Mengungkapkan ketakutan kita pada orang lain adalah keberanian yang tabu
terlalu banyak hal yang dipertaruhkan
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from France
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Russia

seen from United States

seen from China

seen from Netherlands

seen from Malaysia
Mengungkapkan ketakutan kita pada orang lain adalah keberanian yang tabu
terlalu banyak hal yang dipertaruhkan
Ketakutan dan kesedihan adalah sepaket rasa yang setiap manusia pasti merasakannya, dan hanya karena iman sajalah yang mampu mengurangi kadarnya.
Tapi andai mau menghitung, mungkin sudah lebih satu juta ketakutan yang pernah hinggap dikepala. Setidaknya hanya satu persen ketakutan yang menjadi kenyataan. Sisanya hanya mekanisme semesta menegur kita. Bahwa kemahabaikan Allah lah yang menyelamatkan kita dari hal-hal yang tidak baik.
Terima kasih
Dari setiap hujan yang datang,
terima kasih untuk selalu menyediakan tempat untuk berteduh,
yang pintunya tidak pernah dikunci,
ruangan kedap suara,
disediakan selimut tebal,
lengkap dengan musik relaksasi.
Aku, beruntung.
Menjelang Pernikahan #3: Menghadapi Ketakutan-Keraguan
Pernikahan bagiku adalah hal yang sakral. Menjalani ibadah dengan harapan sekali seumur hidup. Hidup bersama pasangan yang Allah pilihkan hingga akhir hayat. Aku pernah memandang pernikahan sebagai suatu hal yang paling membahagiakan. Bisa hidup bersama orang yang yang bisa mendukung impian-impian kita, saling mencintai dan menyayangi setiap hari. Namun suatu waktu aku tersadar bahwa pernikahan bukan hanya soal bahagia mencintai dan menyayangi. Pandanganku terhadap pernikahan berubah. Layaknya hidup, dalam pernikahan pun ada asam garam pahit getir yang akan dilalui. Ada ujian yang harus dihadapi bersama, semoga ujian yang membuat pribadi masing-masing naik tingkat.
Aku gak pernah menyangka akan menikah dengan laki-laki yang baru ku kenal setahun. Itu pun gak tinggal di kota yang sama. Aku sejak kecil hidup di Jakarta dan dia saat itu hidup di Jogja, dipertemukan di satu tempat kerja, menjadi rekan kerja, kemudian dia resign, lalu aku dan dia menjadi teman, memutuskan untuk mengerjakan project menulis bersama, hingga Allah menggerakkan hatiku dan hatinya untuk proses menuju pernikahan.
Butuh waktu untuk yakin dengan jalan ini. Segala keraguan dan ketakutan dalam proses ini hilang muncul. Ketika keraguan itu datang, aku berdo’a, memasrahkan segala proses ini pada Allah. Jika memang dia laki-laki yang baik untukku, agamaku, kehidupanku, maka mudahkanlah. Jika dia bukan laki-laki yang baik untukku, agamaku, kehidupanku maka palingkanlah aku darinya, palingkan dia dariku, dan berikan aku keridhaan menerima takdir-Mu.
Rasa percayaku akan kekuatan do’a semakin bertambah ketika segala sesuatunya benar-benar berjalan di luar kuasaku. Sepertiga malamku perlahan menjadi nyata, apa yang aku titipkan pada Pemilik Langit didengarkan dengan baik. Bahwa aku ingin diminta dengan cara baik-baik, dengan proses baik-baik, dan bersama orang baik-baik.
Ternyata apa yang aku cari sebenarnya tidak pernah berada di tempat yang jauh, tidak juga disembunyikan di tempat yang tersembunyi. Maka pencarianku berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan hingga sekarang. Namun, katanya banyak orang yang kemudian bisa bertemu dengan pasangan hidupnya, pernah merasakan momentum tersebut.
Momentum di saat keikhlasan dan kerelaan seorang manusia atas kehendak-Nya, atas takdir-Nya. Keberserahan yang membuat mata hati seorang manusia menjadi lebih terbuka, hati yang lebih peka dalam melihat petunjuk-Nya, juga keyakinan yang menyeruak seketika saat bertemu dengan seseorang.
Ketika jalan ini kami tempuh, masing-masing dari kami sudah harus paham bahwa mau tidak mau, menerima satu sama lain juga harus menerima konsekuensi selanjutnya. Menerima dia, bersepakat dengannya, berarti juga harus bersepakat dengan keluarga besarnya, teman-temannya, hobinya, dunianya, pekerjaannya, segala hal tentangnya baik dari dalam maupun luar dirinya.
Proses ini membuatku sadar bahwa memperbanyak do’a salah satu cara yang tepat mengisi penantian panjangnya sebuah penantian, selain tetap berikhtiar.
ketakutan
ketakutan kadang muncul akibat bertemu memori dari masa lalu. beberapa kisah kadang seolah datang kembali meski tidak selalu dalam wujud yang benar-benar sama.
ketakutan kadang muncul akibat bertemu ekpektasi diri sendiri. beberapa manusia kadang punya tujuan rumit yang sulit diraih hingga akhirnya menimbulkan resah dalam menantikan jalannya.
ketakutan kadang muncul akibat bertemu pikiran manusia lain. beberapa manusia mungkin kadang lupa bahwa tidak ada jalan hidup yang benar-benar sama, hingga akhirnya memaksakan logikanya dan membuat penilaian bagi sesamanya.
ketakutan kadang muncul akibat manusia meresah tentang apa yang tidak diketahuinya. beberapa manusia mungkin kadang lupa bahwa hidup bukanlah selalu tentang apa yang dipelajari dan dipahami, hingga akhirnya beberapa hal dianggap tidak masuk akal dan dianggap meresahkan.
Pikiran kita bisa dengan mudahnya membangun asumsi-asumsinya sendiri, menjadi kecemasan yang begitu besar.
Padahal kenyataannya tidak semenakutkan yang kita bayangkan.
Bisa jadi kehidupan kita sebenarnya baik-baik saja, tetapi pikiran kita membuatnya menjadi begitu rumit.
Bahkan kita sering meyakini sesuatu yang mengerikan akan terjadi pada diri kita, padahal itu hanya kecemasan kita sendiri.
Hal yang paling menakutkan di hidup ini bukanlah kenyataan yang kita hadapi, tetapi drama dari jalan pikiran kita sendiri.
Hal yang paling menakutkan di hidup ini bukanlah menjalaninya, tetapi terus memikirkan apa yang sebenarnya belum kita jalani.
Kita adalah benang-benang kusut di pikiran kita sendiri.
—ibnufir
Tulisannya (361)
Gak banyak yang bisa ditanggapi, cuma mau bilang, "Semangat!!"
Pada prinsipnya Allah Maha Baik, jadi apapun yang terjadi dalam hidupmu, segalanya adalah kebaikan (dan/atau mengantarkan pada kebaikan) selama hati ini senantiasa beriman.
Jadi, rasa kehilangan, kekurangan, ketakutan, maupun kesulitan itu bisa menjadi ringan selama tidak hilang keyakinan.