IDK WHAT TO DRAW BRUH😭😭😭😭😭😭😭

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from South Korea

seen from United States

seen from Belgium

seen from Türkiye

seen from Sweden

seen from Canada
seen from United States

seen from Malaysia
seen from China

seen from France
seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from China
seen from Ukraine

seen from Japan

seen from United States
seen from Bangladesh
IDK WHAT TO DRAW BRUH😭😭😭😭😭😭😭
Hidup Sementara dan Usaha Sia-sia untuk "Berbeda"
Pernah tidak terpikir bahwa kelak pada saat kita meninggalkan dunia ini (mati) apakah kita akan terus diingat orang lain? Pertanyaan tersebut tiba-tiba terbesit dipikiran, sepertinya kalau kita bukan seorang penemu yang luar bisa sukses atau tokoh bisnis besar yang membuat suatu perusahaan dan produk yang luar biasa, agaknya sulit diri kita diingat oleh orang lain, paling dekat mungkin oleh pasangan, anak atau orang tua, namun ketika orang terdekat kita tersebut, juga meninggal, akankah masih ada orang lain yang meningat kita?. Karena sebagian besar orang di dunia ini sepertinya bukan merupakan penemu yang besar atau orang yang luar biasa sukses untuk dikenang oleh orang banyak, bukan kah menjadi suatu kesia-siaan kalau kita berambisi untuk mendapatkan hal yang bersifat sementara?
Pernah tidak kita melihat orang yang bekerja tanpa kenal istirahat karena ingin mencapai posisi tertentu atau orang yang sampai membeli barang-barang mahal (apalagi dengan berhutang) agar viral dan dianggap "sukses" dalam hidupnya? Tetapi kalau kita ingat bahwa setelah kita mati nanti hanya sedikit kemungkinan orang ingat akan kita, apakah semua usaha tersebut masih terasa layak kita perjuangkan?
Mohon maaf kalau tulisan saya terlihat pesimistis, tetapi tulisan saya belum selesai sampai diatas saja, kalau kita sadari, banyak tokoh di dunia ini yang kemudian masih diingat sampai lama setelah mereka meninggal, orang-orang tersebut ialah yang berjasa untuk kebaikan orang banyak, contohnya, Mother Teresa, yang tentunya ia diingat bukan karena besar hartanya atau perusahaan miliknya, melainkan karena ia mampu memberikan teladan melayani orang yang miskin dan menderita, lebih-lebih daripada dirinya (selfless).
Sangat bertolak belakang dengan para influencer atau kebanyakan orang saat ini yang lebih asik mengejar hal semu seperti harta, penampilan atau pencapaian dalam pekerjaan agar mendapat "pengakuan", yang mungkin diharapkan membuat dirinya dikenang sebagai orang yang sukses ketika meninggal nanti, tetapi berapa banyak orang yang berpikir demikian juga?, terlalu banyak orang yang akan jauh lebih kaya, sukses dan ganteng/cantik untuk membuat kita keluar dari "rata-rata", yang menunjukkan betapa kita itu tidak berbeda dengan banyak orang lain, sehingga mentalitas yang mau selalu tampil beda mendorong orang untuk semakin konsumtif, semakin gila, semakin ambisius untuk tujuan semu yang sia sia.
Padahal sejatinya kualitas seseorang untuk bisa dikenang oleh orang banyak, tidak jauh-jauh dari sikap yang dimilikinya, dari kebaikan-kebaikan dirinya, dari apa yang bisa diberinya kepada orang lain, dan bahkan seorang Mother Teresa, yang seorang biarawati, dimana tentu tidak memiliki harta yang berlimpah, mampu memberi lebih banyak dari tokoh-tokoh beruang, dan lebih dikenal sampai waktu yang lama dibandingkan dengan orang yang beruang. Menjadi suatu kemirisan kalau disaat ini, banyak orang lebih suka membandingkan dirinya dengan orang lain dari tolok ukur harta, atau benda yang dimilikinya, dan menganggap orang lain rendah hanya karena tidak sama dengan dirinya, siapalah kita sehingga kita bisa menghakimi kualitas seseorang?
Semoga tulisan ini mampu menyadarkan kita, bahwa hidup ini sementara dan tidak melulu soal materi, melainkan bagaimana kita bisa membantu orang lain, terutama mereka yang berkekurangan atau yang tidak seberuntung diri kita, dan jangan membuang tenaga berusaha "berbeda" agar diingat, melainkan berbuatlah yang baik agar kita bisa dikenang sebagai orang baik.
