Liputan ini digunakan sebagai konten di blog radio BPRS ERAFM UNJ bulan November 2018.
Edufriend, pernah enggak membayangkan punya usaha tur yang menawarkan paket liburan murah dan menarik? atau mungkin pernah penasaran gimana caranya memperkirakan biaya untuk suatu perjalanan pariwisata?. Di program studi D3 Jasa Usaha Wisata, Edufriend bisa mempelajari hal–hal yang udah sebutkan tadi. Seperti apa sih program studi D3 Jasa Usaha Wisata ?.
Program studi D3 Jasa Usaha Wisata ini merupakan salah satu program vokasi yang ada di UNJ dan bernaung di bawah Fakultas Ilmu Sosial. Mungkin Edufriend pernah nih bertemu dengan mahasiswa – mahasiswa Jasa Usaha Wisata. Sebab hampir setiap harinya mereka menggunakan seragam lho, Edufriend !. Dari hari Senin, Rabu, hingga kamis ada seragam khusus selain itu pada hari Selasa dan Jumat mahasiswa diwajibkan memakai batik. Untuk bawahan pun harus memakai celana bahan. Kalaupun terpaksa memakai celana jeans, celana jeans tersebut haruslah polos dan tidak boleh robek – robek. Sepatu pun diwajibkan memakai pantofel, tidak boleh menggunakan sepatu kets.
Penampilan menjadi hal krusial nih, Edufriend. Pada masa perkuliahan mereka sudah punya standar grooming. Yakni pada mahasiswa laki–laki rambut tidak boleh gondrong, rambut tidak diwarnai, jdan harus wangi. Sedangkan pada mahasiswa perempuan diharuskan untuk menguncir rambut model cepol, rambut juga tidak boleh diwarnai, dan tentunya harus wangi. Bahkan pernah ada lho, Edufriend. Peristiwa dimana sang koordinator program studi, Heriyanti Utami, tidak mau menguji presentasi seorang mahasiswa dikarenakan mahasiswa tersebut berwajah lesu. Pada akhirnya mahasiswa tersebut diminta untuk cuci muka terlebih dahulu.
Di prodi Usaha Jasa Wisata ini, Edufriend bisa mempelajari bagaimana membuat paket perjalanan wisata, akomodasi hotel, selain itu ternyata di Usaha Jasa Wisata ini juga mendapat mata kuliah MICE dan Event Management lho, Edufriend !. Juga terdapat mata kuliah P3K dasar yang juga disertai praktek. Dikarenakan program studi vokasi, tentunya di program studi ini Edufriend lebih banyak praktek. Seorang alumni Usaha Jasa Wisata angkatan 2015, Quinta Badzlina menyatakan “di kuliah ini kita 60% praktek dan cuma 40%-nya aja kita teori.”
Di semester 3 contohnya, mahasiswa prodi Jasa Usaha Wisata nantinya akan melalui praktek Observasi Daerah Tempat Wisata (ODTW) ke Jawa Barat selama 5 hari. Setelah observasi, mahasiswa akan diminta untuk membuat paket perjalanan untuk adik tingkat. Praktek ODTW ini yang membuat harus kakak tingkat, misalnya mahasiswa semester 5 membuat paket perjalanan hasil ODTW kepada mahasiswa semester 3. Kakak tingkat yang membuat paket perjalanan tersebut dalam satu angkatan dibagi per kelompok 6 orang. Kelompok–kelompok tersebut dilombakan dan adik tingkat diminta untuk mem-voting kelompok dengan paket perjalanan yang mereka sukai.
Mahasiswa Usaha Jasa Wisata juga punya dosen idola, Edufriend. Ada dua dosen yang menjadi favorit, pertama bapak Rahmat Darmawan atau yang kerang dipanggil bang Rahmat. Beliau ramah terhadap mahasiswa dan juga dikenal easy going. Di samping itu, ia juga menjadi dosen pembimbing BEM Usaha Jasa Wisata. Kedua, ada pak Nino. Pak Nino ini banyak diidolakan mahasiswanya karena dinilai tampan oleh mahasiswanya, wah wah pasti mahasiswa perempuan bakal semangat nih kalau diajar beliau…
Buat Edufriend yang pengen kenalan sama mahasiswa Usaha Jasa Wisata, bisa nih mengunjungi mereka di Laboratorium Prodi yang ada di sebelah kiri gedung Fakultas Ilmu Sosial atau bisa juga datang ke kelas tempat para mahasiswa mengikuti perkuliahan, yakni di lantai 3 gedung Fakultas Ilmu Sosial. Selain itu, mahasiswa Usaha Jasa Wisata juga suka berkumpul di pendopo Arena Prestasi serta sekretariat BEM.
