Pengajaran Yesus Kristus mengenai akhir zaman di dalam Injil Matius 24 mempunyai referensi kepada apa yang akan terjadi setelah kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga. Pengajaran akhir zaman ini berkaitan dengan kejadian yang masih menunggu penggenapannya (fulfillment), yaitu kedatangan Tuhan kita yang kedua kali.
Banyak bagian dari Perjanjian Baru berbicara mengenai akhir zaman. Baik Yesus Kristus, Paulus dan juga rasul lainnya berbicara mengenai pentingnya penggenapan nubuat akhir zaman. Pengajaran mengenai akhir zaman begitu jelas di dalam Perjanjian Baru.
"In the New Testament, eschatology or teaching about the end times is directly connected to Christian ethics, or to put it on other way, the New Testament teaching about the end times is always directly tied to the daily living of the Christian life."
Dalam Perjanjian Baru pengajaran akhir zaman berkaitan langsung dengan etika kehidupan Kristen, dengan kata lain, pengajaran akhir zaman di dalam Perjanjian Baru selalu terkait dengan kehidupan Kristen kita sehari-hari. Pengertian kita mengenai akhir zaman sangatlah penting dalam hal motivasi kehidupan Kristen kita.
Matius 24 dimulai dengan Yesus yang mengatakan bahwa Bait Allah akan diruntuhkan, kemudian murid-murid-Nya bertanya, lalu Yesus menjelaskan kepada murid-murid apa yang akan terjadi di dunia ini dalam satu rentang waktu antara kedatangan-Nya yang pertama, kenaikan-Nya dan kedatangan-Nya yang kedua kali.
I. Orang Kristen Harus Menundukkan Pikirannya Kepada Kristus
Jawaban Yesus untuk pertanyaan para murid dimaksudkan untuk meluruskan pemikiran mereka, sekaligus juga mengajarkan mengenai akhir zaman. Para murid berpikir jika Yerusalem akan dihancurkan maka itu hanya berarti penghakiman dunia akan segera tiba, itu berarti bahwa Kerajaan Allah akan segera datang dan mereka akan memerintah bersama Dia. Itulah sebabnya mereka bertanya: "Kapan dan apa tanda kedatangan Tuhan dan kesudahan dunia." Para murid tidak memahami sepenuhnya apa yang Tuhan Yesus katakan mengenai Bait Allah yang akan runtuh. Sebab itu ini menjadi sebuah peringatan bagi kita bahwa tidak ada yang lebih penting dalam kehidupan Kristen yang sehat, selain sungguh-sungguh menundukkan pikiran kita kepada Kristus dan firman-Nya. Jika Tuhan tidak meluruskan pemikiran para murid, mereka akan kecewa dan putus asa menghadapi apa yang akan terjadi, yaitu masa yang sulit.
II. Bersiaplah, Permulaan Penderitaan
Bagian dari Mat. 24:4-14 merupakan jawaban Yesus atas pertanyaan para murid yang memberikan nasehat dan petunjuk yang sangat berkaitan dengan kehidupan mereka saat itu dan juga sangat relevan dengan kehidupan Kristen kita saat ini. Tema besarnya adalah semua orang Kristen harus bersiap-siap terhadap pertentangan (opposition) - bukan kemenangan - sampai kedatangan Kristus kembali.
Tanda di dalam Mat 24:4-12:
1. Perikop tersebut tidak memberitahukan bahwa kesudahannya sudah dekat. "Sebab semua harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya." Bagian ini tidak berbicara mengenai kedatangan kedua. Bertahun-tahun lalu pernah ada sebuah buku yang berjudul 88 Alasan Yesus Akan Datang di Tahun 1988, tapi tidak terjadi. Perikop ini berdiri berlawanan dengan pendapat yang demikian. Ini adalah permulaan menjelang zaman yang baru (ayat 8). Jadi akan ada satu periode dimana "bangsa akan bangkit melawan bangsa" (ayat 7) dan "Injil Kerajaan Allah akan diberitakan keseluruh dunia" (ayat 14).
2. Kehancuran Yerusalem tidak menjadi tanda kesudahan semuanya.
3. Kerajaan Allah tidak datang setelah Yerusalem hancur (dalam konteks konsumasi), sebaliknya akan ada kesusahan atau penderitaan. Orang Kristen akan menanggung segala kesusahan dan penderitaan, ada persekusi, ada kesusahan besar (tribulation) (ayat 9). Tuhan meminta para murid tidak berspekulasi menngenai kesudahan zaman dan tanda. Tuhan memberikan peringatan kepada mereka soal penyesatan (ayat 11). Ia memberikan nasehat kepada para murid untuk bertahan.
Namun, akan seperti apakah waktu diantara kedatangan-Nya yang kedua kali?
1. Gereja akan dirundung oleh mesias palsu (ayat 4 dan 5). Tiap gerenasi akan ada yang mengklaim sebagai mesias, apakah dia Sun Yung Moon, David Koresh atau Jim Jones. Di ayat 24 dan 25 ada peringatan mengenai mesias palsu. Dan jika Yesus yang adalah Mesias datang, itu akan jelas terlihat (ayat 30); tidak dapat terlewatkan.
2. Akan ada perang (ayat 6 dan 7), akan ada ketegangan dan konflik internasional. Akan ada kelaparan dan gempa; tapi semua ini baru permulaan zaman yang baru.
3. Orang percaya akan dibenci, dipersekusi dan dibunuh (ayat 9). Ini membalikkan apa yang para murid pikirkan mengenai harapan-harapan kemenangan.
4. Banyak yang murtad dan saling menghianati. Keadaan yang tidak sempurna diantara Kerajaan Allah.
5. Akan ada nabi palsu yang menyesatkan orang banyak (ayat 11) dan kedurhakaan dan kasih menjadi dingin (ayat 12).
Jadi gambarannya bukanlah kesempurnaan total dan kemenangan, seperti yang dibayangkan oleh para murid. Tuhan menginginkan kita bersiap-siap untuk segala kesulitan yang ada di depan. Ia memberikan nasihat:
1. Waspadalah jangan ada yang menyesatkan kamu (ayat 4). Jangan sibuk dengan tanda-tanda. Nabi palsu akan muncul bukan saja pada zaman itu, tetapi juga saat sekarang. Jadi berjaga-jagalah. Supaya kita tidak disesatkan kita harus mengetahui dan mengenal firman-Nya. Peringatan ini seharusnya membuat setiap orang Kristen mempelajari Alkitab dengan benar, sehingga tidak disesatkan.
2. Jangan gelisah, jangan takut, jangan putus asa (ayat 6). Jangan menjadi putus asa ketika melihat kejadian-kejadian besar yang terjadi.
3. Bertahanlah (ayat 13). Yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat. Tetapi ini tidak dimegerti sebagai suatu kondisi tertentu bagi keselamatan kita. Ini adalah dorongan untuk bertekun dan pengharapan dari Tuhan. Ia bermaksud mengatakan "Aku tahu bahwa ini adalah kesulitan, tetapi ada pengharapan di akhir kerja kerasmu." Mereka akan menerima mahkota kemuliaan dan berkat keselamatan yang penuh.
4. Injil Kerajaan Allah akan diberitakan ke seluruh dunia, kepada bangsa-bangsa (ayat 14). Jadi Tuhan mengatakan bahwa Ia akan menarik bangsa-bangsa kepada diri-Nya, sebelum Ia datang kembali. Orang-orang yang bukan Yahudi akan diberikan berita Injil, dan ini akan terjadi sebelum kedatangan-Nya kembali. Hal ini akan memakan banyak waktu, dan pekerjaan ini sudah dimulai saat Pentakosta, terus berlangsung sampai saat ini. Injil Kerajaan Allah telah dibawa ke dalam hati kita, hidup melalui pemerintahan Kristus, di buka dengan anugerah dan diterima melalui iman.
Hendaklah semua pemikiran kita mengenai akhir zaman diselaraskan dengan pengajaran firman yang jelas, seperti yang sudah disampaikan oleh Tuhan Yesus Kristus. Amin.
Catatan: tulisan diatas disarikan dari transkrip khotbah "Jesus' Prophecy of the Conssumation of The Kingdom Part 1: The End Is Not Yet, Persevere" oleh Dr. Ligon Duncan.
Kota Sardis adalah sebuah kota benteng yang terletak di sebuah bukit sekitar 30 mil dari kota Tiatira dan 50 mil dari kota Smirna. Kota ini merupakan kota yang makmur karena perdagangan, hasil pertanian dan juga industri yang ada disana. Benteng yang kokoh dengan letak di atas sebuah bukit membuat orang-orangnya menjadi congkak dan terlalu yakin pada diri sendiri bahwa tidak ada yang dapat memasuki dan menyerang kota Sardis. Mereka sangat yakin bahwa mereka aman dan baik-baik saja.
Sejarah mencatat pada tahun 549SM dan 218SM, kota ini di serang dan jatuh, diambil alih oleh musuh melalui satu titik lemah, yaitu melalui jalan masuk yang sempit yang merupakan titik lemah dan tidak diperhatikan; sebuah celah miring yang ada di dalam dinding batu. Dengan peluang ini musuh memberikan pukulan yang telak dan menghancurkan kecongkakan dan keyakinan diri orang-orang di kota tersebut.
Saat Kitab Wahyu ditulis, kota Sardis sedang menghadapi kehancuran. Kota ini juga pernah dihantam oleh gempa bumi yang datang dengan tiba-tiba. Sedang jemaat di Sardis tenggelam dalam semangat rohaninya yang rendah. Inilah sebabnya Tuhan menegur mereka, "Aku tahu segala pekerjaanmu, engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati."
