Note :
Sebaik atau seburuk apapun sikap atau karakter seseorang, di matamu dia akan tetap menjadi seperti yang kau pikirkan.

#interview with the vampire#iwtv#the vampire armand#sam reid



seen from Spain
seen from United Kingdom

seen from Netherlands

seen from United Kingdom
seen from Australia
seen from Malaysia
seen from Singapore
seen from Sweden

seen from Azerbaijan
seen from Netherlands
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from China
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from China

seen from Malaysia
Note :
Sebaik atau seburuk apapun sikap atau karakter seseorang, di matamu dia akan tetap menjadi seperti yang kau pikirkan.
Jika segala sesuatu nya dilakukan untuk ibadah kepada Allaah, insya Allaah semua nya akan baik-baik saja.
Kau tak akan hitung-hitungan perihal jam kerja yang berlarut-larut, masalah yang tak kunjung usai, memberi tanpa imbalan, serta terpaan badai dikala hujan datang.
Kau akan lapang menerima dengan senang hati seakan tanpa paksaan, karena memang semua waktu yang disediakan hanya untuk beribadah kepada Allaah saja. Tak ada yang lain. Apalagi jika yang kau lakukan bisa bermanfaat bagi orang banyak.
Untuk Bersyukur.
yang lalu biarkan dia menggantung di langit-langit, sebagai pengingat kalau kita pernah.
Pernah terluka, pernah bahagia, pernah miliki lebih, pernah kurang, juga pernah kehilangan. Supaya kita bisa ingat kalau kita pernah, kemudian belajar.
dengan memaksa lupa, mungkin kita akan mengambil luka yang sama. Berkali-kali. Mungkin juga kita hanya akan melewati banyak kebaikan, karena lupa kalau dulu kita pernah tidak sengaja melewati suatu kebaikan.
Daripada memaksa lupa, bagaimana kalau tetap ingat? Bukan untuk dirutuki, jadi bahan keluhan, atau memori buruk. Tapi sebagai pengingat bagaimana rasanya begini dan begitu. Rasanya ini dan itu. Bukankah semua rasa memang perlu diingat? Untuk menghidupkan hati, juga untuk bersyukur.
Catatan Hari Ini #1
Bismillah.. Melalui tulisan ini saya bermaksud mengikat makna dan pembelajaran dari pengalaman hidup selama ini. Semoga dengan menuliskannya saya tidak lupa akan jejak-jejak yang telah saya lewati hingga menjadi pribadi yang terus bertumbuh.
***
Apakah selama nikah dan punya anak saya pernah bersedih? Oh, tentu saja pernah. Dalam pernikahan pasti ada naik dan turun. Tapi sebisa mungkin, ketika turun, setelahnya kita berusaha menaikkannya jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Selama 3 tahun pernikahan ini, saya merasakan ada 3 hal besar yang pernah membuat saya tidak nyaman. Dan sepertinya ini harus saya tuliskan agar tidak lupa dengan hal-hal yang membuat diri ini terus bertumbuh. 1. Diri yang mudah badmood, inner child, dan suami. Awal-awal nikah, saya merasa diri ini sangat mudah badmood. Mudah nangis, tersinggung, kesal, dll. Bikin saya merasa tidak nyaman dengan diri sendiri. Suami seperti sumber dari badmood saya. Padahal, yang namanya baru nikah pasti lagi masa adaptasi. Penyesuaian sikap & perilaku, komunikasi, kebiasaan, dll. Suatu hari, saya ngobrol sama suami. Sampai pada cerita tentang orang tua, tangis saya pecah. Berharapnya waktu itu sih langsung dirangkul kayak di drama2 korea, tapi itu hanya khayalan, wkwk. Dari situ ternyata terkuaklah bahwa ada inner child negatif yang terbawa dalam diri hingga hari itu. Sejak saat itu saya coba berdamai dengan diri sendiri dan mencari benang merah akan masalah diri saat itu, hingga akhirnya dapat pencerahan bahwa saya harus belajar: komunikasi produktif. Alhamdulillah perlahan mulai tuntas dan efeknya adalah bikin lebih jatuh cinta pada suami #eaaak 2. Keinginan lanjut kuliah & mengaktualisasikan diri Tepat setahun lalu, saya merasa ingin sekalilanjut kuliah. Akhirnya saya coba lagi, setelah