Aku sudah mengetahui MIGO sejak setahun lalu. Ketika itu aku seringkali melihat motor kuning ini lalu lalang di sekitar Kemang. Kemudian aku baru tahu kalau itu adalah e-bike yang dapat disewa melalui aplikasi. Harganya pun sangat terjangkau, hanya 3.000/30 menit. Pembayarannya pun bisa menggunakan uang tunai. Seminggu lalu, akhirnya aku punya kesempatan untuk menjajal sepeda listrik ini. Aku menempuh jarak total sekitar 12km pergi-pulang. Bagaimana sih rasanya mengendarai MIGO? Begini pengalamanku..
Install Aplikasi MIGO Ebike
Hal pertama yang mesti dilakukan untuk menyewa MIGO e-bike adalah harus menginstall aplikasinya terlebih dahulu. Aplikasi MIGO Ebike sendiri sudah tersedia di Play Store maupun App Store. Jika kamu adalah pengguna baru, maka diharuskan untuk registrasi. Ingat! Kamu harus berusia minimal 17 tahun dan sudah mempunyai KTP. Selanjutnya, kamu akan diminta untuk mengisi data identitas berupa nama, NIK, foto jelas dan sesuai petunjuk. Kemudian tunggulah beberapa saat untuk proses verifikasi. Ketika verifikasi berhasil, maka kamu sudah bisa menyewa MIGO e-bike!.
Menyewa MIGO
Selanjutnya, kamu tinggal mencari station MIGO terdekat yang ada di sekitarmu. Ketika kamu telah menemukan station, pergilah ke lokasi dimana station tersebut berada. Ketika sudah di station kamu bisa klik “pesan sekarang” atau “book now” yang tertera di tengah bagian bawah.
Station terdekat dari rumahku berupa rumah yang berada di perkampungan. Karena aku sama sekali belum mengerti, aku pun mengetuk pintu dan permisi terlebih dahulu. Setelah sang agen MIGO tersebut menjelaskan panjang lebar mengenai e-bike ini, barulah aku tahu bahwa kita sudah dapat menyewa tanpa harus permisi pada sang pemilik. Kecuali kita memerlukan bantuan seperti tidak tahu letak helmnya dimana dan sebagainya.
Setelah klik “pesan”, kita akan diberikan nomor plat e-bike yang status baterainya terisi penuh. Kita diberi batas waktu 15 menit untuk melakukan aktivasi pada e-bike yang telah ditentukan oleh sistem tersebut. Aktivasi tersebut berupa scan QR yang terdapat pada MIGO E-bike. Voila! MIGO telah menyala dan kita sudah bisa langsung mengendarai e-bike kemanapun kita mau. Dilansir dari instastory FAQ MIGO, kita tidak memerlukan SIM untuk mengendarai MIGO. Hal ini disebabkan karena MIGO masih termasuk kategori sepeda. Ingat! mengenakan helm ketika mengendarai MIGO adalah wajib hukumnya. Patuhi pula rambu lalu lintas.
Mengendarai MIGO
MIGO e-bike ini mirip sekali dengan motor matic pada umumnya. Hanya saja yang membedakan ialah bahan bakar MIGO menggunakan listrik serta tidak dilengkapi suara mesin. Kemudi sepenuhnya ada di tangan. Untuk keamanannya, MIGO sudah dilengkapi lampu depan dan belakang, rem tangan, lampu sign, hingga klakson. Ketika dikendarai pun kecepatannya cukup kencang dan bahan bakarnya sangat irit. Aku mengendarai MIGO sekitar 4 jam dengan menempuh 12km perjalanan. Rutenya yaitu Kalisari-Kelapa Dua-UI-Lenteng Agung-Kelapa Dua-Kalisari. Aku tidak mengalami kekurangan bahan bakar, malah saat mengembalikan baterai MIGO masih sekitar 80-90%.
UI. (Foto: dok. pribadi)
Pengalaman pertamaku bersama MIGO sangat berkesan. Jujur saja, aku belum lancar mengendarai motor. Namun dengan adanya MIGO, aku langsung bisa lancar walaupun masih banyak yang perlu dipelajari lagi selama di jalan. Selama di jalan aku tetap merasa aman karena menggunakan helm serta rem dan lampu MIGO ini berfungsi dengan baik. Akhirnya aku bisa merasakan night riding yang sering dilakukan orang-orang. Memang benar, mengendarai motor sendirian itu menenangkan hati. Akhir kata, i love u MIGO.
Sewaktu film ini rilis aku masih SD. Ketika itu yang ada di pikiranku,Pintu Terlarang adalah film dewasa yang erotis terlihat dari posternya. Bertahun-tahun setelah ku beranjak dewasa. Aku baru mengetahui bahwa film ini adalah mahakarya Joko Anwar. Sebelumnya, aku baru dua kali menonton karyanya yakni Fiksi-yang ditulis bersama Mouly Surya-(2008) dan Pengabdi Setan (2017). Kukira Fiksi adalah film Indonesia yang sangat mindblowing. Ternyata setelah menonton Pintu Terlarang, kedudukan Fiksi digeser oleh film yang satu ini. Pintu Terlarang telah masuk dalam daftar tontonanku di Netflix sejak lama. Namun, aku butuh mood untuk menuntaskan film ini. Jadi dua hari lalu aku abru berhasil menuntaskannya. Dini hari itu, Pintu Terlarang sukses membuatku mendadak jadi tukang keong dan di saat yang bersamaan pula menimbulkan decak kagum.
Sinopsis
Gambir (Fachri Albar), seorang seniman patung yang sedang di puncak karirnya. Oleh sekelilingnya, Gambir dinilai sebagai “orang yang beruntung di dunia”. Karirnya gemilang, memiliki istri yang cantik dan pintar, sahabat, serta ibu yang mendukungnya. Namun di balik keberuntungan yang dikatakan orang itu, Gambir menyimpan sebuah rahasia yang semakin hari makin mengganggunya. Rahasia itu menyeruak seraya dengan seorang anak kecil yang entah siapa, terus menerus menghantui Gambir. Demi mengejar sang anak kecil tersebut, Gambir sampai ke suatu markas organisasi rahasia bernama Herosase yang memiliki kebiasaan aneh yakni menonton video-video disturbing. Di tempat tersebut Gambir memperoleh jawaban yang ia cari serta jawaban yang juga sebaiknya tidak ia ketahui.
Isu Kekerasan Terhadap Anak
cr: youtube
Sosok anak kecil misterius yang menghantui Gambir tersebut rupanya adalah korban kekerasan orang tua. Adegan kekerasan yang terekam melalui kamera tersembunyi dan disimpan oleh Herosase tersebut terasa sangat memilukan. Aku sendiri sedikit pusing ketika melihatnya karena sang Ibu (Putri Sukardi) sangat bengis memperlakukan anaknya. Ia berulangkali menyebut “anak setan” bahkan ketika sang anak hanya berdiam tidak melakukan apapun. Bagaimana dengan sang ayah? sama saja jahatnya. Diperlihatkan bahwa sang ayah (Ade Firza Paloh) begitu cuek bahkan ketika sang anak dipukuli. Aku jadi teringat dengan adegan ketika Gambir dan Talyda pergi ke klinik Aborsi. Ada seorang bapak (Arswendo Nasution) yang duduk di depan Gambir. Bapak itu mengaku sudah menikah namun tidak ingin memiliki anak. Ia juga mengaku bahwa istrinya meninggal setelah menggugurkan anaknya yang ke tujuh.
