I’ve lost interest in schooling after abduction of my classmates – Student
I’ve lost interest in schooling after abduction of my classmates – Student
A student of Federal College of Forestry and Mechanisation, Afaka in Kaduna State, Markus Makut, said he has lost interest in continuing his education following the abduction of his classmates by bandits who stormed the school hostels on Thursday night.
About 30 students, mostly females, were abducted when bandits stormed the college located opposite the premier military university, Nigerian…
3D images with the secret ingredient 😎🔴🔵 The power of geometry in the time 😰🕠🕢🕓 La Formula del viaje en el tiempo 🤔😸😉 . . . Colección: Símbolos/geometria/traveltime . . . #ecuation #visualart #timetravel #artwork #3Dart #eis3dart 3D #imagen3D #matemathics #digitalart #design #artevisual #tiendaonline #tiendadearte #artshop #artedigital #geometria #matematicas #viaje #tiempo #EIS #elingredientesecreto https://www.instagram.com/p/BwKvvfDhMFc/?igshid=hoytxcfbox9
Untuk era yang serba teknologi sekarang ini, pendidikan masih harus jadi konsentrasi utama dari setiap negara terlebih untuk INDONESIA yang masih belum menemukan titik nyaman dan aman untuk penerapan sistem pendidikan yang efektif dalam pencapaian tujuan serta efisien dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, saya akan mencoba membahas tentang pendidikan dari perspektif saya yang saat ini menjadi seorang peserta didik di salah satu Universitas Swasta di daerah Bandung, Jawa Barat.
Apa yang menjadi kunci permasalahan utama dalam sistem pendidikan di INDONESIA? ~~
Dari perspektif saya sebagai peserta didik yang (merasa) peduli untuk membahas ini adalah metode yang digunakan dalam (kebanyakan) instansi pendidikan masih mengacu kepada belajar untuk mengerti sesuatu, bahkan hanya menghafal sesuatu. Apa yang ditekankan dari hal itu? ya, dari kecil kita telah disisipi untuk memikirkan hanya kepentingan pribadi. “belajar lah kalian, kalau kalian tidak mengerti maka kalian sendiri yang rugi”, PERNAH DENGAR KATA SEPERTI ITU?. mungkin ada yang pernah ada yang tidak, tapi dari saya menempuh pendidikan di SD, SMP, SMK yang ketiganya dalam satu daerah yang sama sampai saya KULIAH di daerah yang berbeda dan lumayan memiliki lingkungan yang pasti berbeda dengan sebelumnya saya pernah mendengar masih ada pendidik yang berkata seperti itu.
Salah? tidak juga, tapi harus sedikit diluruskan. Jika kita tidak berhasil dalam belajar, apakah kita akan rugi? jelas ya. Tapi apakah hanya kita yang rugi? tentu tidak. Seluruh bangsa ini yang akan rugi karena tidak memiliki kapasitas penerus bangsa yang layak untuk memajukan bangsa ini bersama sama. Apa dampaknya? sungguh luarbiasa, ketidaklayakan tersebut akan turun temurun karena seseorang tidak merasa bertanggung jawab atas ketidaktahuan temannya bahkan penerusnya. Jika sudah turun temurun seperti itu, kesempatan seperti apa lagi yang bisa kita ambil? jangankan mengambil bahkan kesempatannya saja tidak terfikirkan oleh kita. Begitu besar dampak yang terjadi karena apa? ketika kita dirasuki pikiran hanya untuk diri sendiri, hal hal yang membuat kita rugi saja lah yang menjadi fokus utama kita untuk dihindari, bahkan rugi tersebut tidak semua orang merasakannya. Banyak yang tidak merasa rugi ketika dia tidak mendapatkan ilmu yang cukup yang penting saat itu hidupnya tidak terganggu (sejahtera). Tapi dia tidak berfikir tentang orang lain, bahkan untuk dirinya dikemudian hari pun tidak. Pernah suatu hari saya mendengar materi dari seorang komedian yang bisa dianalogikan kenapa kita harus luruskan hal yang saya bahas tadi, bunyinya begini ”DILARANG MEROKOK DIDALAM GERBONG KERETA INI, JIKA KETAHUAN MAKA TEMAN SEBELAHNYA AKAN MENDAPATKAN SANKSI” kurang lebih bisa dikutip seperti itu (saya tidak sedang menonton videonya ketika menulis ini).
Apa hubungannya jokes tersebut dengan pembahasan ini?
