KISAHKU SI PENDERITA PRE ECLAMPSIA..... (Bag 1)
Bismillahirrahmanirrahim.....
Ini insyaAllah bukan postingan paranoid (semoga), seperti yg pnh saya baca distatus sorg ummahat (almarhummah) sebelumnya....
KISAHKU SI PENDERITA PRE ECLAMPSIA.....
Aku tak pernah menyangka sama sekali, bahwa kehamilan kedua ini tidak berjalan normal seperti biasanya..... pantesan sejak awal kehamilan, pusing2 dikepala tak pernah hilang. Ditambah saat idul Qurban lalu yg nyaris tersedia lbh dr 6kilo daging+tulang dirumah, membuat tengkukku sangat sangat berat dan kepala berputar~putar saat aku mencoba makan 5~6 iris daging/harinya selama 2 hari saja. Padahal biasanya gak pernah begini....
Bahkan kebiasaanku makan makanan pedas dan asam selama hamil muda pun ga pernah berdampak apa2 pada tubuh, seperti yg kurasakan saat ini. Puncaknya di Rabu malam pekan lalu, yg biasanya aku memang mulai suka makan ala~ala kebo, tapi dimalam itu ntah kenapa aku malas makan sampai jam 11 malam. Saat suami pulang dan menanyakan udah makan atau mau makan apa pun aku tak merespon. Biasanya meski kantuk menyerang sekuat apapun, yg namanya lapar pasti aku turuti, terlebih kehamilanku sdh msk fase trimester akhir, yg pasti akan selalu merasakan lapar dan lapar....
Jelang jam 4 subuh nafasku sesak,kupikir mungkin karena pengaruh AC yg terlalu dingin saat itu (krn aku tidur sekamar berdua sm Dzakiyah yg sangat gemar udara dingin). Tapi setelah AC dimatikan pun sesak bukannya sembuh malah bertambah parah. Karena merasa masih sangat mengantuk akhirnya kuputuskan untuk tetap melanjutkan tidur sambil duduk. Sesekali tubuh bergoyang kiri kanan tak mampu menahan kantuk yg dahsyat. Ba'da subuh aku baru terjaga dan baru sadar kalau abinya anak~anak sdh ga ada dirumah meski sudah kupanggil berkali~kali. Sambil meringis kesakitan aku tetap memanggil suamiku tapi mamahku yang menjawab "gak ada..kayaknya dari subuh berangkat belum pulang2 lagi". Aku semakin meringis. Pengen nangis tapi napas sakit dan sesak jadi cuma bisa diam sambil istighfar, sholat sambil duduk dan berharap suami cepet pulang.
Jam 6 pagi suami baru sampai rumah, setelah mendengar keluhanku seketika itu juga beliau memboyongku ke UGD puskes terdekat. Sampai disana aku mengeluh ulu hati sampai dada sakit. Petugas UGD hanya bertanya "punya riwayat maag?" Iya, jawab suamiku. Memang sebelum promil anak kedua ini, hampir bisa dikatakan tiap beberapa bln skali aku pasti opname karena maag kronisku. Dan sempat semangat tuk sembuh dan gak lagi~lagi menyepelekan maag setelah beredar berita almarhum Kang Aden Edcoustic meninggal krn maag kronik yg disepelekan. Ketika ditensi, ternyata tekanan darahku 190/110 mmHg "Kok darah tinggi?" Tanya dokter jaga disana. Laah aku yg ditanya aja bingung, sebab seumur~umur baru ini tensiku setinggi itu. Setelah di advice habis~habisan soal maag, dan diberi obat maag sekedarnya, kami pun disuruh pulang dan aku disuruh persering makan meski dlm jumlah sedikit. Lalu suamiku pun inisiatif mengajak sarapan, bubur ayam pun menjadi pilihanku. Selepas sarapan alhamdulillah sakit di ulu hati berangsur berkurang.
