Membaca Puisi: Begini Aku Sekarang

seen from Japan
seen from Hong Kong SAR China

seen from China

seen from Singapore
seen from United States
seen from Chile

seen from United States

seen from Singapore

seen from Australia
seen from Germany

seen from Singapore
seen from China

seen from Iraq
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Dominican Republic
seen from China
seen from Libya
Membaca Puisi: Begini Aku Sekarang
Membaca Puisi Senja Di Pelabuhan Kecil Karya Chairil Anwar
Terimakasih, mas @edoyaa untuk buku Ritus Khayali-nya. Sebuah kehormatan bisa dipertemukan dengan buku ini. Saya bacakan satu puisi dari bukumu, semoga berkenan. Sampai jumpa esok di Jakarta! Salam takzim!
PASAR MALAM
— Astrajingga Asmasubrata
Di pasar malam, aku bunyi lekas dari senar ukulele pengamen kecil pada komposisi keroncong lawas yang membuat ingatan kita menggigil. Di pasar malam, aku kembang gula aneka warna. Barangkali, itu rupa kita dalam angan dan ingin paling sederhana: Biru untuk rindu, merahmuda untuk cinta. Di pasar malam, aku komidi kincir angin yang membawa kerianganmu naik dan turun, dalam sangkar yang berjalin. Lalu kau bertanya: apakah aku cantik? Dan aku tak menjawabnya dengan kata sebab pelukan lebih segala dari bahasa. (Maja, 2015)
Yang #dibacakan dan yang #membacakan #buku #cerita sama-sama #tertidur :-*
Beberapa Bait dari Beberapa Kata yang Berakhir dengan Huruf ‘M’
1. KITA sepasang ombak, yang matang, bertembuk di pantai curam, dari tengah laut kita bertimpaan, selam-menyelam. Tiada yang ingin karam.
2. KARANG itu, dulu, adalah aku, ombak yang tak ingin redam. Dan pantai itu, dulu, adalah engkau, badai yang tak ingin padam. Kini, kita damai, berdamai, tapi dendam, saling memendam.
3. DI laut yang dalam, tahukah kita beda siang dan malam? Beda surut atau pasang? Gelap dan senyap, adalah tempat, dan alasan sembunyi yang lingkup lengkap.
4. JIKA aku datang, mengejar engkau, aku adalah ombak yang mengetam jejakmu, melicinkan lagi pasir, dan pantai itu. Maka, engkau adalah hal yang tak tergapai.
5. KALA kalam kelam, lidahku sehitam malam. Yang kuucapkan, kata yang tajam, melukai mulutku sendiri, semakin semak maki-maki.
6. DI sinikah kita janji ketemu? Di muara muram ini? aku elu-elu dari hulu, kau jerat jerit elang laut itu. Di muara murung ini?
7. DENGAN demam, tubuhku mengucap apa yang ia pendam. Mungkin, akhirnya, kami, aku dan tubuhku, rindu sekadar sekejap pejam.
* Puisi Karya Hasan Aspahani * Dimuat di Koran Tempo, 2 Juni 2013
dalam kabut aku dan kamu gagal tumbuh menjadi kita
dalam kabut, aku dan kamu melahirkan botol-botol beling, membesarkan dan mengasuh mereka dengan kitab suci pohon-pohon kaktus. berharap pada saatnya mendapati mereka menjelma kebun anggur yang meredakan kegaduhan kosongmu dan kegaduhan kosongku. dalam kabut, matahari adalah sebuah konon yang membenderangi matabatin. di luar warna-warna berdiri ragu, memaksa aku dan kamu menjelmakan diri menjadi hidung anjing yang paling mancung. dalam kabut, aku dan kamu saling raba, saling luka, mungkin juga saling cinta. tapi saat aku mengulurimu hutan tanda seru, kamu berkata “kenapa menyuguhiku melulu rimba tanda tanya?” dalam kabut, aku dan kamu gagal tumbuh menjadi kita.
2012
Malkan Junaidi
diambil dari www.kemudian.com/node/266116
Selamat malaaaaaammm! Ketemu lagi sama kakanda nih *jangan bosen yak* *digetok*
Selesai ya weekend ini, besok kembali lagi senin, yang sekolah, yang kuliah, yang kerja, yang kepikiran nganu.. *digetok lagi*
Oke, fokus! Kakanda mau share nih pembacaan puisi terbaik #kp2 @kelaspuisi - Puisi karya kakanda @tehjeruk yang berjudul Ada yang Senantiasa Merindukanmu, yang dibacakan oleh kakanda @pemudabiasa ft. kakanda @narasibulanmerah.
Yang punya akun SoundCloud, boleh difollow juga akun SoundCloud @kelaspuisi yak! - yang ini
Selamat mendengarkan! Semangat menyongsong hari senin!
Ada yang Senantiasa Merindukanmu
: Salim Kancil
Arit dan cangkul yang setiap harinya kaurayu, kauajak bersendau-gurau, atau sekadar kautaruh di dekat dapur kini mulai lelah menunggu kepulanganmu. Kemana engkau pergi, kemana perginya tubuh renta yang pernah memasang badan membela kaum tani.
Lantas, apakah kau lupa jika tanah ini mesti digarap: Perihal kepergianmu, negeri ini seakan kembali ditampar, meski pula musim tangis tak sampai membangunkan badai.
Ada raung buas di mulut-mulut pemimpin kampungmu; bau serakah menghembus pesing layaknya pidato-pidato penguasa tiran.
O, kawan, tidakkah semua yang melenyapkanmu kini masih asyik kusyuk bermain alibi, atau justru mereka sedang asyik membanting kartu domino. “Mampus, kau!” Ah, sepertinya kalimat itulah yang kerap keluar dari anyir-anyir mulut mereka.
Kawan, baik-baiklah di tempat pergimu yang damai. Jika tanah yang pernah kautinggali kini perlahan kembali tersenyum hijau merindang. Sebab alam layak menghargai kepal tanganmu.
Bekasi, 2015
Ditulis oleh @tehjeruk
Mengunjungi November
Aku ingin mengajakmu bercakap, sekali lagi. November, getir rindu di antara kalender. Mencacah kumparan angan yang menua karena lupa atau lara. Entah, terlampau jarak untuk ditempuh. Kepura-puraan kita, mendinginkan semuanya, membekukan sapa, menyamarkan ragam tanya.
November, aku ingin membungkus jerit dengan jarit. Menentengnya akhir pekan ke perayaan; untuk kausaksikan atau kauabaikan? Pilihan! kadang-kadang bisa seperti perseteruan, seperti kebisuan yang bingung kita apakan, atau seperti nyala lebam yang susah kita buat padam.
Aku menginginkanmu, November. Kembali menjadi sajak yang bersahaja. Menjadi cahaya untuk cahaya, yang saling meminjamkan lengan ketika ada yang merasa hilang. Di sana ada cinta. Ada kau, aku dan persahabatan di dalamnya.
November 2015
bisa dibaca juga di sini
Sebuah puisi karya @rintikkecil, yang ingin aku bacakan untuk kalian:
@jalansaja @mengukir-kenangan @celotehtakbersuara @noroum @menjalin @katadevi