Jika kita mendengar sekilas maka hal itu akan terlihat sedikit lucu karena ada urusan apa teman sebelahnya tiba tiba dihukum padahal tidak melakukan kesalahan?. Dalam konteks “kesalahan merokok” jelas ya dia tidak melakukan kesalahan, tapi dalam konteks keselamatan perjalanan tersebut dia “bisa jadi” melakukan kesalahan karena ikut membiarkan orang lain membahayakan banyak orang. SETUJU? (setuju atau tidak itu hak anda, karena kritikan justru membuat kita semakin berwawasan terhadap pendapat dari berbagai sudut pandang).
Mari kita bahas hubungannya dengan tulisan ini, terlihat dari jokes diatas orang orang didalam gerbong kereta pastinya akan lebih saling mengawasi, saling peduli karena dia juga akan kena imbasnya. Dan siperokok akan lebih berfikir ketika dia merokok ditempat itu orang lain juga akan rugi. Jika sistem seperti itu dianalogikan dalam sistem pendidikan kita, dengan treatment bahwa “JIKA KALIAN TIDAK MENGERTI, MAKA BANGSA INI AKAN HANCUR HANYA KARENA KALIAN”, wow ekstrim sekali haha. oke kita sederhanakan lagi untuk pemula yang belum memikirkan sampai kepada bangsanya. mungkin treatmentnya bisa seperti ini ”JIKA KALIAN TIDAK MENGERTI, MAKA NILAI TEMAN KALIAN AKAN 0 (mengerti ya, bukan bisa menjawab soal saja)”, hal itu akan menjadi tanggung jawab untuk mereka saling menjaga, saling memperhatikan dan memastikan temannya harus mengerti (titik).
Pasti banyak yang kontra, misalnya timbul pertanyaan begini ”BAGAIMANA JIKA MEREKA HANYA BEKERJA SAMA UNTUK LOLOS DARI SITUASI TERSEBUT?” mencontek maksudnya? oo jelas tidak bisa, pendidik pada akhirnya harus memastikan peserta didiknya mengerti, sekali lagi saya ulangi MENGERTI bukan hanya bisa menjawab soal tapi jika bekerja sama untuk belajar tidak menjadi masalah. Loh ya susah.. jelas susah, kalau gampang ya tidak akan ada masalah. lalu bagaimana jika memang si anak tidak tertarik dibidang tersebut sehingga sulit untuk membuatnya mengerti?. TIDAK MASALAH, sistem itu bukan untuk generalisasi (saya juga tidak suka generalisasi standar pendidikan). LALU? sistem itu dibuat agar mindset anak terbentuk untuk lebih utama memikirkan kepentingan bersama untuk akhirnya mensejahterakan diri tanpa ada beban.
Setelah sistem pendidikannya yang diluruskan, baru sistem pembelajarannya, rasa penasaran ditingkatkan untuk meningkatkan keinginan anak belajar. dan cara serta penilaiannya juga. Ada yang menarik tentang pemberian nilai, menurut saya penting memang nilai digunakan untuk mengukur diri mereka. tapi saya rasa itu lebih untuk apresiasi pencapaian. Pernah saya memberikan masukan kepada teman saya yang bisa dibilang seorang pendidik, Kita boleh galak, untuk tahapan nilai kita boleh memberikan nilai realistis apa adanya sesuai kemampuannya, tapi buatlah itu sebagai acuan untuk mereka, kasih arahan seperti “kamu harus belajar lagi untuk selanjutnya nilaimu sekarang segini, jika tidak maka nanti kurang untuk diakhir” hal itu mungkin bisa memberikan efek bisa juga tidak. tapi untuk sistem penilaian ya itulah salah satu contoh untuk memotivasi, ketika tahapan penilaian itu dirasa nilai mereka meningkat, apresiasi lah dengan memberikan nilai akhir yang bagus, hal ini justru membuat mereka merasa dihargai telah berusaha bahkan harus mempertanggungjawabkan nilainya sehingga harus tetap belajar ataupun minimal tidak melupakan apa yang sebelumnya diajarkan.
Jadi setelah terbentuk mindset untuk lebih utama memikirkan kepentingan bersama, lalu dia berfikir bagaimana mendapatkannya, peran apa yang harus diambil. tercipatalah pola pendidikannya. Belajar itu bukan hanya seberapa sering, bahkan bukan hanya sejauh mana kamu mengerti.. belajar itu harus sebisa apa kamu terapkan dalam kehidupan,.. itu baru PENDIDIKAN namanya, setelah kamu dididik harus jadi orang terdidik, setelah itu harus bisa mendidik, itu baru PENDIDIKAN namanya.
sekian tulisan ini semoga bisa mengajak semua untuk lebih memikirkan dampak yang lebih luas ketika melakukan kesalahan kecil.