“Kami yakin anak-anak itu juga tidak ingin dilahirkan. Dunia ini tidak menawarkan apa-apa kecuali masalah.” - Bapak di Klinik Aborsi.
Is That Kubrick Vibes?
cr: asianmovipulse
Ini adalah adegan favoritku dari film Pintu Terlarang. Di adegan ini, Gambir melepaskan amarahnya dengan membunuh semua orang terdekatnya. Menurutku selain merasa sakit hati terhadap orang-orang itu, Gambir juga merasa marah pada dirinya. Karena bertahun-tahun hidup dengan tuntutan orang lain. Setelah membunuh mereka semua, Gambir merasa ia sepenuhnya menjadi diri sendiri. Tanpa istri, ibu, dan sahabat yang berkhianat serta tanpa pengusaha yang cuma peduli profit dan memeras tenaganya.
Aku menangkap beberapa adegan serta setting yang sedikit mirip dengan nuansa film Stanley Kubrick. Misalnya, pada adegan setelah mandi darah tersebut. Gambir membuka ‘pintu terlarang’-nya menggunakan kapak, jika mendengar kapak tentu kamu teringat suatu film yang cukup legend itu kan?. Yap, The Shining (1980). Agaknya adegan Gambir menghancurkan pintu tersebut dapat dikatakan mengadaptasi adegan yang sama dari The Shining. Selain adegan menghancurkan pintu, lorong Herosase juga cukup familiar dengan nuansa di film Kubrick. Pintu Terlarang juga dilengkapi dengan color grading yang teroganisir walaupun tidak secara konsisten menggunakan warna tertentu dari awal hingga akhir. Pintu Terlarang cukup variatif memberikan warna-warna dalam filmnya namun tetap berpegang pada kesan-kesna suspens.
cr: youtube
Pintu Terlarang yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Sekar Ayu Asmara ini mengusung genre psychological thriller. Genre yang super langka di ranah perfilman Indonesia. Penggarapannya menurutku terbilang sangat rapih. Aku sendiri sangat menyukai visual yang ditampilkan oleh Pintu Terlarang. Banyak sekali shot yang menghadirkan keindahan namun di saat yang sama memberikan kesan yang aneh. Sinematografi yang epik tersebut merupakan karya dari Ipung Rachmat Syaiful yang berhasil mengantarkan Pintu Terlarang meraih penghargaan Festival Film Indonesia 2009 dalam kategori Tata Sinematografi Terbaik.
Ratingku
Aku cukup menyukai film-film bergenre semacam Pintu Terlarang. Film ini dapat kukatakan film Indonesia terbaik yang pernah ada. Film mampu menyimpan rahasianya rapat-rapat namun ketika semuanya terbongkar berhasil mengubah kita jadi tukang keong alias “hah gimana gimana???”. Yaaa aku emang hobi banget nonton film semacam tu hahahaha. Ketika menuju ending scene, aku meyakini telah memahami jalan ceritanya. Tapiiiiii tiba-tiba munculah adegan yang membuatku bingung dan kembali menjadi tukang keong. Setelah menonton film ini, aku jadi makin penasaran versi novelnya. Harus masuk wishlist!. Jika sinematografi telah dibahas sebelumnya, maka sekarnag kita bahas scoringnya. Pintu Terlarang menggunakan soundtrack yang keseluruhan bernuansa jazz. Latar suara yang digunakan ini menimbulkan kesan klasik dan berkelas. Dari segi artistik sendiri, sudah cukup rapih. Tanpa disadari, latar tempat dalam film ini mampu menghadirkan ilusi yang terasa begitu nyata. Walaupun menurutku di beberapa latar tempat lagi-lagi sangat terasa nuansa ruangan yang familiar dengan Kubrick vibes.
Rawamangun (12/10/19) - Kampus A UNJ memiliki banyak titik kuliner yang tersebar di segala penjuru. Terdapat Kantin Kebun dan Kantin Dharma yang terletak di sisi timur, Kantin Blok M atau kerap disebut Kantin Kandang di sisi barat, dan di selatan terdapat Kantin Al Faras. Dalam Kantin Kebun yang berkonsep kedai ini, di dalamnya terdapat enam gerobak makanan dan minuman. Salah satu yang menjadi favorit mahasiswa adalah Mie Ayam Pa’de.
Mie Ayam Pa’de merupakan mie ayam gerobak yang menetap di sudut Kantin Kebun. Mereka menyajikan berbagai varian mie ayam. Terdapat tiga varian yaitu Mie Ayam Yamien, Mie Ayam Becek, dan Mie Ayam Keset. Selain bakso dan pangsit yang menjadi pelengkap mie ayam pada umumnya, terdapat pula ceker yang akan membuatmu kenyang di jam makan siang. Harganya pun cukup terjangkau, untuk semua varian dan pelengkap harganya sama yakni Rp. 15.000.
Adalah Nur Aslan (48), pemilik mie ayam gerobak yang lezat di Kantin Kebun ini. Ia perantau dari Magelang yang datang ke Jakarta untuk berjualan mie ayam. Awalnya Nur Aslan sempat jualan keliling dengan gerobak dan mangkal di samping Gedung FIP. Namun, pada tahun 2008 ia mulai berjualan tetap di Kantin Kebun. Sebelum menjadi Mie Ayam Pa’de, mie ayamnya bernama Mie Ayam Polaris. Polaris merupakan sebuah grup penjual mie ayam dari Magelang dan Nur Aslan merupakan salah satu anggotanya. Namun, seiring berjalannya waktu ia lebih sering dipanggil Pakde dan nama usahanya pun berubah menjadi Mie Ayam Pa’de.
Mie Ayam Yamien yang menjadi santapan favorit mahasiswa UNJ. (Foto: Nabila/dok. pribadi).
Mahasiswa UNJ sangat menyukai Mie Ayam Pa’de. Salah satunya adalah Chacha (20) yang menjadi pecinta Mie Ayam Pa’de semenjak masih berstatus mahasiswa baru, “mienya enak banget! Toppingnya bisa pake bakso, varian mienya juga banyak ada yang keset, basah, ataupun yamin dan bisa request ceker!. Rasanya enak banget dibanding mie ayam lainnya luv banget deh sama mie yaminnya!!”. Selain itu, mahasiswa lain bernama Widya (20) dan Hana (20) juga menyatakan selain rasanya yang enak, porsi ayamnya juga banyak. Lalu, apa yang membuat Mie Ayam Pa’de terasa spesial di lidah para mahasiswa UNJ?.
Ada dua alasan. Pertama, rasanya mie ayamnya yang begitu memanjakan lidah. Kedua, sistem satu harga membuatnya terkesan terjangkau. Nur Aslan hanya mencantumkan satu harga untuk semua varian mie ayamnya, baik itu memakai pelengkap ceker, bakso, pangsit, atau ketiganya. Sistem satu harga tersebut terasa ramah sekali di kantong mahasiswa dan mereka selalu puas dan kenyang setelah menyantap Mie Ayam Pa’de. Soal rasa dan penyajian, Mie Ayam Pa’de memberi rasa yang membuat kita ingin kembali menyantap mie ayamnya lagi dan lagi. Kelezatan mie ayam tersebut rupanya berasal dari racikan grup Polaris yang mengadaptasi resep dari Cina. Resep ini telah digunakan sejak tahun 1990 dan inilah yang membedakan cita rasa mie ayam Polaris Magelang dengan mie ayam Wonogiri pada umunya.