Sore harinya, aku menghadiri undangan IMTS bersama tmn2 sholiha seperjuangan. Meski awalnya agak ragu dan suami sedikit melarang krn kondisiku pagi tadi, akhirnya aku diantar dengan mobil ditengah2 kesibukan beliau sambil manyun...Tadinya mau bawa motor sendiri cm diri ini ragu sebab jauh dan blm tau arah tujuannya dimana. Sampai disana, dengan lenggangnya aku pesen pempek becuko pedes plus es jeruk asem, yg jelas ini sangat mempengaruhi asam lambungku yg barusan td subuh tetiba berasa kumat setelah sekian lama ga pernah kumat. Selama agenda temu kangen itu, aku belum merasakan apa~apa. Bahkan malam harinya pun aku masih sempat nongkrong dirumah salah seorang sahabat sambil bercerita soal pre eclampsia bersama suaminya yg sedikit banyak paham sebab beliau perawat (ntah kenapa tema malam ini aku tiba2 pgn bahas soal pre eclampsia). Dan sepulang dari sana, aku bersama mamah msh sempat masak cah kangkung pedas rawit merah! Dengan enjoy dan bawaan lapar aku sampai nambah berkali~kali. Usai makan, ulu hati mulai mengeluh lagi, tapi kuabaikan. Jelang jam 9 malam seperti biasa aku sama putri pertamaku sdh prepare untuk istirahat malam alies tidur. Namun selama tidur, meski sdh berusaha merem, aku sama sekali ga merasa nyaman. Sesak di ulu hati pun semakin parah bahkan tembus sampai ke dada belakang alies punggung. Aku bener2 meringis kesakitan. Bahkan menghela napas saja tak sanggup. Ketika suami plg, aku hanya mengeluh sakit lagi sama suami, lalu ikut suami makan dan kembali kekamar tuk mencoba melanjutkan tidur sambil mematikan AC dan menggantinya dengan kipas angin kecil. Tapi sesakku semakin menjadi, bahkan sampai jam 3 subuh ga hilang2 sampai aku dan suami gak tidur. Dalam kondisi seperti itu, entah kenapa aku jadi emosional. Aku malah marah~marah sama suami ketika suami menyuruhku bersabar dan menyuruhku meminum obat maag yang kudapat dari puskes. Dengan setengah perasaan melayang dan kepala senut~senutan, kulempar obat yang sudah disodorkan oleh suamiku berserta gelas berisi air (untung cuma obatnya yg dilempar, gak sama gelas beling berisi air angetnya :D , ntahlah apa krn mgkn pengaruh darah tinggi, sejak msk trimester 2 kmrin aku mmg jauh lbh sensitif dan emosional..bawaan pengen marah2 terus � )....
Perasaanku pun semakin kacau gak karuan. Akhirnya setelah berhasil tersiksa menunggu pagi, aku pun dilarikan lagi ke UGD oleh suamiku tp kali ini langsung ke RSUD Muara Enim. Sampai disana dokter jaga langsung mengepungku dan mentensi darahku, dan hasilnya adalah 220/120 mmHg!! Laa haula walaa quwwata illa billah.... pantesan aku merasa seperti mau pingsan dan seperti mau sakaratul maut! Setelah tensi dan cek urin serta darah ternyata dokter Obgyn yang lagi standby disana saat itu bilang klo aku positif
PRE~ECLAMPSIA!!
awalnya aku agak kurang paham dan msh bersikap biasa sambil meringis kesakitan. Tapi setelah aku diboyong keruang tindakan lalu "dipaksa" pasang infus, kateter serta suntik bo*ong kiri kanan unt mencegah aku supaya tdk kejang dan suntik yg katanya buat "pematangan paru bayi", aku mulai tegang. Apalagi serentetan tindakan itu benar2 membuatku sakit jiwa raga seperti benar2 mau meregang nyawa....
