Kamu apa kabar?
Disini hujan, dan aku baik2 saja. 😊
Yogyakarta, 17 Maret 2019

祝日 / Permanent Vacation
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Keni
Stranger Things
occasionally subtle

Discoholic 🪩
Show & Tell
DEAR READER

JBB: An Artblog!
dirt enthusiast
No title available
Cosimo Galluzzi
styofa doing anything
almost home
Peter Solarz

★
Xuebing Du
RMH
YOU ARE THE REASON
Lint Roller? I Barely Know Her

seen from Italy

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Singapore

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Taiwan
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Italy
seen from China
seen from Malaysia
@aklentingkuning
Kamu apa kabar?
Disini hujan, dan aku baik2 saja. 😊
Yogyakarta, 17 Maret 2019
Kemudian, Dia pergi
Nyatanya laki-laki itu pergi. Aku sudah bilang dari awal, aku meragukannya. Aku bahkan tidak menyukainya. Dia bahkan tidak ada dalam kriteriaku
Tapi dia menyanyagi ibunya. Dia patuh dan teramat menghargainya. Aku mulai membujuk hatiku.
Aku mulai bisa belajar untuk menerimanya. Aku mulai membayangkan masa depan bersamanya.
Lalu, setelah itu semua. Setelah aku terbiasa dengan hadirnya. Dia katakan tidak bisa. Begitu saja. Kemudian, Dia pergi.
Yogyakarta, 13 Maret 2019
Aku, Bisa
Ini tidak mudah. Tapi bukan berarti aku menyerah begitu saja. Aku akan berjuang, berikhtiar semaksimal mungkin disertai dengan lantunan doa yang senantiasa terucap. Selnajutnya, aku memasrahkan kepada Allah. Aku kerjakan bagian yang bisa aku lakukan, selebihnya aku percayakan kepada Allah. Ya, tidak ada yang mustahil dihadapan-Nya. Bismillah. la hawla wala quwwata illa billah. Hasbiallah. hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir..
Nanti, aku akan ceritakan semuanya. Nanti.
Aku pasrah.
"Kamu tau kenapa kita tidak bersatu?"
"Karena jarak. Kita kalah dengan itu"
"Ya Jarak. Tapi sungguh bukan itu. Bukan karena itu."
"Lalu?"
"Alasan satu2nya karena Allah tidak menghendaki kita bersama. Itu satu2nya alasan mutlak. Dan kamu tau. Aku ridlo dengan itu. Jadi jangan pernah menyesali apapun."
-Yogyakarta, 29 Januari 2019-
Satu Babak Telah Usai
Kita memilih untuk mengakhiri ini dengan baik-baik. Kita sama-sama memperjuangkan yang menjadi milik kita. Dan nyatanya apa yang kita perjuangkan, tidak pernah sejalan.
Mungkin begitulah, cara Allah menunjukan saat dua orang tidak ditakdirkan untuk bersama. Sebetunya ini tidak terlalu sulit, tapi tidak mudah juga tentunya. Aku telah berupaya menata hatiku. Selalu berperasangka baik. Apapun yang terjadi.
Aku berharap, Allah memberikan kisah bahagia setelah ini. Aamiin.
-Yogyakarta, 27 Januari 2019-
Dear my future husband
Setelah menikah nanti, kamu harus tetap berbakti pada ibumu. Karena apa? surgaku ada padamu. Sementara surgamu ada dibawah telapak kaki ibumu.
Bagaimana mungkin aku mengharap surga, dari seseorang yang tidak memperoleh surga dari bakti pada ibunya?
Salah satu cara untuk meredam rasa cinta yang salah adalah dengan menikah. Doakan. Tahun ini, tahun 2019 saya menikah.
Kemudian Dia Datang