“Kita tidak pakai bumbu dapur karena itu akan mematikan rasa mienya. Kita memakai ebi, bawang merah, bawang putih, lada, kemiri, yang digiling lalu ditumis hingga kering dan barulah minyaknya diambil dan dicampur dengan minyak ayam. Begitu pula dengan kuahnya harus bening” ujar Nur Aslan. Ia juga meneruskan bahwa kuah untuk mie ayam dan kuah untuk merebus mienya pun harus dibedakan. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga rasa dari mie itu sendiri. Selain itu, Nur Aslan juga memakai bahan-bahan berkualitas untuk saos serta kecap asinnya.
Resep mie ayam yang telah digunakan sejak tahun 1990. (Foto: Nabila/dok. pribadi).
Walaupun menjual mie ayam bersama beberapa pegawainya, Nur Aslan sangat memperhatikan konsistensi rasa yang ia sajikan dalam semangkuk mie ayam buatannya. Karena itulah ia memperoleh banyak pelanggan tetap dari kalangan mahasiswa hingga pegawai. Mie Ayam Pa’de menyajikan mie ayam dari Senin – Jumat mulai pukul 09.00 – 17.00. Datanglah ke Kantin Kebun dan pergi ke sudutnya. Lalu, katakan “Pakde, mie ayam semangkuk pakai pangsit dan bakso!”. Niscaya makan siangmu terasa begitu indah, nikmat, dan mengenyangkan.
Mie Ayam Pa’de memiliki banyak pelanggan tetap dari mahasiswa hingga pegawai. (Foto: Nabila/dok. pribadi).
The Witch (2015): Horror Penyihir Yang Anti Mainstream
cr: wikipedia
Masa pandemi ini adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan film-film lama yang tertunda. Kegiatan yang lebih mengutamakan untuk menetap di rumah ini membuat waktuku lebih banyak dihabiskan untuk menonton film. Beberapa waktu lalu aku menonton The Witch di rumah temanku. Saat itu kami kehabisan ide dan bingung harus menonton film horror apa. Lalu aku teringat dengan trailer film ini. Trailer-nya nampak menjanjikan dan bagiku cukup seram.
A24 memang selalu memberikan fenomena yang tidak biasa di setiap filmnya. Satu hal yang membuat aku sangat menyukai perusahaan hiburan independen ini adalah visualnya yang selalu memiliki color grading yang enak dipandang. Di samping itu, film-film di bawah naungan mereka pun memang kebanyakan memiliki cerita yang tidak biasa. Begitu juga dengan The Witch. The Witch merupakan karya pertama Robert Eggers, yang tahun kemarin memukau publik dengan The Lighthouse (2019). Film ini berdurasi 1 jam 33 menit dan bergenre horror/drama.
The Witch menceritakan tentang satu keluarga yang diusir dari sebuah kota di New England pada tahun 1630. Mereka pun pindah ke sebuah ladang yang luas di pinggir hutan. Keluarga itu terdiri dari William (Ralph Ineson) sang ayah, Katherine (Kate Dickie) sang ibu, Thomasin (Anya Taylor Joy) anak perempuan pertama, Caleb (Harvey Crimshaw) anak laki-laki pertama, Mercy (Ellie Grainger) dan Jonas (Lucas Dawson) adik kembar, dan Samuel yang masih bayi. Suatu ketika, Thomasin sedang mengasuh Samuel di halaman rumah. Ia bermain cilukba dengan menutup wajahnya. Saat ketiga kali ia membuka wajah, Samuel menghilang. Dari situlah kejanggalan mulai terjadi dalam keluarga tersebut.
Dari poster film The Witch sendiri terdapat deskripsi singkat “A New England Folklore”. Rupanya, sang sutradara memang terinspirasi dari legenda serta cerita rakyat mengenai penyihir di New England. Tetapi jangan sangka kamu akan ditakuti oleh sosok penyihir jahat yang tampil begitu saja lalu berperang dengan penyihir tersebut dan berakhir bahagia. Penyihir dalam The Witch tampil sangat sedikit. Kengerian tidak hanya dari sisi penyihir saja namun makin parah ketika menuju klimaks dimana satu keluarga saling memfitnah.
The Witch memiliki alur yang sangat lambat. Bahkan di awal aku pun sempat merasa bosan dan ingin mundur. Setengah jam berlalu barulah muncul pertanyaan “hah gimana? gimana?” yang membuat kami semakin penasaran. Hal itu ketika penyihir mulai menjalankan aksinya dengan memberikan serangan secara perlahan. Termasuk kambing hitam bernama Black Phillip yang sangat disenangi si kembar Mercy dan Jonas.
cr: michale-movie-review/google.
Kemudian keluarga ini pun kian mengalami kejanggalan yakni Caleb yang hilang seharian lalu kembali dengan kondisi di bawah pengaruh mantra. Thomasin kian terpojok oleh ayah dan ibunya, karena tiap kali sang adik hilang, mulanya mereka sedang bersama Thomasin. Oleh karena itu sang keluarga pun kian meyakini bahwa Thomasin adalah penyihir.
cr: rollingstone
The Witch menyajikan horror yang tidak biasa dengan memberikan dua kengerian sekaligus. Menurutku dalam film ini sendiri kengerian itu lebih banyak ditunjukkan oleh keluarga Thomasin, terutama ketika mereka semua memfitnah Thomasin hingga tak ada satu pun yang percaya. Selanjutnya barulah horor dari sang villain yakni penyihir hutan. Walaupun memiliki ide cerita yang terbilang bagus, aku agak menyayangkan akting para pemeran dalam film ini. Entah aku yang melewatkan sesuatu atau bagaimana, menurutku akting Anya Taylor Joy dan yang lainnya masih biasa saja. Dari segi produksi sendiri The Witch memiliki kelebihan dalam sinematografi. Aku menyukai palet warna yang digunakan dalam film ini yakni condong ke warna gelap seperti abu-abu hingga coklat. Kemudian latar tempat serta kostum jdikerjakan secara rapi. Kostumnya cukup menggambarkan busana pada masa itu dan latar dalam film ini digambarkan sangat terisolasi. Nah, satu hal yang menambah kesan ‘ngeri banget’ dalam film ini. Sound effect-nya!. Scoring yang dikerjakan oleh Mark Koven sangat membangkitkan rasa takut yang ada.
Secara keseluruhan The Witch masih cukup worth it ditonton. Saranku adalah lebih baik kamu menontonnya berdua karena terdapat beberapa bagian yang agak membingungkan dan menganggu. Jadi usai menonton kamu dan temanmu bisa mendiskusikan atau kalau memang sama-sama tidak mengerti silakan cari penjelasannya di google hehehe. Keseluruhan ratingku untuk The Witch adalah 7.5/10.
Tugas akhir mata kuliah Apresiasi Drama. Pementasan teater berjudul “Klinik Jiwa” karya Rudolf Puspa. Diselenggarakan pada 5 Desember 2019 di Gedung Kesenian Jakarta. Pementasan ini dilaksanakan oleh mahasiswa Sastra Indonesia UNJ angkatan 2017.
