PENENTUAN ROAD MAP STRATEGIS EA BERDASARKAN TINGKAT MATURITAS
Implementasi Enterprise Architecture(EA) tentunya sangat tergantung pada karakteristik dan budaya perusahaan. Faktor internal, eksternal, sarana dan prasarana yang tersedia pada perusahaan dapat menentukan langkah strategis dalam penerapan EA. Faktor-faktor tersebut membentuk pemahaman para pelaku bisnis dan organisasi itu sendiri terhadap pentingnya EA dalam mendukung pencapaian sasaran perusahaan. Pemahaman para pelaku bisnis yang rendah akan memandang bahwa EA tidak dapat memberikan dukungan secara signifikan dalam mendukung pencapaian KPI organisasi. Proses bisnis perusahaan tetap dapat berjalan dengan proses eksisting (non-EA). Namun pernahkan dikaji, bagaimana mekanisme untuk memastikan suatu proses bisnis berjalan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan, sudahkah dikaji seberapa besar peranan suatu proses yang telah dilaksanakan saat ini dalam mendukung pencapaian sasaran perusahaan, sudahkah dikaji apakah layanan teknologi informasi yang telah tersedia benar-benar dibutuhkan, sesuai dan optimal dalam mendukung setiap proses bisnis yang ada, dan sudahkah dikaji seberapa besar dampak perubahaan di ranah proses bisnis dapat mengakibatkan perubahan kebutuhan di ranah IT, dan sebaliknya, serta sudahkah dikaji seberapa besar optimalisasi disisi proses bisnis yang dipengaruhi oleh optimalisasi di ranah IT.
Tingkat maturitas implementasi EA dapat dikaji berdasarkan dua faktor yaitu tingkat maturitas pemahaman EA dan tingkat integrasi kebutuhan sistem dalam mendukung proses bisnis perusahaan. Perusahaan dengan tingkat pemahaman yang rendah dan proses bisnis yang tidak membutuhkan sistem, menghasilkan tingkat maturitas yang disebut dengan “Losing”. Perusahaan dengan tingkat pemahaman EA yang rendah namun membutuhkan peranan sistem dalam melaksanakan proses bisnis perusahaan, mendorong terjadinya kebutuhan IT yang fokus pada bidang-bidang tertentu. Misal bidang keuangan membutuhkan sistem hanya untuk menyelesaikan masalah dan mendukung proses binis bidang keuangan, demikian juga dengan bidang-bidang yang lain sehingga terbentuklah silo-silo dalam penerapan IT. Perusahaan dengan karakteristik seperti diatas dapat digolongkan berada pada tingkat maturitas “Fragmented”.
Perusahaan dengan tingkat pemahaman tentang kebutuhan EA yang tinggi namun tingkat sistem terintegrasi yang rendah, akan mendorong terwujudnya penerapan EA yang berada di level strategik. Dapat digambarkan bahwa perusahaan ini mempunyai konsep dan model yang strategik namun belum didukung oleh penerapan IT yang dapat mengejawantahkan level strategik tersebut menjadi operasional. Perusahaan dengan karakteristik seperti diatas berada pada tingkat maturitas “Isolated”. Karakteristik yang terakhir adalah perusahaan dengan tingkat pemahaman EA yang tinggi dan penerapannya sebagai suatu sistem IT terintegrasi dalam mendukung pelaksanaan proses bisnisnya, berada pada tingkat maturitas “Optimized”.
Pada umumnya perusahaan berada pada tingkat maturitas “Isolated” atau “Fragmented”. Implementasi EA dapat berangkat dari penentuan arahan strategik perusahaan (“Isolated”) atau dari penerapan di level operasional (“Fragmented”). Langkah implementasi EA akan mengubah tingkat maturitas perusahaan dari Isolated menjadi Fragmented dengan penekanan lebih pada ranah teknis, atau sebaliknya dari Fragmented menjadi Isolated dengan penekanan lebih pada ranah strategik.
Upaya peningkatan tingkat maturitas implementasi EA pada suatu perusahaan dapat dikaji dari dua parameter, yaitu seberapa besar value yang ingin disasar dan seberapa besar skala implementasi EA pada struktur proses bisnis perusahaan. Roadmap awal implementasi EA adalah dalam mendukung pembentukan arsitektur IT pada lingkup struktur proses bisnis yang terbatas. Pada tingkat implementasi ini, EA diejawantahkan dalam bentuk arsitektur IT.
Setelah terbentuk EA pada masing-masing proses bisnis, selanjutnya akan muncul kebutuhan integrasi arsitektur IT dalam seluruh proses bisnis perusahaan secara sistematik dan komprehensif. Titik roadmap ini membutuhkan implementasi EA sebagai Enterprise Wide IT Architecture (EWITA). Pada umumnya, organisasi yang telah mengimplementasikan EA berada pada titik roadmap pertama dan titik roadmap kedua.
Penetapan dan penerapan strategi EA dengan secara berkelanjutan mengimplementasi EA baik dalam ranah strategik maupun dalam ranah teknikal, secara gradual akan meningkatkan maturitas implementasi EA menuju implementasi EWITA yang mengacu pada tingkat bahwa EA telah selaras dengan tujuan perusahaan yang tertuang dalam arsitektur bisnis. Tingkat ini memastikan adanya keselarasan dan ketergantungan antara proses bisnis dan implementasi IT. Perubahan pada proses bisnis akan diadaptasi dengan cepat oleh penerapan IT.
Pada tingkat maturitas tertinggi dalam penerapan EA, maka selain keselarasan dengan proses bisnis, EA juga selaras dan saling tergantung dengan arsitektur strategik perusahaan. Pada tingkat maturitas tertinggi ini, selain mengakomodasi perubahan proses bisnis perusahaan, EA juga responsif dengan perubahan strategis yang diperlukan oleh perusahaan untuk tetap survive dan berkompetisi dengan para pesaingnya. Penerapan EA pada skala korporasi secara lengkap dan detil, umumnya berada pada titik roadmap ketiga dan titik roadmap keempat (tingkat roadmap tertinggi).
Secara umum dapat disimpulkan bahwa penerapan EA bukan hanya kerja keras dalam periode tertentu, namun lebih merupakan upaya yang harus dilaksanakan secara berkelanjutan selama perusahaan masih mempunyai passion dalam mendeliver value yang diharapkan oleh para stakeholder.