Adalah laki-laki tak tak pernah aku kenal sebelumnya. Adalah laku-laki yang tak pernah ku lihat rupaya secara langsung. Adalah dia yang kemudian menawarkan untuk memulai kehidupan baru bersamanya. Melalui sebuah perkenalan, kemudian CV oleh seorang perantara yang aku kenal baik sebelumnya. Terkadang hatiku seolah yakin, tapi kemudan ragu. Benarkah dia orangnya? Benarkah aku bisa berdampingan dengannya? Kemudan perkara jarak menjadi sebuah permasalahan dalam benakku sendiri. Aku dengan Jogja, dia dengan pekerjaannya di tempat kelahiranku. Lalu bagaimana mana selanjutnya? Aku pasrah.
Aku dan Bimbang
Yogyakarta, 2 Januari 2019
2018 telah berlalu dan banyak sekali menyisakan kejadian yang patut untuk aku syukuri. Betapa Allah menunjukan beribu jalan kebaikan untukku. Ya, kekhawatiran yang aku takutkan sebelumnya Allah jawab dengan sesuatu yang menakjubkan. Di awal tahun 2018, aku sempat bimbang terkait pelaksanaan PPG yang nantinya akan bebarengan dengan pelaksanaan S2. Tapi nyatanya Allah banyak memberikan kekuatan. Aku mampu melewati itu semua, dan kemarin 31 Desember 2018 kami peserta PPG prajabatan secara resmi di lepas oleh pihak UNY. Lalu bagaimana dengan S2? Alhamdulillah aku memperoleh teman satu kelas yang luar biasa keren tapi sama sekali tidak sok keren. Di S2 aku banyak memperoleh hal baru. Ilmu, perjuangan, dan sikap tawadhu yang ditunjukan beberapa dosen yang menginspirasi. Alhamdulillah aku mampu menyelesaikan tugas-tugas dengan baik. Dan saat ini tengah dilaksanakan UAS. Banyak sekali tugas, berhari-hari didepan leptop tapi tugas tak kunjung selesai. Tapi ya disyukuri. Bukankan ini jalan yang kamu pilih? So, hadapi.
Dan tahukah, aku ikut pendaftaran CPNS di Sleman. Setelah menempuh beberapa seleksi dari admisitrasi, SKD hingga SKB aku dinyatakan lulus sebagai CPNS. Bahagia? Ya tentu aku bersyukur. Orang tuaku bahkan sangat bahagia mendapat kabar ini.
Tapi kemudian, bagaimana dengan kuliahku? Bagaimana dengan LPDP? Tentunya sebelum aku mendaftar CPNS, Lurah LPDP menginformasikan bahwa kami diijinkan untuk mendaftar CPNS. Karena ada kontrak yang harus aku lunasi, maka aku mendaftar CPNS di Sleman.
Dan setelah aku dinyatakan diterima. Ada sedikit kebimbangan yang menyusup dalam hati. Aku mendandatangi kontrak untuk tidak mengajukan pindah selama 10 tahun. Ya. 10 tahun aku harus tingga di Sleman. Sementara kedua orang tuaku ada di Banyumas. Kemudian, aku menjadi tak seyakin itu. Benarkah jalan yang aku tempuh? Benarkah pilihan yang aku ambil? Tidak salahkah apa yang aku lakukan?
Tapi sungguh, dalam pengambilan keputusan ini. Aku telah berupaya memikirkan matang-matang. Memperhitungkan segala konsekuensinya dan pastinya beristikharah meminta petunjuk kepada Allah. Hingga kemudian semua terjadi dan menjadi sebuah takdir yang sudah berada didepan mata. Aku CPNS di pemerintah Kabupaten Sleman, DIY.
Ya Allah, selamatkan aku (lagi). Bantu aku melewati ini. Aku takut. Aku khawatir.
Mudahkan langkahku, yakinkan aku bahwa aku mampu melewati ini. Lembutkan hati mereka wahai Allah, sehingga aku bisa berjalan beriringan tanpa harus saling melepaskan. Bantu aku menggenggam keduanya, tanpa harus kehilangan salah satu diantaranya. Maaf aku Allah, jika aku egois atau banyak meminta. Tapi hanya Engkauah satu-satunya pemberi pertolonggan, pemberi pertolongan yang terbaik.
Saya tidak tahu
Saya tahu, kamu tahu. Namun pada akhirnya kita harus patuh pada takdir yang telah tertulis jauh bahkan sebelum kita membuka mata mengenal dunia.
