Lima Album Tetangga untuk menemani membaca kumpulan sajak Yang Samar Dan Gemetar

seen from France
seen from China
seen from United States
seen from Argentina
seen from Italy

seen from Peru
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Netherlands
seen from China
seen from Hong Kong SAR China
seen from China
seen from China
seen from Egypt
seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Netherlands
Lima Album Tetangga untuk menemani membaca kumpulan sajak Yang Samar Dan Gemetar
Aloha ada yang seru nih minggu depan! Bang @edoy___ mengajakmu untuk obrol bukunya yang terbaru: MIRYAM Dan Dari Bayangan Yang Berlalu dan menyimak pembahasan bang @dedytririyadi Catat ya tanggalnya, Hari : Minggu, 18 Maret 2018 Jam : 16.00 - selesai Tempat : Kedai Jung Coffee Jl. Rawamangun Muka Barat Blok C12 Di sana kita bukan hanya obrol buku tapi juga bisa baca puisi bareng: @kelaspuisi @malampuisijkt **buku bisa dibeli saat acara berlangsung Yuk kosongin jadwalmu buat acara seru ini! Untuk Info lebih lanjut, silakan hubungi kak @hazitanaya Kami tunggu 😘 Partnership: @jungcoffee @malampuisijkt @kelaspuisi #eventjakarta #kedaijungcoffee #eventsastra #kelaspuisi #edoyaa #puisi
SENI MELACAK KANGEN MANTAN PACAR
DI ANTARA SEJUMLAH TRAUMA YANG ANONIM
pengantar penyair
SAYA hidup dalam keluarga yang menganggap sebuah lagu sebagai salah satu bagian yang berkaitan dengan mengekspresikan ranah emosional. Ibu saya pernah bilang bahwa mendengarkan Ida Laila adalah upaya merayakan kerinduan kepada almarhum papa saya, Soe Hari. Dan puncak dari perayaan tersebut adalah mendoakan.
Hubungan-hubungan fragmentaris di atas membuat pikiran liar saya terbuka komunikasi dengan aneka peristiwa di sekitar saya. Proses ulang-alik dengan difasilitasi metafora dan bunyi membentuk penalaran visual yang saya kenali sebagai struktur puisi. Meski saya sama sekali tidak berani secara vulgar mengatakan bahwa dengan cara begitu saya menulis sebuah puisi.
Pemahaman bahasa saya yang terbatas tentang ruang, menganggap ruang tidak persis sama dengan tempat: Mula-mula objek mendapatkan tempatnya berada, kemudian setelah itu ruang pun tercipta. Dinamika yang berlangsung dalam korespondensi antara ruang-objek-tempat itulah saya kemudian menyimpannya sebagai kumpulan data, sebagai bahan teks-teks saya. Dan hanya ketika peristiwa itu menarik perhatian saya, maka mampu menyulut daya untuk menuliskannya dalam larik-larik puisi.
Medan perang puisi senantiasa progresivitas ide kreatif penyair dengan keselarasan teks. Pergulatan penyair dan teks ini, juga membentuk sebuah dunia ketiga di benak pembaca. Saya masih meyakini bahwa membaca buku puisi itu sama hakikatnya dengan mendengarkan musik, menonton film, atau kegiatan lain yang menyenangkan, dalam upaya mendapatkan semacam penghiburan. Buku kumpulan sajak ini adalah sebuah ajakan (seperti kangen yang tak terlacak kepada mantan pacar) dari saya untuk berbincang santuy, merayakan hal-hal sederhana dan sangat kita kenali debarnya /yang samar dan gemetar/ itu. Matur kesuwun.
OPEN PRE-ORDER 1-15 JULI
Penerbit: BASABASI
ISBN: 978-623-305-448-5
Tebal: 76 hlm
Tahun: 2023
Ukuran: 12x19 cm
Pemesanan:
@basabasistore
@fiksidivapress
@tokobukumainmain
@iyigbookstore
WhatsApp:
081316320671 (Mas Wawan)
atau Klik Tautan Shoppe (Free Ongkir)
https://shp.ee/8ddihf7
Suatu hari, saat saya sedang dine in cilok langganan, Mang Tarmin pedagang cilok itu bilang, "Seandainya waktu untuk hidup tinggal lima menit lagi untuk mengatakan sesuatu, maka di langit akan bergemuruh kalimat pernyataan: Aku cinta padamu." tukasnya lirih.
Kali ini saya enggan menanggapi —tak seperti biasanya—, tetapi gatal juga. Dan saya pun berujar separuh enggan, "Ya kamu benar, Mang, telepon umum dalam kutipan Christopher Morly telah kehilangan fungsinya. Mang Tarmin memakai 'di langit akan bergemuruh' itu memang pas dan relevan."
Kemudian Mang Tarmin bilang, "Yah aku kalah lagi. Gratisnya goceng aja ya, jangan ceban..." sembari melenguh panjang.
....
Dalam kumpulan sajak "Yang Samar Dan Gemetar" saya hanya mengambil aspek mental dari sebuah peristiwa, bukan mengambil peristiwanya. Dan aspek mental itu, mungkin saja kamu mengenalinya, lantaran pernah mengalami atau melihat dari kisah orang lain di sekitarmu. Untuk semua pembeli buku ini saya ucapkan terima kasih atas apresiasinya, selamat membaca dan semoga terhibur. (kalo bukunya udah sampe tag diriku yes 😘)
Saya ucapkan terima kasih secara khusus untuk PakYai Edi Mulyono, juga BASABASI CREW yang super gokil dan cute: Mas @rezanufa, Mas Wawan, Inara, @daruzarmedian editor kesayanganku, serta @alfinrizalisme designer andalanku. Terima kasih. *tiyum*
Hari ini terakhir harga diskon 26% lho. Gaskeun!
Pemesanan: @basabasistore
atau Klik Link di bawah foto (Shopee Free Ongkir)
Terimakasih, mas @edoyaa untuk buku Ritus Khayali-nya. Sebuah kehormatan bisa dipertemukan dengan buku ini. Saya bacakan satu puisi dari bukumu, semoga berkenan. Sampai jumpa esok di Jakarta! Salam takzim!
PASAR MALAM
— Astrajingga Asmasubrata
Di pasar malam, aku bunyi lekas dari senar ukulele pengamen kecil pada komposisi keroncong lawas yang membuat ingatan kita menggigil. Di pasar malam, aku kembang gula aneka warna. Barangkali, itu rupa kita dalam angan dan ingin paling sederhana: Biru untuk rindu, merahmuda untuk cinta. Di pasar malam, aku komidi kincir angin yang membawa kerianganmu naik dan turun, dalam sangkar yang berjalin. Lalu kau bertanya: apakah aku cantik? Dan aku tak menjawabnya dengan kata sebab pelukan lebih segala dari bahasa. (Maja, 2015)