Debu Pasir dari Pulau Bangka (III).
Mentari perlahan naik menyinari dunia kecil Pantai Parai Tenggiri.
Cahayanya menyelusup masuk, menyentil centil dari tirai kamar kami.
Kini kalender telah berganti menjadi duapuluhtiga Juni.
Pertanda petualangan hari ketiga dan terakhir telah menanti!
Jadi, mari kita sejenak menikmati mentari pagi yang menyusup lewat jendela pagi ini. Sinarnya pasti menggelitik para anak yang sudah berhamburan ke pantai menghirup udara pagi dengan angin semilir. Ada yang duduk-duduk, sekadar jalan-jalan, ada pula yang lena memandang kaki masing-masing. Dibelai lembut oleh ombak dan terkubur pasir yang terbawa air. Dari ketiga anggota kamar, hanya saya yang bangun terlambat pukul setengah enam. Widha dan Bu Muji sudah terjaga sejak pukul lima pagi! Beruntung masih bisa melihat surya naik dari peraduannya. Bola jingga raksasa panas yang menggantung di angkasa. Kuasa siapa yang sebesar itu sampai bisa menahannya selain Sang Empunya Semesta?
Mentari yang menyusup di balik tirai jendela kami. Selamat pagi!
“Halo, Bumi. Senang bisa berjumpa kembali! Moga tidurmu nyenyak semalam tadi!” sapa Matahari kepada Bumi.
Dengan waktu bangun yang sepagi itu, kami semua masih punya waktu untuk membereskan pakaian dan memasukkan seluruh barang kami ke dalam tas masing-masing. Saya - yang memang malas mandi - memutuskan untuk membereskan barang lebih dulu, baru kemudian mandi dan sarapan.
Usai mandi dan beberes, saya sarapan di restoran hotel kemudian mengikuti misa pagi pukul 8.30 yang dipimpin oleh Pater Dedie, OFM. Misa ini juga sebagai misa penutup acara jalan-jalan kami di Bangka. Sedih sebab rasanya seperti baru kemarin mendarat dan memulai petualangan ini. Tapi, selalu ada perpisahan di tiap perjumpaan! Maka sebelum berpisah pada pantai cantik Parai Tenggiri, foto bersama adalah wajib hukumnya. Satu, dua, tiga, cheese!
Dari kiri ke kanan: Rahul, Aldi, saya, Willy dan Marcel. Perhatikan, kami sudah lebih gelap dua tingkat dibanding saat pertama datang!
Usai kegiatan foto bersama, kami semua segera naik ke bus dan kembali berpetualang! Tujuan pertama kami hari itu adalah Puri Tri Agung. Ini adalah tempat peribadatan mix Buddha, Konfusianis dan Taois. Bagi yang belum tahu, Konfusius adalah peletak landasan ajaran yang disebut Konghucu di Indonesia. Letaknya di pinggir Pantai Tikus. Sesuai keterangan dari Lina - tour guide kami - masyarakat menyebutnya Pantai Tikus sebab memiliki jalan kecil untuk akses ke pantai dan sayangnya memiliki citra kurang baik sebab sering digunakan orang muda untuk bermesraan. Dengan adanya Puri Tri Agung, nama pantai akan diubah menjadi Pantai Nirwana. Harapannya citra akan membaik dan tak lagi ada persepsi negatif. Rencananya wilayah ini akan dibuat menjadi kompleks peribadatan. Mungkin akan mirip seperti yang ada di Bali maupun di Manado ya.
Puri Tri Agung dengan tangga masuknya.
Yang baru berdiri di tempat ini adalah Puri Tri Agung. Tempatnya cantik dengan warna merah mendominasi. Pintu masuk puri menghadap langsung ke laut lepas. Benar-benar pemandangan yang menyegarkan mata! Sayangnya tak bisa memotret di dalam puri sebab ada larangan untuk berfoto. Namun tak apa, barangkali ini untuk menjaga suasana khusyuk dan tenang di dalamnya.
Laut lepas yang langsung terlihat di luar pintu puri.
Berhubung tak ada foto interior dalam puri, maka saya tuliskan selengkap dan sedetil mungkin yang bisa diingat dalam kenangan. Maka beginilah catatannya. Di dalam puri terdapat pilar-pilar silinder yang menyangga bangunan, berwarna merah terang. Puri terdiri dari tiga lantai dan hanya tingkat pertama yang dibuka untuk umum. Saat masuk, kami langsung bisa melihat tiga patung besar Konfusius, Buddha dan Tao diletakkan saling bersebelahan. Ada altar tempat menaruh dupa dan persembahan di depan patung. Langit-langitnya berbentuk kubah dengan lukisan naga liong bercakar empat bersaput awan. Di balok-balok penyangga yang melintang vertikal menghubungkan dinding dan lantai kedua, terdapat embos para dewa dan dewi, teratai dan yin yang.
