Di penghujung hariku, dengan ditemani masa-masa tanpa tawa dan bercengkerama bersama, aku tak bisa mengatakan ini nyaman. Aku merasa tertekan. Tapi, aku tau untuk saat ini diamku adalah sebuah kebaikan, baik untukku pun juga untukmu. Ya, untuk kita.
Kita merasakan perkara yang sama meski berbeda cerita. Namun bijaknya sikap kita adalah tanda kepedulian antar sesama. Membuatku termotivasi untuk bangkit dan menyadari bahwa memang pasti ada hikmah dibalik perkara yang kini melanda.
Aku terpuruk, aku terpukul, namun aku tak mengeluh, aku takut jika keluhku hanya akan memperkeruh keadaan. Aku tak sok kuat, aku hanya belajar berdamai dengan keadaan, walau hanya bisa berdiam di hunian rumah tanpa bisa berjalan keluar. Kurasa sikap kali ini adalah yang terbaik agar masalah pun cepat segera membaik.
Dirumah saja tak akan menjadi masalah bukan? Justru mengajarkan kita sebagai manusia untuk menghargai jarak. Untuk menghargai jeda. Kalimat saja butuh spasi supaya indah untuk dibaca? Sama halnya seperti saat ini, bumi juga baru berusaha berjeda sama manusia yang setiap harinya rakus tak tobat-tobat. Manusia yang setiap detiknya sibuk memperkaya diri tanpa peduli terhadap alam. Bumi sedang kasih kesempatan pada manusia agar berpikir' apa selama ini udah jadi penghuni yang baik atau belum'.
Di rumah saja tentu bukan masalah. Dengan keadaan saat ini rasa bosen bisa berubah jadi rasa kangen. Jadi besok jikalau sudah membaik dan bisa bertemu tidak akan pernah lagi menyiakan-nyiakan waktu temu. Ketika bertemu tidak akan ada lagi orang yang sibuk sendiri dengan handphone-nya, dan tidak akan ada lagi orang yang lupa kalau di depannya ada manusia yang butuh diajak bicara. Karena waktu begitu berharga.
Pahamilah bumi sedang berusaha menyeimbangkan diri, dan. Manusia diminta untuk tahu diri.