Jemaat di Sardis menikmati kedamaian dimana orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi tidak terlalu menyusahkan mereka. Ini dikarenakan Injil yang diterima oleh mereka dalam prakteknya terlalu lemah sehingga tidak mengganggu orang Yahudi, juga orang non-Yahudi dengan segala praktek berhalanya. Kedamaian yang mereka nikmati adalah kedamaian semu, mereka sekarat bagaikan api yang kekurangan minyak dan udara. Pelayanan mereka setengah hati dan Tuhan mengetahui hal ini, Ia menguji dan menemukan hilangnya iman sehingga mengakibatkan kehilangan rohani. Simon J. Kistemaker mengatakan, "Hampir seluruh jemaat telah menyerah pada Yudaisme dan dunia berhala di sekitarnya. Bukannya mempengaruhi, mereka justru dipengaruhi oleh budaya. Tidak heran jika Tuhan menyebut mereka mati." Jemaat di Sardis gagal memperjuangkan kemajuan Injil.
Tuhan juga meminta mereka untuk waspada, berjaga-jaga dan bertobat. Selalu ada bahaya dari dalam dan luar; guru-guru palsu menghampiri mereka dari dalam dan dari luar. Mereka juga diingatkan bahwa mereka tidak tahu kapan Tuhan akan datang. Ia akan datang tanpa di duga seperti pencuri. Generasi pertama Jemaat di kota Sardis telah berlalu, namun apa yang sudah diajarkan haruslah dikenal, diikuti dan ditaati. Sebab itulah Tuhan meminta mereka bertobat, meneladani generasi pertama yang menerima, mendengar dan menaati berita keselamatan.
Lalu Tuhan mengatakan bahwa ada beberapa orang di kota itu yang tidak mencemarkan pakaiannya dan orang-orang ini akan berjalan bersama-Nya dalam pakaian putih, karena mereka layak untuk itu. William Hendriksen memberikan komentar demikian:
"Mereka dikenal secara individu. Allah tahu pasti siapa dan bagaimana mereka itu. Dia mengenal milik-Nya. Mereka seperti terang yang bercahaya di tengah-tengah kegelapan dunia ini. Beberapa orang yang menjaga pakaian kasih karunia mereka tetap bersih ini tidak lama lagi akan memakai pakaian putih kemuliaan."
Pakaian putih ini melambangkan kekudusan, kemurnian, kesempurnaan dan suasana pesta. Mereka adalah orang-orang yang menang. Nama mereka tidak akan pernah dihapus, mereka akan hidup untuk selama-lamanya dan Kristus sendiri mengakui mereka sebagai milik-Nya di hadapan Bapa-Nya dan juga malaikat-malaikat-Nya.
Kota Tiatira yang di zaman modern di bernama Akhisar terletak di suatu lembah, berada dekat perbatasan Provinsi Misia dan Lidia. Kerajaan Romawi menaklukkan kota ini pada tahun 190 SM. Kota Tiatira merupakan kota perdagangan yang ditunjang oleh jalan dari Pergamus sampai Sardis dan Smirna. Terkenal sebagai pusat industri dengan berbagai macam barang yang dihasilkan, karena itu banyak penduduknya berprofesi sebagai tukang roti, tukang cat, penyamak kulit, penjahit, pembuat tembikar, pembuat barang dari wol, linen, logam dan perdagangan budak.
Industri di kota Tiatira ada di bawah kendali serikat-serikat dagang yang melaksanakan penyembahan berhala kepada dewa-dewi, Apollo dan Artemis, dan mereka menyembah di kuil Sabbathe. Para anggotanya wajib mengikuti perayaan penyembahan berhala-berhala tersebut, mereka wajib untuk turut makan di kuil-kuil dan bercabul. Menolak untuk mengikuti perayaan tersebut berarti akan dikeluarkan secara paksa dari keanggotaan serikat, kehilangan pekerjaan dan berakibat pada kehilangan nafkah, menjadi miskin. Dengan demikian jika ingin bertahan hidup, mempunyai pekerjaan dan usaha yang maju, maka harus menjadi anggota serikat dan menyembah dewa-dewi berhala. Situasi seperti itu jelas menekan orang-orang percaya di kota Tiatira, seperti yang dijelaskan oleh William Hendriksen:
"Jika ia keluar dari persatuan itu, akan kehilangan posisi dan kedudukannya dalam masyarakat. Ia bisa menderita kekurangan, kelaparan dan penganiayaan. Di lain pihak, jika ia tetap berada di dalam serikat itu dan menghadiri berbagai perjamuan imoral, makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala dan melakukan berbagai percabulan, ia menyangkali Tuhannya."
Di tengah situasi demikian muncul seorang nabiah yang disebut Izebel yang membujuk jemaat dengan menawarkan jalan keluar yang tampaknya adalah jalan keluar yang sangat baik. Apa yang disebut dengan "seluk-beluk Iblis" adalah sebuah rayuan dan bujukan dari nabiah tersebut, "Untuk mengalahkan Iblis anda harus mengenal dia dan untuk mengetahui dan mengalahkan dosa haruslah mengenalnya melalui pengalaman." Maka kehadiran orang-orang percaya dalam pesta pora, kemabukan dan percabulan menjadi tampak masuk akal, yaitu untuk mengenal "seluk-beluk Iblis", tetap memiliki pekerjaan, berada dalam keanggotaan sebuah serikat dagang, dan tetap menjadi orang Kristen. Inilah tipuan keji yang membuat orang-orang percaya di kota Tiatira mengalami kejatuhan dan berkubang kembali di dalam dosa. Gregory K. Beale berkata, "Situasi di kota Tiatira lebih serius dibandingkan dengan kota Pergamus. Di Tiatira nabi palsu ini memimpin jemaat kepada kesesatan dan dosa yang sangat serius." Tak mengherankan juga mengapa wanita ini disebut dengan Izebel yang merujuk pada nama istri Raja Ahab di zaman Perjanjian Lama yang membujuk Israel untuk menyembah Baal dan Asyera. Namanya adalah simbol bagi rayuan penyembahan berhala dan imoralitas.
Meskipun jemaat yang tersesat itu dapat merasa yakin bahwa ajaran ini benar, siapakah yang dapat mengelabui Tuhan yang mata-Nya bagai nyala api, yang mengetahui segala hal yang tersembunyi dan mampu untuk menyelidiki hati dan pikiran. Tuhan mengetahui motivasi dan ketidakrelaan mereka untuk menderita bagi-Nya. Mereka tidak dapat menipu Tuhan yang kakinya bagai tembaga yang siap menginjak-injak orang fasik. Tuhan mengetahui pekerjaan jemaat di kota Tiatira ini, Tuhan memuji pekerjaan kasih mereka, juga iman dan ketekunan. Namun, Ia mencela mereka karena membiarkan wanita yang disebut dengan nama Izebel itu mengajar dan menyesatkan jemaat-Nya.
Tuhan masih memberikan kesempatan kepada mereka, juga kepada wanita Izabel ini untuk bertobat dan mereka yang menolak akan dilemparkan kepada penderitaan yang menuju kepada kematian. Dan kepada orang-orang yang tidak mengikuti ajaran itu, yang setia kepada-Nya, Tuhan meminta mereka berjaga-jaga dan Ia menjanjikan kepada mereka kuasa untuk memerintah bersama-Nya. Mereka akan dikaruniakan bintang timur, yang berarti mereka akan menikmati kemegahan kerajaan dan kekuasaan di dalam kerajaan-Nya.
Seorang pengkhotbah, A. W. Tozer mengatakan, "Kompromi disana dan disini segera membuat orang Kristen dan orang dunia akan terlihat sama." Renungkanlah perkataan tersebut, betapa bahayanya kompromi dengan dunia, karena kompromi adalah jalan menuju kehancuran, juga perkataan Paulus dalam peringatannya kepada jemaat di Korintus dan Tesalonika, "Persamaan apakah yang terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan, bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus" (2 Kor. 6:14-15, 1 Tes. 4:7). Berjaga-jagalah dan berdoalah juga bagi orang-orang kudus. Kiranya Roh dan firman-Nya yang kudus senantiasa terus memimpin dan menguduskan hidup kita dari hari ke hari. Amin.
Kota Pergamus saat ini bernama Bergama, berjarak kira-kira 65 mil dari Smirna dan berdiri di atas bukit batu besar. Pergamus terkenal sebagai kota yang memasarkan kulit, yaitu parchment yang dipakai untuk menulis dan memiliki perpustakaan yang menyimpan sekitar 200.000 gulungan kitab; yang membuatnya menjadi kota pusat studi. Selain berfungsi sebagai benteng, Pergamus juga menjadi ibukota provinsi Asia, pusat administrasi dimana Gubernur yang bertugas mempunyai hak dan kuasa penuh untuk menentukan hidup matinya seseorang.
Karena banyaknya kuil-kuil yang dibangun di kota tersebut, Pergamus juga terkenal sebagai pusat agama. Disana dapat ditemukan kuil-kuil penyembahan untuk Zeus, Athena, Dionysos, juga Asclepius yang terkenal sebagai dewa penyembuh, yang simbolnya adalah ular yang masih digunakan sebagai simbol kesehatan sampai sekarang. Pada tahun 129 SM setelah Romawi menaklukkan kota tersebut, kuil-kuil untuk kaisar mulai dibangun; untuk kaisar Agustus, Trajan, juga Severus, dan dimulailah penyembahan kepada kaisar, yang menurut pandangan pada zaman kuno ketuhanan atas dunia kerajaan mengindikasikan ketuhanan atas dunia. Karena itu Tuhan berkata, "Aku tahu dimana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis." Simon J. Kistemaker berpendapat, "Pergamus menjadi pusat penyembahan terhadap kaisar dan sempat menyaingi Smirna dan Efesus, karena diberi hak istimewa untuk menunjuk kepala kuil atau pembersih kuil (neokoros)." Di tempat takhta Iblis itulah ia memiliki kebebasan untuk mengendalikan dan dimana takhta Iblis berada, disitu jugalah penuh dengan berhala, penuh dengan dosa dan penganiayaan terhadap gereja (orang-orang kudus).