Nabila Hidayah sebagai divisi Humas & Media. Membuat logo, konten instagram, booklet, poster, dan kaos. Selain itu Nabila Hidayah juga ikut berperan sebagai pasien tambahan dalam pementasan tersebut.
Liputan ini digunakan sebagai konten di blog radio BPRS ERAFM UNJ bulan November 2018.
Edufriend, pernah enggak membayangkan punya usaha tur yang menawarkan paket liburan murah dan menarik? atau mungkin pernah penasaran gimana caranya memperkirakan biaya untuk suatu perjalanan pariwisata?. Di program studi D3 Jasa Usaha Wisata, Edufriend bisa mempelajari hal–hal yang udah sebutkan tadi. Seperti apa sih program studi D3 Jasa Usaha Wisata ?.
Program studi D3 Jasa Usaha Wisata ini merupakan salah satu program vokasi yang ada di UNJ dan bernaung di bawah Fakultas Ilmu Sosial. Mungkin Edufriend pernah nih bertemu dengan mahasiswa – mahasiswa Jasa Usaha Wisata. Sebab hampir setiap harinya mereka menggunakan seragam lho, Edufriend !. Dari hari Senin, Rabu, hingga kamis ada seragam khusus selain itu pada hari Selasa dan Jumat mahasiswa diwajibkan memakai batik. Untuk bawahan pun harus memakai celana bahan. Kalaupun terpaksa memakai celana jeans, celana jeans tersebut haruslah polos dan tidak boleh robek – robek. Sepatu pun diwajibkan memakai pantofel, tidak boleh menggunakan sepatu kets.
Penampilan menjadi hal krusial nih, Edufriend. Pada masa perkuliahan mereka sudah punya standar grooming. Yakni pada mahasiswa laki–laki rambut tidak boleh gondrong, rambut tidak diwarnai, jdan harus wangi. Sedangkan pada mahasiswa perempuan diharuskan untuk menguncir rambut model cepol, rambut juga tidak boleh diwarnai, dan tentunya harus wangi. Bahkan pernah ada lho, Edufriend. Peristiwa dimana sang koordinator program studi, Heriyanti Utami, tidak mau menguji presentasi seorang mahasiswa dikarenakan mahasiswa tersebut berwajah lesu. Pada akhirnya mahasiswa tersebut diminta untuk cuci muka terlebih dahulu.
Di prodi Usaha Jasa Wisata ini, Edufriend bisa mempelajari bagaimana membuat paket perjalanan wisata, akomodasi hotel, selain itu ternyata di Usaha Jasa Wisata ini juga mendapat mata kuliah MICE dan Event Management lho, Edufriend !. Juga terdapat mata kuliah P3K dasar yang juga disertai praktek. Dikarenakan program studi vokasi, tentunya di program studi ini Edufriend lebih banyak praktek. Seorang alumni Usaha Jasa Wisata angkatan 2015, Quinta Badzlina menyatakan “di kuliah ini kita 60% praktek dan cuma 40%-nya aja kita teori.”
Di semester 3 contohnya, mahasiswa prodi Jasa Usaha Wisata nantinya akan melalui praktek Observasi Daerah Tempat Wisata (ODTW) ke Jawa Barat selama 5 hari. Setelah observasi, mahasiswa akan diminta untuk membuat paket perjalanan untuk adik tingkat. Praktek ODTW ini yang membuat harus kakak tingkat, misalnya mahasiswa semester 5 membuat paket perjalanan hasil ODTW kepada mahasiswa semester 3. Kakak tingkat yang membuat paket perjalanan tersebut dalam satu angkatan dibagi per kelompok 6 orang. Kelompok–kelompok tersebut dilombakan dan adik tingkat diminta untuk mem-voting kelompok dengan paket perjalanan yang mereka sukai.
Mahasiswa Usaha Jasa Wisata juga punya dosen idola, Edufriend. Ada dua dosen yang menjadi favorit, pertama bapak Rahmat Darmawan atau yang kerang dipanggil bang Rahmat. Beliau ramah terhadap mahasiswa dan juga dikenal easy going. Di samping itu, ia juga menjadi dosen pembimbing BEM Usaha Jasa Wisata. Kedua, ada pak Nino. Pak Nino ini banyak diidolakan mahasiswanya karena dinilai tampan oleh mahasiswanya, wah wah pasti mahasiswa perempuan bakal semangat nih kalau diajar beliau…
Buat Edufriend yang pengen kenalan sama mahasiswa Usaha Jasa Wisata, bisa nih mengunjungi mereka di Laboratorium Prodi yang ada di sebelah kiri gedung Fakultas Ilmu Sosial atau bisa juga datang ke kelas tempat para mahasiswa mengikuti perkuliahan, yakni di lantai 3 gedung Fakultas Ilmu Sosial. Selain itu, mahasiswa Usaha Jasa Wisata juga suka berkumpul di pendopo Arena Prestasi serta sekretariat BEM.
Liputan ini digunakan sebagai konten di blog radio BPRS ERAFM UNJ bulan Oktober 2018.
Edufriend, mengenang masa sekolah dulu pastinya Edufriend pernah dong memiliki masalah. Tapi Edufriend bingung mencari solusi dimana. Cerita ke teman, tidak memecahkan masalah, ke pacar? Wah belum tentu punya juga tuh, ke orang tua? Hmmm malu, ke wali kelas? malu jugaa. Dahulu guru - guru kita pasti pernah bilang "pergilah ke Bimbingan Konseling kalau kalian ada masalah." Selain itu, jika ada suatu masalah di sekolah seperti membolos pasti siswa tersebut juga dibawa ke Bimbingan Konseling atau yang lebih sering disebut sebagai guru BK.
Kampus tercinta kita UNJ, juga punya program studi Bimbingan dan Konseling, Edufriend. Prodi Bimbingan dan Konseling ini berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Pendidikan dan sudah ada sejak tahun 1963. Mahasiswa Bimbingan dan Konseling dapat Edufriend temukan di gedung Daksinapati lantai 3 dan Gedung R.A. Kartini lantai 7. Karena memang kelas mereka ada di sana. Atau Edufriend juga bisa menemui mereka di KAJUR Bimbingan dan Konseling. Di sana ada sebuah meja yang biasanya digunakan mahasiswa Bimbingan dan Konseling untuk berdiskusi.
Apa saja sih yang dipelajari di prodi Bimbingan dan Konseling? Pada dasarnya, psikologi dan bimbingan konseling memiliki tujuan yang sama yaitu membantu menyelesaikan masalah. Tetapi ini dia yang membedakan, Edufriend. Seorang psikolog membantu orang lebih sehat dalam bentuk mentalnya. Dengan kata lain orang tersebut memang sudah bermasalah dengan mental dan syarafnya. Sedangkan, seorang guru BK atau konselor yang dipulihkan adalah orang – orang sehat yang mempunyai masalah. Nah, terlihat kan, Edufriend perbedaannya?. Di Prodi Bimbingan dan Konseling Edufriend juga akan mempelajari teknik bagaimana menyelesaikan masalah dari klien. Ketika ada seorang anak bercerita, yang harus diketahui oleh guru BK atau konselor tersebut adalah mengetahui titik permasalahan dari si anak. Barulah dari situ mereka menentukan teknik seperti apa yang akan digunakan dalam menyelesaikan masalah.