sebelumnya di tahun 2016 gagal karena ternyata saya hamil. Di usia Affan sekitar 1,4 tahun itu saya coba daftar lagi di sebuah universitas swasta di Bandung. Tapi.. Disaat itu saya masih bimbang karena ingin membersamai Affan secara penuh. Ditambah, belum menemukan pengasuh untuk Affan. Saya ikut tes, belajar melepaskan Affan bersama ayahnya karena saat itu lagi lengket2nya sama saya. Alhamdulillah lancar. Saat itu saya sempat berpikir, kalau tidak dapat pengasuh kemungkinan saya tidak jadi lanjut kuliah lagi. Ternyata, sampai ada pengumuman yang menyatakan bahwa saya tidak lolos, saya pun tidak dapat pengasuh. Sebenarnya ada kesempatan untuk daftar di universitas lain, tapi hati ini terasa berat untuk meninggalkan Affan karena hal tersebut. Akhirnya, setelah diskusi panjang lebar sama suami dan Abi (Ayah), saya putuskan untuk tidak jadi kuliah lagi. Apakah saya langsung bisa menerimanya? Tentu saja tidak. Sempat ingin coba lagi meski tetap tidak yakin kalau seumpama lolos akan diambil atau tidak. Langsung "ditembak" suami dengan pertanyaan "Kamu mau lanjut kuliah emang karena pengen atau membuktikan kalau kamu bisa lolos?". Dor! Seketika tembakan sampai ke hati dan menyadarkan saya bahwa ternyata keinginan itu tidak benar-benar dilandaskan oleh keinginan belajar. Saya juga ingat kata-kata semangat dari Abi waktu itu, kalau belajar sebenarnya tidak hanya di bangku formal, informal juga bisa. Dan masa ini bisa saya manfaatkan untuk semakin mengenal diri agar kelak lebih jelas studi apa yang benar-benar saya minati. Ya, ya. Pada akhirnya saya meyakinkan diri untuk tidak jadi lanjut kuliah, lagi. Tapi kegalauan itu tidak berhenti sampai disitu, meski mengasuh Affan di rumah, saya tetap ingin bisa belajar dan mengaktualisasikan diri sesuai dengan passion. Tapi apaaa? Saya bingung. Berhari-hari, berminggu-minggu, entah apakah sampai beberapa purnama (hahaha), saya coba merenung. Memikirkan hal apa yang bisa saya lakukan. Alhamdulillah, suatu hari saya kembali menemukan jawaban bahwa saat itu ada hal yang bisa saya tekuni sesuai dengan passion: menulis. Maka mulailah saya merutinkan nulis di IG pribadi (andai tumblr gak di block waktu itu mungkin saya nulis di tumblr, haha), sampai bikin akun IG @ceritaibuaffan. Terniat. MasyaAllah saya jadi menyadari bahwa dukungan suami begitu kuat ia berikan agar saya bisa tetap mengaktualisasikan diri meski sambil mengurus Affan. Masa ini juga membuat saya kembali -makin- jatuh cinta pada suami. #ihiw 3. Merasa rendah diri Saya sempat merasa rendah diri, tak berharga, tak berdaya, tak bisa melakukan apa-apa. Masa ini terjadi sekitar pertengahan tahun 2018 kemarin, tapi memang tidak selama waktu mencari solusi untuk 2 hal sebelumnya. Saat itu rasanya, diri ini kok kayak kurang konsisten, komitmen, dan greget dalam menjalankan hal-hal yang telah saya lakukan. Saya coba baca-baca buku motivasi yang sekiranya akan membuat mindset saya lebih positif dan ikut komunitas agar saya bisa terus belajar. Alhamdulillah tidak lama saya menyadari apa yang harus dilakukan: action, talk less do more. Sebenarnya ada banyaaaak sekali ide di kepala ini, cuman masalahnya saya tidak melakukan sesuatu untuk mewujudkkannya (misalnya pengen nulis tapi cuman dipikirin). Dari sini saya perlahan mulai mengambil langkah konkret untuk unleashing the ideas. MasyaAllah, tanpa diduga-duga akhirnya jadi bisa bikin project #PreMarriageTalk (awalnya serial tulisan) sampai akhirnya sekarang bisa bikin kelas pranikah online dan kuliah whatsapp (kulwap). Projek inilah yang pada akhirnya perlahan menjadi diri yang lebih berharga dan tersalurlah minat-minat saya sebenarnya. Efeknya lainnya apa? Lagi-lagi, makin jatuh cinta pada suami. Karena hal2 tadi tidak bisa saya lakukan jika tanpa dukungan dan ridho dari suami. ***