Semua kaisar Romawi abad pertama berpihak kepada pemujaan kaisar yang telah wafat. Termasuk juga diantaranya Caligula, Nero dan Domitianus. Caligula dikenal sebagai kaisar yang tidak menghargai agama dan adat Yahudi, ia pernah memerintahkan agar patung dirinya didirikan di bait Allah di Yerusalem. Sementara Tiberius dan Klaudius tidak menghimbaunya. Vespasian meski skeptis tetap memperkenalkan pemujaan kaisar. Dinasti Antonius mengakui pemujaan terhadap kaisar, terutama sebagai tanda kesetiaan. Pemujaan kepada penguasa provinsi dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, hal ini sangat subur dilakukan di masa Vespasianus dan pemujaan kekaisaran di provindi Asia di masa Domitianus sangat gencar, Kitab Wahyu ditulis oleh Yohanes diperkirakan pada masa ini.
Orang-orang percaya sejati pada zaman itu pastilah menolak untuk mengikuti penyembahan kaisar dan penolakan tersebut bukanlah didasarkan pada ketidaktaatan mereka kepada pemerintah saat itu, tetapi karena mereka tak mungkin menganggap kaisar yang adalah manusia biasa sebagai tuhan. Bagi mereka Yesus Kristus adalah Tuhan yang harus mereka tinggikan dan sembah, hanya Dialah yang memiliki otoritas, dominasi dan kuasa atas dunia ini.
Penolakan tersebut bukanlah tanpa akibat. Di masa tersebut orang-orang Kristen yang tetap teguh dalam pengakuan imannya akan dieksekusi; kecuali untuk warga Romawi yang telah menjadi Kristen, mereka akan dikiirim ke Roma dan menerima hukuman. Pihak Roma berpendapat mereka layak untuk dihukum karena pembangkangan dan kesesatan mereka yang tidak dapat dikoreksi, yaitu menolak apa yang diperintahkan oleh pemerintah Romawi. Sementara mereka yang menyangkal pernah menjadi orang Kristen dibebaskan ketika mereka menjalankan ritual agama di hadapan patung kaisar dan dewa serta mengutuki Kristus.
Dengan begitu banyaknya kuil-kuil berhala di Pergamus, ini juga menyuburkan acara-acara atau perayaan-perayaan kafir. Perayaan-perayaan tersebut menurut Manfred T. Brauch, menawarkan percabulan melalui persatuan dengan dengan dewa atau dewi yang kadang dilambangkan atau dicapai melalui pelacuran; meski tidak selalu demikian. Tuhan menyebut jemaat Pergamus ini tidak menyangkal imanya, tatapi ada masalah serius yang terjadi dimana Tuhan menyebut ada yang makan persembahan berhala, berbuat zinah dan berpegang pada ajaran pengikut Nikolaus (yang bercirikan imoralitas, turut dalam perayaan berhala dan memperbolehkan makan persembahan berhala, yang berarti turut dalam persekutuan dan penyembahan). William Hendriksen mengatakan, "Mereka mengabaikan disiplin. Sebagian anggota jemaat telah mengikuti berbagai perayaan orang kafir, dan kemungkinan besar telah berpartisipasi dalam berbagai imoralitas yang merupakan ciri pesta-pesta seperti itu."
Sementara pesta-pesta kafir tersebut begitu penuh dengan dosa, ibadah orang-orang Kristen haruslah penuh dengan kekudusan. Karena Allah itu kudus maka umat-Nya juga harus berjuang untuk berperilaku kudus (Im. 11:44-45, 1 Pet. 1:15). Tampaknya Gereja di Pergamus tak sepenuhnya menyadari bahaya dari sikap kompromi, mereka membuat kesalahan besar. Sebagian dari mereka sangat mungkin berpikir bahwa mengikuti perayaan dan pesta seperti itu tak apa-apa, karena penolakan untuk mengikuti perayaan menimbulkan konsekuensi diasingkan dari kehidupan sosial, kehilangan perkerjaan dan juga perdagangan, singkatnya menolak berarti menjadi orang buangan. Simon J. Kistemaker memberikan komentar demikian:
"Jemaat telah menoleransi guru-guru yang menyebarkan doktrin dan gaya hidup yang berbahaya dan gagal mengusir mereka. Pengaruh mereka menyebar seperti sel kanker dalam tubuh; dan tindakan radikal harus diambil sebelum terlambat. Jika jemaat di Efesus bisa menguji guru palsu, jemaat di Pergamus tidak demikian… Ajaran Bileam lebih bersifat praktis ketimbang doktrin: imoralitas seksual dengan para wanita Moab, makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala dan menyembah berhala-berhala ini (Bil. 25:1-3). Mengikuti nasihat Bileam, Balak menyesatkan bangsa Israel agar jatuh dalam dosa."
Tuhan meminta mereka bertobat, semua yang berpaling kepada Allah akan mengalami kasih, anugerah dan kemurahan-Nya dan Ia akan meninggalkan mereka yang meninggalkan Dia, Tuhan akan menghukum dan membinasakan mereka yang terus melakukan praktek-praktek duniawi mereka yang berdosa. Dan barangsiapa menang Tuhan akan memberikan manna dan batu putih kepadanya. Para pemenang yang telah mengalahkan pencobaan untuk berpartisipasi dalam berbagai perayaan orang kafir dan makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala akan diberi makan oleh Tuhan sendiri yaitu roti dari sorga, mereka akan menerima dan menikmati kasih karunia dari Tuhan Yesus dan segala kelimpahan rohani. Mereka akan diberi batu putih yang merupakan tanda bahwa para pemenang itu adalah milik-Nya, mereka hamba-Nya yang akan bersukacita dalam persekutuan dengan-Nya.
Kota Smirna (saat ini bernama Izmir di Turki) berlokasi di pantai barat Asia Kecil. Kota ini mengklaim dirinya sebagai "Kota nomor satu di Asia dalam hal keindahan dan ukuran" dan merupakan tandingan kota Efesus. Smirna memiliki pelabuhan yang terlindung dan menghadap ke teluk dimana angin yang bertiup dengan sejuk dan segar, bahkan pada musim panas sekalipun. Pelabuhan tersebut membuat kota ini berkembang pesat dalam perdagangan. Di zaman Paulus, populasi kota ini diperkirakan 250.000 orang.
Kota yang megah ini terkenal dengan bangunan-bangunan publik yang menarik dan indah yang bertengger di puncak bukit Pagos dan melingkar membentuk apa yang dikenal sebagai "mahkota Smirna". Penulis di masa lampau memuji Smirna sebagai kota terindah dengan gedung, kuil-kuil, serta tata jalannya. Selain itu, Smirna juga dikenal sebagai penghasil mur, yang didapatkan dari getah pohon damar yang berwarna coklat kemerahan atau coklat kekuningan dan beraroma.
Secara politis kota Smirna terkenal sebagai sekutu Romawi yang setia. Di kota ini dibangun pula kuil untuk Dea Roma, yaitu Dewi Romawi pada tahun 195 SM dan tahun 25 M, Smirna mempersembahkan kuil untuk Kaisar Tiberius. William Barclay mengatakan, "Untuk membuat semangat Roma menjadi nyata, maka pemerintah menghadirkan kaisar sebagai perwujudannya dan dengan ini bangkitlah penyembahkan kepada kaisar." Penyembahan kaisar ini dukung oleh rakyat dan kaisar dianggap bersifat ilahi, sekalipun beberapa kaisar pertama menghina penyembahan ini.
Kapan berdirinya jemaat di kota Smirna tidak diketahui secara pasti. Kemungkinan Injil dibawa oleh orang-orang Yahudi yang hadir saat pencurahan Roh Kudus saat Pentakosta di Yerusalem, juga ada kemungkinan jemaat Smirna ini adalah buah pelayanan Paulus ketika datang ke Efesus.
Seorang uskup terkenal dari Smirna, Polikarpus adalah salah seorang murid Yohanes yang setia sampai mati dibakar terikat pada tonggak tahun 155. Ia diminta untuk menyangkal Tuhan dan berkata, "Kaisar adalah Tuhan." Ia menolak dan menjawab, "Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia, dan Dia tidak pernah menyakiti hatiku satu kali pun; bagaimana mungkin aku dapat menghujat Raja dan Jurselamatku?" Sekalipun terus didesak bahkan diancam, Polikarpus tetapi setia, bahkan kemudian mengatakan, "Engkau mengancam aku dengan api yang membakar selama satu jam, dan sesudah itu padam, tetapi tidak mengetahui tentang api penghukuman yang akan datang dan tentang hukuman kekal yang disediakan bagi orang-orang laim."
Kisah singkat Polikarpus tersebut, yang mati sebagai martir dapat memberitahukan kita kondisi-kondisi yang ada dalam jemaat Smirna selama abad pertama dan kedua. Kesaksian Polikarpus itu juga menunjukkan iman yang teguh, seperti yang dikatakan juga oleh Tuhan Yesus, "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Why. 2:10).
Tuhan mengetahui kondisi jemaat Smirna, "Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu". Jemaat di kota tersebut harus mengalami sebuah kondisi dari kemiskinan yang ekstrem akibat dari pertobatan mereka. William Hendriksen mengatakan:
"Menjadi seorang Kristen, dari sudut pandang dunia, merupakan suatu pengorbanan nyata. Itu berarti kemiskinan, kelaparan, pemenjaraan, sering bahkan harus mati dimakan binatang-binatang buas atau dibakar hidup-hidup."
Kesusahan yang mereka hadapi berarti hidup dalam penganiayaan dan kesulitan yang menghimpit. Seperti yang dikatakan oleh Simon J. Kistemaker, "Penganiayaan menghasilkan kemiskinan karena pekerjaan dan sumber-sumber kehidupan jemaat dirampas." Namun, Tuhan menyebut mereka kaya (Why. 2:9), sekalipun dalam realitas mereka tampak miskin, mereka kaya dalam hal harta rohani, kaya di dalam kasih karunia dan dalam buah-buahnya. Sebab itu Tuhan juga memberikan pujian kepada mereka, tanpa kata-kata teguran; seperti juga kepada jemaat di kota Filadelfia.