Liputan ini digunakan sebagai konten di blog radio BPRS ERAFM UNJ bulan Oktober 2018.
Edufriend, mengenang masa sekolah dulu pastinya Edufriend pernah dong memiliki masalah. Tapi Edufriend bingung mencari solusi dimana. Cerita ke teman, tidak memecahkan masalah, ke pacar? Wah belum tentu punya juga tuh, ke orang tua? Hmmm malu, ke wali kelas? malu jugaa. Dahulu guru - guru kita pasti pernah bilang "pergilah ke Bimbingan Konseling kalau kalian ada masalah." Selain itu, jika ada suatu masalah di sekolah seperti membolos pasti siswa tersebut juga dibawa ke Bimbingan Konseling atau yang lebih sering disebut sebagai guru BK.
Kampus tercinta kita UNJ, juga punya program studi Bimbingan dan Konseling, Edufriend. Prodi Bimbingan dan Konseling ini berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Pendidikan dan sudah ada sejak tahun 1963. Mahasiswa Bimbingan dan Konseling dapat Edufriend temukan di gedung Daksinapati lantai 3 dan Gedung R.A. Kartini lantai 7. Karena memang kelas mereka ada di sana. Atau Edufriend juga bisa menemui mereka di KAJUR Bimbingan dan Konseling. Di sana ada sebuah meja yang biasanya digunakan mahasiswa Bimbingan dan Konseling untuk berdiskusi.
Apa saja sih yang dipelajari di prodi Bimbingan dan Konseling? Pada dasarnya, psikologi dan bimbingan konseling memiliki tujuan yang sama yaitu membantu menyelesaikan masalah. Tetapi ini dia yang membedakan, Edufriend. Seorang psikolog membantu orang lebih sehat dalam bentuk mentalnya. Dengan kata lain orang tersebut memang sudah bermasalah dengan mental dan syarafnya. Sedangkan, seorang guru BK atau konselor yang dipulihkan adalah orang – orang sehat yang mempunyai masalah. Nah, terlihat kan, Edufriend perbedaannya?. Di Prodi Bimbingan dan Konseling Edufriend juga akan mempelajari teknik bagaimana menyelesaikan masalah dari klien. Ketika ada seorang anak bercerita, yang harus diketahui oleh guru BK atau konselor tersebut adalah mengetahui titik permasalahan dari si anak. Barulah dari situ mereka menentukan teknik seperti apa yang akan digunakan dalam menyelesaikan masalah.
Di prodi ini mahasiswa mengidolakan dosen yang bernama kak Hilma. Beliau masih muda namun sudah berkeluarga. Maka dari itu lebih akrab dipanggil ‘kak’. Beliau terkenal dengan pembawaannya yang ramah dan lembut. Ketika mendengar suaranya, orang – orang pasti akan terbawa untuk terbuka dengannya.
Prodi Bimbingan Konseling yang ada di UNJ ini berlandaskan pendidikan, maka sasaran yang dipulihkan ialah peserta didik di sekolah. Oleh karena itu, lulusan dari Prodi Bimbingan dan Konseling UNJ bergelar S. Pd. (Sarjana Pendidikan) yang nantinya akan menjadi guru BK di sekolah. Prospek kerja sempat jadi masalah di prodi ini. Sebenarnya banyak sekolah yang membutuhkan, tetapi informasi tidak sampai ke jurusan. Maka dari itu mahasiwa dituntut untuk pro aktif dalam mencari–cari info lowongan kerja.
ERAFM sempat mewawancarai salah satu mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Aziizah, mahasiswa BK angkatan 2015 menceritakan bahwa minatnya masuk ke jurusan ini sudah terlihat sejak ia duduk di bangku SMP. “Sejak SMP – SMA, gue selalu jadi orang yang dicurhatin sama temen – temen. Nah karena dari dulu udah belajar teknik dasar, di BK jadi belajar banyak. Gue ngerasa di jurusan ini gue bisa merapihkan diri sendiri. Karena nantinya di dunia kerja bener-bener udah siap menghadapi klien, yang memang mempunyai banyak karakter yang berbeda.”
Tulisan ini digunakan untuk keperluan e-bulletin radio BPRS ERAFM UNJ di bulan September 2018.
