Pagi, Jogja
Jogja. Ramah, romantis, serta jalan-jalan yang tidak pernah sepi dari cerita orang-orang yang berlalu lalang melaluinya. Dan kini aku menjadi bagian dari kota dengan julukan ‘istimewa’ itu. Kali ini Jogja membwa sepenggal kisah berbeda, untukku tentu saja. Bukan kisah yang romantis, atau sendu lantaran patah hati, melainkan aku yang masuk dalam arus ketidak-pastian didalamnya. Kataklah aku terlalu berani untuk mengambil keputusan ini. Keputusan yang tidak mudah, bahkan terkesan nekad. Tapi mau dikata apa, aku saat ini sudah berada dalam keputusan itu. Aku sudah menjadi bagian diantara ratusan atau bahkan ribuan pendatang yang kini berada di bawah langit Jogja.
Untuk saat ini semua terlihat rumit, seperti halnya jalan kali urang yang tak aku pahami. Aku mencoba mengurai perlahan, satu per satu. Tapi jawaban masih sama aku masih terkurung dalam kamar sempit beratapkan asbes yang memaksaku harus menghidupkan kipas angin selama 24 jam. Beginilah hari-hari pertamaku di Jogja. Tanpa kepastian dengan sedikit banyak ketakutan.
Kemudian, hembusan-hembusan nafas berat keluar begitu saja dari mulutku. Disusul dengan berbagai pertanyaan atas keputusan yang telah aku buat. Benarkah? Atau justru keliru? Untuk saat ini, Jogja tidak semenyenangkan itu. nggak tau esok. Semoga ini hanya sementara dan memang harus sementara kan? Aku ini menjadi bagian dari jogja yang menyenangkan.
100218