Dipikir-pikir, mengapa sih harus teratai?
Rupanya teratai adalah simbol keseimbangan dan penguasaan diri. Bagi yang senang menonton film atau serial bertema legenda Tiongkok, pasti langsung mengenalinya sebagai kendaraan Dewi Kwan Im. Yang bisa mengendarai teratai adalah mereka yang memiliki keseimbangan tinggi dan penguasaan emosi serta sikap yang baik. Ia juga pasti tenang dan tak mudah tersulut api. Betapa menariknya! Yang tak kalah menarik adalah konsep bahwa dalam yin yang, semua manusia selalu punya noktah hitam dalam putih dan noktah putih dalam hitam. Tak ada yang luput dari keburukan, pun semua punya kebaikan dalam dirinya. Keseimbangan menjadi kata kunci.
Berkunjung ke tempat yang membuka wawasan memang menyenangkan. Puas melihat-lihat keadaan sekitar dan berfilosofi ria, kami kembali ke dalam bus dengan kepala bergizi dan hati senang. Kami akan melanjutkan perjalanan kami ke Bangka Botanical Garden!
Sudah duduk manis di bus, hawa panas ternyata masih terasa. Dan panas itu, membuat saya mengantuk. Maka sepanjang perjalanan dari Puri Tri Agung ke Bangka Botanical Garden, yang ada saya malah tertidur. Tahu-tahu sudah sampai! Bus parkir dan kami memasuki sebuah taman buatan yang dibangun oleh Bapak Johan, putra asli Bangka yang juga merupakan pengusaha. Pohon-pohon ditanam dan ditata rapi di sepanjang setapak. Namun tak seperti Bogor Botanical Garden, taman baru ini masih dalam pembangunan dan terus dirapikan. Yang mengesankan adalah peternakan sapinya! Baru kali ini saya melihat sapi dari jarak dekat. Eh...-lucu juga ya ternyata hihihi. Seperti semua anjing peliharaan saya, ternyata sapi-sapi ini sungguh kenes dan centil. Mereka seperti sadar tengah dipotret, alhasil posenya jadi lucu!
“Pssst, kita lagi dipotret oleh si Mbak ini. Ayo bergaya!” bisik Sapi di sebelah kiri kepada Sapi di sebelah kanan.
Setelah berkeliling melihat-lihat para sapi usai, kami memutuskan untuk berfoto sejenak di jalan setapak dengan pohon pinus yang ditanam berderet di kedua sisi jalan. Seperti di Korea! Tak cuma saya yang suka berfoto, rupanya Bruder Trimur, OFM juga senang berpotret! He he he.
Di jalan setapak Bangka Botanical Garden. Dipotret oleh Ayu (nama panggilan untuk perempuan di Bangka) Anna.
Br. Trimur, OFM yang tengah berpotret sendiri menggunakan tripod, dipotret oleh Mas Wahyu dan dipotret lagi oleh saya (sudah bingungkah Anda?)
Usai berfoto-foto ria, kami melanjutkan perjalanan untuk makan siang! Makan siang kali ini adalah di Restoran Aroma Laut, Pantai Pasir Padi. Restoran ini unik karena dibangun di atas kapal yang dipancangkan di pasir padat. Kami bisa berfoto di geladaknya sembari memandang pantai berkontur padat dengan laut yang berada jauh di tengah-tengahnya.
Para pengajar ekskul berfoto bersama di geladak restoran. Baris belakang: Ibu Anita (Keterampilan Tangan), Widha (Jurnalistik), Pak Chandra (Tae Kwon Do) dan Ibu Ami (psikolog anak-anak). Baris depan: Mas Wahyu (Fotografi), Ibu Anis (Angklung dan Kolintang), saya (Violin), Jay (Gitar) dan istri dari Pak Chandra. Beliau juga mengajar bersama suami. Iya, saya paling kecil tubuhnya he he he.
Jadi, apa saja yang kami santap siang itu? Hm, mari mengingat-ingat. Ada ikan bakar kecap, tumis kangkung, ayam lada hitam namun yang paling sedap adalah Gulai Ikan Tenggiri dengan Nanas. Sedapnya bumbu gulai bercampur asam nanas. Disantap dengan nasi dan sambal di tengah hari yang panas, aduh nikmatnya. Pas! Usai makan siang, kelapa muda disajikan. Segarnya bukan tandingan. Menyenangkan!
Pater Dedie, OFM saat membantu seorang anak mengeruk daging kelapanya.
Widha dan saya bersama Ibu Muji, berfoto bersama seusai makan.