Buat Edufriend yang juga merupakan netizen mungkin sering melihat kata ini di berbagai media sosial. Kata ‘no’ berarti tidak dan ‘life’ adalah hidup. No Life sendiri dapat dimaknai sebagai tidak adanya kehidupan atau tidak memiliki sesuatu yang dilakukan. Seringkali no life disamakan dengan gabut (gaji buta) yang sering dikatakan oleh remaja. Edufriend pasti sering mengalami situasi no life ini. Seperti liburan semester kemarin, Edufriend tentu memiliki saat dimana Edufriend tidak tahu untuk melakukan apapun.
Nah, sekarang kita sudah memasuki semester baru nih, Edufriend. Tentunya kita harus semangat dalam menjalankan kuliah dan tidak no life lagi hehehe. Dalam menjalankan kehidupan sebagai mahasiswa, semestinya kita manfaatkan kesempatan kita di usia yang muda ini. Karena masih muda, tentunya kita harus memiliki jiwa yang produktif !. Lengkapi kehidupan kuliahmu dengan hal yang kamu suka.
Bisa dengan berwirausaha seperti membuat online shop atau sekedar jualan cemilan di kelas, mendalami hobi, mengikuti organisasi kampus atau komunitas, atau mengeksplor hal baru yang belum pernah Edufriend lakukan misalnya merajut, mendaki gunung, melukis, ikut kegiatan relawan, dan sebagainya. Banyak banget hal yang bisa Edufriend lakukan, maka dari itu yuk jangan jadi mahasiswa no life !.
*Liputan ini digunakan sebagai konten di blog radio BPRS ERAFM UNJ bulan Mei 2018.
Salah satu prodi murni di UNJ adalah Sastra Indonesia. Yang berada di bawah naungan Fakultas Bahasa dan Seni. Sastra Indonesia sendiri awalnya tergabung dalam rumpun Jurusan Bahasa & Sastra Indonesia (JBSI). Dahulu pendidikan dan sastra melebur dalam satu jurusan, akan tetapi akhirnya keduanya resmi dipisah menjadi program studi. Faktanya, mata kuliah dalam kedua ini hampir sama. Yang membedakan adalah di sastra, tidak memperoleh mata kuliah kependidikan.
Prodi Sastra Indonesia berlokasi di Gedung Q, samping prodi Bahasa Inggris dan Prodi Seni Musik & Tari. Gedungnya terdiri dari dua lantai, selain ruang dosen dan perpustakaan di lantai dua terdapat Laboraturium Menyimak (listening). Tidak hanya prodi Sastra Indonesia saja yang memakai ruangan tersebut, tetapi prodi lain di FBS juga turut memakainya.
Mungkin banyak Edufriend yang bertanya-tanya, “masuk Sastra Indonesia ngapain sih? Kerjanya nanti jadi apa?”. Kuliah di Sastra Indonesia itu seru lho Edufriend. Selain mempelajari ilmu sastra dan tata bahasa, kita juga mendapat ilmu seni peran. Kenapa seni peran? Hal ini disebabkan karena di sastra kita juga mempelajari seni pertunjukan yakni teater. Bahkan, enggak jarang ada mata kuliah yang diganti dengan menonton pementasan teater dari kakak tingkat. Selain teater, kita juga diajarkan cara membaca puisi yang baik dan benar.
Selain itu ada hal unik lainnya dari prodi ini, Edufriend. Yakni tiap mahasiswa semester 1 diwajibkan untuk mengadakan Festival Palang Pintu sebagai UAS mata kuliah Apresiasi Sastra. Pada acara tersebut, para mahasiswa layaknya mengadakan resepsi pernikahan sungguhan. Ada yang pantun, silat, dua mempelai laki-laki dan perempuan, serta grup kosidah. Sebelum melakukan pantun, acara ini diawali dengan pawai keliling kampus A UNJ sambil menyanyikan shalawat Badr. Acara ini diadakan sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya Betawi, Edufriend.
Mahasiswa prodi Sastra Indonesia punya dosen favorit, diantaranya Helvy Tiana Rosa dan Irsyad Ridho. Wanita yang kerap dipanggil dengan sebutan bunda Helvy ini adalah kakak dari Asma Nadia, penulis buku “Rumah Tanpa Jendela”. Bunda Helvy juga penulis lho, Edufriend !. Beliau telah menerbitkan 50 buku dan saat ini telah menjadi produser di beberapa filmnya yang berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi”, “Duka Sedalam Cinta”, dan yang terbaru “212: The Story Of Love”. Nah, kalau pak Irsyad Ridho diidolakan oleh para mahasiswa karena pembawaannya yang santai terhadap mahasiswa. Tidak jarang beliau ditemui sedang duduk mengobrol dengan mahasiswa Sastra Indonesia di pendopo Puri Lingua.