Jika jemaat Smirna miskin secara materi, tidak demikian dengan orang-orang Yahudi yang begitu kaya. Menurut catatan sejarah, dengan kekayaannya orang-orang Yahudi pernah menyumbang sebesar 10.000 dinar untuk memperindah kota Smirna. Jumah penduduk Yahudi di kota Smirna cukup besar dan mereka memusuhi jemaat dengan rasa benci, bahkan juga memfitnah mereka. William Hendriksen menyebutkan orang-orang Yahudi yang benci ini tidak hanya berkata jahat tentang Mesias tetapi juga bersemangat menuduh orang-orang Kristen di hadapan para pembesar Romawi. Sekalipun orang-orang Yahudi ini mungkin memandang diri mereka sebagai jemaat Allah, tetapi justru Tuhan Yesus menyebut mereka adalah jemaah Iblis.
Pemerintah Roma memberikan keistimewaan kepada orang-orang Yahudi di Israel dan di perantauan untuk menjalankan religio licita (hak untuk menjalankan agama mereka sendiri). Mereka dibebaskan dari praktik-praktik agama Romawi. Kekristenan juga menikmati religio licita ini sampai tahun 70 ketika Bait Suci dihancurkan. Sejak itu orang Yahudi mulai mengadukan orang-orang Kristen kepada pemerintah Romawi dengan mengatakan orang-orang Kristen berbeda dengan mereka dan menghormati Yesus Kristus sebagai Tuhan bukan kaisar. Sebagai akibatnya orang-orang Kristen tidak lagi menikmati perlindungan sebagai warga negara, mereka difitnah, dianiaya dan bahkan dibunuh.
Demikianlah orang-orang Yahudi menjadi alat yang dipakai oleh Iblis untuk melakukan penganiayaan kepada orang-orang Kudus. Orang-orang percaya harus menanggung penderitaan, berhadapan dengan fitnahan mereka, dan seringkali dilempar ke dalam penjara yang dapat berarti kematian.
Tetapi Tuhan memakai penderitaan yang singkat ini; dikatakan secara simbolis "berlangsung sepuluh hari" untuk menguji dan membuktikan iman orang-orang percaya di kota itu. Cobaan yang singkat itu diberikan untuk membesarkan hati supaya tekun dan bertahan, meskipun harus kehilangan atau mengorbankan nyawa. Sekali lagi kita renungkan perkataan Tuhan, "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Why. 2:10). Mereka (bahkan juga kita) bisa saja dianiaya, bisa menderita, bahkan dibunuh, tetapi orang-orang kudus tidak pernah terpisah dari Allah (Rom. 8:31-39).
Kota Efesus adalah kota yang terkenal sebagai kota niaga atau perdagangan pada zamannya, ditunjang dengan infrastuktur yang memadai baik Laut Aegean, dekat mulut Sungai Cayster yang dapat mengakomodasi kapal-kapal besar, juga terhubung dengan jalan-jalan raya dengan kota-kota terpenting di Asia Kecil.
Kota itu begitu megah, makmur dan terkenal dengan kuil pemujaan Dewi Artemis (atau disebut Diana oleh orang Roma). Kuil ini dilayani oleh para imam pria dan wanita yang sangat banyak jumlahnya. Banyak sumber menyebutkan bahwa kuil ini menjadi 'surga' bagi para pelaku tindak kejahatan; tempat itu menjadi tempat perlindungan bagi para kriminal yang bahkan pada bagian-bagian tertentu diberi status sebagai suaka, seperti daerah perbatasan tanah kuil yang membebaskan pelaku kejahatan dari hukuman.
Kemegahan kota Efesus dapat dilihat dengan adanya bangunan teater dengan kapasitas 24.000 tempat duduk. Kota itu sendiri dapat menampung lebih dari 200.000 warga. Selain kuil Dewi Aratemis, keluarga kaisar Romawi (keluarga Vespasian, Titus dan Domitianus) juga membangun kuil penyembahan kaisar, yaitu kuil Sebastoi.
Jemaat di Efesus terbentuk saat pelayanan Paulus ketika ia berkunjung kesana dalam perjalanannya dari Korintus menuju ke Yerusalem (Kis. 18:19-21). Tak terlepas pula dari pelayanan Apolos yang mengajar dengan semangat yang berapi-api dan teliti, juga Priskila dan Akwila. Kemudian Paulus juga mengutus Timotius untuk memimpin jemaat disana (1 Tim. 1:3). Yohanes diperkirakan melayani di Efesus sekitar tahun 66. Jemaat di kota Efesus dianggap sebagai pemimpin di Provinsi Asia, dan dari kota itulah para murid yang belajar Firman Tuhan menyebarkan Injil ke kota-kota di sekitarnya.
Saat Tuhan meminta Yohanes menuliskan surat kepada Jemaat di Efesus, jemaat tersebut sudah berusia lebih dari empat puluh tahun. Saat itu generasi yang berikutnya sudah bangkit dan memiliki semangat yang tak sama dengan jemaat awal. William Hendriksen mengatakan:
"Generasi lain telah bangkit. Anak-anak itu tidak mengalami antusiasme yang tinggi, spontanitas dan semangat yang dinyatakan oleh para orangtua mereka ketika pertama kali dijamah oleh Injil. Bukan hanya ini, mereka juga kurang dalam hal devosi kepada Kristus. Kondisi yang serupa terjadi di Israel setelah zaman Yosua dan para tua-tua (Hak. 2:7; 10-11)."
Tuhan memberikan pujian kepada jemaat di Efesus karena pekerjaan, jerih payahnya, dan ketekunannya. Jemaat ini tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat yang adalah para pengajar palsu. Mereka menyebut diri mereka adalah rasul, tetapi mengkhotbahkan Injil yang bukan Injil Kristus, mereka tidak ditunjuk oleh Kristus, dan tidak memiliki otoritas untuk melayani jemaat.
Mereka menunjukkan kesetiaanya pada pengajaran yang benar dan tidak menjadi lesu, karenanya mereka dengan berani menolak para pengajar palsu. Ketekunan mereka patut menjadi teladan, yaitu ketekunan yang merujuk pada "ketekunan orang-orang kudus", ketekunan yang menunjukkan kualitas iman yang diwujudkan dalam menantikan Tuhan Yesus, karena mereka setia pada Kitab Suci dan pengajaran yang benar. Secara umum pada zaman tersebut; bahkan juga sepanjang zaman dalam situasi yang berbeda, kehidupan orang-orang percaya dan pemberitaan Injil menghadapi kesulitan dan pergumulan dengan 5 hal:
Namun, jemaat ini mendapat teguran dari Tuhan Yesus. Tuhan mengatakan: "Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula." Memang sangat disayangkan bahwa telah terjadi pembusukan dalam hal kasih, sekalipun mereka adalah jemaat yang tekun dan setia. William Hendriksen mengatakan ini seperti seorang anggota jemaat yang mungkin sangat rutin dalam menghadiri kebaktian tetapi mungkin tidak memiliki hati yang beribadah kepada Tuhan seperti sebelumnya, sehingga mereka diminta untuk merenungkan kejatuhannya dan bertobat, jika tidak Tuhan akan mengambil kaki dian dari sana, Tuhan akan meninggalkan mereka dan mereka akan mengalami kegelapan rohani. Gereja akan berhenti menjadi gereja ketika gereja tidak lagi melayani Tuhannya dengan kasih dan bakti yang sejati. Gregory K. Beale berkomentar, "Kemungkinan teguran ini disebabkan karena mereka kehilangan semangat pada pesan-pesan Injil, mereka berfokus untuk menjaga kemurnian iman mereka dan Tuhan mengingatkan bahwa hubungan utama mereka dengan Tuhannya adalah menjadi saksi bagi dunia."
1. Prasangka orang-orang Yahudi (prejudices of the Jews).
2. Kebanggaan atau kesombongan yang didapatkan karena pembelajaran (the pride of human learning).
3. Pengaruh dari gaya hidup berhala yang sangat populer dan para imam yang menarik (the influence of a popular idolatry and an interested priesthood).
4. Efek dari kekayaan (the effect of riches).
5. Kesenangan hidup yang bersifat sensual (sensual indulgence).
Mereka mengalami kemunduran dalam hal kasih dibandingkan dengan generasi terdahulu yang menyebabkan juga kemunduran dalam pelayanan Injil, seperti yang dikatakan oleh Simon J. Kistemaker:
"Mereka kehilangan antusias ayah dan kakek mereka. Mereka bukan lagi penyebar, melainkan pengurus dan penjaga iman. Ada kemunduran yang nyata dalam pelayanan penginjilan akibat cara berpikir yang mempertahankan status quo. Mereka mengasihi Tuhan tetapi tidak lagi dengan segenap hati, jiwa dan akal budi. Jemaat generasi pertama mengerahkan segenap tenanga sehingga di Efesus makin tersiar firman Tuhan dan makin berkuasa (Kis. 19:20)."
Tuhan Yesus juga menyebutkan bahwa jemaat Efesus membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga dibenci oleh Tuhan. Besar kemungkinan kelompok Nikolaus adalah juga kelompok yang sama dengan beberapa orang yang disebut penganut ajaran Bileam dan pengikut perempuan Izabel. Para pengikut Nikolaus ini mengikuti ajaran rasul palsu dan Bileam. Para rasul palsu ini berusaha untuk menawan pikiran jemaat dengan doktrin yang sesat dan para pengikut Bileam berusaha menaklukkan jemaat dengan penipuan. Nama Nikolaus sendiri dalam bahasa Yunani berarti "Ia yang menaklukkan orang." Kita dapat menduga bahwa gaya hidup pengikut Nikolaus ini bercirikan imoralitas, turut dalam perayaan berhala, makan persembahan berhala dan memutarbalikkan kebenaran. Sangat mungkin para pengikut Nikolaus ini mengajarkan bahwa orang Kristen boleh terlibat dalam budaya berhala di kota Efesus, dimana terdapat kuil Dewi Artemis yang dilayani oleh ribuan imam, baik pria maupun wanita dan melibatkan prostitusi.