Tetiba dokter obgyn yg td standby dengan entengnya bilang lagi begini "ini harus segera diambil tindakan. Kita harus SC alies sectio caesar, kita pilih selamatkan ibunya dan jangan pikirkan bayinya lagi...." deggggg!!!!! Aku semakin kalut......tapi seketika aku dzikir dan istighfar. Sadar diri kalau tekanan darahku sedang tinggi2nya dan aku ga boleh stress, karena bisa jadi pembuluh darahku malah pecah nantinya �
Namun ditengah2 istighfar, sebagai seorang ibu jelas aku ga bisa menbohongi nuraniku. Meluncur juga airmata deras dipipi... aku trs istighfar, atas apa yg sdh menimpaku dan calon adiknya Dzakiyah. Gak terbayang sama sekali adik bayi kecil mungil yg sdh sangat lama ku damba dan kurindu kehadirannya malah hrs disingkirkan begitu saja � Kulihat suamiku pun tak kalah terpukul. Kami berdua sama~sama kalut apalagi ketika dokter bertanya langsung "tinggal bapak yang tentukan, mau pilih anaknya atau istrinya. Kalau anaknya, belum tentu jg saat dikeluarkan bisa selamat sebab belum cukup umur. Baru 30 Minggu dan paru~paru blm berfungsi normal sehingga saat lahir belum tentu sanggup bernapas. Kalau pilih ibu, bisa jg malah ditengah tindakan si ibu kejang lalu meninggal dan kita kehilangan 22nya!" Bayangpun... si dokter dg santainya mengatakan hal itu tanpa bisik~bisik alies terdengar jelas ditelingaku �
Seketika aku lgsg membayangkan tentang kematian yg sdh didepan mata. Membayangkan seorang Dzakiyah kecil yg akan kehilangan bundanya, membayangkan seorang suami yg merantau jauh dan akan ditinggal istrinya lalu hidup berdua, berjuang hanya bersama putri kecilnya. Membayangkan hutang2 yg belum lunas, jadwal arisan yg masih mengular, cicilan kreditan yg belum kunjung selesai � dll (pokoknya saat itu di pikiranku cm soal uang,arisan dan cicilan krn aku gak mau meninggal dlm keadaan beban muamallah yg blm selesai � )
Blm lg terbayang soal dmn aku akan dikubur, bagaimana dahhsyatnya sakaratul maut, gelapnya kubur, dll.... yg membuat tangisku semakin menjadi � astaghfirullah 'adzim...
Beberapa menit pasca rentetan tindakan tadi, alhamdulillah setelah kembali di tensi, tekanan darahku berangsur menurun. Aku lega.... dan kucoba katakan pada dokter bahwa insyaAllah aku dan adik bayi akan kuat!!! Akhirnya dokterpun menyuruhku rawat inap unt mengobservasi tekanan darahku, dan dokter tsb ttp ngotot kalaulah tidak ada perubahan yg signifikan, akan tetap diambil tindakan SC keesokan harinya!
Dan mirisnya, aku ternyata diinapkan diruang observasi melahirkan atau yg mereka sebut Ruang VK (ntah apa singkatannya). Dihari pertama, aku sdh seruangan dengan ibu~ibu melahirkan yg ketubannya sdh hijau dan gerak janinnya sdh tidak aktip sehingga diambil tindakan vacuum. Ibu tsb nangis merintih rintih kesakitan menahan kontraksi. Bahkan sesaat setelah lahir pun bayinya tidak menangis. Belum lg suara ibu2 melahirkan teriak histeris dikamar sebelah. Dan bukannya mendapat tindakan yg menenangkan, malah dibentak2 oleh segenap petugas yang menghadapinya.... kemudian selang beberapa jam dtg lagi pasien lahiran yg syok berat ternyata sampai diruang VK janin dlm kandungannya yg merupakan anak pertama sdh tak bernyawa!! lalu.....ntahlah, krn mendengar dan melihat semua kejadian ini langsung di dlm satu ruangan, tiba2 kepalaku cenatcenut. Dan saat ditensi, tekanan darahku naik lg jadi 190/110. Yaa Allah...mungkin aku syok berada diruangan ini �
Hari kedua, aku yakin bahwa kondisiku membaik dan aku harus pulang! Tapi ternyata malah semakin parah...ulu hatiku semakin sakit dan menyesak. Dan paru2 belakangku pun semakin terasa nyeri. Akhirnya hari kedua dan ketiga aku hrs dioksigen supaya asupan oksigen menuju bayi tetap lancar dengan serangkaian obat2an yg msh trs hrs aku konsumsi. Aku yang tadinya sdh lumayan nyaman pindah keruang ranap biasa, tiba2 hrs masuk keruang VK lagi dg alasan agar dokter dan bidan lekas memberi bantuan kalau~kalau aku kambuh lagi.
Dan benar saja, tiap kali aku dikembalikan ke ruang VK, tensiku selalu ga menentu.