Selesai makan dan perut kenyang, kami pun beranjak ke Museum Timah Indonesia! Museum ini terletak di kota Pangkal Pinang, berisi sejarah pertambangan timah. Terletak di dekat kantor pusat PT Timah Indonesia, rumah dinas direksi, rumah sakit PT Timah, mess para pegawai dan tak terlalu jauh dari pelabuhan Pangkal Balam. Bagaimana awal ditemukannya timah, alat apa saja yang digunakan, kapal apa saja yang digunakan untuk mengapalkan timah dan lain sebagainya ada semua di museum ini. Menariknya, timah ternyata telah digali sejak masa kerajaan Sriwijaya dan merupakan upeti kepada Raja! Dan oh, mengapa dulu banyak orang Tionghoa yang meninggali pulau Bangka?
Ceritanya begini. Tiongkok merupakan eksportir timah terbesar di dunia, namun mereka menambang dari berbagai tempat. Banyak orang Tionghoa berdatangan ke Sumatra sebab garis pantainya adalah jalur lalu lintas perdagangan, maka itu banyak yang kemudian menambang di Bangka dan tinggal di situ sampai berabad-abad. Sayang di tahun 1965 ketika komunis mulai diburu di Indonesia, masyarakat mulai diwajibkan untuk mencantumkan agama di KTP mereka dan mengubah nama menjadi nama khas Indonesia. Hal ini berimbas pada keturunan Tionghoa yang menolak mengubah namanya. Mereka dipulangkan besar-besaran ke Tiongkok, namun untungnya tak semua dipulangkan. Ini membuat populasi Tionghoa langsung anjlok, sehingga kini lebih banyak Melayu yang mendiami Bangka.
Di samping itu, penambangan timah terus dilanjutkan. Diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda, kemudian dinasionalisasikan kepada PN Timah (kini PT Timah Indonesia) selaku perusahaan nasional pertambangan dan pengolahan timah sampai sekarang. Namun sejauh ingatan saya (mohon dikoreksi bila tak tepat) beberapa tambang sudah ditutup dan sedang direvitalisasi. Kerusakan lingkungan tak dapat dihindari sebab pertambangan timah memang seperti ‘melubangi’ bumi. Harapan saya semoga revitalisasi ini berkelanjutan dan bumi tak terus menerus ‘disiksa’ tanpa upaya ‘penyembuhan’!
Yah, maaf fotonya miring...
Lokomotif kereta pengangkut timah di masa Hindia Belanda.
Sesi berjalan-jalan dan berkeliling di Museum Timah pun usai sudah. Jam sudah menunjuk pukul tiga sore, maka ini saatnya membeli oleh-oleh! Kami segera meluncur ke pusat oleh-oleh dan membeli beragam panganan dan buah tangan khas Bangka. Kerupuk kemplang, piang nanas dan kopi Bangka menjadi le prime donne sore itu. Usai membungkus semua oleh-oleh, kami semua segera kembali ke bus untuk mengejar pesawat pukul lima sore. Benar-benar mepet! Beruntung bahwa bandara Depati Amir terletak tak terlalu jauh dari tempat oleh-oleh. Kalau tidak...-barangkali kami sudah tertinggal pesawat!
Kami semua berhasil mengejar penerbangan dan tak ada yang tertinggal. Semua barang masuk ke bagasi dan tak tercecer. Pesawat lepas landas pukul lima lewat duapuluh lima menit menuju bandara internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng - Banten. Pulau Bangka terlihat makin mengerucut di belakang kami, berganti pemandangan menjadi laut lepas dan awan yang bergumpal-gumpal. Langit semakin gelap, dan matahari akhirnya terbenam. Beberapa penumpang akhirnya berbuka puasa dan tanpa terasa pesawat telah berada di atas Laut Jawa. Pelabuhan Tanjung Priuk dengan kapal-kapal dan jalanan kota Jakarta yang ruwet mulai terlihat. Lampu-lampu penghias kota semua menyala. Ini yang menjadi daya tarik Jakarta. Hidup yang tak ada matinya, jam berapapun ada saja kegiatannya. Ditandai dengan lampu jalan yang terus menyala sepanjang malam, membuat terang dan tak gelap gulita.
Kemudian pesawat mendarat. Tak terlalu mulus, memang. Entahlah. Mungkin pilotnya belum berbuka puasa. Hihihi.
Maka, tibalah kami di Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Kembali menaiki bus yang membawa kami pulang ke Vincentius Putra.
Di mana Ibu sudah menanti untuk menjemput saya.
Dan sudah tentu, bersama Bapak mendengar diri ini bercerita gembira.
Dan keheranan melihat kulit saya gosong semua!
03.07.’15
Jadi, ini adalah bagian akhir dari seri jurnal perjalanan ke Pulau Bangka. Semoga menikmati, dan jangan ragu mengeksplor keindahan negeri sendiri. Terimakasih untuk P.A Vincentius Putra yang telah mengundang kami, saya berpetualang bersama. Sang Empunya Semesta memberkatimu, selalu!