Di prodi ini mahasiswa mengidolakan dosen yang bernama kak Hilma. Beliau masih muda namun sudah berkeluarga. Maka dari itu lebih akrab dipanggil ‘kak’. Beliau terkenal dengan pembawaannya yang ramah dan lembut. Ketika mendengar suaranya, orang – orang pasti akan terbawa untuk terbuka dengannya.
Prodi Bimbingan Konseling yang ada di UNJ ini berlandaskan pendidikan, maka sasaran yang dipulihkan ialah peserta didik di sekolah. Oleh karena itu, lulusan dari Prodi Bimbingan dan Konseling UNJ bergelar S. Pd. (Sarjana Pendidikan) yang nantinya akan menjadi guru BK di sekolah. Prospek kerja sempat jadi masalah di prodi ini. Sebenarnya banyak sekolah yang membutuhkan, tetapi informasi tidak sampai ke jurusan. Maka dari itu mahasiwa dituntut untuk pro aktif dalam mencari–cari info lowongan kerja.
ERAFM sempat mewawancarai salah satu mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Aziizah, mahasiswa BK angkatan 2015 menceritakan bahwa minatnya masuk ke jurusan ini sudah terlihat sejak ia duduk di bangku SMP. “Sejak SMP – SMA, gue selalu jadi orang yang dicurhatin sama temen – temen. Nah karena dari dulu udah belajar teknik dasar, di BK jadi belajar banyak. Gue ngerasa di jurusan ini gue bisa merapihkan diri sendiri. Karena nantinya di dunia kerja bener-bener udah siap menghadapi klien, yang memang mempunyai banyak karakter yang berbeda.”
Tulisan ini digunakan untuk keperluan e-bulletin radio BPRS ERAFM UNJ di bulan September 2018.
Buat Edufriend yang juga merupakan netizen mungkin sering melihat kata ini di berbagai media sosial. Kata ‘no’ berarti tidak dan ‘life’ adalah hidup. No Life sendiri dapat dimaknai sebagai tidak adanya kehidupan atau tidak memiliki sesuatu yang dilakukan. Seringkali no life disamakan dengan gabut (gaji buta) yang sering dikatakan oleh remaja. Edufriend pasti sering mengalami situasi no life ini. Seperti liburan semester kemarin, Edufriend tentu memiliki saat dimana Edufriend tidak tahu untuk melakukan apapun.
Nah, sekarang kita sudah memasuki semester baru nih, Edufriend. Tentunya kita harus semangat dalam menjalankan kuliah dan tidak no life lagi hehehe. Dalam menjalankan kehidupan sebagai mahasiswa, semestinya kita manfaatkan kesempatan kita di usia yang muda ini. Karena masih muda, tentunya kita harus memiliki jiwa yang produktif !. Lengkapi kehidupan kuliahmu dengan hal yang kamu suka.
Bisa dengan berwirausaha seperti membuat online shop atau sekedar jualan cemilan di kelas, mendalami hobi, mengikuti organisasi kampus atau komunitas, atau mengeksplor hal baru yang belum pernah Edufriend lakukan misalnya merajut, mendaki gunung, melukis, ikut kegiatan relawan, dan sebagainya. Banyak banget hal yang bisa Edufriend lakukan, maka dari itu yuk jangan jadi mahasiswa no life !.
*Liputan ini digunakan sebagai konten di blog radio BPRS ERAFM UNJ bulan Mei 2018.
Salah satu prodi murni di UNJ adalah Sastra Indonesia. Yang berada di bawah naungan Fakultas Bahasa dan Seni. Sastra Indonesia sendiri awalnya tergabung dalam rumpun Jurusan Bahasa & Sastra Indonesia (JBSI). Dahulu pendidikan dan sastra melebur dalam satu jurusan, akan tetapi akhirnya keduanya resmi dipisah menjadi program studi. Faktanya, mata kuliah dalam kedua ini hampir sama. Yang membedakan adalah di sastra, tidak memperoleh mata kuliah kependidikan.
Prodi Sastra Indonesia berlokasi di Gedung Q, samping prodi Bahasa Inggris dan Prodi Seni Musik & Tari. Gedungnya terdiri dari dua lantai, selain ruang dosen dan perpustakaan di lantai dua terdapat Laboraturium Menyimak (listening). Tidak hanya prodi Sastra Indonesia saja yang memakai ruangan tersebut, tetapi prodi lain di FBS juga turut memakainya.
Mungkin banyak Edufriend yang bertanya-tanya, “masuk Sastra Indonesia ngapain sih? Kerjanya nanti jadi apa?”. Kuliah di Sastra Indonesia itu seru lho Edufriend. Selain mempelajari ilmu sastra dan tata bahasa, kita juga mendapat ilmu seni peran. Kenapa seni peran? Hal ini disebabkan karena di sastra kita juga mempelajari seni pertunjukan yakni teater. Bahkan, enggak jarang ada mata kuliah yang diganti dengan menonton pementasan teater dari kakak tingkat. Selain teater, kita juga diajarkan cara membaca puisi yang baik dan benar.
Selain itu ada hal unik lainnya dari prodi ini, Edufriend. Yakni tiap mahasiswa semester 1 diwajibkan untuk mengadakan Festival Palang Pintu sebagai UAS mata kuliah Apresiasi Sastra. Pada acara tersebut, para mahasiswa layaknya mengadakan resepsi pernikahan sungguhan. Ada yang pantun, silat, dua mempelai laki-laki dan perempuan, serta grup kosidah. Sebelum melakukan pantun, acara ini diawali dengan pawai keliling kampus A UNJ sambil menyanyikan shalawat Badr. Acara ini diadakan sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya Betawi, Edufriend.
Mahasiswa prodi Sastra Indonesia punya dosen favorit, diantaranya Helvy Tiana Rosa dan Irsyad Ridho. Wanita yang kerap dipanggil dengan sebutan bunda Helvy ini adalah kakak dari Asma Nadia, penulis buku “Rumah Tanpa Jendela”. Bunda Helvy juga penulis lho, Edufriend !. Beliau telah menerbitkan 50 buku dan saat ini telah menjadi produser di beberapa filmnya yang berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi”, “Duka Sedalam Cinta”, dan yang terbaru “212: The Story Of Love”. Nah, kalau pak Irsyad Ridho diidolakan oleh para mahasiswa karena pembawaannya yang santai terhadap mahasiswa. Tidak jarang beliau ditemui sedang duduk mengobrol dengan mahasiswa Sastra Indonesia di pendopo Puri Lingua.
Buat Edufriend yang mau menyapa mahasiswa Sastra Indonesia, Edufriend bisa datang ke pendopo Puri Lingua yang ada di depan Gedung Q. Tempat tersebut adalah tempat favorit buat nongkrong-nongkrong minum kopi, makan siang, atau sekedar main game. Prodi Sastra Indonesia selain punya badan eksekutif dan legislatif, juga punya organisasi mahasiswa yang menarik banget lho, Edufriend.