Jangan sampai mati-matian mengejar yang fana, lantas lupa sama yang abadi, lalu lebih mengejutkan lagi tiba-tiba mati.
Jangan sampai menyesali, ayo perbaiki.
AMAL
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadits Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Mayit itu diikuti oleh tiga golongan, akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya, dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya”.
Hadits ini telah dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hambali di dalam risalah yang sangat berharga, demikian terangkum dalam penjelasan dan bahasan yang singkat ini:
Dia berkata, “Dan tafsir hadits ini adalah bahwa anak Adam mesti memiliki keluarga yang selalu bergaul dengan dirinya, harta sebagai bekal hidupnya, dua sahabat ini selalu menyertainya dan suatu saat akan berpisah dengannya. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang menjadikan harta sebagai sarana untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menafkahkannya untuk kepentingan akhirat, dan dia mengambil harta itu sebatas kebutuhan yang bisa menyampaikannya untuk kehidupan akherat, dia mencari istri yang shalehah yang bisa menjaga keimanannya. Adapun orang yang menjadikan harta dan keluarga yang menyibukkannya sehingga melalaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia temasuk orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang orang-orang Badui:
شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْلنَا
“Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami…”. [Al-Fath/48: 11]
Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi..." [Al-Munafiqun/63: 9]
Semoga Allah memberi taufiq dan hidayah.
***
3000 miles to graceland (2001) || dir. demian lichtenstein
the gang
Satu diantaranya
Satu dari berbagai cita citaku adalah meninggal di circle saat ini, aku ingin sekali meninggal di tengah banyaknya pekerjaan yang telah aku kerjakan, aku ingin meninggal di tengah sedang berjuang di jalanNya, aku ingin meninggal di lingkungan yang positif, karena kenapa ? alasannya bahwa ketika meninggal nanti aku hanya butuh doa dari orang2 yang telah ku tinggalkan, aku ingin meninggalkan jejak kebaikan di dunia agar doa itu bisa tersalur saat aku sudah tak ada di dunia ini. Maka dari itu lingkungan yang positif yang mampu mendekatkan ku kepada Allah Swt adalah yang harus dicari, jika itu membutuhkan materi dalam memperjuangkannya aku siap insyaallah , dan pasti Allah Swt membantu jalan ini jika memang ini yang terbaik
Barangkali...
Pernah nggak tiba-tiba mendengar cerita tentang kebaikan seseorang yang baru saja wafat? Seorang yang barangkali bahkan tidak pernah kita dengar namanya, tapi seketika banyak orang yang 'mempersaksikan' atau setidaknya mengisahkan tentang kebaikan orang tersebut. Lalu secara otomatis pun kita berbisik dan ikut memasang doa dan harap:
رحمه الله رحمة واسعة
"Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas"
Aku tidak hendak berkata bahwa apa yang aku ucapkan adalah benar, tapi kejadian di atas seumpama diri orang yang sholih itu menjadi terkenal, lepas sepeninggalnya. Seakan; bukan ia yang mengusahakan untuk terkenal di kalangan manusia, tapi bisa jadi -wallahu a'lam-, sebab kesholihannya yang membuatnya dikenal lepas dirinya meninggalkan dunia. Kesholihannya yang kemudian membuat banyak lisan mendoakan kebaikan untuk dirinya. Wallahu a'lam.
Akan tetapi satu pelajaran yang bisa diambil dari cerita yang demikian adalah: bahwa selayaknya hanya, dan hanya perhatian Allah saja yang jadi tujuan hidup kita. Perhatian-Nya, ridho-Nya dan juga kasih sayang atau rahmat-Nya lah yang perlu kita kejar. Sebab atas ijin-Nya saja kita akan didoakan oleh orang lain, sepeninggalnya diri kita.
Yap, bukan pujian atau sanjungan yang kita inginkan dari orang lain yang masih hidup, tapi agar supaya kita didoakan kelak pada hari dimana doa-doa kita sudah tidak bisa melangit lagi, saat diri kita sudah membujur kaku. Sekali lagi; Wallahu a'lam.