Akhir-akhir ini memang banyak kajian ataupun seminar yang membahas tentang pernikahan. Mulai dari kajian di masjid kampus, bahkan saat bedah buku pun ada pembicara yang mengaitkan pembahasan mengenai pernikahan. Padahal judul bukunya, “Jangan Pernah Menyerah!” *ups sebut Judul, ga papa lah ya itung-itung promo hehe
Mungkin karena sudah semester akhir, kita sering ditanya terkait dua hal. Skripsi dan menikah. Ya, rasa-rasanya mahasiswa semester akhir tak lepas dari obrolan keduanya.
Mengenai pernikahan, mungkin banyak mahasiswa yang Baper ketika salah satu temannya akan menyempurnakan separuh agamanya. Namun, perlu diingat bahwa menikah bukan dalam waktu yang sebentar, maka dibutuhkan persiapan yang panjang secara matang.
Beberapa hari kebelakang para pembicara selalu menekankan, “Menikah usahakan untuk obsesi, bukan ekspektasi.” Obsesi di sini artinya, kita memberikan yang terbaik sesuai dengan keinginan kita. Misal, Jika kita ingin merutinkan sholat tahajjud bersama istri/suami kita nantinya maka mulai saat ini (read: single) kita harus merutinkan sholat tahajjud. Jika kita hanya ber-ekspektasi, sebagai contoh, “wah mungkin seneng kali ya kalau nikah sama X nanti bisa tahajjud bareng.” Nah, contoh seperti itu, dia hanya berangan-angan tanpa ada ikhtiar yang dia lakukan selama menunggu “sang jodoh” datang. Maka, jangan salahkan ketika ekspektasinya berbuah kekecewaan.
Banyak orang yang katanya setelah menikah merasa kecewa, ternyata pasangannya “begini lah, begitu lah” mungkin, itu hasil dari ekpektasi yang berlebihan. Seringkali kita hanya memandang dari luar saja, hanya secara kasat mata sampai-sampai timbul ekspektasi-ekspektasi yang berlebihan. Berbeda halnya dengan obsesi. Ketika obsesi itu muncul, maka kita akan semakin termotivasi untuk memantaskan diri, berusaha memberikan yang terbaik untuknya nanti.
Kesimpulannya, ekspektasi diibaratkan sebagai menerima. Sedangkan, obsesi diibaratkan sebagai memberi. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?