Saya tidak tahu, kamu tak tahu. Ini pun tak apa, karena semesta punya carannya sendiri. Entah membuat kita untuk saling tahu, atau justru membiarkan begitu saja tanpa saling tahu, hingga pada akhirnya kita saling melupakan.
Saya tahu, kamu tak tahu. Ini selalu menjadi bagian yang sulit. Mencoba mendekat namun takut. Mencoba memahami tapi merasa tak dibutuhkan Pada pada akhirnya, aku menjadi seseorang yang penuh prasangka. Menganggap diri tak mampu, untuk kemudian mundur secara perlahan. Iya kalo kamu tahu pada akhirnya, kalaupun tidak .. aku selalu percaya memang seperti itu seharusnya.
Saya tidak tahu, Kamu tahu. Kalau seperti ini? Saya tidak tahu. heheh
Puncak itu Jauh Namun Dekat
Puncak itu jauh, namun dekat.
Seperti halnya impian. Ia bisa menjadi sangat jauh bahkan seakan mustahil untuk di rengkuh. Sampai akhirnya ia berada teramat dekat saat kita benar-benar memperjuangkannya. Pagi itu aku menjejakan kaki di gunung Bormo. Dan kamu tahu Bromo adalah salah satu tempat yang menadi tujuan dalam wish list aku. Ya! Allah make it happen.
Masya Allah, indah ya!
Dan yang menajadi tantangan adalah mengunjungi bagian kawahnya. Ya kau lihat bukit yang ada asap-asapnya. Disitulah tujuannya dan saya ada dibawah didaerah berpasir. Omaigad, it’s so sooo far. Kayanya, bakal capek dan rasanya pengin nyerah ajaa, udah deh selonjoran aja di pasir nggak usah ke kawah -_-Tapi tentu saja, bukan aku kalo nggak penasaran dan nyerah gitu aja. Haha nyerah gitu aja? Itu si bukan aku. Hoho *sedikit sombong yes. Akhinya dari kami bersembilan (ya aku nggak sendirian dong nge-tripnya aku pergi ber-9 dengan sahabat ciwi yang terunch haha) hanya empat yang memutuskan untuk naik melihat kawah. Dan jeng-jeng ternyata emang bener broh jauh, mendaki dan aku kehausan karena nggak bawa minum wkwk
Yash! Itu jalan yang harus kami lewati, selain jalan yang menanjak ternyata tantangan berikutnya adalah berdesakan dengan penngunjung lain di area tangga menuju kawah. Yes! bukan hanya jalanan kota kata yang padet, jalan meuju punjak juga nggak kalah padatnya. Dan setelah perjuangan yang cukup berat (alaah ini si aku aja), akhirnya sampailah kami di kawah yeay! Alhamdulillah...
padahal pengin banget foto yang bagus nan kece, tapi karena bannyak orang dan takut juga tergelincir jadilah hanya beberapa foto yang bisa diabadikan. Tapi tak masalah, yang paling penting sudah diabadikan di hati dan pikiran hehe
Jadi apa hikmah yang bisa diambil? Semua pasti sudah bisa ambil kesimpulan kan? Kalau buat aku, tipe orang yang bahkan nggak bisa dapet hanya sekedar panyung saat undian jalan sehat; semua hal butuh yang namanya perjuangan. Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba datang ke tangan.
Dan untuk menggapai semua itu butuh yang namanya proses. Kita tidak bisa mendapatkan secara instan begitu aja. Putuh proses dan perjuangan panjang. Seperti halnya saat mendaki menuju kawah. Dari mulai jalan berpasir, dilanjutkan jalan menanjak hingga tangga yang terdiri ratusan anak tangga, semua harus dilalui jika kita memang benar-benar ingin sampai di puncak.
Lelah pasti, tapi apa ada perjuangan yang berjalan dengan mulus-mulus saja? Semua pasti ada rintangannya. Tapi bukan berarti mustahil untuk dilalui. Aku selalu yakin, seberat apapun rintangannya, seterjal apapun jalan yang harus dilewati, asalkan dihati kita ada keyakinan yang teramat kuat kepada sang Pencipta semua pasti bisa terlewati.