Ini bukannya lebay atau memanas-manasi, tapi somehow saya merasa setelah konflik-konflik yang terjadi memang membuat interaksi saya dan suami jauuhh lebih membaik (walaupun sebelumnya juga tidak buruk). Saya jadi lebih mudah bersyukur dan beruntung punya suami seperti dirinya #eaaa MasyaAllah, tabarakallah. Itulah hal-hal yang membuat saya menjadi "Nida" hari ini. Doakan saya bisa menjadi pribadi sesuai dengan makna nama yang sudah disematkan oleh kedua orangtua saya ya.. yakni menjadi penyeru yang taat dan lembut. Semoga Allah memberkahi setiap langkah yang saya tempuh, melindungi suami dan Affan, serta mengumpulkan kami sekeluarga besar di Jannah-Nya. Aamiin yaa Rabbal'alamin.
06.10.18
Apa kabar tuan?
Padahal hanya beberapa hari saja kita tidak mengobrol secara online, tapi rasanya seperti bertahun-tahun lamanya. Hehehe lebay yaa.
Aku rindu, tuan. Sudah berkali-kali bahkan sudah berlipat ganda rindunya. Aku ingin sekali belajar sabar darimu. Aku ingin mencoba untuk tetap menjaga perasaan agar kau tak risih dengan manjaku.
Biarkan ini jadi catatan harian yang kelak mungkin akan kau baca atau mungkin sama sekali tidak, tak apa. Aku hanya senang menulis perasaanku tentang kamu. Biarkan pena dan kertas yang kini kualihkan pada layar handphone ku ini menjadi saksi bahwa tidak ada hari tanpa memikirkan kabarmu. Entah kau sedang apa; sudah makan atau belum; dan diluar dari hal itu aku lebih khawatir kau dalam keadaan tidak bahagia. Berjanjilah padaku tuan, apapun keadaanya jangan pernah merasa sendiri.
Aku tidak tahu, aku hanya ingin menulis itu saja . Semoga kau bahagia, dimanapun kau berada.
Tetap menjadi Orang Baik
Sore tadi lepas saya pulang kerja—iya, hari Minggu saya tetap kerja, haha—Adek semangat sekali bercerita mengenai satu acara yang dia ikuti siang tadi. Banyak sekali yang diceritakannya, sampai rasanya rasa capek saya malah jadi bertambah lepas mendengarkan ceritanya. Haha.
Satu yang mengusik saya dari cerita Adek tadi adalah mengenai bentuk kebaikan yang tidak boleh separo saja. Kebaikan harus dilakukan utuh. Terkadang kita dibenturkan pada peristiwa ataupun keadaan yang memaksa kita tidak suka, membuat kita risih, tidak aman ataupun nyaman. Jelaslah ya, suasana seperti itu tidak bisa dihindari. Meski satu kali pasti kita pernah mengalaminya. Namun, dalam suasana apapun kita, sepahit apapun peristiwa ataupun keadaan menghimpit kita, tetaplah menjadi orang baik. Yang tidak cepat mengeluh. Yang tidak cepat mengaduh. Yang menjaga lisan kita dengan baik. Yang menjaga sikap kita tetap baik. Yang tidak bermuka dua. Kalau suka, cukup suka, titik. Kalau tidak suka, jangan berlebihan. Begitu saja.
Jangan mengunjing hanya karena ada yang tidak sepaham dengan apa yang kita pahami. Jangan jadi mengucilkan hanya karena ada yang tidak sependapat dengan pendapat yang kita utarakan. Terlebih lagi jangan bahagia membuat orang lain di dekat kita menjadi tidak nyaman sebab ucap dan sikap kita. Mari belajar bersama menumbuhkan lingkungan baik bagi kita dan generasi anak cucu kita.
Jadi, sudah dijaga belum hati, ucap, dan sikap kita hari ini? Semangat bertumbuh ya!
Pulang kantor tiba-tiba ngerasain sedih tanpa alasan aja bisa bikin aku senang.
Barangkali memang, sedih perlu dirayakan sebagai sesuatu yang masih sudi bertandang.
Aku dimata orang
Aku tidak bisa memaksa orang untuk terus beranggapan baik tentang diriku, tapi aku bisa memilih untuk terus beranggapn baik kepada semua orang.
Aku tidak bisa memaksa dunia untuk terus berbuat baik kepada semua orang bahkan kepada sesama nya, tapi aku bisa memilih untuk berbuat baik kepada diriku.
Aku, mencoba untuk memperbaiki dunia. Tapi tidak ada yang bisa kuperbaiki, kecuali diriku sendiri.
- yumisstrynsh