Belajar Sendiri Itu...-Baik.
Mendengarnya, beberapa pasti melengos.
Memalingkan wajah.
Malas mengingat apa yang dilaluinya.
Ada apa sih dengan sekolah? Mengapa banyak orang jenuh dan penat bersekolah? Tempat yang katanya bakal membuat pintar dengan jejalan ilmu bergizi mengenyangkan? Masa di mana manusia belajar berinteraksi secara sosial?
Satu, ia masuk ke sekolah yang tak sesuai keinginannya. Dua, ada mata pelajaran atau mata kuliah yang tak disenanginya. Tiga, sekolahnya benar sesuai keinginannya namun tak didapat interaksi sosial yang diinginkannya. Empat, beban target yang membuat kewalahan. Lima, ilmu yang didapat tak pernah memuaskan rasa ingin tahunya yang justru banyak dipuaskan di luar sekolah.
Waktu SMA, saya termasuk yang kedua dan ketiga. Masuk kuliah, berganti termasuk yang kelima. Yah...-sekolah tak selalu menyenangkan, memang. Apalagi persaingan masuk kuliah, duh. Seperti berusaha lolos dari lubang jarum demi masuk kampus ternama. Padahal menurut saya, yang harus dilihat adalah akreditasi, daftar pengajar dan fasilitas dari fakultas atau jurusan yang dituju. Ketika berhasil lolos dari lubang jarum, mereka lupa bahwa kuliah adalah sekolah yang memiliki target lebih berat dibanding sekolah menengah. Kuliah dijalani setengah-setengah, tak sedikit yang gugur di tahun pertama. Bukan dengan alasan biaya, melainkan karena malas dan tak ada lagi niat meneruskan. Namun lucunya, banyak di antara mereka yang justru sukses di bidangnya. Hingga banyak yang berucap dan muncullah jargon berikut, “Buat apa sekolah? Ujung-ujungnya kamu kasih makan sarjana kok!”
Benar, Bill Gates dan Mark Zuckerberg mangkir dari Harvard dan nyatanya justru menjadi orang superkaya dengan korporasi teknologinya. Namun patut diingat bahwa Donald Trump, lulus dari Wharton School of the University of Pennsylvania dan kini menjadi pebisnis kaya raya dengan hidup serba mewah. Hilary Hahn lulus dari Curtis Institute of Music dengan gelar Bachelor of Music dan memantapkan reputasinya sebagai violinist solo dengan pertunjukan rutin di Amerika dan Eropa. Bertolak belakang, namun sama-sama sukses.
Maka, apa yang membedakan?
Gates dan Zuckerberg sampai lupa kuliah saking fokus mengembangkan proyek mereka. Trump dan Hahn bersemangat sekolah saking fokus mengembangkan diri dan kemajuan mereka, ada yang mereka kejar dari pengalaman bersekolah.
Atas: Bill Gates dan Mark Zuckerberg. Bawah: Donald Trump dan Hilary Hahn.
Belajar memang bisa di mana saja, bahkan bisa belajar sendiri. Contoh kecil saja, sesungguhnya dosen saya tak pernah memberi pelajaran secara rinci. Yang ada, bahan diberikan, saya berlatih kemudian menemukan kesulitan, dan kesulitan itu yang dibahas bersama pengajar untuk dicari solusinya.
Pada titik kesulitan ini, bila belajar sendiri, mungkin bisa menemukan solusi. Solusi untuk diri sendiri. Namun bisakah metode solusi itu dibagikan kepada orang lain? Setidaknya...-ketika kamu tahu seseorang kesulitan dan kamu berniat membantunya?
Pengajar tak selalu bisa memuaskan keingintahuan yang kadang melompat tinggi, walau kasarnya delapanpuluh lima persen jawaban dan solusi memang datang dari pengajar. Sisanya? Hasil diskusi dan pertolongan teman sejawat, atau rekomendasi dari pengajar untuk bisa belajar ke tutor yang lebih baik! Ini adalah fungsi sekolah yang lain. Bertemu relasi, sama-sama mengembangkan diri dan berbagi pengetahuan serta beragam tips. Saling memberi sudut pandang baru akan sesuatu, bertemu teman sepaham.
Minimal, begini. Ketika ada mentor atau pengajar, kamu tahu ke mana harus bertanya dan mendapat referensi untuk suatu hal. Apa yang harus disiapkan sebelum benar-benar terjun ke lapangan. Mengembangkan diri dengan banyak masukan dan saran dari yang telah lama melintang dan paham akan bidang tersebut.
Sedikit gambaran. Calon pastor, rahib dan pendeta wajib menjalani pendidikan teologi dan filsafat sebagai bekal pemahaman spiritualitas mereka. Begitupun calon khatib dan pemuka agama lainnya. Bahkan sampai susah payah institusi mencarikan beasiswa dan biaya bagi para calon ini agar dapat menjadi pelayan iman yang berkualitas, berilmu dalam namun tetap rendah hati dan terbuka terhadap perubahan. Ini tidak mudah. Tanya saja pada calon santri dan calon pastor bagaimana mereka harus bisa meredam diri dari dunia luar sembari tetap menghadapi perubahan dengan kepala dingin. Bila mereka merasa bimbang atau ada yang tak dimengerti, selalu ada pendamping yang bisa ditemui baik di biara maupun di sekolah. Bahkan untuk menjadi biarawati, disarankan untuk menyelesaikan kuliah lebih dahulu! Supaya puas menyerap ilmu sedalam-dalamnya, paham akan problematik yang dihadapi dan dapat menemukan trik aplikatif untuk menyelesaikan masalah.