Kemudian Tuhan Yesus memberikan janji "Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah." Siapa yang menang adalah dia yang berperang melawan dosa, Iblis dan seluruh pengikutnya dan yang dalam kasihnya kepada Kristus bertekun sampai akhir. Kemenangan ini adalah kemenangan atas konflik dan pencobaan hidup di dalam dunia. Dengan demikian janji ini diberikan kepada orang percaya sejati.
Tuhan menjanjikan apa yang lebih baik daripada apa yang diberikan oleh makanan yang dipersembahkan kepada berhala yang dengannya orang-orang kafir berpesta pora dengan cara yang berdosa. Makanan yang terbaik yang Tuhan berikan adalah makanan yang memberikan hidup yang kekal, mereka yang menang akan hidup bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Why. 22:2; 14). Renungkanlah, bagaimana hidup kita sampai sejauh ini, apakah kita bertumbuh di dalam kasih karunia Tuhan, di dalam pengenalan firman Tuhan? Sungguhkah dalam pertumbuhan itu juga kita semakin mengasihi Allah dan sesama? Sudahkah kita berbagian dalam membawa kabar baik Injil kepada sesama?
Semua nasehat dalam pemberitahuan yang Tuhan Yesus katakan adalah supaya kita bersiap-siap dengan apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Jadi Tuhan Yesus memberitahukan murid-murid bahwa mereka bukan akan memerintah dengan segala kemegahan seperti yang mereka bayangkan, tetapi akan menghadapi penderitaan segera setelah kenaikan-Nya. Pesan besarnya adalah bertahan dan bertekun.
I. Pencobaan, Penderitaan Orang-Orang Kristen Sesuai Dengan Rencana Allah Yang Dinyatakan Dalam Firman-Nya
Perkataan Tuhan dalam ayat 15 mengenai pengepungan dan penghancuran Yerusalem adalah penggenapan dari nubuat. Ia mengatakan penyerbuan oleh Romawi yang akan terjadi sekitar 30 tahun setelah Ia mengatakannya dan ini merupakan penggenapan apa yang dikatakan oleh Daniel (juga mengenai antikristus yang akan datang sebelum Kristus yang menista Bait Allah). Yesus mengatakan bahwa kali ini nubuat tersebut akan dipenuhi saat penghancuran Yerusalem oleh tentara Romawi. Ia mengatakan ketika kamu melihat pasukan Romawi datang dan melihat bendera kerajaannya di tanah yang kudus, saat itulah penistaan sedang berlangsung oleh klaim manusia sebagai Allah (Kerajaan Romawi menyembah kaisar sebagai Tuhan). Orang-orang Yahudi membenci bendera kerjaan Romawi yang memproklamasikan kaisar sebagai Tuhan. Dan adalah penghujatan bagi mereka bila bendera kerajaan itu ada di tempat yang kudus. Apalagi bendera tersebut berada di Yerusalem. Akhirnya tempat itu dihancurkan oleh tangan-tangan yang najis (unclean). Secara khusus ini ditujukan kepada orang-orang Kristen Yahudi.
Penderitaan yang dikatakan akan dialami oleh semua orang Kristen. Jika Alkitab mengatakan bahwa kita akan mengalami penderitaan, tetapi kita ternyata tidak mengalaminya, maka Alkitab salah. Namun, jika kita mengalami penderitaan, kita dapat melihat itu adalah pemenuhan dari apa yang dinyatakan oleh firman Tuhan yang dapat dipercaya. Segala masalah dan penderitaan kita membuktikan Tuhan yang dapat dipercaya.
Perikop dari Mat. 24:15-23 adalah penjelasan lebih lanjut dari ayat 3-14; ada sebuah pengulangan yang adalah umum di dalam nubuatan Alkitab, seperti juga pada nubuatan para nabi, tetapi ini bukanlah sekadar pengulangan. Tujuannya adalah memberikan pengajaran mengenai kebenaran yang lebih lanjut. Dalam konteks ayat 15-23, apa yang dapat kita pelajari adalah penderitaan dan kesusahaan adalah seturut dengan rencana Tuhan. Ia menyatakannya kepada kita supaya kita mendapatkan penguatan saat kesusahan besar.
II. Orang Kristen Harus Siap Untuk Menderita Bagi Kebenaran
Pada ayat 16-18 Tuhan Yesus memberikan peringatan supaya orang Kristen Yahudi, ketika melihat tentara Romawi mengepung Yerusalem, lari dan pergi menjauh dari Yerusalem. Saat kejadian pengepungan tersebut kota Yerusalem penuh dengan orang-orang Yahudi dari luar kota. Ini adalah perintah yang berlawanan dengan apa yang umumnya dipikirkan oleh orang Yahudi ketika terjadi serangan, mereka lari ke dalam kota Yerusalem untuk berlindung, tetapi Tuhan Yesus memberitahukan murid-murid untuk jangan masuk ke dalam kota dan pergi dari Yerusalem, karena Yerusalem akan dihancurkan oleh tentara Romawi.
Tuhan memakai peristiwa ini juga untuk memberitakan Injil ke segala wilayah (spread of the Gospel). Inilah bijaksana Tuhan yang menggunakan peristiwa itu untuk memberkati banyak orang sehingga mereka dapat mendengarkan Injil. Pesan lain dari perikop ini adalah meskipun telah diingatkan akan adanya kesusahan, bahkan juga aniaya, ada penegasan bahwa supaya mereka jangan mencari-cari masalah dan kesusahan, untuk itulah mereka harus lari dan meninggalkan Yerusalem, sehingga mereka dapat memberitakan Injil.
III. Orang Kristen Janganlah Kaget Dengan Intensitas Kesulitan dan Harus Berdoa Memohon Kekuatan dari Tuhan
Pada ayat 19-21, orang-orang percaya di Yerusalem akan menghadapi kesulitan besar dan diminta berdoa memohon kekuatan dari Tuhan untuk dapat menanggungnya. Tuhan berbicara mengenai penghancuran Yerusalem yang akan terjadi dan dialami oleh murid-murid (generasi mereka). Mereka harus memahami betapa dahsyatnya peristiwa ini. Tuhan memberikan pesan bahwa peristiwa ini akan menjadi situasi yang berat untuk ibu-ibu yang sedang hamil dan menyusui, setelah Ia juga memberikan pesan kiranya peristiwa itu juga bukan terjadi pada hari Sabat, karena tentu orang-orang Yahudi akan menolak untuk lari keluar dari kota, juga bukan terjadi pada musim dingin, karena di musim itu ada kesulitan yang lain yang datang dari alam disekitar wilayah tersebut; adanya kemungkinan terjadinya banjir/luapan air sehingga sulit untuk menyeberangi sungai. Sekali lagi kita diingatkan supaya kita tidak lengah dan terkejut dengan segala kesulitan, kesusahan dan penderitaan yang kita alami, karena inilah jalan yang Tuhan tunjukkan supaya kita bisa bertumbuh melalui ujian.
IV. Orang Kristen Harus Ingat bahwa Tuhan Peduli dan Memelihara Mereka
Pada ayat 22 Tuhan mengingatkan kepada orang-orang percaya di Yerusalem mengenai pemeliharaan-Nya atas orang-orang pilihan. Sejarawan Yahudi yang bernama Yosephus mengatakan tidak ada penghancuran yang seperti Yerusalem ketika pasukan Romawi menghancurkan kota itu. Ia mengatakan sekitar 4 sampai 5 juta orang Yahudi menjadi korban. Tuhan ingin kita mengetahui keadaan seperti itu yang begitu mengerikan tetapi Ia sekaligus juga memberikan batasan pada waktunya karena orang-orang pilihan yang Ia kasihi. Sebagai orang-orang percaya kita harus terus mengingat hal ini, bahwa Tuhan peduli pada kita dan Ia terus memelihara kita, supaya hal itu juga menguatkan kita.
V. Orang Kristen Harus Hati-Hati Agar Tidak Disesatkan
Pada ayat 23-24, Tuhan memberikan peringatan akan munculnya mesias-mesias dan nabi-nabi palsu. Secara khusus Ia mengingatkan para murid bahwa akan muncul banyak mesias palsu sebelum dan setelah kehancuran Yerusalem; hal ini tentu juga berlaku untuk setiap orang percaya di segala zaman. Tuhan mengatakan bahwa jika Juruselamat datang, pastilah akan diketahui dan tidak mungkin dilewatkan. Saat ini ada begitu banyak orang yang memberikan kepada kita Yesus Kristus yang berbeda dengan apa yang diajarkan dan dapat kita temukan di dalam Alkitab. Jika kita mengikuti yang seperti itu, kita tidak mengikuti Kristus seperti yang ada di Alkitab.
"We know from Jesus' own application that one of the practical purposes is to motivate us to endure, to not lose hope, to hang on, and to persevere to the end."
Catatan: tulisan di atas disarikan dari transkrip khotbah yang berjudul "Jesus' Prophecy of Consummation of the Kingdom Part 2: The Destruction of Jerusalem" oleh Dr. Ligon Duncan
Eksposisi Surat Yakobus: Orang Kristen dan Pencobaan (Yakobus 1:2-18)
Oleh Dr. Ligon Duncan
Yakobus 1:2-18
Mari kita membuka Alkitab dan membaca Surat Yakobus Pasal 1:2-18:
"Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi, dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput. Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap. Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya."
Amin. Demikianlah firman Tuhan yang kudus. Kiranya Dia menuliskan kebenaran kekal-Nya di dalam hati kita. Mari kita berdoa.