Ada 4 organisasi mahasiswa, yaitu Bengkel Sastra (teater, musik, dan penulisan), Teater Zat, Lifosa (penulisan), dan Stomata (majalah). Tapi ada komunitas baru nih di Sastra Indonesia, yaitu Tanggal Merah, organisasi buat yang punya minat dengan perfilman. Bengkel Sastra udah cukup terkenal lho Edufriend, mereka sudah sering melakukan pementasan baik di kampus hingga Gedung Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuki. Organisasi ini cocok banget buat Edufriend pecinta sastra karena di dalamnya terdapat teater, pembacaan puisi, dan musikalisasi puisi. Tenang saja, Edufriend. Bengkel Sastra itu terbuka untuk seluruh mahasiswa UNJ, jadi tidak hanya untuk mahasiswa Sastra Indonesia saja. Selain itu, juga ada Teater Zat buat Edufriend yang suka teater bisa juga ikut organisasi mahasiswa yang satu ini.
Prospek kerja dari prodi Sastra Indonesia itu cukup luas lho!. Selain menjadi editor maupun penulis buku, Edufriend bisa menjadi ahli linguistik forensik, jurnalis, presenter/MC, penulis skenario, copywriter, dan sebagainya. Karena hampir semua bidang pekerjaan membutuhkan bahasa Indonesia. Jadi, masih mau bertanya “kerjanya nanti jadi apa?” ke anak Sastra Indonesia?
Template proposal dan konten instagram. Dibuat dengan Adobe Illustrator dan Adobe Photoshop.
Seminar yang menjadi tugas akhir dari mata kuliah Keterampilan Berbicara diadakan oleh mahasiswa kelas 2 SIS angkatan 2017. Diselenggarakan di Aula Maftuhah Yusuf, Universitas Negeri Jakarta tanggal 18 Desember 2018.
DO NOT STEAL - DILARANG MENGAMBIL DESIGN INI TANPA IZIN
Template proposal & Kaos Panitia. Dibuat dengan Adobe Illustrator dan Photoshop
Acara musik yang diadakan oleh BPRS ERAFM UNJ. Diselenggarakan pada 14 Desember 2018 di Teater Terbuka, Universitas Negeri Jakarta. ERAFEST 2018 mengusung tema “Better Life, Better Acceptance”.
Nabila Hidayah sebagai divisi acara. Menyusun template proposal dan membuat desain kaos.
DO NOT STEAL - DILARANG MENGAMBIL DESIGN INI TANPA IZIN.
*Liputan ini digunakan sebagai konten di blog radio BPRS ERAFM UNJ bulan April 2018.
UNJ dikenal sebagai universitas pendidikan yang di dalamnya terdapat beragam prodi kependidikan dan prodi murni. Fakultas Ilmu Sosial (FIS) juga memiliki prodi yang cukup terkenal yakni prodi Pendikan Sosiologi. Nah, rasanya jadi mahasiswa Pendidikan Sosiologi itu seperti apa sih?.
Dilansir dari website fis.unj.ac.id/sosiologi, prodi ini tadinya termasuk dalam lingkup Jurusan Sosiologi FIS. Dalam Jurusan Sosiologi tersebut terdapat Pendidikan dan Sosiologi murni. Kemudian, atas izin penyelenggaraan program studi dari Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2004, barulah prodi Pendidikan Sosiologi resmi dibuka. Walaupun kini telah terpisah, baik mahasiswa dari Pendidikan Sosiologi maupun Sosiologi murni tidak saling membedakan. Mereka terbilang kompak dan kerap mengadakan acara bersama. Seperti pada acara Malam Keakraban (Makrab) dan pelaksanaan program kerja BEM.
Ternyata selain mendalami bidang sosiologi mahasiswa juga mendapat mata kuliah di bidang pengetahuan sosial lainnya. Seperti ilmu politik, antropologi, geografi, sejarah, serta ekonomi. Hal ini disebabkan karena lulusan dari Pendidikan Sosiologi selain menjadi guru sosiologi diharapkan juga dapat menjadi guru antropologi maupun guru IPS.
Mahasiswa prodi Pendidikan Sosiologi sudah terbiasa disebut sebagai pemberontak. Wah kenapa bisa gitu?. Ternyata tidak lain dan tidak bukan karena sifat mereka yang kritis. Mahasiswa prodi Pendidikan Sosiologi juga sangat peka terhadap isu-isu yang ada sehingga sering berdiskusi terhadap isu yang sedang hangat di kalangan kampus maupun lingkungan luar kampus.
Bahkan mereka mendapat dukungan dari dosen jika ingin mengikuti aksi dan diizinkan tidak mengikuti kelas. Namun, tergantung kepada mereka apakah mau diadakan kelas pengganti atau tidak. Jika tidak, mahasiswa pun diminta untuk absen dan per kelas yang mengikuti aksi diminta untuk membuat laporan tentang aksi tersebut. Dalam laporan yang dibahas adalah seperti apa tuntutannya, siapa yang mengadakan aksi tersebut, dan sebagainya.
Satu hal yang sangat membedakan mahasiswa pendidikan dengan sosiologi murni ialah bagi mahasiswa laki-laki tidak diperbolehkan memanjangkan rambut. Berbeda dengan Sosiologi murni, ada yang menggondrongkan rambutnya selama ia kuliah dan hanya mau dipotong ketika akan wisuda. Sebagai mahasiswa Pendidikan Sosiologi sudah wajib hukumnya untuk berpakaian sopan dan rapi karena terdapat mata kuliah kependidikan.
Selain pencapaian profesi utama sebagai guru, lulusan Pendidikan Sosiologi yang bergelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) ini nantinya juga dapat menjadi peneliti pendidikan dan kemasyarakatan, pekerja community development yang bergerak di bidang pendidikan. Selain itu ternyata lulusan dari prodi Pendidikan Sosiologi juga dapat bekerja di media. Lulusan Pendidikan Sosiologi dapat menjadi jurnalis pendidikan, editor buku, hingga penulis buku pendidikan dan kemasyarakatan.
Buat Edufriend yang mahasiswa FIS pasti sudah akrab dengan DPR. DPR ini adalah tempat nongkrong favorit bagi mahasiswa Pendidikan Sosiologi dan Sosiologi. DPR adalah singkatan dari Di bawah Pohon Rindang. Karena berlokasi di bawah pohon depan Gedung L. Selain nongkrong mereka juga punya kegiatan rutin setiap Kamis yaitu DKS (Diskusi Kamis Sore). Kegiatan ini sudah berjalan cukup lama dan biasanya mereka membahas isu-isu di kampus atau di luar kampus atau diskusi film, yang nantinya akan dianalisis konfliknya.
“Kalau di prodi Pendidikan Sosiologi dosen killer sih enggak ada ya.. Semua sama aja. Santai juga, yang membedakan cuma cara penilaian masing-masing dosen. Tapia da salah satu dosen yang dikagumi sama mahasiswa Sosiologi. Yaitu pak Ubeddilah Badrun” ujar Rizqi Imannitya salah satu mahasiswa Pendidikan Sosiologi, angkatan 2017.
Banyak mahasiswa Sosiologi yang mengangumi Ubeddilah Badrun. Beliau adalah dosen dasar-dasar ilmu politik dan filsafat. Beliau juga menjadi ahli politik UNJ di bawah naungan prodi Sosiologi. Ubeddilah Badrun dinilai berkharisma karena wawasannya sangat luas. Mahasiswa pun senang dengannya karena beliau dinilai dapat menjawab semua pertanyaan yang mengenai politik, IPS, dan filsafat.