Buat Edufriend yang mau menyapa mahasiswa Sastra Indonesia, Edufriend bisa datang ke pendopo Puri Lingua yang ada di depan Gedung Q. Tempat tersebut adalah tempat favorit buat nongkrong-nongkrong minum kopi, makan siang, atau sekedar main game. Prodi Sastra Indonesia selain punya badan eksekutif dan legislatif, juga punya organisasi mahasiswa yang menarik banget lho, Edufriend.
Ada 4 organisasi mahasiswa, yaitu Bengkel Sastra (teater, musik, dan penulisan), Teater Zat, Lifosa (penulisan), dan Stomata (majalah). Tapi ada komunitas baru nih di Sastra Indonesia, yaitu Tanggal Merah, organisasi buat yang punya minat dengan perfilman. Bengkel Sastra udah cukup terkenal lho Edufriend, mereka sudah sering melakukan pementasan baik di kampus hingga Gedung Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuki. Organisasi ini cocok banget buat Edufriend pecinta sastra karena di dalamnya terdapat teater, pembacaan puisi, dan musikalisasi puisi. Tenang saja, Edufriend. Bengkel Sastra itu terbuka untuk seluruh mahasiswa UNJ, jadi tidak hanya untuk mahasiswa Sastra Indonesia saja. Selain itu, juga ada Teater Zat buat Edufriend yang suka teater bisa juga ikut organisasi mahasiswa yang satu ini.
Prospek kerja dari prodi Sastra Indonesia itu cukup luas lho!. Selain menjadi editor maupun penulis buku, Edufriend bisa menjadi ahli linguistik forensik, jurnalis, presenter/MC, penulis skenario, copywriter, dan sebagainya. Karena hampir semua bidang pekerjaan membutuhkan bahasa Indonesia. Jadi, masih mau bertanya “kerjanya nanti jadi apa?” ke anak Sastra Indonesia?
Template proposal & Kaos Panitia. Dibuat dengan Adobe Illustrator dan Photoshop
Acara musik yang diadakan oleh BPRS ERAFM UNJ. Diselenggarakan pada 14 Desember 2018 di Teater Terbuka, Universitas Negeri Jakarta. ERAFEST 2018 mengusung tema “Better Life, Better Acceptance”.
Nabila Hidayah sebagai divisi acara. Menyusun template proposal dan membuat desain kaos.
DO NOT STEAL - DILARANG MENGAMBIL DESIGN INI TANPA IZIN.
*Liputan ini digunakan sebagai konten di blog radio BPRS ERAFM UNJ bulan April 2018.
UNJ dikenal sebagai universitas pendidikan yang di dalamnya terdapat beragam prodi kependidikan dan prodi murni. Fakultas Ilmu Sosial (FIS) juga memiliki prodi yang cukup terkenal yakni prodi Pendikan Sosiologi. Nah, rasanya jadi mahasiswa Pendidikan Sosiologi itu seperti apa sih?.
Dilansir dari website fis.unj.ac.id/sosiologi, prodi ini tadinya termasuk dalam lingkup Jurusan Sosiologi FIS. Dalam Jurusan Sosiologi tersebut terdapat Pendidikan dan Sosiologi murni. Kemudian, atas izin penyelenggaraan program studi dari Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2004, barulah prodi Pendidikan Sosiologi resmi dibuka. Walaupun kini telah terpisah, baik mahasiswa dari Pendidikan Sosiologi maupun Sosiologi murni tidak saling membedakan. Mereka terbilang kompak dan kerap mengadakan acara bersama. Seperti pada acara Malam Keakraban (Makrab) dan pelaksanaan program kerja BEM.
Ternyata selain mendalami bidang sosiologi mahasiswa juga mendapat mata kuliah di bidang pengetahuan sosial lainnya. Seperti ilmu politik, antropologi, geografi, sejarah, serta ekonomi. Hal ini disebabkan karena lulusan dari Pendidikan Sosiologi selain menjadi guru sosiologi diharapkan juga dapat menjadi guru antropologi maupun guru IPS.