“Tuhan kami, kami meminta hal itu dari firman-Mu, Engkaulah yang akan mengajari kami bagaimana kami harus menanggapi pencobaan dalam hidup ini. Kami meminta dan berdoa di dalam nama Yesus, Amin."
Bersama orang-orang Kristen di seluruh dunia yang mati karena iman mereka, diasingkan karena iman mereka, bertahan dalam perbudakan karena iman mereka dan segala macam penganiayaan, banyak dari kita siap untuk mengakui bahwa kita tidak tahu banyak tentang pencobaan secara mendalam. Tetapi, beberapa dari kita menganggap hidup kita dipenuhi dengan kesulitan dan pencobaan. Saya membaca surat kepada editor kemarin, dan surat itu mencatat ucapan terima kasih kepada surat kabar dari seorang pria yang jelas-jelas penggemar mobil, karena mengerjakan artikel tentang mobil klasik. Tapi, bahkan dalam suratnya. Anda bisa mengatakan bahwa dia bisa mengingat kembali jejak yang bertahan sekitar empat puluh tahun yang lalu. Biarkan saya meringkas surat itu untuk Anda:
"Saya menghargai artikel Anda tentang mobil klasik. Itu membawa kembali kenangan. Bertahun-tahun yang lalu sebagai seorang pemuda saya memiliki Corvette "61" dan "64". Tapi, pernikahan dan studi pascasarjana membuat saya menyerah. Saya masih memiliki istri, gelar dan kenangan. Tapi, tidak ada yang akan menggantikan mobil-mobil itu.”
Sekarang, saya curiga dia tidur di luar pagi ini. Tapi, yang jelas pria ini merasa bahwa ia telah melalui uji coba yang mendalam, untuk berpisah dengan mobil-mobil itu. Bahkan empat puluh tahun kemudian dia memikirkan mobil-mobil itu. Itulah beberapa cobaan yang kita alami. Di sisi lain, ada banyak orang di ruangan ini yang telah dipanggil untuk melewati pengalaman hidup yang dalam. Beberapa dari Anda telah membesarkan seorang anak untuk melihat hari ketika anak yang sudah dewasa berbaring sebelum Anda pulang. Anda telah menderita karena perselingkuhan. Anda kehilangan pekerjaan di saat yang kritis dalam hidup Anda dan kehidupan keluarga Anda. Anda tahu apa artinya memiliki teman yang mengkhianati Anda. Anda telah mendengar diagnosis medis yang mengerikan dari teman dan dokter Anda. Anda pernah mengalami hubungan keluarga yang berantakan, yang hanya ada sedikit harapan untuk sembuh. Anda terlibat dalam perawatan jangka panjang anggota keluarga dengan penyakit yang parah dan akhirnya mematikan. Dan daftar itu bisa terus dan terus.
Faktanya, tidak ada yang namanya orang Kristen yang kebal dari pencobaan. Adalah hal yang baik, tentu saja, untuk menempatkan pencobaan kita dalam perspektif yang benar, untuk menyadari bahwa ada beberapa orang yang telah dipanggil untuk menjalani hal-hal yang jauh lebih sulit daripada yang telah kita lalui. Tapi, jangan meremehkan pencobaan yang kita alami. Bahkan, mungkin tidak bermanfaat sama sekali untuk meremehkan pencobaan kita. Tuhan tidak meremehkan pencobaan itu. Dia menghargai air mata umat-Nya, Dia memberi tahu kita dalam kitab Wahyu. Dan cara kita mengatasi cobaan bukanlah dengan meremehkannya, berpura-pura seolah-olah itu tidak terlalu penting, karena itu sangat berarti. Tetapi, cara kita mengatasi pencobaan kita adalah dengan menempatkannya dalam perspektif alkitabiah dan mematuhi apa yang dikatakan firman Tuhan yang harus kita lakukan saat pencobaan.
Perhatian Yakobus dalam hal ini adalah kita mempelajari empat hal yang sangat penting tentang pencobaan. Saat dia berbicara kepada kita dalam Firman Tuhan hari ini. Saya akan menguraikannya untuk Anda. Dalam ayat 2-4, Yakobus mengemukakan prinsip-prinsipnya mengenai pencobaan. Kemudian dalam ayat 5-8, dia berbicara tentang hikmat di tengah-tengah pencobaan. Dalam ayat 9-11, dia memberi kita sebuah ilustrasi tentang mengapa kita membutuhkan hikmat di tengah-tengah pencobaan. Dan kemudian dalam ayat 12-18, di satu sisi, dia akan memberi kita janji yang mulia tentang tujuan pencobaan dalam rencana Allah. Dan dia juga akan memberi kita peringatan tentang menanggapi pencobaan dengan cara yang salah. Itulah empat hal yang ingin saya lihat bersama Anda pagi ini.
I. Cobaan hidup orang Kristen, semuanya bertujuan untuk mendewasakan.
Pertama, lihat ayat 2-4. Di sini, Yakobus mengatakan sesuatu yang sangat menakjubkan. Jangan menolak apa yang dia katakan begitu saja. Dia mengatakan bahwa pencobaan itu bermanfaat. Dalam ayat 2-4, Yakobus berbicara tentang manfaat dari pencobaan. Dia mengatakan bahwa pencobaan dalam hidup orang Kristen, semuanya, melayani tujuan pendewasaan dari Tuhan. Dengan kata lain, cobaan berfungsi untuk memberikan kita pertumbuhan dalam kasih karunia. Kata-kata Yakobus sangat mencengangkan. Ketika dia berkata kepada Anda, “Anggaplah itu semua sebagai suatu kebahagiaan teman-teman, ketika Anda menghadapi berbagai macam cobaan."
Ketika dia mengatakan itu kepadamu, itu mungkin terdengar mengejutkan. Ini mungkin terdengar tidak realistis. Ini mungkin terdengar seperti lagu-lagu Injil yang manis yang mengatakan bahwa begitu Anda mengenal Yesus, Anda bahagia sepanjang hari, dan Anda melihat sekeliling dan Anda bertanya-tanya, “Apakah semua orang di sekitar saya bahagia sepanjang hari? Tidak ada orang di sekitar saya. Saya satu-satunya yang berjuang dengan keputusasaan ini. Saya satu-satunya yang berjuang dengan situasi ini dalam hidup saya yang tidak akan pernah hilang."
Kata-kata Yakobus mungkin terdengar seperti itu, tetapi jangan menghapusnya. Ketika dia mengatakan anggaplah itu semua kebahagiaan, saya ingin Anda memahami bahwa kata-katanya sangat realistis dan akan sangat membantu.
Dalam ayat-ayat ini Yakobus tidak memberikan rahasia yang ia sendiri tahu. Yakobus tidak memulai seminar untuk menolong diri sendiri di mana dia berkeliling negeri menjual bukunya seharga $9,95 dan paket rekaman itu dilemparkan untuk sumbangan tambahan sebesar $21,95 untuk memberi Anda rahasia berurusan dengan pencobaan, sebuah rahasia yang dia sendiri tahu. Bahkan, jika Anda melihat kata pertama dari ayat 3, dia memberi tahu Anda di sini bahwa ia akan mengajari Anda sesuatu yang sudah Anda ketahui. “Anggap itu semua sebagai suatu kebahagiaan, saudara-saudaraku, ketika engkau menghadapi berbagai cobaan, mengetahui bahwa ujian terhadap iman Anda menghasilkan ketekunan.” Dengan kata lain, Anda sudah tahu apa yang akan saya sampaikan kepada Anda. Jika Anda seorang yang beriman, Anda tahu bahwa apa yang akan saya katakan adalah benar dan penting. Dia memanggil kita bukan untuk mempercayai rahasia baru yang dia temukan. Dia memanggil kita di sini untuk percaya dan bertindak atas sesuatu yang kita semua sudah tahu. Dan dalam benak Yakobus mungkin di sini, khususnya penganiayaan yang akan dihadapi oleh orang-orang Kristen ini, berbagai macam penganiayaan. Tapi dia secara eksplisit membuat kata-katanya secara umum berlaku di sini, ketika dia mengatakan, anggap itu semua adalah suatu kebahagiaan ketika Anda mengalami atau menjalani apa? Berbagai cobaan. Dia memasukkan segala macam cobaan dan kesengsaraan dalam nasihat umumnya di sini.
Dan perhatikan apa yang Yakobus katakan harus kita lakukan. Jika Anda mengikuti ayat 2-4, Anda akan melihat Yakobus memberikan empat bagian nasihat kepada seseorang yang sedang menghadapi pencobaan. Lihat ayat 4 dan mundurlah, karena dalam ayat 4, ia memberi tahu Anda tujuan pencobaan. Dan di situlah kita mulai dan kemudian kita kembali ke apa yang kita lakukan saat pencobaan. Dalam ayat 4, perhatikan apa yang ia katakan: ia memberi tahu Anda apa tujuan Allah yang dinyatakan dalam pencobaan. Apakah itu? Untuk membuat Anda sempurna, sehingga Anda menjadi sempurna dan lengkap, tidak kekurangan apa pun. Allah memakai pencobaan untuk membuat Anda sempurna, sehingga ketika Anda berdiri di hadapan-Nya pada hari terakhir, Anda sama seperti Anak-Nya, Yesus yang tidak berdosa. Ini membingungkan, bukan? Rencana agung Tuhan bagi Anda adalah membuat Anda sempurna seperti Yesus. Yakobus mengatakan, di situlah Anda mulai berpikir tentang cobaan. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup Anda adalah bagian dari rencana agung Allah untuk menjadikan Anda seperti Yesus, untuk menghadirkan Anda di hadapan-Nya dengan sempurna. Kemudian kembali ke ayat 3.