Mahasiswa dari Pendidikan Sosiologi juga tergabung dalam JMSJ. JMSJ ini adalah Jaringan Mahasiswa Sosiologi Sejawa. JMSJ tiap tahunnya mengadakan acara kunjungan ke berbagai universitas yang terdapat prodi Sosiologi. Pada tahun 2018 ini, Universitas Brawijaya yang akan menjadi tuan rumahnya. JMSJ tidak dapat diikuti oleh semua mahasiswa di Pendidikan Sosiologi atau Sosiologi, Edufriend. Karena sebelum mengikuti acara kunjungan tersebut terdapat seleksi yang harus diikuti calon peserta.
Nah, itu tadi seputar prodi Pendidikan Sosiologi, Edufriend. Buat yang mau kenalan sama mahasiswa sosiologi bisa tuh menyapa mereka di bawah pohon rindang depan Gedung L samping parkiran FIS.
Poster LSPR Comm Fest 2018 (Foto: Prambors/facebook)
Sudirman (28/07/2018) – London School of Public Relation (LSPR) di tahun 2018 ini kembali mengadakan LSPR Communication Festival. Ini kedua kalinya acara tersebut diadakan di atrium lantai tiga FX Sudirman. Acara tersebut diselenggarakan selama dua hari yakni 27 – 28 Juli 2018. Pada tahun ini, LSPR Communication Festival mengangkat tema Creativepreneur, Millenials Futurepreneur. Oleh karena itulah mereka bekerjasama dengan aplikasi jual beli barang bekas yakni, Carousell.
Stefanie Nathania, mahasiwi Public Relation angkatan 2015 yang merupakan Humas dari LSPR Comm Fest menyatakan, “di acara ini kita ingin memberikan wadah untuk millenials yang ingin melakukan hal yang lebih tapi masih bingung. Maka dari itu, kita ngadain talkshow tentang creativepreneur. Kita ingin para pengunjung khususnya anak SMA dan kuliah yang sedang berjuang untuk jadi entrepreneur, setelah kesini mereka bisa tahu apa tujuan hidupnya sekaligus mengetahui dunia komunikasi itu seperti apa”.
LSPR Communication Festival ini merupakan proyek tugas akhir dari mahasiswa LSPR angkatan 2015. Acara ini melibatkan satu angkatan dari seluruh jurusan yang ada di kampus LSPR. Oleh karena itu, acara ini terdiri dari sejumlah rangkaian diantaranya pameran seni, performing art, business talkshow, hingga konser musik. Enggak lupa juga, ada program Barteran Yuk yang diadakan oleh Carousell. Di booth Barteran Yuk ini Edufriend bisa menukarkan barang apapun yang Edufriend miliki seperti baju, tas, buku, dan sebagainya.
ERAFM juga berkesempatan untuk menghadiri talkshow yang dihadiri oleh Prita Kemal Gani (Founder & Director LSPR Jakarta), Prilly Latuconsina (aktris), dan Rachel Vennya (Influencer). Di talkshow ini para pembicara memberikan gambaran serta bagaimana cara untuk menjadi entrepreneur. Talkshow itu pun cukup ramai dihadiri oleh para generasi muda yang datang ke FX Sudirman dan mereka pun cukup antusias.
Penampilan HAIR: The American Tribal Love Rock Musical. (Foto: Nabila/ dok. pribadi).
Setelah menyimak talkshow, penonton disuguhkan penampilan teater musikal yang bertajuk “HAIR: The American Tribal Love Rock Musical” oleh mahasiswa jurusan Performing Arts Communication. Di pementasan tersebut mereka menunjukkan performa akting, menyanyi, serta menari. Usai pementasan ERAFM menyempatkan untuk keliling liat pameran seni yang ada di sana. Banyak banget booth yang unik dan instagramable lho, Edufriend !.
Diantaranya ada Future Nature Project karya jurusan Digital Media Communication & Advertising. Di booth ini kita diajak untuk menonton sebuah film pendek yang ada di dalam ruangan gelap dengan dinding berhiaskan cat glow in the dark. Dengan ikut core-coret atau cap tangan di dinding tersebut, itu artinya kita bisa ikut mendukung pemeliharaan lingkungan.
Selanjutnya, ada dua booth karya jurusan Mass & Social Media Communication yang cukup panjang antriannya yaitu Front Page dan Illyuziya Room. Ada apa sih di Front Page ?. Di dalam booth ini Edufriend bisa foto di dalam ruangan bernuansa merah dan setelahnya bisa cetak foto gratis. Nah, kalau di Illyuziya Room, booth ini super aesthetic banget sehingga antriannya sangat ramai. Booth tersebut berisi dinding warna putih berhiaskan lampu LED warna ungu dan biru. Illyuziya Room pun jadi sasaran empuk buat foto-foto oleh pengunjung yang datang. Kalau kita masuk ke dalam, ternyata di dalamnya juga terdapat Infinity Room yang mirip dengan instalasi Yayoi Kusama. Ruangan penuh kaca itu di atasnya terdapat hiasan awan serta lampu LED berwarna kuning.
ERAFM sempat berbincang dengan Alycia Putri yaitu salah satu mahasiswa Mass & Social Media Communication yang merupakan panitia booth Illyuzia Room. Ia menuturkan bahwa ternyata booth ini terinspirasi oleh tren saat ini yaitu orang-orang sangat mengutamakan feeds Instagram. Dalam ruangan yang berkonsep lorong waktu ini, juga terdapat replika radio yang di dalamnya terdapat daftar putar Spotify berisi lagu-lagu tahun 90an. Setelah itu ada booth dari mahasiswa Performing Arts Communication yang sedang mempromosikan pementasan mereka yang akan datang. Pementasan itu berjudul “Nanny McPhee”. Di booth ini terdapat kostum serta maket panggung yang nantinya akan ditampilkan pada pementasan.
Booth Nanny McPhee. (Foto: Nabila/dok. pribadi)
LSPR Comm Fest hari itu ditutup dengan penampilan dari musisi Jaz. Para pengunjung hingga panitia pun langsung merapat ke panggung yang berada di atrium. Jaz menyanyikan kurang lebih 7 lagu pada malam itu. Penonton pun sangat menikmati penampilannya, tiap lagu yang dinyanyikan penonton pun langsung ikut bernyanyi serta bergoyang mengikuti alunan musik. Penampilannya malam itu ditutup dengang lagunya yang sangat populer yakni “Dari Mata”.
MAWAPRES UNJ 2018, FMIPA Raih Gelar MAWAPRES Utama.
18 finalis MAWAPRES bersama dengan panitia serta Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni. (Foto: Nabila/dok. pribadi)
Rawamangun (27/03/2018) usai istirahat makan siang, Aula Maftuhah Yusuf yang berada di Gedung Dewi Sartika lantai 2 mulai dipenuhi oleh mahasiswa UNJ yang datang untuk mendukung finalis favoritnya di ajang Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES) UNJ 2018. Ruangan cukup penuh sehingga banyak yang duduk di tangga karna tidak mendapat kursi. Mereka begitu antusias untuk mendukung finalis favorit mereka tampil di Grand Final hari itu.