Tengah malam itu, jam 3 dini hari lagi2 aku harus sekamar sama ibu2 melahirkan yang jerit2 menangis histeris minta disuntik mati saat akan melahirkan anak keduanya. Duh, kepalaku benar2 cenatcenut dibuatnya. Dan semalam~malaman itu aku tetap berusaha memejamkan mata dan gak mau tau apapun yang terjadi dengan ibu disebelahku itu. Meski pada pagi harinya mau gak mau kami akhirnya ber~say hello juga dan ternyata ibu2 yg tadinya minta disuntik mati saking gak tahan menahan sakitnya kontraksi, kini malah cengengesan dan dg penuh semangat menceritakan semua apa yang semalam blio rasakan padaku sambil tertawa2 riang dg bayi mungil perempuan disampingnya �
Dan spontan saja, saat adik2 calon bidan dtg dan mentensi darahku lagi, lagi dan lagi tensiku naik drastis >_< Rabbi....aku mulai depresi berada diruangan ini....!!! �
Esoknya aku sangat berharap kalau tensiku normal dan boleh dipulangkan... tapi lagi~lagi itu cuma angan! Tensiku belum jg stabil, masih naik turun. Apalagi ketika malamnya aku kelaparan dan suamiku membelikan ayam goreng penyet beserta sayur yg ternyata pedas! Malam itu juga ulu hatiku kambuh semakin jadi dan berasa antara dada dan perutku mau copot.... �
Aku dan suami lupa kalau aku darah tinggi dan gak boleh makan makanan yg mengandung kadar garam yg tinggi... (sbb ayam goreng yg suami beli itu berasa asinnya) sementara selama di RS aku hanya boleh menikmati masakan dapur RS yg tawar dan manis! :( sampai jam 12 malam aku gak bisa berbaring krn sakit paru belakang dan ulu hati yg sangat dahsyat (sepertinya edema atau cairan yg membuat badan bumil bengkak yg kualami menyerang bagian paru2ku, bukan muka tangan atau kaki seperti bumil lainnya sbb pasca melahirkan Dzakiyah aku jg pnh mengalaminya dan setelah rontgent hasilnya paruku positif edema, itu yg aku googling terkait pre eclampsia diinternet).
Aku bener2 mengaduh taubat pada Allah saat itu. Merasa sakaratul maut yg sprti kurasakan saat pertama kali msk RS bbrp hr lalu terulang kembali.... aku khawatir jgn2 inilah malam terakhir dihidupku �
Akhirnya suamiku diresepkan obat berwarna merah yg ntah apa namanya.... kalau cerita dari suamiku, obat itu agak susah nyari diapotik malam2 dan harganya super2 murah! (3000RUPIAH PER TIGA KEPING!!) tapi ntahlah apakah suamiku becanda atau tidak, yg jelas tiap kali kutanya perihal obat itu apa aman atau tidak dimakan olehku dan bayiku, beliau cuma jawab " insyaAllah aman...kan resep dr dokter" katanya sambil senyum2 penuh arti �
Singkat cerita, sampailah aku pada hari terakhir masa 'inkubasi'ku di RS. Yaa... aku diranap 6 hari lamanya dengan kondisi yg serba ga nyaman dr perkiraanku yg cuma 1 atau 2 hari saja. Mulai dr kartu BPJS kelas 1 yg sama sekali gak berfungsi (selalu dpt kelas 2 dg alasan kelas 1 penuh dan ini sdh terulang berkali2 tiap aku ranap di RS �), kasur RS yg lbh layak disebut matras olahraga yg keras dan kaku, sehingga tiap kali baringan tulang2 semua berasa kaku :( ( sampe tiap kali aku rawat inap suamiku selalu bawa kasur tambahan/bedcover tebal supaya aku bs istirahat dg nyaman), resep obat kelas 1 yg dibedakan dg resep obat kelas 2 (berkali2 para koas disana bertanya2, "lho hrsnya ini dpt obat XX yg cair kan?") Bahkan sampai soal menu makanan pun jg berbeda �
Pait asem semua kurasakan selama ranap di RS semasa di kehamilan 7bulan ini.... dan aku sama sekali gak menyangka bahwa istilah "PRE ECKLAMPSIA" ini juga akan akhirnya menyerangku.... jadi ingat postingan Ummu Hikari (almarhumah) bbrp waktu lalu yg sempat heboh di FB krn keluhan PEB (Pre Eklampsia Berat) yg dideritanya, akhirnya membawanya pada kematian syahid �
Pun msh banyak juga kudapat dan kubaca cerita ttg ibu2 hamil yg tadinya biasa2 saja, lantas 4 hr sebelum melahirkan blio kejang dan bengkak seluruh tubuh dan ternyata pre eklampsia yg tidak dihiraukannnya.... ttg ibu2 hamil 5 bulan yg akhirnya meninggal saat diruang operasi krn syok didetik itu juga bliau hrs mengeluarkan bayi kecilnya yg baru berukuran 500gram.. dan cerita2 HOROR lainnya terkait pre eklampsia yg selama ini hanya kusimak dan kubaca, ternyata kini menimpa diriku �
FYI aja, bahwa aku tidak pernah ada yang namanya riwayat darah tinggi (meski mamahku penderita darah tinggi, itu pun bukan keturunan dan selama bliau hamil ga pernah ada yg namanya riwayat pre eklampsia). Asupan giziku pun selama hamil alhamdulillah insyaAllah seimbang. Tapi ketika aku banyak googling dan sempat protes pd salah seorang dokter yg merawatku terkait sakit yg kuderita ini, beliau menjawab bahwa pre eklampsia ini bisa saja terjadi pada SEMUA IBU HAMIL dan penyebabnya bukanlah makanan atau asupan gizi, melainkan krn hormon yg dihasilkan selama bayi berada dlm kandungan ibunya. Bayi dlm kandungan ibu penderita PE ini berubah menjadi "musuh" bagi tubuh ibunya. Dan ketika bayi sdh dikeluarkan, otomatis 100% kondisi ibu akan kembali normal. Bahkan dibanyak kasus pre eklampsia adalah penyakit mematikan nmr 1 bagi ibu hamil dan bayinya sbb si jabang bayi meracuni tubuh ibunya..... menyebabkan kegagagalan fungsi otak, paru, ginjal bahkan jantung.
Dan melalui kisah ini aku hanya ini me~warning para bumil.... hati2 jika saat hamil yg tadinya sehat normal sejahtera tiba2 suka mengalami:
*pusing gak hilang2
*mata berkunang2
*nyeri ulu hati
*perut begah
*Air seni berbusa ketika disiram
*Sakit leher kanan
*Sesak napas
Agar sesegera mungkin ke RS atau puskes atau bidan tuk cek tensi darah san urine..... karena pre eklampsia bisa saja terjadi bahkan setelah kita mengecek darah dan hasilnya normal (sama seperti kejadianku sebelumnya). Dan advice~nya adalah tetap tenang, jgn banyak pikiran, jauhi dl makanan mengandung garam dan yg terutama kalau bs di ranap unt mendapat penanganan khusus, krn kita ga pernah bs tahu kapan tekanan darah kita baik atau tidak.....
Dan ini kisahku si penderita PEB alies pre eklampsia berat yg hrs rela 'menipu' dokter dg mengatakan "sudah tidak ada keluhan" hanya demi agar bisa pulang dan tidur nyaman dirumah (tapi yg ini jangan ditiru yak!!!!)
Sebab sejak plg dr RS kepalaku msh ga berhenti cenatcenut, mau tensi ga punya alatnya, napsu makan hilang dan ga bisa tidur (padahal selama di RS bawaan selalu ngantuk dan tidur dan selalu pgn makan!)
Aku juga agak sedikit senewen alies kecewa saat terakhir USG kmrn ternyata usia kandunganku baru memasuki 28week dg BBJ hanya 1000gram, padahal sehari sebelum ranap aku sempat USG ke bidan andalan dg hasil usia kandunganku msk 31week dg BBJ 1,3kg.... ntahlah, ini juga sempat mengusik pikiranku.... kenapa bs berbeda?? Maka, aku memutuskan unt pulang dr RS sbg pasien yg 100% sembuh total dan mensugesti diri bahwa di rumah insyaAllah pikiran akan jauh lbh tenang dan jernih..... �
Silahkan diambil hikmahnya bagi yg membaca.....semoga Allah selalu melindungi kita para ibu hamil dan bayi2 dalam kandungan kita, kita bisa melahirkan dengan normal, sehat dan selamat tanpa kekurangan suatu apapun :')
Dan aku berharap, PEB ku hanya terjadi diusia kehamilan ini, aku bs mempertahankan bayi dlm kandungan yg baru seberat 1000gram (krn ternyata janin tdk mampu menyerap gizi dari plasenta krn mengalami dissfungsi) dan semoga ini bnr2 bs menjadi pelajaran besar dlm hidupku untuk memahami kondisi tubuhku sendiri.....
TANJUNG ENIM, 27 SEPT 2016