Setelah memberi tahu Anda tujuan Allah yang dinyatakan dalam ayat 4, Yakobus memberi tahu Anda cara Allah yang dinyatakan untuk mencapai tujuan-Nya, alat yang Dia gunakan untuk menghasilkan kesempurnaan Anda. Apa itu? Ujian, ujian iman Anda. Itu menghasilkan ketekunan atau ketekunan dalam iman. Jadi tujuannya adalah kesempurnaan. Instrumennya adalah ujian.
Dia memberi tahu Anda dalam ayat 2 mengenai medan pengujian itu. Apakah itu? Pencobaan. Tujuannya adalah kesempurnaan; tujuannya adalah menguji, membuktikan iman untuk membuatnya bertahan. Apa medannya, apa tempat uji cobanya, apa pengaturan untuk menguji iman? Penderitaan, pencobaan, perjuangan, itulah medan bagi ujian Allah. Dan apa tanggapan yang harus kita miliki terhadap pengujian itu? Sukacita. Anda tidak bisa mendapatkan respons sampai Anda memahami akhirnya. Anda tidak dapat mencapai akhir kecuali melalui sarana. Anda tidak bisa sampai ke sarana kecuali di medan pengujian. Dan Anda tidak dapat memiliki sukacita kecuali Anda memahaminya.
Di hadapan Anda, Yakobus telah menetapkan formula yang ingin ia kerjakan ke dalam hati kita sehingga menjadi sifat kedua. Terus terang, lebih mudah untuk menyebarkan kebenaran ini dalam ujian kehidupan yang sulit, Yakobus mengatakan bagaimana kita harus menghadapi pencobaan ini.
Sekarang, perhatikan bahwa apa yang dia katakan persis berlawanan dengan respons naluriah kita. Respons naluriah kita terhadap pencobaan, pertama-tama, adalah mempertanyakan tujuan rahasia Allah. Kita segera bertanya, “Mengapa? Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa Engkau membiarkan ini terjadi?" Perhatikan apa yang kita lakukan; kita segera berpaling pada rahasia Allah dan mulai menanyakan segala macam pertanyaan tentangnya. Ada tumpukan buku di rak-rak toko buku Kristen yang melakukan hal itu, mengajukan pertanyaan yang Anda dan saya tidak akan pernah bisa menjawab tentang tujuan rahasia Allah. Yang paling terkenal adalah sejak sekitar 20 tahun yang lalu, tetapi masih populer, "When Bad Things Happen To Good People" (Ketika Hal-Hal Buruk Terjadi pada Orang Baik). itu memberikan jawaban yang sangat buruk, saya ingin mengatakan yang benar dengan cepat, tetapi awalnya mengajukan pertanyaan yang salah.
Yakobus mengatakan bahwa ketika Anda berada di tengah-tengah pencobaan, Anda tidak mengajukan pertanyaan tentang tujuan rahasia Allah. Anda mengajukan pertanyaan tentang tujuan Allah yang dinyatakan. Apa yang telah Dia katakan kepada Anda dalam firman-Nya apa Dia lakukan dalam hidup Anda. Tuhan memberitahukan dengan jelas. Tetapi, apa yang kita lakukan? Kita ingin tahu, “Mengapa? Apa yang sedang terjadi?" Kita tidak memahami tujuan alam semesta. Kita tidak memahami detail rencana Tuhan. Tentu saja tidak, Anda bukan Tuhan. Hal-hal rahasia adalah milik Tuhan, tetapi hal-hal yang dinyatakan adalah milik kita dan anak-anak kita. Yakobus berkata jangan mencoba untuk mencari tahu apa yang menjadi rahasia Tuhan, tetapi kita harus mencari maksud Tuhan yang telah dinyatakan-Nya.
Hal kedua yang kita lakukan dalam pencobaan adalah bahwa kita segera tergoda untuk meragukan kebaikan dan kebijaksanaan Allah. "Tuhan, bagaimana Engkau bisa melakukan ini pada orang yang baik seperti saya?" Atau, “Saya hanya tidak mengerti apa yang sedang terjadi, ini tidak masuk akal. Sepertinya itu bukan rencana yang bijaksana berdasarkan pada apa yang terjadi pada saya.” Secara naluriah kita meragukan kebaikan dan kebijaksanaan Tuhan. Yakobus berkata, "Tidak, Anda ingat kembali bahwa cara Allah mewujudkan tujuan-Nya dalam diri Anda, adalah dengan menguji."
Ketiga, kita kemudian merespons secara umum dengan mengangkat tangan dan menyerah, secara rohani. Padahal, kata Yakobus, ingatlah bahwa kesengsaraan adalah ujian Allah. Ini bukan saatnya untuk mengangkat tangan dan menyerah secara rohani. Ini saatnya untuk percaya dan lalu apa yang kita lakukan?
Keempat, kita menjadi pahit. Yakobus berkata, "Tidak, kamu bersukacita!" Apakah Anda melihat betapa bertentangannya kata-kata nasihat Yakobus dengan respons khas kita terhadap pencobaan? Yakobus ingin agar kita menganggap pencobaan sebagai suatu sukacita, dan Anda hanya dapat melakukannya dengan mengikuti kata-kata dari ayat 2-4, dan Anda membutuhkan hikmat, yang ia bicarakan dalam ayat 5-7. Anda lihat, pencobaan berfungsi untuk menguji keaslian iman untuk menghasilkan ketekunan dalam iman kita dan untuk menghasilkan kedewasaan yang diinginkan Allah dalam diri kita. Dan cobaan melayani tujuan anugerah. Anugerah tumbuh paling baik di musim dingin, Rutherford, pernah berkata. Kenapa dia mengatakan demikian? Karena, dalam kesengsaraan hidup inilah Allah menumbuhkan kita paling dalam di dalam kasih karunia.
II. Apa yang dibutuhkan orang Kristen untuk bersukacita dalam pencobaan adalah hikmat.
Sekarang, Yakobus dalam ayat 5-8 berbicara tentang hikmat. Dan izinkan saya berhenti di sini dan berkata, ketika Anda membaca Yakobus 1:2-18, Anda dapat mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, ketika Anda sampai pada ayat 5-8 dan 9-11, dan pertanyaan itu mungkin seperti ini: “Saya tidak tahu sama sekali bagaimana cobaan, hikmat, kekayaan, dan kemiskinan memberikan jalan pikiran yang berurutan. Saya tahu bahwa ia harus berbicara tentang pencobaan secara umum, karena ia berbicara tentang pencobaan secara eksplisit dalam ayat 2-4 dan secara eksplisit dalam ayat 12-18. Tetapi, apa hubungannya dengan hikmat dan kekayaan dan kemiskinan? Mereka sepertinya diapit, Bagaimana semua itu dapat selaras?"
Saya mencoba dan membantu Anda di sini. Dalam ayat 5-8, Yakobus berbicara tentang pencobaan yang membimbingan anda, atau mungkin kita bahkan dapat mengatakan, ia berbicara tentang bimbingan dalam pencobaan. Dan, dia memberi tahu kita bahwa apa yang dibutuhkan orang Kristen untuk bersukacita dalam pencobaan adalah hikmat.
Sekarang, bagaimana hubungannya dengan apa yang baru saja dia bicarakan? Ya, ini berhubungan seperti ini: dengan menunjukkan kepada kita perlunya hikmat dalam menanggapi pencobaan. Sekarang, hikmat adalah konsep alkitabiah yang sangat kaya. Teman kita, Derek Thomas, telah menulis seluruh buku tentang hikmat alkitabiah. Tetapi di sini saya ingin Anda mengerti tentang hikmat dalam ayat ini. Dalam ayat 5, ketika Yakobus berkata bahwa kita membutuhkan hikmat dan bahwa jika kita tidak memiliki hikmat, kita dapat memohon kepada Allah untuk itu, maksudnya ini: hikmat di sini berarti memandang kehidupan seperti yang Yakobus katakan kepada Anda dalam ayat 2-4. Itulah yang pertama bagian dari hikmat yang dibicarakan Yakobus. Anda perlu melihat kehidupan dalam kategori-kategori, dari kerangka, melalui kisi-kisi yang telah ia gambarkan dalam ayat 2-4. Itulah tanda pertama dari hikmat ilahi, hikmat surgawi.
Aspek kedua, dari hikmat yang dibicarakan Yakobus di sini, adalah membuat keputusan untuk menjadi dewasa secara rohani yang sesuai dengan firman Allah. Jadi, ketika Anda berada di tengah-tengah pencobaan, Anda sedang melihat pencobaan dan Anda melihat kehidupan seperti yang dia katakan dalam ayat 2-4 untuk melihatnya, dan Anda bertumbuh dalam pertumbuhan rohani Anda sesuai dengan apa yang diajarkan Alkitab. Bagian-bagian hikmat itu adalah yang dibicarakan oleh Yakobus dalam ayat 5-7. Dan dia berkata, “Jika kamu tidak memiliki hikmat itu, aku berjanji kepada kamu bahwa Allah akan memberikannya kepadamu. Yang harus Anda lakukan adalah memintanya."
Jika Anda kekurangan hikmat itu dan Anda ingin dapat melihat masalah Anda seperti yang Yakobus 1:2-4 katakan, tetapi Anda tidak memandangnya seperti itu. Dan Anda ingin membuat keputusan spiritual yang bijaksana berdasarkan firman Tuhan, tetapi Anda sepertinya tidak dapat menemukan kekuatan untuk melakukannya, atau Anda sepertinya tidak mampu melepaskan keinginan Anda sendiri untuk menafsirkan segalanya, dan menjelaskan semuanya. Kemudian, Yakobus berkata, “Inilah yang perlu Anda lakukan - berdoa. Minta Bapa untuk memberi Anda hikmat semacam itu. Bukan hikmat yang memungkinkan Anda mencari tahu semua hal rahasia Tuhan, tetapi, hikmat yang memungkinkan Anda untuk percaya apa yang Tuhan katakan dalam firman-Nya. Dia akan memberikannya kepadamu."