Satu lagi ajak sahabatmu untuk bepetualang bersama. Ya bersama mereka semua terasa ringan apalagi kalau sama sahabat (hidup), haha tapi masih soon ya! Doakan.*teteup
Pagi, Jogja
Jogja. Ramah, romantis, serta jalan-jalan yang tidak pernah sepi dari cerita orang-orang yang berlalu lalang melaluinya. Dan kini aku menjadi bagian dari kota dengan julukan ‘istimewa’ itu. Kali ini Jogja membwa sepenggal kisah berbeda, untukku tentu saja. Bukan kisah yang romantis, atau sendu lantaran patah hati, melainkan aku yang masuk dalam arus ketidak-pastian didalamnya. Kataklah aku terlalu berani untuk mengambil keputusan ini. Keputusan yang tidak mudah, bahkan terkesan nekad. Tapi mau dikata apa, aku saat ini sudah berada dalam keputusan itu. Aku sudah menjadi bagian diantara ratusan atau bahkan ribuan pendatang yang kini berada di bawah langit Jogja.
Untuk saat ini semua terlihat rumit, seperti halnya jalan kali urang yang tak aku pahami. Aku mencoba mengurai perlahan, satu per satu. Tapi jawaban masih sama aku masih terkurung dalam kamar sempit beratapkan asbes yang memaksaku harus menghidupkan kipas angin selama 24 jam. Beginilah hari-hari pertamaku di Jogja. Tanpa kepastian dengan sedikit banyak ketakutan.
Kemudian, hembusan-hembusan nafas berat keluar begitu saja dari mulutku. Disusul dengan berbagai pertanyaan atas keputusan yang telah aku buat. Benarkah? Atau justru keliru? Untuk saat ini, Jogja tidak semenyenangkan itu. nggak tau esok. Semoga ini hanya sementara dan memang harus sementara kan? Aku ini menjadi bagian dari jogja yang menyenangkan.
100218
Rindu.
Kamu pernah tidak, merasa rindu tapi tidak tahu kepada siapa rindu itu tertuju.
Rindu itu begitu saja menyusup, melahirkan kebimbangan, juga helaan nafas panjang.
Aku hanya rindu.
Meski entah kepada siapa.
Meski tidak ada alasan kenapa.
Meski tidak tahu kapan berakhirnya.
.
Kalau sudah ada kamu apa rindu ini akan berakhir?
Atau justru kamu yang akan menjadi sebab atas rindu-ku yang tak akan berusai?
Enah kenapa, bahkan untuk sekedar menyebut namamu dalam doaku pun aku tak berani. Sungguh, bukan karena tiadanya rasa dalam hati melainkan atas keraguan. Ragu. Apa benar kamu yang diciptakan Allah untuk mendampingi hidupku? Aku hanya melindungi diri dari harapan-harapan itu. Iya kalau benar itu kamu. Jika bukan, bukankah sekecil apapun pasti akan terselip rasa kecewa? Dan aku tidak ingin menyambut siapapun ‘dia’ yang Allah kirimkan untukku dengan perasaan kecewa, sekecil apapun itu. . Maka dari itu aku hanya meminta yang terbaik. Siapapun dia. Bukankah Allah selalu begitu? Memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya :)
#siapapunkamu
Perihal ‘Tindakan’
Ada beberapa orang yang mungkin ditakdirkan ‘bermulut manis’ jago bertutur kata, pandai meyakinkan, hingga mampu membuat hati luluh lewat tutur kata. Sementara itu, ada juga sebagian dari mereka yang mungkin terlalu lugu entah naif hingga dengan mudah terpedaya dengan si ‘mulut manis’ itu.
Kalau kamu termasuk mana? Semoga tidak kedua-nya ya! Ah tidak apa sebenarnya bermulut manis, asal disertai tindakan yang nyata juga tentunya.
u �Ft�F�Ը