Fungsi sekolah yang lain adalah jalinan koneksi. Bila kamu memang ‘bersinar’ dan berpotensi, bukan tak mungkin pengajar akan merekomendasikan namamu untuk beragam kegiatan baik di dalam maupun luar institusi. Pengajar akan melihatmu dan tak sungkan menyebut namamu bila butuh siswa yang bisa diandalkan. Pertemanan dan persahabatan juga dibangun dari sini. Teman palsu pun setia bisa ditemui, dengan berbagai macam pelajaran sosial tentang interaksi sebab berjumpa hampir setiap hari. Kerja sama di masa depan sangat mudah dibangun dari dasar pertemanan ini.
Yang sesungguhnya juga menjadi pelajaran berharga adalah belajar terbiasa dengan segala tugas dan tanggung jawab, bergerak sigap dan memiliki inisiatif. Bahwa orangtua paling berperan menanamkan nilai-nilai baik, itu benar. Tapi kadang kita membangkang dan sekolah adalah sarana tepat untuk aplikasi nilai yang telah ditanamkan orangtua, sebab disiplinnya lebih ketat dibanding aturan rumah!
Ini yang saya rasakan saat menempuh pendidikan menengah selama enam tahun di sebuah sekolah Katolik terkenal dengan reputasi baik di Indonesia.
Sekolah dasar dan menengah - terutama menengah atas - adalah sarana ‘empuk’ pembentukan karakter ini. Wajar saja, mana ada sekolah Katolik yang tak dikenal akan disiplinnya? Nyaris tak ada celah untuk melanggar peraturan yang sudah ditetapkan. Hasilnya kami para pelajarnya terbiasa putar otak, mencari celah secara cerdas untuk bisa melonggarkan peraturan dengan cara kami sendiri. Tanpa perlu konfrontasi dengan pihak sekolah! Tidak untuk curang, hanya menjadi ‘merdeka’.
Ketika kuliah, karakter ini sudah terbawa dan terbentuk dengan sendirinya. Ditambah dengan pelajaran bahwa penolakan dan koreksi tajam serta kritik pedas bisa mampir kapan saja tanpa diundang. Tak percaya? Tanya pada mahasiswa yang tengah mengerjakan tugas akhir semester atau skripsinya. Berapa kali mereka harus mengulang tulisan yang dikembalikan dengan aneka coretan indah dari dosen pembimbing atau bolak-balik konsultasi sebab ada saja yang tak dimengerti? Berapa saja presentasi atau tugas yang diberi nilai minim sebab tak dianggap sesuai topik?
Belajar di sekolah memang membutuhkan biaya tak sedikit. Tanyalah pada pelajar kedokteran yang sampai tak tega melihat pengeluaran besar orangtua demi sekolah mereka, pelajar musik yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi investasi instrumen tercinta dan resital yang memusingkan, pelajar mode yang pontang-panting merancang pakaian dan merinci pengeluaran untuk peragaan akhir tahunnya, pelajar bisnis yang menelan kerugian puluhan juta ketika gagal menjalankan proyek untuk membuat usaha dari kampus, pelajar teknik yang sibuk berburu komponen biarpun harga selangit atau pelajar sastra yang terpaksa berburu buku asli sampai ke luar negeri demi mendapat referensi. Dan saya yakin pelajar di semua jurusan pasti mengalami momen di mana mereka membelalak keheranan melihat jumlah biaya yang harus dibayar. Tak ada yang gratis dan semua harus dijalani!
Tapi bila senang, biaya sebesar apapun, waktu tersita seberapapun dan tenaga yang terkuras tak akan pernah terasa sebagai beban. Orang bersedia pergi jauh dari rumah bahkan berkonfrontasi dengan orangtua demi sekolah yang diinginkan. Betul bahwa tempat les atau kursus singkat sekalipun menyediakannya, namun itu adalah gerbang masuk menuju hal yang lebih dalam. Sekolah adalah tempat menggali lubang minat yang sudah ada, tinggal ekskavasi dan eksekusi yang lebih rinci. Orang rela masuk ke sekolah-sekolah bergengsi demi - terus terang saja - status pelajar tinggi yang memang membawa harkat tersendiri. Orang bersedia keluar uang lebih untuk menempuh pendidikan sampai jenjang yang ia mampu lewati, berkompetisi memenangkan beasiswa sampai luar negeri demi ilmu dan pengalaman hidup yang berharga. Bahkan banyak yang rela menyisihkan waktu untuk masuk kelas ekstensi, seolah belum lelah menabur peluh di tempat kerja. Dan ini penting: sekolah mengajari kami untuk menjadi asli, memiliki tutur kata dan sikap yang baik serta trik untuk elaborasi topik secara elegan dan mendidik. Bahkan kami dituntut untuk bisa melawan argumen yang dianggap invalid secara halus namun tepat sasaran. Kami juga diminta untuk dapat bekerja dengan baik baik sebagai individu maupun tim, dalam tugas maupun kegiatan sekolah.
Sekolah, bukan hanya tempat belajar.
Ia juga wadah mengembangkan diri sebaik-baiknya sebelum benar terjun untuk aktualisasi diri.
Tempat simulasi dan konsultasi dengan yang sudah ahli.
Kami, para pelajar selalu diberi kesempatan untuk memperbaiki.
Mengulang lagi dan menabahkan hati.
Meresapi pengalaman belajar bersama yang membentuk pribadi.
09.08.’15
Belajar sendiri itu baik, namun sekolah akan mengarahkan belajar itu hingga tak tersesat dan mendapat arah kesimpulan yang tak bertele-tele dari subyek. Minimal, dapat teman sepaham dan mengenal alumni yang bisa diajak diskusi. Jadi, belajarlah. Bersekolahlah. Bila memang butuh bimbingan demi kemampuan yang lebih baik, mengapa tidak? Cakrawala baru telah menanti untuk berpadu dengan daya pikirmu!