III. Wawasan orang Kristen tentang kekayaan dan kemiskinan adalah cara pandang melalui hikmat.
Sekarang, segera dalam ayat 6-8, Yakobus berbicara tentang dua faktor yang dapat memberikan kedamaian pada Anda di tengah-tengah pencobaan, dan saya ingin mengarahkan Anda kepada hal itu. Dia berbicara tentang keraguan dan mendua hati. Lihatlah apa yang dia katakan."Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya."
Keraguan dan pikiran yang mendua hati adalah tanda keduniawian. Keraguan di sini adalah keraguan akan firman Allah. Keraguan akan apa yang telah diajarkan Yakobus. Yakobus memaparkan mengenai mendua hati disini yang adalah seseorang yang mencoba hidup di dua dunia pada saat yang bersamaan; dunia saat ini yang akan berlalu, dan zaman yang akan datang, yang telah ditetapkan Allah di dalam hati umat-Nya dan persekutuan orang-orang kudus. Dan orang yang mendua hati menginginkan tujuan dan keinginan dunia ini dan juga tujuan dan keinginan kerajaan Tuhan kita Yesus Kristus, pada saat yang sama.
Yesus berkata kamu tidak bisa melayani Tuhan dan mammon. Kamu tidak bisa melakukannya Dan Yakobus berkata, jika Anda memiliki keinginan yang mendua yang ada di sini, Anda akan frustrasi dalam menghadapi pencobaan. Ketika Anda mengalami kerugian atau kehilangan dalam hidup ini, jika Anda menganggap hidup ini adalah satu-satunya hidup, Anda tidak akan mendapatkan kedamaian. Hanya jika Anda tidak mendua hati dan Anda menyerahkan diri Anda ke masa yang akan datang, jika Anda telah menyerahkan diri Anda kepada kerajaan Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Anda dapat menempatkan pencobaan dunia ini dalam perspektif yang benar. Tapi, selama Anda mendua hati, selama Anda meragukan firman Tuhan Anda tidak akan mendapatkan kedamaian. Kedamaian dan hikmat itulah yang kita butuhkan. Hikmat itulah yang menunjukkan kekuatan kepercayaan kita kepada Tuhan di tengah-tengah pencobaan. Hikmat itulah yang menunjukkan dirinya dalam doa-doa kita yang kita doakan, sebagai tanggapan terhadap pencobaan.
Apa yang dibutuhkan orang Kristen, untuk bersukacita dalam pencobaan, adalah hikmat. Dan itulah sebabnya Yakobus membicarakannya dalam ayat 5-8. Kemudian dia memberikan ilustrasi praktis tentang hal ini, ketika dia berbicara tentang kekayaan dan kemiskinan dalam ayat 9-11. Mari melihat bersama-sama. Anda tahu, dia berbicara tentang percobaan kemiskinan dan kekayaan. Sekarang, semua orang berbaris di sisi ini berkata, "Tuhan beri aku cobaan kekayaan, tolong." Namun, Yakobus ingin Anda melihat kedua penipu duniawi itu, kemiskinan dan kekayaan, seperti apa adanya mereka.
Anda lihat, orang yang malang itu bisa dengan mudah terpaku pada ketidakpuasan dengan situasinya, dan, dia bisa berpikir bahwa hidup akan menjadi lebih baik jika dia hanya memiliki apa yang tidak dia miliki. Dan dia tidak menyadari bahwa dia telah menjadi kaya dalam Yesus Kristus dan bahwa tidak ada yang lebih besar dari yang Tuhan dapat berikan bahwa apa yang sudah Dia berikan. Dan demikianlah Yakobus memberi tahu kita di sini, Orang Kristen yang relatif miskin dapat dengan mudah terpaku pada ketidakpuasan dengan situasinya. Tetapi hikmat melakukan apa? Itu menuntunnya, bukan untuk tidak puas, untuk memuliakan situasinya, menyadari bahwa ia mungkin miskin di mata dunia ini, tetapi ia kaya akan Yesus Kristus.
Di sisi lain, orang kaya bisa melihat situasinya dan bisa menjadi sangat puas dengan apa yang dimilikinya, sehingga ia melupakan si pemberi. Dia bisa begitu jatuh cinta dengan karunia-karunia yang dimilikinya, sehingga dia meninggalkan karunia si pemberi. Dia dapat berpikir bahwa benda-benda ini, segala kesenangan ini, uang-uang yang berharga ini dan semua materi, ini adalah hal-hal yang paling penting, dan meskipun dalam kenyataannya sangat remeh, dia dapat jatuh cinta kepada mereka, mengalihkan dari yang kekal. Orang Kristen yang kaya dapat dengan mudah menikmati kekayaannya, daripada menyadari bahwa Allah telah mengelilinginya dengan hal-hal yang pada akhirnya akan berlalu.
Dan kemakmuran adalah cobaan. Bahkan, Spurgeon mengatakan tidak ada pencobaan seperti kemakmuran. Dan perbandingan orang Kristen di negara-negara makmur dengan orang Kristen di negara-negara di mana orang Kristen tidak makmur, menunjukkan hal itu. Kualitas kekristenan kita sangat diuji oleh kemakmuran. Dan jika kita benar-benar bijaksana, kita akan melihat bahwa baik kekayaan maupun kekurangan adalah cobaan yang dirancang untuk membuat kita bertumbuh kita.
Dan demikianlah Yakobus mengilustrasikan prinsip ini dari soal mendua hati, bahkan dari kekayaan dan kemiskinan. Dan dia bisa melakukannya dengan banyak cara. Dia bisa saja mengontraskan kesepian dan persahabatan. Dia bisa saja membandingkan seseorang yang mengalami kematian pasangannya yang tak terduga dengan seseorang yang memiliki kehidupan pernikahan yang panjang dan bahagia. Dia bisa saja mengontraskan pengangguran sebagai lawan memenuhi pekerjaan, atau mengecewakan harapan dengan memenuhi harapan. Dia bisa terus dan terus. Kontrasnya ada di luar sana. Tetapi ini adalah pengingat bahwa tanggapan kita terhadap kekurangan dan kelebihan, di mana pun itu mungkin dalam kehidupan, mengungkapkan kepada kita sikap sejati kita dan apakah kita memiliki hikmat sejati. Jika kita benar-benar bijaksana, kita akan melihat sekaligus bahwa kelebihan dan keingintan adalah percobaan yang dirancang untuk membuat kita bertumbuh.
IV. Ada berkat bagi orang Kristen yang bertahan dalam pencobaan.
Dan kemudian, satu hal terakhir, dalam ayat 12-18. Yakobus membuat pernyataan tegas tentang tujuan pekerjaan Allah di dalam kita. Dia berkata, "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."
Ketika Yakobus mengatakan itu, ia mengatakan sesuatu kepada kita sebagai orang percaya yang telah Allah katakan kepada orang-orang percaya sejak Kejadian pasal 2 dan 3. Allah telah mengajar orang-orang percaya sejak penciptaan untuk menjalani kehidupan mereka dalam terang kebaikan yang dapat diketahui. Untuk menjalani hidup mereka dengan mengetahui bahwa Allah akan melakukan yang baik pada hari terakhir, bahwa Dia akan memberi mereka upah sesuai janji-Nya yang mulia. Kita tidak hidup seperti orang-orang kafir, yang berpikir hidup itu baik dan kemudian kamu mati. Atau isi hidup Anda dengan segala kesenangan, karena Anda mati, atau apa pun, karena ada tidak ada pun yang datang setelah itu. Kita harus menjalani hidup kita dalam terang hati nurani yang baik yang Tuhan janjikan kepada kita, dalam firman-Nya.
Dan kemudian dia berkata, dalam ayat 13-18, bahwa kita harus melawan godaan untuk menyalahkan Tuhan atau berpikir bahwa dalam pencobaan kita, Tuhan mencobai kita untuk berbuat jahat. Dalam perikop ini Yakobus tidak menyangkal bahwa Allah ada hubungannya dengan pencobaan dalam hidup ini. Namun, ia dengan tegas menyangkal bahwa maksud Allah adalah untuk mendorong Anda ke dalam dosa. Dia berkata, "Tidak, maksud Tuhan adalah untuk menyempurnakanmu pada hari kemuliaan dan memberi upah." Itu selalu menjadi tujuan Allah dalam pencobaan.
Sekarang, dari mana datangnya dosa dan kejahatan? Ah, itu datang darimu. Itu datang dari hatimu. Itu berasal dari keinginan yang salah. Dan dia berkata, "Janganlah sesat." Lihatlah ayat 16-18. Jangan tertipu ketika Anda mencoba mencari tahu cobaan Anda. Jangan lakukan seperti Hawa. Ingat, Setan berkata kepada Hawa, dan kepada Adam, Tuhan tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Anda. Dia ingin menahan sesuatu darimu. Tuhan menjadi pelit dalam berurusan dengan Anda. Dia benar-benar tidak memberimu yang terbaik yang bisa Dia berikan. Dan Yakobus berkata, jangan jatuh pada hal itu.
Ketika Anda menghadapi cobaan, jangan berpikir bahwa itu adalah Allah yang pelit, yang tidak memiliki rencana terbaik bagi Anda, yang ada di balik cobaan itu. Rencana Tuhan selalu baik. Yakobus berkata, "Setiap karunia baik dalam hidup ini berasal dari atas, itu berasal dari Allah." Setiap hal baik yang kita alami berasal dari Dia, dan itu mengendalikan bagaimana kita memandang pencobaan dan penderitaan kita. Ketika Tuhan memanggil kita untuk disempurnakan melalui penderitaan dalam pencobaan, sahabat-sahabatku, Dia hanya memanggil kita untuk mengikuti Anak Tunggal-Nya. Ibrani 5:8 mengatakan, "Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya." Jadi, jika kita ingin mengendalikan cobaan, kita harus dengan teguh berpegang pada dua kebenaran: kebaikan Allah dan tujuan Allah dalam pencobaan kita, karena, kesengsaraan adalah obat kasih karunia di tangan Allah.