedang minum, sehingga ekspresinya tampak bodoh.
Tetapi Tadashi tidak ingin foto Yuki tersenyum bodoh, Tadashi ingin foto Yuki yang sedang tersenyum lepas.
“Jelek, jelek sekali, jelek.” gumam Tadashi sambil mengibas lembaran polaroid tersebut agar hasil fotonya semakin jelas. “Kau menghancurkan jerih payahku, Yuki.”
“Aku tidak suka difoto.” seperti biasa, ekspresi si pemuda terlihat tidak ramah, bahkan kepada Tadashi yang sudah bersamanya selama hitungan bulan.
(Sampai saat ini, Tadashi menyimpulkan bahwa Nakatomi Yuki adalah seorang yang pemalu, dan ia menyamar menjadi seorang yang galak agar kelak orang-orang segan kepadanya.)
“Tapi aku ingin punya fotomu, satu saja.” yang kedengarannya aneh—yang paling tua dalam dialog ini tiba-tiba nadanya seperti meminta. Tadashi tidak meminta kepada orang, atau sesuatu, di belakang Yuki.
“Kau sudah banyak memotretku dengan kamera itu—“
“Tapi tidak ada yang benar-benar tersenyum.”
Yuki mendecak, malas dengan pemuda yang dikenal sebagai orang yang ramah dan suka tersenyum, bahkan kepada yang tidak ramah seperti Yuki ini. Pandangannya hanya ia alihkan ke depan saja, melihat garis batas langit dengan laut beserta gelungan ombak yang selalu menghasilkan buih dan desir sekaligus. Papan selancarnya tergeletak diabaikan pemiliknya hanya demi satu orang teman.
Bukan satu orang, satu-satunya orang. Juga bukan teman, tetapi yang sangat amat peduli padanya.
“Yuki…”
Rasa kesalnya yang mulanya mereda kembali naik satu langkah kecil, beralih dari laut ke sosok pemuda lebih tua dengan pakaian yang selalu ternoda cat minyak dan selalu membawa kamera polaroid seakan kamera itu bagian dari jiwanya yang keluar.
“Aku ingin melihatmu tersenyum.” kata Tadashi lirih. “Sebelum aku lupa apa kau pernah tersenyum kepadaku atau tidak.”
Jantung Yuki mencelos seketika, sumpah serapah itu meluncur dari segala sudut pikirannya, namun selalu berhenti di ujung lidah.
“Ayo, aku menunggu jawabanmu.”
Benci, Yuki benci, Yuki super benci dengan Tadashi yang selalu mengungkit kekurangannya sendiri. Yuki super benci dengan Tadashi yang mengidap amnesia tipe aneh yang membuatnya selalu lupa dengan apa yang dialaminya setiap empat hari.
Yuki super benci dengan Tadashi karena lelah harus mengulang dari awal lagi, tidak pernah ada kemajuan di antara mereka.
“Sesukamu deh…”
Senyum dari bibir Tadashi berkembang, kali ini kameranya sudah terisi dengan lembaran foto yang masih kosong. Kaki Yuki membuat jejak hingga tulang keringnya dihantam lembut dengan deburan ombak. Dialah yang memilih tempat untuk tersenyum lepas—hanya untuk Tadashi saja.
“Satu, dua, tiga, cheese!”
.