Sebelum mencapai tahap Grand Final, 18 finalis telah menempuh serangkaian acara sebelumnya yakni pendaftaran yang diwadahi oleh Sekolah MAWAPRES, Eksplorasi, serta Karantina yang diadakan selama dua hari di Guest House UNJ, 24-25 Maret lalu. Terlepas dari itu, 18 finalis yang berasal dari 8 fakultas ini telah mengikuti seleksi yang cukup ketat dari tingkat prodi, fakultas kemudian ke tingkat universitas.
“Di prodiku, pertama dilihat dulu berprestasi dalam bidang apa, misalnya dia ikut organisasi atau ikut lomba. Baru bisa dijaring oleh Kaprodi. Karena MAWAPRES itu tidak sekedar pintar, tapi dilihat juga niat dan kerja kerasnya sejauh apa. Biasanya bikin KTI dan pengumpulan berkas itu yang bikin mahasiswa suka males” ujar Niamul Maftuhah, salah satu finalis MAWAPRES UNJ 2018 yang mewakili Fakultas Ilmu Sosial.
Acara ini adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh KEMENRISTEKDIKTI untuk PTN dan PTS di Indonesia. Adapun tujuannya sebagai wadah mahasiswa untuk menuangkan prestasi serta berkontribusi kepada universitas khususnya meningkatkan tingkat akademik. Di tahun 2018 ini, MAWAPRES UNJ mengangkat tema “SDGs (Sustainable Development Goals)”, yakni membahas tentang isu-isu yang saat ini sedang marak di Asia. Tema ini telah diimplementasikan saat presentasi Karya Tulis Ilmiah serta Impromptu Speech dalam acara Grand Final. Impromptu Speech itu sendiri berupa pertanyaan-pertanyaan dari dekan-dekan tiap Fakultas yang dijawab oleh para finalis menggunakan bahasa Inggris dan hanya diberi waktu 1 menit.
Selain sesi Impromptu Speech, dalam acara Grand Final MAWAPRES UNJ 2018 juga terdapat sesi kisah inspiratif. Pada sesi tersebut masing-masing finalis menceritakan kisah inspiratif berdasarkan apa yang telah mereka lalui. Kemudian, dilanjutkan dengan pengumuman voters terbaik pada saat Eksplorasi MAWAPRES dan Grand Final MAWAPRES. Setelah pengumuman, penonton disuguhi penampilan dari beberapa finalis. Ada yang membawakan tarian tradisional hingga penampilan teatrikal. Barulah setelah itu, parade MAWAPRES UNJ 2018 dimulai.
Usai menonton parade MAWAPRES UNJ 2018, saat yang dinantikan pun tiba. Yakni pengumuman pemenang MAWAPRES UNJ 2018. Suasana penonton berubah menjadi tenang, menyimak juri yang membacakan pengumuman MAWAPRES UNJ 2018.
Perasaan haru setelah pembacaan pengumuman MAWAPRES. (Foto: Nabila/dok. pribadi).
Dalam pengumuman itu, Agustiani Putri yang mewakili Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) berhasil memperoleh gelar MAWAPRES utama. Suasana haru pun menyeruak di tengah para finalis bersamaan dengan pengumuman hasil perolehan yang dibacakan oleh MC. Usai acara, kami berhasil mewawancarai Agustiani Putri. Ia merasa terharu dan bersyukur sekali atas dukungan dari orangtua dan teman-temannya. Ia menuturkan juga bahwa selanjutnya ia akan mempersiapkan diri untuk maju ke tingkat nasional. “Selalu menginspirasi dan bermanfaat bagi orang lain karena itu adalah kesuksesan terbesar” pungkasnya.
Berikut hasil perolehan MAWAPRES UNJ tahun 2018:
Tingkat S1
MAWAPRES UTAMA
Agustiani Putri (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)
MAWAPRES II
Tita Desvara (Fakultas Bahasa dan Seni)
MAWAPRES III
Maraden Jazmi Narasoma (Fakultas Ekonomi)
Tingkat D3
MAWAPRES UTAMA
Maulydita Nurasyifa (Fakultas Ilmu Sosial)
MAWAPRES Terfavorit
Susi Rahmiyati (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)
MAWAPRES Terinspiratif
Indri Susilowati (Fakultas Bahasa dan Seni)
MAWAPRES Bahasa Inggris Terbaik
Siti Aisyah Nurrusma (Fakultas Pendidikan Psikologi)
Yeay!!! Akhirnya blog ini jadi juga. Setelah sekian lama memikirkan “bagaimana caranya supaya tulisan serta tugas selama ini berguna?”, aku memutuskan untuk mengumpulkan itu semua ke dalam satu blog karena aku belum mampu membeli domain untuk website wkwkwkwkwk. Karena basic-ku adalah menulis. Alangkah baiknya semua tulisanku terorganisir dengan baik agar sang calon rekruiter dengan mudah mengecek hasil tulisan yang pernah kubuat.
Blog ini akan aku isi dengan tulisan-tulisan yang pernah kubuat selama ini. Liputan yang pernah aku tulis ketika di ERAFM **J, review film-film yang kutonton selama masa pandemi, konten desain grafis selama di organisasi, dan puisi-puisi pendekku yang sebenarnya jelek itu hehehe. Jujur saja walau kuliah sastra sebetulnya aku kurang bisa menulis fiksi. Dulu ketika sekolah sekitar SMP hingga SMK kelas 2 aku masih senang menulis cerpen. Namun entah kenapa setelah itu aku berakhir dengan menulis harian saja. Lalu, di kampus aku sempat ikut organisasi radio. Aku putuskan menjadi tim News Director karena tugasnya adalah meliput acara lalu menuliskannya dalam bentuk berita. Semenjak itu aku kian menyadari bahwa aku lebih suka menulis yang bergantung pada fakta seperti liputan itu sendiri, artikel, resensi, dan esai. Walaupun kemampuan menulisku ini masih sangat newbie.
Kenapa pake Tumblr kalau buat tulisan? Kenapa enggak pake wordpress atau blogspot?
Aku udah pakai Tumblr dari tahun 2011. Aku lupa penyebabnya apa sampai aku bisa mengenal layanan blog ini. Dulu aku menggunakan Tumblr untuk fangirling kpop. Karena memang ada fansite-fansite yang paling update ada di sini. Karena fangirling itu pula aku jadi mengenal photo editing. Karena Tumblr dan Kpop juga aku jadi mengenal Photoshop. Thanks Tumblr & Kpop!. Ketika SMK, seorang teman memberitahu bahwa Tumblr menyimpan segudang tema yang estetik nan menarik yang dibuat oleh orang dari berbagai penjuru dunia. Dari dia, aku mulai mencoba-coba menggunakan tema kustom buatan pengguna Tumblr. Berkat pelajaran pemrograman web di sekolah pula aku bisa sedikit mengutak-atik tema tersebut.
Bagiku dengan tema-tema itulah yang membuatku nyaman berlama-lama duduk di depan laptop. Mengunjungi satu pengguna, reblog, lalu berkunjung ke blog pengguna lain. Aku sudah terlanjur nyaman dengan Tumblr karena tampilannya selain itu aku rasa sudah cukup menguasainya. Walaupun masih banyak lagi yang mesti aku pelajari.
Kuharap blog ini akan berlanjut terus sehingga progress menulisku dapat terpantau di sini. Yah beginilah postingan pertamaku. Selamat datang!