Cerita Rumah Sakit
Eps. (Diagnosa)
By: Bintazii
Saat kamis itu Jica usai dioperasi menanyakan beberapa hal pada ayahnya “Yah.. kata dokternya tadi apa?pas udah operasi?” “Katanya ada kantung nanah yang harus diangkut dan dagingnya emg over” “Penyebabnya?” “Belum tau tapi ada diagnosa diliat dari thorax ada kemungkinan TBC tulang. Minggu dpan baru keluar hasil lab” “Ooh”
Sebetulnya jika mau dijadikan cerita sedih pun bisa tapi karena itu baru diagnosa ya Jica banyakin doa agar diagnosa itu salah dan ketentuan Allah yang membenarkan.
Tiga hari sesudahnya mama pun bertanya “Ca sedih ga di diagnosa TBC?” “Sedih sih ma tapi apa harus dengan nangis ditunjukin?” Padahal dalam hati Jica tau banget kalo udah keliatan nangis dibilangnya cengeng, klo ngeluh dibilang kayak orang tua.. hah jadi dia lebih suka nangis pas mandi atau solat aja. Klo pas mandi gaakan keliatan klo mata merah klo pas sholat biarlah Allah yang tahu saja.
Seminggu kemudian diantar ayah menuju RS Jempol yang dibalut perban seminggu yang lalu dekil dan harus diganti dibuka perih dan linunya. Pas dibuka, jaitannya masih sama, yang berubah jarinya berwarna ungu dites apakah masih aman atau tidak dengan disedot warnanya berbeda ataukah tidak dan ternyata aman. Kini tidak ditanya lagi “Berani kesini sendiri?” Karna udah ada ayah yg mengantar. Lalu Dokter pun menjelaskan Dengan hati deg-degan “ternyata berbeda dengan diagnosa saya” Nafas panjang “alhamdulillah” *dalam hati “Tapi… tumor jinak” Langsung *Innalillahi “InshaAllah bakal susah tumbuh kalau suka di perban dan jangan dipake kegiatan” *lah kan Jica kidal begimana kumaha coba.
Jadi, memang benar diagnosa manusia tidak seutuhnya benar dan kita sebagai manusia harus menerima qodar yang Allah kasih. Mungkin ini cobaan. Selalu ingat “setelah kesulitan akan ada kemudahan”