Mahasiswa prodi Pendidikan Sosiologi sudah terbiasa disebut sebagai pemberontak. Wah kenapa bisa gitu?. Ternyata tidak lain dan tidak bukan karena sifat mereka yang kritis. Mahasiswa prodi Pendidikan Sosiologi juga sangat peka terhadap isu-isu yang ada sehingga sering berdiskusi terhadap isu yang sedang hangat di kalangan kampus maupun lingkungan luar kampus.
Bahkan mereka mendapat dukungan dari dosen jika ingin mengikuti aksi dan diizinkan tidak mengikuti kelas. Namun, tergantung kepada mereka apakah mau diadakan kelas pengganti atau tidak. Jika tidak, mahasiswa pun diminta untuk absen dan per kelas yang mengikuti aksi diminta untuk membuat laporan tentang aksi tersebut. Dalam laporan yang dibahas adalah seperti apa tuntutannya, siapa yang mengadakan aksi tersebut, dan sebagainya.
Satu hal yang sangat membedakan mahasiswa pendidikan dengan sosiologi murni ialah bagi mahasiswa laki-laki tidak diperbolehkan memanjangkan rambut. Berbeda dengan Sosiologi murni, ada yang menggondrongkan rambutnya selama ia kuliah dan hanya mau dipotong ketika akan wisuda. Sebagai mahasiswa Pendidikan Sosiologi sudah wajib hukumnya untuk berpakaian sopan dan rapi karena terdapat mata kuliah kependidikan.
Selain pencapaian profesi utama sebagai guru, lulusan Pendidikan Sosiologi yang bergelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) ini nantinya juga dapat menjadi peneliti pendidikan dan kemasyarakatan, pekerja community development yang bergerak di bidang pendidikan. Selain itu ternyata lulusan dari prodi Pendidikan Sosiologi juga dapat bekerja di media. Lulusan Pendidikan Sosiologi dapat menjadi jurnalis pendidikan, editor buku, hingga penulis buku pendidikan dan kemasyarakatan.
Buat Edufriend yang mahasiswa FIS pasti sudah akrab dengan DPR. DPR ini adalah tempat nongkrong favorit bagi mahasiswa Pendidikan Sosiologi dan Sosiologi. DPR adalah singkatan dari Di bawah Pohon Rindang. Karena berlokasi di bawah pohon depan Gedung L. Selain nongkrong mereka juga punya kegiatan rutin setiap Kamis yaitu DKS (Diskusi Kamis Sore). Kegiatan ini sudah berjalan cukup lama dan biasanya mereka membahas isu-isu di kampus atau di luar kampus atau diskusi film, yang nantinya akan dianalisis konfliknya.
“Kalau di prodi Pendidikan Sosiologi dosen killer sih enggak ada ya.. Semua sama aja. Santai juga, yang membedakan cuma cara penilaian masing-masing dosen. Tapia da salah satu dosen yang dikagumi sama mahasiswa Sosiologi. Yaitu pak Ubeddilah Badrun” ujar Rizqi Imannitya salah satu mahasiswa Pendidikan Sosiologi, angkatan 2017.
Banyak mahasiswa Sosiologi yang mengangumi Ubeddilah Badrun. Beliau adalah dosen dasar-dasar ilmu politik dan filsafat. Beliau juga menjadi ahli politik UNJ di bawah naungan prodi Sosiologi. Ubeddilah Badrun dinilai berkharisma karena wawasannya sangat luas. Mahasiswa pun senang dengannya karena beliau dinilai dapat menjawab semua pertanyaan yang mengenai politik, IPS, dan filsafat.
Mahasiswa dari Pendidikan Sosiologi juga tergabung dalam JMSJ. JMSJ ini adalah Jaringan Mahasiswa Sosiologi Sejawa. JMSJ tiap tahunnya mengadakan acara kunjungan ke berbagai universitas yang terdapat prodi Sosiologi. Pada tahun 2018 ini, Universitas Brawijaya yang akan menjadi tuan rumahnya. JMSJ tidak dapat diikuti oleh semua mahasiswa di Pendidikan Sosiologi atau Sosiologi, Edufriend. Karena sebelum mengikuti acara kunjungan tersebut terdapat seleksi yang harus diikuti calon peserta.
Nah, itu tadi seputar prodi Pendidikan Sosiologi, Edufriend. Buat yang mau kenalan sama mahasiswa sosiologi bisa tuh menyapa mereka di bawah pohon rindang depan Gedung L samping parkiran FIS.